MasukFiona buru-buru meraih kotak ponsel yang baru saja diberikan William.
Ia menoleh kanan dan kiri, memastikan tidak ada seorang pun yang memperhatikan gerak-geriknya. Untung saja, ruangan kerja tempat ia duduk masih cukup sepi. Entah kemana rekan-rekan magangnya, mungkin masih sibuk dengan laporan di lantai atas atau sekadar menghirup kopi di pantry. Tanpa pikir panjang, Fiona segera menyelipkan kotak itu ke dalam tas kerjanya. Rasanya jantungnya berdetak tidak karuan, takut ada mata yang tiba-tiba menangkap adegan kecil itu. Baru saja ia hendak menenangkan diri, ponselnya sendiri bergetar. Fiona membuka layar, dan matanya membelalak begitu membaca notifikasi transfer masuk. Angka yang tertera di sana membuat tenggorokannya tercekat—seratus juta rupiah. William benar-benar mentransferkannya. Uang sesuai kesepakatan mereka kemarin, ketika Fiona dengan terpaksa menyebut nominal itu demi menyelamatkan dirinya dari ancaman Leon. Tangannya bergetar halus saat menggenggam ponsel. Rasanya enggan sekali menerima uang itu. Bagaimanapun, jumlahnya terlalu besar, terlalu berat untuk diterima dari seorang pria yang kini berstatus… selingkuhan. Namun, Fiona tidak memiliki pilihan lain. Leon, dengan segala kebodohannya dalam berjudi, sudah menyeret identitas Fiona ke meja taruhan. Jika ia tidak segera melunasi hutang itu, ancaman Leon bukan sekadar gertakan. Dengan tarikan napas kecil, Fiona menunduk pada layar. Ia mengetik nominal, menyalin rekening tujuan, lalu menekan tombol konfirmasi. Notifikasi berhasil muncul di layar. Hutang Leon lunas. Begitu transaksi selesai, Fiona langsung bersandar ke kursinya. Kedua matanya terpejam, dadanya naik turun, berusaha mengeluarkan seluruh beban yang menekan batinnya. Untuk sesaat, ia membiarkan tubuhnya tenggelam dalam rasa lega. Namun, ketenangan itu hanya bertahan sekejap. “Aku penasaran,” suara seorang pria terdengar dekat, begitu dekat hingga membuat Fiona segera membuka mata lebar-lebar. Di hadapannya, wajah Mikhail muncul. Pria itu berdiri tepat di belakang kursi Fiona, tubuhnya menunduk hingga wajahnya sejajar dengan wajah Fiona yang masih bersandar. Senyumnya ramah, namun tatapannya seakan mampu menembus perasaan Fiona yang sesungguhnya. “Masalah apa yang membuatmu menghela napas berkali-kali tadi?” tanya Mikhail. Fiona refleks duduk tegak, merapikan rambutnya, lalu terbatuk kecil untuk menutupi kegugupannya. “Ah… kau melihatnya?” Mikhail terkekeh, suara tawanya ringan. Lesung pipi dalam di wajahnya langsung tampak jelas, membuat Fiona sejenak terdiam menatapnya. Senyum pria itu memang berbeda—seperti musim semi yang hangat, selalu berhasil mencairkan suasana. “Mau makan siang bersama? Aku traktir,” ajak Mikhail. Fiona mengerutkan kening, lalu tersenyum samar. “Projekmu di Thailand berhasil?” Pria itu terkekeh lagi, kali ini mengangguk mantap. “Tentu saja. Ingat sumpahku? Kalau berhasil, aku akan mentraktir seluruh anak magang. Dan aku lelaki yang menepati janji.” Fiona tidak bisa menahan tawa kecilnya. “Baiklah. Kalau begitu, aku ikut.” Mereka berjalan berdampingan menuju kantin. Fiona menyadari, aura yang dimiliki Mikhail memang berbeda dari karyawan tetap lain. Ia ramah, rendah hati, selalu menyapa siapa pun dengan senyum tulus. Penampilannya menawan, tubuh tinggi semampai, kulit putih bersih, mata kecokelatan yang hangat, dan rambutnya yang kecokelatan samar