LOGINPagi itu, suasana kantor masih terasa lengang.
Beberapa pegawai baru saja datang, sebagian masih sibuk menyalakan komputer, dan sisanya bergegas menyeduh kopi di pantry.
Fiona berjalan memasuki ruangan dengan langkah tenang, membawa tas kerja totebag sederhana.
Ia mengenakan kemeja biru cerah yang membuat kulitnya tampak lebih segar, rambutnya dibiarkan tergerai bergelombang alami, memberi kesan sederhana namun memikat.
Ia menyalakan komputernya perlahan, berusaha mengatur ritme napas agar lebih tenang.
Hari ini sama saja seperti hari-hari sebelumnya, atau setidaknya ia berharap begitu.
Jari-jarinya mulai bergerak di atas papan ketik, memeriksa laporan penelitian makanan ringan yang kemarin belum selesai.
Namun, baru sebentar ia fokus, suara berat seorang pria tiba-tiba terdengar di belakangnya.
“Nona Fiona,” panggil suara itu.
Tubuh Fiona refleks menegang, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia menoleh cepat, dan benar saja—James berdiri tidak jauh darinya, dengan senyum khas yang sedikit menyebalkan karena selalu terkesan tahu segalanya.
“Ada apa, tuan James?” tanya Fiona, berusaha menjaga suaranya tetap tenang.
James mengangkat alis, lalu menyampaikan, “Tuan memanggilmu ke ruangannya.”
Sekilas Fiona membeku.
Nama itu bergema di benaknya, membawa kembali bayangan pertemuan terakhir mereka di taman.
Sejak hari itu, tidak ada komunikasi lebih lanjut di antara mereka, seolah-olah garis batas dipertahankan dengan rapuh.
Namun, kini panggilan itu datang, dan Fiona tidak bisa menolaknya.
Ia menarik napas panjang, mencoba menata ekspresi agar tetap netral. “Baiklah,” jawabnya singkat.
James menunggu, lalu berjalan mendahuluinya.
Fiona mengikuti di belakang, langkahnya terasa berat, seakan setiap hentakan sepatu membawa kegelisahan.
Ketika pintu ruangan William terbuka, Fiona disambut aroma kopi yang samar dan cahaya matahari yang menembus kaca besar di belakang meja kerja.
William duduk dengan tenang, tubuhnya tegap, kemeja putih yang dikenakan terlipat rapi di lengan hingga siku.
Senyum tipis menghiasi bibirnya, dan tatapan matanya—tajam namun berbahaya—terpaku pada Fiona seolah ia adalah seekor hewan buruan yang terjebak dalam perangkap.
Fiona terbatuk pelan, menundukkan pandangan, lalu berkata sopan, “Tuan, Anda memanggil saya?”
William terkekeh pelan, nada suaranya terdengar ringan namun sarat makna. “Kenapa sangat kaku padaku, Fiona? Bukankah sekarang aku pacarmu juga?”
Dada Fiona seketika sesak. Ia mengerutkan kening, wajahnya merona meski berusaha tetap tegas.
Kalimat itu begitu terang-terangan, mengingatkan pada keterikatan mereka yang kelam.
Ia ingin membantah, tapi lidahnya kelu.
Hubungan itu memang nyata, meski terlarang, meski salah.
“Ini masih jam kerja, Tuan,” ujarnya dengan nada setenang mungkin, meski suara hatinya bergetar.
William hanya menyunggingkan senyum rubahnya yang khas, tidak membantah, tidak pula melanjutkan.
Ia melirik James, memberi isyarat halus. James langsung mengangguk dan keluar, menutup pintu dengan tenang.
Kini, hanya ada Fiona dan William di dalam ruangan, sunyi, penuh ketegangan yang hampir bisa diraba.
“Kemari,” ucap William, sambil mengetuk ringan meja kayu di depannya.
Fiona menelan ludah, lalu melangkah dengan ragu.
Setiap langkah terasa seperti memasuki wilayah terlarang, namun ia tidak punya pilihan.
Hingga akhirnya ia berdiri di depan meja kerja William, menunduk sopan.
William membuka laci meja, lalu mengeluarkan sebuah kotak bersegel rapi.
