共有

Bab 4

作者: Eternity
Untuk pertama kalinya di malam itu, Adrian tidak membalas ucapanku. Dia berdiri dengan surat perceraian di tangannya dan menatapku seolah-olah semua ini masih bisa diperbaiki jika dia memilih kata-kata yang tepat. Dia pun berkata, "Baiklah, aku seharusnya menangani ini dengan cara yang berbeda."

Saat mengatakan itu, suara Adrian terdengar tenang dan lembut. Kata-katanya memang selalu paling meyakinkan saat dia merasa sedang bersikap murah hati.

Adrian menambahkan, "Besok aku akan memberimu otoritas langsung atas kantor kediaman. Nggak perlu persetujuan lagi, nggak ada pengeluaran pribadi yang harus lewat orang lain lagi. Kalau kamu mau rekening pribadi, itu milikmu. Kalau kamu mau staf rumah tangga melapor padamu, aku akan mengubahnya."

Setelah mengamatiku dengan cermat, Adrian yakin dia akhirnya menemukan titik lemahku. "Dan kalau ini soal Vivian, aku akan memindahkannya dari urusan kediaman. Soal pengelolaan properti, para sopir, dan staf rumah akan melapor padamu."

Setelah itu, nada bicara Adrian kembali lembut. "Dan perawatanmu nggak perlu lewat siapa pun lagi, aku sendiri yang akan menanggung biaya klinik. Setiap dokter, pemeriksaan lanjutan, dan tagihannya."

Selama tiga tahun ini, pola itu selalu berhasil. Setelah setiap penghinaan, Adrian akan menawarkan konsesi. Setelah setiap luka, dia akan memberiku sesuatu dan menyebut itu sebagai perlindungan. Bagi pria seperti dia, itu sudah dianggap sebagai permintaan maaf.

Dulu, aku pasti akan merasa itu sudah cukup, tetapi kali ini Adrian sudah terlambat. Aku berkata, "Adrian, aku nggak mau otoritas atas rumahmu, rekeningmu, para staf, atau janji lainnya yang datang setelah semuanya terlambat."

Aku menatap lurus ke arah Adrian. "Aku mau cerai."

Mendengar itu, kelembutan Adrian menghilang sedikit demi sedikit. Dia menatapku dan menungguku yang menyerah terlebih dulu. Namun, saat melihat aku tidak melakukannya, sesuatu yang lebih dingin menyelimuti ekspresinya.

"Cukup."

Adrian melangkah mendekat setelah mengatakan itu, tetapi kali ini dia tidak menyentuhku. "Aku tahu kamu sudah tertekan selama berminggu-minggu, tapi kamu nggak buat keputusan ini dengan pikiran yang jernih. Kamu sedang emosi dan kelelahan, jadi kamu mengubah satu hari burukmu jadi sesuatu yang permanen."

Karena tidak ada kekejaman dalam nada bicara Adrian, itu yang membuatnya tak tertahankan. Setiap kata-katanya itu benar-benar serius. Dia melanjutkan, "Kamu nggak akan keluar dari sini sendirian malam ini. Tanpa margaku di belakang namamu dan orang-orangku yang menjaga pintu, kamu nggak tahu betapa lemahnya dirimu."

Namun, aku tetap tidak menjawab, sehingga rahang Adrian terlihat tegang. "Aku berusaha hentikan kamu melakukan sesuatu yang akan kamu sesali setelah kamu tenang nantinya. Jangan paksa aku mengunci lantai ini sampai kamu sadar."

Adrian selalu menggunakan alasan sebagai perlindungan untuk melakukan semuanya padaku. Dia menempatkan wanita lain di antara aku dan kehidupan yang seharusnya menjadi milikku karena alasan untuk memudahkan semuanya. Dia memercayai wanita itu dibandingkan aku saat aku sedang berdarah dengan alasan mencegah kepanikan.