memberi kesan elegan alami. Semua orang yang berbicara dengannya selalu merasa nyaman. Beberapa bulan lalu, Mikhail sempat berangkat ke Thailand, mewakili perusahaan memperkenalkan produk makanan ringan hasil inovasi anak-anak magang. Tugas itu terbilang berat, tetapi ia melakukannya dengan penuh percaya diri. Kini, hasil kerja kerasnya membawa pulang keberhasilan, dan janji traktir makan siang segera ditunaikan. Setibanya di kantin, Fiona mendengar suara ceria. “Fiona!” Jessica melambaikan tangan dari meja tengah. Fiona membalas singkat dengan senyum, lalu menarik kursi kosong di samping Jessica. Begitu duduk, Jessica langsung mencondongkan tubuh, matanya penuh rasa ingin tahu. “Kau barusan dipanggil Tuan Winston ke ruangannya?” tanya Jessica. Fiona mengerutkan kening. “Tuan Winston?” Jessica ikut mengerutkan alis. “Ya, atasan utama baru kita. William Winston.” Darah Fiona serasa berhenti mengalir sejenak. Winston? Ia jarang sekali mendengar William dipanggil dengan marga lengkapnya. Di masa lalu, ia hanya mengenalnya sebagai William. Senyum kaku terbit di wajahnya. “Ah… Tuan Winston? Iya, benar,” jawab Fiona, mencoba setenang mungkin. Namun di dalam hati, kegugupan menyeruak. Nama itu terasa asing sekaligus akrab, membuatnya makin sadar betapa berbahayanya posisinya sekarang. Tak lama, Mikhail kembali dengan nampan di tangannya. Ia duduk tepat di hadapan Fiona, menyodorkan buku menu dengan senyum hangat. “Ada yang kau inginkan?” Jessica mendengus, menyilangkan tangan di dada. “Tidak adil. Kau tidak menanyaiku juga?” Mikhail tertawa kecil, mengangkat bahu. “Bukannya kau sudah memesan?” Jessica mendengus lagi, lalu menunduk sambil berbisik lirih, “Dasar, sama Fiona saja ngomongnya lembut.” Sayangnya, telinga Mikhail cukup tajam. “Apa?” tanyanya sambil sedikit mencondongkan kepala. Jessica langsung tersenyum kikuk, menggeleng cepat. “Ah… tidak. Aku tidak mengatakan apa pun.” Fiona hanya menggeleng pelan sambil tersenyum bingung, tidak terlalu mengerti maksud Jessica. Suasana meja makan mulai ramai dengan obrolan ringan. Namun, mendadak semua hening ketika suara lain terdengar. Suara yang sangat dikenali Fiona. “Nona.” James berdiri tepat di belakang Mikhail, dengan senyum memuakkan seperti biasa. Matanya langsung menatap Fiona. “Anda dipanggil Tuan ke ruangannya.” Jessica spontan mengerutkan kening. “Lagi?” James mengangguk, tetap tersenyum. “Benar. Karena salah satu projek yang dikerjakan nona Fiona mengalami beberapa kendala. Tuan ingin memastikannya secara langsung.” Mikhail menatap James dengan sorot tajam, lalu berkata, “Projek magang? Kalau begitu biar saya saja yang menemui Tuan Winston. Sekarang masih jam makan siang dan para anak magang masih—” “Maaf menyela,” potong James cepat. Tatapannya beralih ke Fiona, penuh penekanan meski bibirnya masih melengkung senyum. “Nona Fiona?” Mikhail tampak hendak berdiri, tidak setuju. Namun, Fiona segera bangkit lebih cepat. “Tidak perlu, Mikhail. Terima kasih banyak.” Ia lalu menoleh ke James, gugup, namun berusaha terlihat tenang. “Tuan James, mari.” James mengangguk singkat, lalu berbalik. Fiona mengikutinya, meninggalkan Jessica dan Mikhail di meja makan. Namun, Fiona tidak menyadari bahwa tatapan Mikhail tetap tertuju padanya hingga bayangan tubuhnya menghilang di balik pintu kantin. Langkah Fiona terhenti di depan pintu ruangan William. James membukakannya, dan