Fiona terperangah seketika. Kotak itu berisi ponsel keluaran terbaru, lengkap dengan tiga kamera besar yang sering dijuluki “kamera boba”.
Harganya bahkan setara dengan lima bulan uang sponsor yang pernah ia terima.
“Untukmu,” kata William ringan, menyodorkan kotak itu.
Fiona menatapnya penuh tanda tanya. “Ini… untuk apa?”
William menyandarkan tubuhnya ke kursi, menautkan jemarinya di depan dada.
Senyumnya lebar, penuh kemenangan. “Kau tidak mau kita ketahuan dengan mudah, bukan? Gunakan ponsel itu jika ingin menghubungiku. Hanya untuk itu.”
Fiona menggenggam kotak itu dengan ragu. Logika dalam ucapannya memang masuk akal.
Jika mereka menggunakan ponsel pribadi, risiko ketahuan lebih besar.
Namun, menerima hadiah semahal ini darinya membuat Fiona merasa semakin terjebak dalam jebakan yang tidak ia harapkan.
“Kenapa kau melakukan ini?” tanyanya lirih.
William mencondongkan tubuh, tatapannya semakin menusuk. “Karena aku ingin kau tetap bisa mencariku kapan pun. Karena aku tidak mau ada yang menghalangiku darimu.”
Wajah Fiona memanas. Ia berusaha mengalihkan pandangan, tapi William tidak memberinya celah.
Suasana ruangan mendadak menekan, seolah udara menjadi lebih berat.
“Aku tidak bisa menerima ini sembarangan, Tuan. Aku—”
William memotong dengan nada menggoda, “Kau bisa. Karena sekarang kau bukan hanya karyawan magang. Kau juga milikku.”
“Jangan bicara sembarangan,” balas Fiona, meski suaranya terdengar lemah.
William terkekeh lagi, puas melihat pipi Fiona yang merona. “Kau selalu terlihat manis ketika mencoba melawan.”
Fiona menggenggam kotak ponsel itu lebih erat, mencoba menegakkan tubuhnya. “Baiklah. Aku terima, tapi hanya karena alasan pekerjaan. Jangan salah artikan.”
William mengangkat alis, pura-pura polos. “Oh? Jadi hanya pekerjaan? Tidak ada sedikit pun alasan pribadi?”
Fiona menggertakkan gigi, tidak ingin menanggapinya. Ia tahu, jika terus meladeni, William hanya akan semakin puas menggodanya.
Hening sejenak, lalu William bersandar kembali. “Baiklah. Anggap saja itu alasanmu. Aku tidak keberatan. Asal kau tetap menyimpannya dan menggunakannya.”
Percakapan mereka berlanjut cukup lama.
William terus melemparkan kalimat-kalimat menggoda, sementara Fiona dengan kaku berusaha menangkis semuanya.
Namun, tak peduli seberapa keras ia menolak, rona merah di wajahnya tetap saja mengkhianati.
William tampak sangat menikmatinya, seperti seekor rubah yang bermain dengan mangsanya.
Akhirnya, William memberi isyarat agar Fiona keluar.
Dengan napas lega, Fiona membungkuk singkat, lalu bergegas meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, James masuk kembali.
Ekspresi William langsung berubah drastis.
Senyum menggoda itu lenyap, berganti dengan tatapan dingin dan serius.
Aura yang dipancarkannya kini berbeda, jauh lebih berbahaya.
“Apa yang kau temukan soal Leon?” tanya William datar, suaranya menusuk keheningan.
James menunduk hormat, lalu menjawab, “Saya sudah menelusuri, Tuan. Leon saat ini tidak bekerja. Ia pengangguran, hanya menumpang hidup pada nona Fiona. Bahkan, dia sering mengancam nona Fiona dengan foto-foto pribadinya.”
Tatapan William menggelap, namun ia tetap diam.
“Dan… alasan nona Fiona meminta uang seratus juta di muka dalam hubungan Anda kemarin,” lanjut James hati-hati, “adalah karena Leon. Dia gagal taruhan judi daring dan sekarang memaksa nona Fiona untuk melunasinya.”
Ruangan kembali hening. William mengetuk pelan meja dengan jarinya, seolah sedang menimbang.
