共有

Bab 5

作者: Eternity
Malam setelah meninggalkan Adrian, aku tidak menginap di hotel. Aku pergi menemui ayahku, Leon. Saat membuka pintu apartemennya di atas sebuah kantor arsip lama dan melihatku yang memegang tas di tanganku sekilas, dia langsung menyingkir tanpa sepatah kata pun. Namun, reaksinya yang diam itu terasa lebih menyakitkan daripada rasa iba.

Ayahku adalah seorang akuntan forensik yang menangani kasus penipuan pribadi. Dia juga membongkar perusahaan cangkang, rekening pelabuhan, faktur palsu, dan dana yang hilang diam-diam yang tersembunyi dalam pembukuan yang terlihat terhormat. Dari awal, dia sudah membenci pernikahanku. Saat aku memilih Adrian dibandingkan dia, kami tidak berbicara hampir tiga tahun.

Di hari aku menikah ke Keluarga Martono, Leon mengirim satu pesan.

[ Kalau kamu membangun hidupmu di atas perlindungan pria berkuasa, jangan terkejut saat dia mengira ketergantunganmu sebagai bentuk pengabdian. ]

Perkataan ayahku benar.

Awalnya, Adrian suka memujiku cerdas dan memperkenalkanku sebagai istri yang lebih mengerti angka daripada setengah pria di sekitarnya. Setelah Vivian datang, dia tiba-tiba menilaiku terlalu lembut, instingku terlalu emosional, dan kemampuanku terlalu tidak praktis untuk dunianya.

Pada akhirnya, aku bukan lagi wanita dengan masa depanku sendiri. Aku adalah wanita yang masih harus meminta izin untuk menyentuh masa depanku itu.

Ayahku memberiku segelas air dan menungguku sampai berhenti gemetar, lalu duduk di seberangku dan berkata, "Aku rasa kamu datang ke sini bukan untuk mencari kenyamanan."

Suara ayahku terdengar kering, familier, dan lebih menenangkan daripada sekadar kebaikan.

"Bukan," jawabku.

Ayahku mendorong sebuah map ke arahku. "Bagus. Aku sedang jadi konsultan dalam penyelidikan pengiriman barang di dermaga selatan. Kargo hilang, vendor fiktif, dan uang pelabuhan lenyap ke rekening cangkang. Jam kerjanya panjang, tempatnya kotor, dan para pria itu berbohong dengan begitu natural seperti sedang bernapas. Tertarik?"

Aku hanya menatap ayahku.

Ayahku mengernyitkan alis. "Kenapa? Sudah terlalu terbiasa dengan lantai mengilap dan sopir yang membukakan pintu untukmu ya?"

Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, aku hampir tersenyum. Aku berkata, "Bukan, aku tertarik."

Ayahku menganggukkan kepalanya sekali, seolah-olah itu sudah cukup. "Kalau begitu, pergi mandi, tidur beberapa jam, dan turun jam enam. Aku nggak akan menunda pekerjaan hanya karena pernikahanmu runtuh."

Di bawah atap rumah ayahku, tidak ada ruang untuk drama.

Menjelang akhir minggu, aku hidup dari sebuah tas duffel dan menghabiskan hari-hariku di lapangan kontainer dan kantor bea cukai. Bahkan di ruang kerja sementara yang berbau solar, debu kertas, dan kopi buruk. Pekerjaannya berat dan menuntut ketelitian, berbeda dari kehidupan yang kutinggalkan. Dan itu juga hal pertama yang terasa nyata setelah bertahun-tahun ini.

Aku masih tahu caranya menelusuri pembukuan yang dimanipulasi. Aku juga masih tahu caranya mengenali transfer bertahap, pembayaran berlapis, dan jejak vendor palsu. Aku bahkan tahu kapan seorang pengawas dermaga sedang mengulur waktu, seorang petugas ketakutan, dan angka-angka dipindahkan hanya karena seseorang mengira tidak ada yang menyadarinya.

Sedikit demi sedikit, aku kembali menjadi wanita yang dulu sebelum mengenal Adrian.