Kini, Adrian berdiri di antara aku dengan pintu dan mengira pengendaliannya sebagai bentuk kepedulian. Dia masih percaya aku paling aman jika berada di dalam sangkar.

Aku mengambil tas perjalananku dan berkata, "Kalau begitu, biarkan aku menyesalinya."

Untuk pertama kalinya, ekspresi Adrian terlihat tidak percaya. Dia mengira akan melihat air mata, kemarahan, dan tawar-menawar, tetapi dia tidak menyangka aku akan berjalan melewatinya seolah-olah dia tidak berkuasa untuk menghentikanku lagi.

Namun, Adrian juga tidak mengejarku karena harga dirinya menahannya untuk tetap di tempat. Begitu juga dengan keyakinannya, dia sudah terlalu lama percaya aku tidak akan bisa bertahan di luar kehidupan yang sudah dibangunnya untukku.

Bagi Adrian, ini hanya reaksi emosional lainnya yang membara dan padam dengan cepat, lalu berakhir seperti biasanya. Aku akan kembali setelah aku sudah cukup ketakutan dengan dunia luar.

Saat tanganku menggenggam gagang pintu, aku mendengar Adrian yang berada di belakangku menarik napas. Dia terlihat seperti akhirnya akan mengatakan sesuatu yang penting, tetapi dia tidak melakukannya. Aku membuka pintu dan melangkah keluar, lalu suara pintu yang tertutup di belakangku bergema di vila seperti letusan senjata.

Saat itu, Adrian yang ditinggal sendirian dalam keheningan seolah-olah merasakan tepi pertama dari sesuatu yang asing. Dia menyelipkan tangannya ke dalam mantel dan menyentuh pemantik api kuningan yang terukir inisialnya. Itu adalah pemantik yang sku pesan untuknya saat dia bilang dia merindukan pemantik lama milik ayahnya.

Saat itu, ponsel Adrian menyala dan masuk pesan dari Vivian.

[ Jangan kejar dia. Dia sedang kesal, jadi dia mau memaksamu membuat keputusan. ]

Setelah itu, pesan kedua Vivian menyusul.

[ Biarkan dia tenang dulu. Setelah dia lihat seperti apa kehidupan tanpa dirimu, dia akan kembali dengan sendirinya. ]

Adrian menatap layar ponsel itu, lalu menggenggam pemantiknya dengan erat hingga logamnya menekan telapak tangannya. Dia berkata pada dirinya sendiri apa yang dikatakan Vivian benar, dia hanya bisa begitu.

Dia percaya dalam satu atau dua hari ini, aku akan menyadari apa yang telah aku tinggalkan. Aku akan kembali dengan gemetar, kelelahan, dan siap untuk bersikap masuk akal. Dan saat aku kembali nantinya, dia akan memastikan aku tidak akan pernah membicarakan soal perceraian lagi.
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 11

    Kami berdiri dalam diam sejenak, lalu aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berjalan pergi.Yayasan-yayasan itu menerima pengalihan aset tanpa banyak tanya. Penjualan properti selesai dengan cepat. Aku tidak pernah peduli siapa yang akhirnya mendapatkan pakaian, perhiasan, atau rumah itu. Saat itu, perempuan yang dulu mati-matian berjuang untuk tetap berada di dunia seorang Adrian Martono sudah tidak ada lagi.Tahun-tahun setelahnya, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Apa yang bermula dari satu penyelidikan bersama ayahku berubah menjadi karier. Aku mempelajari pola perusahaan cangkang, faktur palsu, pencucian uang lewat pelabuhan, dan dana politik yang dialirkan melalui nama-nama terhormat.Aku menulis laporan yang menjatuhkan orang-orang yang selama bertahun-tahun meyakini bahwa tak ada seorang pun yang mampu menelusuri perbuatan kotor mereka. Tak lama kemudian, banyak firma mulai mengirim analis junior untuk kulatih.Suatu sore, Leon menjatuhkan setumpuk berkas ke meja