James memberanikan diri menambahkan, “Tuan… apa sebaiknya kita segera menyelesaikan pria bernama Leon itu? Agar nona Fiona tidak terus terbebani?”
William menoleh perlahan, lalu bibirnya melengkung membentuk seringaian tipis. “Tidak perlu. Aku tidak mau mengganggu susunan puzzle wanita itu.”
James mengerutkan kening, ragu. “Jadi… kita akan diam saja?”
William menggeleng perlahan, sorot matanya semakin tajam. “Terus pantau. Jika dia berani melewati batas lebih dari ini, aku tidak akan ragu melenyapkannya dari riwayat dunia.”
James tercekat. Ia tahu betul bahwa William tidak sedang bercanda.
Ketegasan dalam suaranya adalah peringatan nyata.
Ia hanya bisa menunduk, menerima perintah tanpa bantahan.
Di dalam hati, James heran sekaligus cemas. Seberapa istimewa sebenarnya Fiona bagi William?
Untuk seorang karyawan magang, William rela mengulurkan tangan sejauh itu, bahkan menyiapkan ancaman maut bagi siapa pun yang berani melukai atau menghalangi.
James keluar dari ruangan dengan kepala tertunduk, sementara William kembali bersandar di kursinya.
Tatapannya kosong, namun senyum tipis kembali terukir di sudut bibirnya.
Puzzle yang ia sebut tadi masih jauh dari selesai. Dan Fiona—bagaimanapun caranya—akan selalu menjadi kepingan terpenting di dalamnya.
Udara musim semi membawa aroma bunga yang bermekaran, sementara lonceng-lonceng kecil gereja tua berdentang pelan, menciptakan ritme damai yang memeluk seluruh kota.Di halaman taman villa klasik yang disewa khusus untuk acara itu, kursi-kursi putih tersusun rapi. Taman mawar yang dipangkas indah membingkai altar marmer berbalut kain satin gading.Lalu Fiona datang.Ia berjalan keluar dari pintu villa dengan gaun putih sederhana yang jatuh anggun mengikuti lekuk tubuhnya. Gaun itu tidak mewah, tidak berkilau berlebihan—hanya elegan, lembut, dan memancarkan keindahan yang tidak bisa ditiru siapa pun.Rambutnya disanggul rapi dengan beberapa helai yang sengaja dibiarkan jatuh, dihiasi bunga peony putih. Matanya berkilau, bukan karena makeup, tetapi karena kebahagiaan yang hampir meluap.Jessica, sahabat setianya, berdiri di samping, hampir menitikkan air mata.“Kau cantik sekali… William pasti akan pingsan.”Fiona tertawa pelan, gugup namun bahagia.“Kalau dia pingsan, kau yang angka
Udara lembap membawa aroma tanah basah, sementara di dalam ruang kerja William, suasana begitu tenang—kontras dengan badai besar yang baru saja berlalu.Seminggu penuh dunia bisnis diguncang oleh kejatuhan Ratore Group.Laporan korupsi lintas negara, manipulasi dana, hingga skandal politik yang melibatkan pejabat tinggi—semuanya terbongkar satu per satu. Nama besar yang dulu disegani kini hanya tinggal sejarah kelam di headline surat kabar.William berdiri di depan jendela, memandangi hujan. Di belakangnya, Fiona duduk di sofa dengan secangkir teh hangat di tangan.“Sudah berakhir, kan?” tanyanya pelan.William menoleh, sorot matanya lembut namun tetap mengandung sisa kewaspadaan. “Ya. Elizabeth sudah diamankan di bawah pengawasan otoritas internasional. Tak ada lagi kekuatan Ratore yang bisa menyentuh Winston.”Fiona menunduk, menggenggam cangkirnya erat. “Aku tidak tahu apakah aku harus lega... atau kasihan.”William mendekat, berlutut di depannya, tangannya menggenggam jemari Fi