Suatu sore setelah aku menelusuri pengiriman yang hilang melalui tiga perusahaan palsu dan satu rekening gudang buntu, pemimpin tim menutup berkas dengan kuat dan menatapku cukup lama. Setelah itu, dia berkata, "Aku kira Leon menyeretmu ke sini karena kasihan. Nggak disangka, ternyata kamu begitu berguna."

Aku mengibaskan debu dari tanganku dan tersenyum. "Aku juga mulai mengingat semua itu."

Malam itu, seluruh tim memesan makanan di luar kantor lapangan, sedangkan forklift bergerak di bawah lampu sorot di balik pagar. Seseorang melontarkan lelucon buruk dan yang lainnya tertawa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku juga tertawa.

Setelah itu, terdengar suara seorang wanita yang berbicara dengan santai dari seberang halaman. "Yah, ini nggak terduga."
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 11

    Kami berdiri dalam diam sejenak, lalu aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berjalan pergi.Yayasan-yayasan itu menerima pengalihan aset tanpa banyak tanya. Penjualan properti selesai dengan cepat. Aku tidak pernah peduli siapa yang akhirnya mendapatkan pakaian, perhiasan, atau rumah itu. Saat itu, perempuan yang dulu mati-matian berjuang untuk tetap berada di dunia seorang Adrian Martono sudah tidak ada lagi.Tahun-tahun setelahnya, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Apa yang bermula dari satu penyelidikan bersama ayahku berubah menjadi karier. Aku mempelajari pola perusahaan cangkang, faktur palsu, pencucian uang lewat pelabuhan, dan dana politik yang dialirkan melalui nama-nama terhormat.Aku menulis laporan yang menjatuhkan orang-orang yang selama bertahun-tahun meyakini bahwa tak ada seorang pun yang mampu menelusuri perbuatan kotor mereka. Tak lama kemudian, banyak firma mulai mengirim analis junior untuk kulatih.Suatu sore, Leon menjatuhkan setumpuk berkas ke meja

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 10

    Adrian memberikan kompensasi perceraian yang cukup besar kepadaku untuk membangun hidup baru dari nol.Ada uang tunai, dua rekening investasi, dan rumah di tepi pelabuhan tempat aku menghabiskan tiga tahun untuk menyadari bahwa tak ada satu pun di sana yang benar-benar milikku.Satu kali, aku kembali ke sana.Tidak ada yang dipindahkan. Lemari masih berisi gaun-gaun yang dulu harus kupakai dengan izin darinya dan perhiasan yang dulu tidak pernah boleh kusentuh kini tergeletak di laci beludru seolah-olah sejak awal memang milikku. Bahkan kode brankas dinding itu diatur ulang memakai tanggal lahirku.Hampir semuanya aku jual dalam dua hari.Pakaian, perhiasan, dan rumah itu. Sebagian besar hasilnya kuberikan ke tempat penampungan, dana bantuan hukum, dan yayasan perumahan bagi perempuan yang tidak punya tempat aman untuk pergi. Saat semuanya selesai, tempat itu terlihat kosong seperti perasaan yang selalu diberikan olehnya.Ponselku bergetar saat aku sedang menandatangani surat pemindaha

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 9

    Bukan berarti aku tidak pernah bertengkar dengan Adrian soal hal-hal seperti itu.Aku pernah mempertanyakannya, bahkan bukan cuma satu kali. Namun setiap kali, jawaban Adrian selalu sama. Tenang, meremehkan, dan yakin dialah pihak yang paling benar."Sarah, jangan picik. Itu cuma minuman.""Dia bekerja untukku. Kalau aku memberinya hadiah, itu urusanku.""Kamu itu istriku. Bersikaplah seperti istri yang baik."Dulu, aku menelan setiap penghinaan karena dia selalu memakai alasan yang sama, yaitu demi kebaikanku sendiri. Dulu, mengingat semua itu membuatku marah. Sekarang, itu hanya membuatku lelah. Aku nyaris tidak percaya dulu aku bisa dikendalikan dengan semudah itu.Setelah kubilang aku membenci bergamot, Adrian terdiam kaku.Kemudian, kepanikan melintas di wajahnya. "Maaf," katanya cepat. "Aku salah ingat. Kalau begitu, katakan apa yang kamu suka."Aku memeriksa berkas-berkas di meja dan menjawab tanpa menoleh. "Nggak perlu."Namun, Adrian tidak pernah tahu cara berhenti begitu dia

