共有

Bab 3

作者: Eternity
Adrian pulang dengan cepat. Dengan tatapan yang melewati koper di dekat pintu, dia berjalan tanpa henti ke arahku. Dia masih mengenakan mantel malamnya yang membawa aroma asap serta parfum yang familier dan samar-samar parfum Vivian di antaranya. Dia mengangkat tangan ke arah wajahku dan berkata, "Sarah, kenapa kamu matikan ponselmu?"

Aku melangkah menjauh. "Aku mau tenang."

Tangan Adrian sempat terhenti sejenak, lalu diturunkan. Beberapa saat kemudian, dia kembali mendekat dan merangkul bahuku seolah-olah ini masih sesuatu yang bisa dikendalikannya. "Ini soal posting Instagram itu, 'kan?"

Melihat aku tidak menjawab, Adrian menganggap diamku itu sebagai persetujuan. Dia berkata dengan suara tenang dan hampir lembut, "Vivian bekerja di sampingku setiap harinya. Dia mengatur jadwalku, keuangan, dan urusan politik. Orang lain tentu saja mengira kami bersama, tapi itu bukan berarti situasinya sama seperti yang kamu pikirkan."

"Kamu sudah tahu bagaimana keluarga-keluarga lama membicarakanmu, mereka pikir kamu nggak mengerti kehidupan ini. Jangan beri mereka bahan gosip hanya karena kamu kesal atas sesuatu yang nggak berarti."

Adrian terus berbicara, menjelaskan dunia itu padaku sesuai dengan versi yang diinginkannya. "Apa yang terjadi di rumah sakit itu memang buruk. Aku tahu kamu berduka, tapi mempermalukan Vivian di depan umum nggak akan mengubah apa pun. Dia sampai menangis karena komentar itu, tapi masih berusaha menjelaskan posisimu padaku."

Saat menatap Adrian dengan penjelasannya yang tidak menyakitkan lagi, aku menyadari dia memercayai setiap kata itu. Dia percaya wanita yang sudah menunda operasiku menghabiskan sepanjang malam itu untuk membelaku. Yang paling pentingnya lagi, dia percaya aku yang sudah melebih-lebihkan bahaya itu.

"Aku memberimu kehidupan di mana kamu nggak perlu mengkhawatirkan apa pun. Kalau kamu terus memperlakukan Vivian seperti musuh, aku akan mulai berpikir ini lebih soal kontrol daripada duka," kata Adrian dengan ekspresi tegang saat melihatku tetap diam.

Setelah itu, Adrian melembutkan tuduhannya dan menambahkan, "Kamu baru saja mengalami kejutan. Pergilah istirahat, biar aku yang tangani sisanya."

Aku langsung tertawa pelan saat mendengar kata-kata itu, tetapi suaranya cukup untuk membuat Adrian berhenti. Aku berjalan melintasi ruangan, lalu meletakkan koperku di atas tempat tidur dan membukanya. Di dalamnya, hanya ada dua sweter, sepasang celana jin, mantel lama, paspor, dan map berisi dokumen pribadi. Selain itu, tidak ada yang lainnya lagi.

Adrian mengernyitkan alis. "Kamu ini mau membuktikan apa?"

Aku menyentuh lengan mantel yang aku beli itu sebelum bertemu dengan Adrian dan menjawab, "Kamu bilang aku nggak perlu mengkhawatirkan apa pun, tapi aku malah harus meninggalkan vilamu dengan barang yang hanya cukup untuk bertahan selama beberapa hari."

Ekspresi Adrian menjadi tegang. "Itu nggak masuk akal."

"Benarkah?"

Aku menatap mata Adrian. "Kalau aku butuh uang tunai, harus lewat Vivian. Kalau aku mau ubah jadwal, harus lewat Vivian. Kalau aku butuh mobil di luar jam biasa, harus lewat Vivian. Kalau ada makan malam, penggalangan dana, atau acara keluarga, dia yang menentukan apa yang pakaianku dan kapan aku diberi tahu kabar itu."

Aku menarik napas, lalu mengatakan bagian yang akhirnya membuat Adrian terdiam. "Uang di tas para pelayanmu bahkan lebih banyak daripada milikku."

Adrian hendak menyela, tetapi aku mencengkeram lengan bajunya dan membawanya ke ruang ganti. Kami berjalan melewati cermin, gaun-gaun, dan laci perhiasan, lalu berdiri di brankas dalam tempat keluarga ini menyimpan uang tunai dan apa pun yang cukup berharga untuk diawasi. Aku menunjuk panel keamanan di samping pintu baja dan berkata, "Silakan buka itu."