Fiona masuk. Pemandangan yang langsung menyambutnya membuatnya tertegun. Di meja tengah ruangan kerja megah itu, tersusun lebih dari sepuluh menu makanan mewah, lengkap dengan aroma menggoda yang memenuhi udara. William berdiri di dekat meja, senyum menawannya kembali dipamerkan. “Halo, sayang. Mau makan siang bersama?” Fiona mengerutkan kening, tidak percaya. “Anda memanggil saya hanya untuk ini?” William berjalan mendekat, nada suaranya ringan namun penuh penekanan. “Kalau kau tidak mau, maka aku yang mau. Temani aku makan siang.” Meski bibirnya tetap tersenyum, suara itu terdengar seperti tuntutan, bukan ajakan. Fiona menelan ludah, berdiri kaku. Di dalam hatinya, ia bertanya-tanya, pria ini sebenarnya menginginkan dirinya… atau sekadar ingin memastikan dirinya tidak bisa lepas dari genggamannya?Udara musim semi membawa aroma bunga yang bermekaran, sementara lonceng-lonceng kecil gereja tua berdentang pelan, menciptakan ritme damai yang memeluk seluruh kota.Di halaman taman villa klasik yang disewa khusus untuk acara itu, kursi-kursi putih tersusun rapi. Taman mawar yang dipangkas indah membingkai altar marmer berbalut kain satin gading.Lalu Fiona datang.Ia berjalan keluar dari pintu villa dengan gaun putih sederhana yang jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Gaun itu tidak mewah, tidak berkilau berlebihan—hanya elegan, lembut, dan memancarkan keindahan yang tidak bisa ditiru siapa pun.Rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh, dihiasi bunga peony putih. Matanya berkilau, bukan karena makeup, tetapi karena kebahagiaan yang hampir meluap.Jessica, sahabat setianya, berdiri di samping, hampir menitikkan air mata.“Kau cantik sekali… William pasti akan pingsan.”Fiona tertawa pelan, gugup namun bahagia.“Kalau dia pingsan, kau yang angka
Udara lembap membawa aroma tanah basah, sementara di dalam ruang kerja William, suasana begitu tenang—kontras dengan badai besar yang baru saja berlalu.Seminggu penuh dunia bisnis diguncang oleh kejatuhan Ratore Group.Laporan korupsi lintas negara, manipulasi dana, hingga skandal politik yang melibatkan pejabat tinggi—semuanya terbongkar satu per satu. Nama besar yang dulu disegani kini hanya tinggal sejarah kelam di headline surat kabar.William berdiri di depan jendela, memandangi hujan. Di belakangnya, Fiona duduk di sofa dengan secangkir teh hangat di tangan.“Sudah berakhir, kan?” tanyanya pelan.William menoleh, sorot matanya lembut namun tetap mengandung sisa kewaspadaan. “Ya. Elizabeth sudah diamankan di bawah pengawasan otoritas internasional. Tak ada lagi kekuatan Ratore yang bisa menyentuh Winston.”Fiona menunduk, menggenggam cangkirnya erat. “Aku tidak tahu apakah aku harus lega... atau kasihan.”William mendekat, berlutut di depannya, tangannya menggenggam jemari Fi
Langit kota London tampak muram pagi itu. Awan menggumpal tebal di atas gedung-gedung tinggi, menandakan hujan akan turun lagi. Namun di balik jendela kaca kantor Winston Holdings, suasananya justru lebih mencekam daripada cuaca di luar.Di ruang rapat utama, William berdiri tegak di depan layar besar yang menampilkan grafik saham yang menukik tajam—bukan milik Winston, melainkan milik Ratore Group.“Ini baru permulaan,” katanya tenang, matanya tajam menatap setiap garis grafik yang jatuh ke bawah.James yang berdiri di sisi lain meja menatap dengan kagum. “Tuan, jika tren ini berlanjut, mereka kehilangan hampir dua puluh persen valuasi dalam dua minggu.”William mengangguk pelan. “Biarkan pasar bekerja. Dunia bisnis selalu punya caranya sendiri membalas keserakahan.”Sementara itu, jauh di seberang kota, di gedung tinggi milik keluarga Ratore, Elizabeth menatap layar tablet di tangannya dengan ekspresi murka.“Siapa yang berani menjual saham kita sebanyak ini?” teriaknya, membantin