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 8

    Dia tetap tidak mengerti.Bahkan setelah semua yang terjadi, dia sungguh-sungguh percaya bahwa jika tawarannya cukup besar, aku seharusnya menerimanya dengan penuh rasa syukur."Cukup, Adrian," kataku, memotong ucapannya. "Hubungan kita sudah selesai. Aku nggak mau uangmu, permintaan maafmu, atau rencana-rencanamu itu. Satu-satunya hal yang kuinginkan darimu hanyalah kamu menandatangani surat cerai itu."Rasa sakit terlihat begitu jelas di wajahnya. Dulu, mungkin itu akan mengguncangku.Namun, sekarang sudah tidak lagi.Dia tidak bisa mengerti kenapa setelah datang menemuiku sendiri, setelah menyingkirkan Vivian, dan menawarkan semua hal yang menurutnya penting, aku masih berdiri di sana tanpa goyah sedikit pun."Sarah, aku nggak pernah ingin ini berakhir," katanya. "Kamu istriku."Suaranya merendah, nyaris memohon."Kamu ingin aku melakukan apa?"Saat itu aku sudah terlalu lelah untuk bersabar."Adrian, kamu selalu begitu yakin kalau orang lain harus berterima kasih cuma karena kamu m

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 7

    Kenapa aku nggak diberi tahu?"Suara Adrian terdengar serak saat memecah keheningan di halaman galangan kapal itu.Dari pengeras suara ponsel, Dokter Susanto terdiam sejenak sebelum menjawab. "Pak Adrian, kami sudah berusaha menghubungi Bapak hari itu beberapa kali."Genggaman Adrian pada ponselnya mengencang. "Kalian seharusnya coba telepon terus.""Kami sudah melakukannya. Orang kantormu bilang kamu nggak boleh diganggu kecuali Bu Sarah mengalami henti jantung. Setelah itu, semua kabar dialihkan ke Bu Vivian."Wajah Vivian langsung pucat pasi.Dokter Susanto melanjutkan dengan lebih hati-hati. "Setelah itu, saat pendarahannya makin parah, aku langsung menelepon nomor pribadimu. Tim keamananmu bilang kamu sedang berada di acara pelabuhan dan sudah memberi perintah agar nggak ada panggilan lain yang diteruskan kecuali memang nggak bisa menunggu sampai pagi.""Pendarahan itu menyebabkan kerusakan permanen. Kami berhasil menyelamatkan nyawa Bu Sarah, tapi nggak ada lagi yang bisa dipulih

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 6

    Saat berbalik, aku melihat Vivian berdiri tepat di dalam gerbang dengan satu tangannya bersandar pada pagar kawat seolah-olah seluruh area dermaga itu menghiburnya.Dengan mantel berwarna pucat, sepatu hak tinggi, parfum, dan berpenampilan rapi, Vivian terlihat tidak cocok dengan tempat yang berbau solar, hujan, dan penuh karat ini. Tatapannya bergerak perlahan-lahan menyusuriku. Dia memperhatikan debu di celana jinku, papan catatan di tanganku, dan tim di belakangku yang sedang makan makanan pesanan di samping tumpukan peti.Vivian berkata dengan santai, "Jadi, kamu berakhir di sini. Aku sempat penasaran kamu bisa bertahan berapa lagi baru bisa menemukan tempat yang lebih cocok denganmu."Aku menatap sepatu hak tingginya yang mulai tenggelam di kerikil. "Kamu memang selalu terlihat lebih nyaman di kehidupanku daripada aku sendiri."Senyuman Vivian menjadi tegang.Namun, sebelum Vivian sempat menjawab, aku menambahkan, "Melihatmu mengambil alih jadwal, rumah, dan suamiku cukup membuka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status