Tatapan Adrian berpindah dari keypad ke arahku, lalu kembali lagi. "Masukkan kode dulu, lalu sidik jari dan persetujuan dari kantor keluarga di lantai bawah. Setelah itu, siapa yang memberi otorisasi terakhir itu?"

Adrian tidak menjawab.

"Vivian," kataku yang membantu Adrian menjawab.

Untuk pertama kalinya, kebingungan yang nyata melintas di ekspresi Adrian. Dia melihat ke arah brankas dan ruangan di sekitar kami, seolah-olah melihat tempat itu dari sudut pandang yang baru. Namun, momen itu berlalu dengan cepat. Setiap kali ada kebenaran yang mengancamnya, dia pasti akan mencari penjelasan yang melindungi harga dirinya.

"Jadi, ini sebenarnya soal kekuasaan ya?" kata Adrian akhirnya.

Saat itu, aku merasakan ada sisa dari dalam diriku yang menjadi makin dingin. Adrian masih mengira semua ini soal kecemburuan, bukan soal fakta dia memilih untuk percaya aku berbohong saat aku paling membutuhkannya. Aku melepaskan lengan bajunya, lalu melangkah mundur dan berkata, "Nggak penting lagi apa yang kamu pikirkan."

Adrian menyipitkan matanya. "Sarah."

Aku mengambil surat perceraian dari atas tempat tidur dan menyerahkannya pada Adrian. "Pernikahan ini sudah berakhir."
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 11

    Kami berdiri dalam diam sejenak, lalu aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berjalan pergi.Yayasan-yayasan itu menerima pengalihan aset tanpa banyak tanya. Penjualan properti selesai dengan cepat. Aku tidak pernah peduli siapa yang akhirnya mendapatkan pakaian, perhiasan, atau rumah itu. Saat itu, perempuan yang dulu mati-matian berjuang untuk tetap berada di dunia seorang Adrian Martono sudah tidak ada lagi.Tahun-tahun setelahnya, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Apa yang bermula dari satu penyelidikan bersama ayahku berubah menjadi karier. Aku mempelajari pola perusahaan cangkang, faktur palsu, pencucian uang lewat pelabuhan, dan dana politik yang dialirkan melalui nama-nama terhormat.Aku menulis laporan yang menjatuhkan orang-orang yang selama bertahun-tahun meyakini bahwa tak ada seorang pun yang mampu menelusuri perbuatan kotor mereka. Tak lama kemudian, banyak firma mulai mengirim analis junior untuk kulatih.Suatu sore, Leon menjatuhkan setumpuk berkas ke meja

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 10

    Adrian memberikan kompensasi perceraian yang cukup besar kepadaku untuk membangun hidup baru dari nol.Ada uang tunai, dua rekening investasi, dan rumah di tepi pelabuhan tempat aku menghabiskan tiga tahun untuk menyadari bahwa tak ada satu pun di sana yang benar-benar milikku.Satu kali, aku kembali ke sana.Tidak ada yang dipindahkan. Lemari masih berisi gaun-gaun yang dulu harus kupakai dengan izin darinya dan perhiasan yang dulu tidak pernah boleh kusentuh kini tergeletak di laci beludru seolah-olah sejak awal memang milikku. Bahkan kode brankas dinding itu diatur ulang memakai tanggal lahirku.Hampir semuanya aku jual dalam dua hari.Pakaian, perhiasan, dan rumah itu. Sebagian besar hasilnya kuberikan ke tempat penampungan, dana bantuan hukum, dan yayasan perumahan bagi perempuan yang tidak punya tempat aman untuk pergi. Saat semuanya selesai, tempat itu terlihat kosong seperti perasaan yang selalu diberikan olehnya.Ponselku bergetar saat aku sedang menandatangani surat pemindaha