Fiona berdiri di depan perapian, memeluk lengannya sendiri, sementara William masih di tempat yang sama—berdiri di ambang pintu ruang tamu, dengan tatapan yang tak bisa ia baca.“Jawab, William.”Nada suara Fiona terdengar datar, tapi matanya bergetar menahan emosi.“Apakah kau masih berhubungan dengan keluarga Ratore?”William tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, menatap api yang menari di perapian. “Aku tidak bisa memutus hubungan bisnis begitu saja, Fiona. Tidak setelah semua yang mereka lakukan untuk mempertahankan Winston Holdings.”“Kau masih berutang pada mereka?”“Tidak secara uang.”“Lalu apa?”William mendekat perlahan, suaranya pelan tapi tegas.“Mereka menolong Winston dari kebangkrutan ketika aku kehilangan semua akses permodalan di Eropa. Tapi bantuan itu... berbalik menjadi belenggu. Setiap kali aku mencoba lepas, mereka menekan lewat cara lain—termasuk memakai Elizabeth.”Fiona menunduk, kedua tangannya mengepal. “Jadi semua yang selama ini dia katakan
Pagi itu, Mansion Winston diselimuti aroma kopi dan roti panggang. Dari balik jendela kaca besar, cahaya matahari masuk lembut, menerpa wajah Fiona yang sedang menyiapkan meja sarapan. Di dapur, suasana terasa hangat, tenang… dan nyaris sempurna.William baru turun dari tangga, masih mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan, dan senyum di wajahnya cukup untuk membuat Fiona berhenti menata sendok selama sepersekian detik.“Kau sudah bangun,” katanya lembut.William mendekat, memeluk Fiona dari belakang, dagunya bertumpu di bahu gadis itu. “Kau sudah menyiapkan semua ini untukku?”Fiona tersenyum kecil. “Untuk kita. Kau lupa hari ini rapat besar direksi, kan?”William tertawa pelan. “Aku tidak lupa. Aku hanya ingin sarapan yang dimasak oleh wanita yang paling membuatku kehilangan fokus di dunia ini.”“William…” Fiona menggeleng, tapi pipinya memerah.William memutar tubuhnya perlahan, memaksanya berhadapan. Tatapan mata mereka bertemu.
Langit Jakarta sore itu memerah seperti bara yang tertahan. Dari lantai atas kantor Winston Holdings, siluet gedung-gedung tinggi terlihat samar di balik kaca, sementara langit tampak seperti menandakan sesuatu yang akan pecah.Mikhail berdiri di depan jendela besar ruangannya, menatap ke bawah—ke arah jalan yang ramai dengan mobil dan manusia yang bergerak tanpa henti. Namun pikirannya jauh dari semua itu. Ia memikirkan satu hal saja, Fiona.Wanita yang dulu ia ajari cara membaca laporan, yang ia bimbing saat gugup di hari pertama magang. Kini gadis itu sudah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan masa lalu. Fiona menjadi alasan aneh yang membuat dadanya sesak setiap kali mendengar namanya disebut.Dan kini, Fiona adalah kekasih William Winston.Pria yang selama ini menjadi atasan sekaligus sosok yang diam-diam Mikhail kagumi karena kejeniusannya. Ironis, pikir Mikhail.Ia menghela napas berat, memijit batang hidungnya. Seharusnya ia sudah melupakan semua ini. Tapi ny