Langit kota London tampak muram pagi itu. Awan menggumpal tebal di atas gedung-gedung tinggi, menandakan hujan akan turun lagi. Namun di balik jendela kaca kantor Winston Holdings, suasananya justru lebih mencekam daripada cuaca di luar.Di ruang rapat utama, William berdiri tegak di depan layar besar yang menampilkan grafik saham yang menukik tajam—bukan milik Winston, melainkan milik Ratore Group.“Ini baru permulaan,” katanya tenang, matanya tajam menatap setiap garis grafik yang jatuh ke bawah.James yang berdiri di sisi lain meja menatap dengan kagum. “Tuan, jika tren ini berlanjut, mereka kehilangan hampir dua puluh persen valuasi dalam dua minggu.”William mengangguk pelan. “Biarkan pasar bekerja. Dunia bisnis selalu punya caranya sendiri membalas keserakahan.”Sementara itu, jauh di seberang kota, di gedung tinggi milik keluarga Ratore, Elizabeth menatap layar tablet di tangannya dengan ekspresi murka.“Siapa yang berani menjual saham kita sebanyak ini?” teriaknya, membantin
Fiona berdiri di depan perapian, memeluk lengannya sendiri, sementara William masih di tempat yang sama—berdiri di ambang pintu ruang tamu, dengan tatapan yang tak bisa ia baca.“Jawab, William.”Nada suara Fiona terdengar datar, tapi matanya bergetar menahan emosi.“Apakah kau masih berhubungan dengan keluarga Ratore?”William tidak langsung menjawab. Ia menghela napas panjang, menatap api yang menari di perapian. “Aku tidak bisa memutus hubungan bisnis begitu saja, Fiona. Tidak setelah semua yang mereka lakukan untuk mempertahankan Winston Holdings.”“Kau masih berutang pada mereka?”“Tidak secara uang.”“Lalu apa?”William mendekat perlahan, suaranya pelan tapi tegas.“Mereka menolong Winston dari kebangkrutan ketika aku kehilangan semua akses permodalan di Eropa. Tapi bantuan itu... berbalik menjadi belenggu. Setiap kali aku mencoba lepas, mereka menekan lewat cara lain—termasuk memakai Elizabeth.”Fiona menunduk, kedua tangannya mengepal. “Jadi semua yang selama ini dia katakan
Pagi itu, Mansion Winston diselimuti aroma kopi dan roti panggang. Dari balik jendela kaca besar, cahaya matahari masuk lembut, menerpa wajah Fiona yang sedang menyiapkan meja sarapan. Di dapur, suasana terasa hangat, tenang… dan nyaris sempurna.William baru turun dari tangga, masih mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan, dan senyum di wajahnya cukup untuk membuat Fiona berhenti menata sendok selama sepersekian detik.“Kau sudah bangun,” katanya lembut.William mendekat, memeluk Fiona dari belakang, dagunya bertumpu di bahu gadis itu. “Kau sudah menyiapkan semua ini untukku?”Fiona tersenyum kecil. “Untuk kita. Kau lupa hari ini rapat besar direksi, kan?”William tertawa pelan. “Aku tidak lupa. Aku hanya ingin sarapan yang dimasak oleh wanita yang paling membuatku kehilangan fokus di dunia ini.”“William…” Fiona menggeleng, tapi pipinya memerah.William memutar tubuhnya perlahan, memaksanya berhadapan. Tatapan mata mereka bertemu.
Langit Jakarta sore itu memerah seperti bara yang tertahan. Dari lantai atas kantor Winston Holdings, siluet gedung-gedung tinggi terlihat samar di balik kaca, sementara langit tampak seperti menandakan sesuatu yang akan pecah.Mikhail berdiri di depan jendela besar ruangannya, menatap ke bawah—ke arah jalan yang ramai dengan mobil dan manusia yang bergerak tanpa henti. Namun pikirannya jauh dari semua itu. Ia memikirkan satu hal saja, Fiona.Wanita yang dulu ia ajari cara membaca laporan, yang ia bimbing saat gugup di hari pertama magang. Kini gadis itu sudah menjadi sesuatu yang lebih dari sekadar kenangan masa lalu. Fiona menjadi alasan aneh yang membuat dadanya sesak setiap kali mendengar namanya disebut.Dan kini, Fiona adalah kekasih William Winston.Pria yang selama ini menjadi atasan sekaligus sosok yang diam-diam Mikhail kagumi karena kejeniusannya. Ironis, pikir Mikhail.Ia menghela napas berat, memijit batang hidungnya. Seharusnya ia sudah melupakan semua ini. Tapi ny