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 9

    Bukan berarti aku tidak pernah bertengkar dengan Adrian soal hal-hal seperti itu.Aku pernah mempertanyakannya, bahkan bukan cuma satu kali. Namun setiap kali, jawaban Adrian selalu sama. Tenang, meremehkan, dan yakin dialah pihak yang paling benar."Sarah, jangan picik. Itu cuma minuman.""Dia bekerja untukku. Kalau aku memberinya hadiah, itu urusanku.""Kamu itu istriku. Bersikaplah seperti istri yang baik."Dulu, aku menelan setiap penghinaan karena dia selalu memakai alasan yang sama, yaitu demi kebaikanku sendiri. Dulu, mengingat semua itu membuatku marah. Sekarang, itu hanya membuatku lelah. Aku nyaris tidak percaya dulu aku bisa dikendalikan dengan semudah itu.Setelah kubilang aku membenci bergamot, Adrian terdiam kaku.Kemudian, kepanikan melintas di wajahnya. "Maaf," katanya cepat. "Aku salah ingat. Kalau begitu, katakan apa yang kamu suka."Aku memeriksa berkas-berkas di meja dan menjawab tanpa menoleh. "Nggak perlu."Namun, Adrian tidak pernah tahu cara berhenti begitu dia

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 8

    Dia tetap tidak mengerti.Bahkan setelah semua yang terjadi, dia sungguh-sungguh percaya bahwa jika tawarannya cukup besar, aku seharusnya menerimanya dengan penuh rasa syukur."Cukup, Adrian," kataku, memotong ucapannya. "Hubungan kita sudah selesai. Aku nggak mau uangmu, permintaan maafmu, atau rencana-rencanamu itu. Satu-satunya hal yang kuinginkan darimu hanyalah kamu menandatangani surat cerai itu."Rasa sakit terlihat begitu jelas di wajahnya. Dulu, mungkin itu akan mengguncangku.Namun, sekarang sudah tidak lagi.Dia tidak bisa mengerti kenapa setelah datang menemuiku sendiri, setelah menyingkirkan Vivian, dan menawarkan semua hal yang menurutnya penting, aku masih berdiri di sana tanpa goyah sedikit pun."Sarah, aku nggak pernah ingin ini berakhir," katanya. "Kamu istriku."Suaranya merendah, nyaris memohon."Kamu ingin aku melakukan apa?"Saat itu aku sudah terlalu lelah untuk bersabar."Adrian, kamu selalu begitu yakin kalau orang lain harus berterima kasih cuma karena kamu m

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 7

    Kenapa aku nggak diberi tahu?"Suara Adrian terdengar serak saat memecah keheningan di halaman galangan kapal itu.Dari pengeras suara ponsel, Dokter Susanto terdiam sejenak sebelum menjawab. "Pak Adrian, kami sudah berusaha menghubungi Bapak hari itu beberapa kali."Genggaman Adrian pada ponselnya mengencang. "Kalian seharusnya coba telepon terus.""Kami sudah melakukannya. Orang kantormu bilang kamu nggak boleh diganggu kecuali Bu Sarah mengalami henti jantung. Setelah itu, semua kabar dialihkan ke Bu Vivian."Wajah Vivian langsung pucat pasi.Dokter Susanto melanjutkan dengan lebih hati-hati. "Setelah itu, saat pendarahannya makin parah, aku langsung menelepon nomor pribadimu. Tim keamananmu bilang kamu sedang berada di acara pelabuhan dan sudah memberi perintah agar nggak ada panggilan lain yang diteruskan kecuali memang nggak bisa menunggu sampai pagi.""Pendarahan itu menyebabkan kerusakan permanen. Kami berhasil menyelamatkan nyawa Bu Sarah, tapi nggak ada lagi yang bisa dipulih

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 6

    Saat berbalik, aku melihat Vivian berdiri tepat di dalam gerbang dengan satu tangannya bersandar pada pagar kawat seolah-olah seluruh area dermaga itu menghiburnya.Dengan mantel berwarna pucat, sepatu hak tinggi, parfum, dan berpenampilan rapi, Vivian terlihat tidak cocok dengan tempat yang berbau solar, hujan, dan penuh karat ini. Tatapannya bergerak perlahan-lahan menyusuriku. Dia memperhatikan debu di celana jinku, papan catatan di tanganku, dan tim di belakangku yang sedang makan makanan pesanan di samping tumpukan peti.Vivian berkata dengan santai, "Jadi, kamu berakhir di sini. Aku sempat penasaran kamu bisa bertahan berapa lagi baru bisa menemukan tempat yang lebih cocok denganmu."Aku menatap sepatu hak tingginya yang mulai tenggelam di kerikil. "Kamu memang selalu terlihat lebih nyaman di kehidupanku daripada aku sendiri."Senyuman Vivian menjadi tegang.Namun, sebelum Vivian sempat menjawab, aku menambahkan, "Melihatmu mengambil alih jadwal, rumah, dan suamiku cukup membuka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status