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 10

    Adrian memberikan kompensasi perceraian yang cukup besar kepadaku untuk membangun hidup baru dari nol.Ada uang tunai, dua rekening investasi, dan rumah di tepi pelabuhan tempat aku menghabiskan tiga tahun untuk menyadari bahwa tak ada satu pun di sana yang benar-benar milikku.Satu kali, aku kembali ke sana.Tidak ada yang dipindahkan. Lemari masih berisi gaun-gaun yang dulu harus kupakai dengan izin darinya dan perhiasan yang dulu tidak pernah boleh kusentuh kini tergeletak di laci beludru seolah-olah sejak awal memang milikku. Bahkan kode brankas dinding itu diatur ulang memakai tanggal lahirku.Hampir semuanya aku jual dalam dua hari.Pakaian, perhiasan, dan rumah itu. Sebagian besar hasilnya kuberikan ke tempat penampungan, dana bantuan hukum, dan yayasan perumahan bagi perempuan yang tidak punya tempat aman untuk pergi. Saat semuanya selesai, tempat itu terlihat kosong seperti perasaan yang selalu diberikan olehnya.Ponselku bergetar saat aku sedang menandatangani surat pemindaha

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 9

    Bukan berarti aku tidak pernah bertengkar dengan Adrian soal hal-hal seperti itu.Aku pernah mempertanyakannya, bahkan bukan cuma satu kali. Namun setiap kali, jawaban Adrian selalu sama. Tenang, meremehkan, dan yakin dialah pihak yang paling benar."Sarah, jangan picik. Itu cuma minuman.""Dia bekerja untukku. Kalau aku memberinya hadiah, itu urusanku.""Kamu itu istriku. Bersikaplah seperti istri yang baik."Dulu, aku menelan setiap penghinaan karena dia selalu memakai alasan yang sama, yaitu demi kebaikanku sendiri. Dulu, mengingat semua itu membuatku marah. Sekarang, itu hanya membuatku lelah. Aku nyaris tidak percaya dulu aku bisa dikendalikan dengan semudah itu.Setelah kubilang aku membenci bergamot, Adrian terdiam kaku.Kemudian, kepanikan melintas di wajahnya. "Maaf," katanya cepat. "Aku salah ingat. Kalau begitu, katakan apa yang kamu suka."Aku memeriksa berkas-berkas di meja dan menjawab tanpa menoleh. "Nggak perlu."Namun, Adrian tidak pernah tahu cara berhenti begitu dia

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 8

    Dia tetap tidak mengerti.Bahkan setelah semua yang terjadi, dia sungguh-sungguh percaya bahwa jika tawarannya cukup besar, aku seharusnya menerimanya dengan penuh rasa syukur."Cukup, Adrian," kataku, memotong ucapannya. "Hubungan kita sudah selesai. Aku nggak mau uangmu, permintaan maafmu, atau rencana-rencanamu itu. Satu-satunya hal yang kuinginkan darimu hanyalah kamu menandatangani surat cerai itu."Rasa sakit terlihat begitu jelas di wajahnya. Dulu, mungkin itu akan mengguncangku.Namun, sekarang sudah tidak lagi.Dia tidak bisa mengerti kenapa setelah datang menemuiku sendiri, setelah menyingkirkan Vivian, dan menawarkan semua hal yang menurutnya penting, aku masih berdiri di sana tanpa goyah sedikit pun."Sarah, aku nggak pernah ingin ini berakhir," katanya. "Kamu istriku."Suaranya merendah, nyaris memohon."Kamu ingin aku melakukan apa?"Saat itu aku sudah terlalu lelah untuk bersabar."Adrian, kamu selalu begitu yakin kalau orang lain harus berterima kasih cuma karena kamu m

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 7

    Kenapa aku nggak diberi tahu?"Suara Adrian terdengar serak saat memecah keheningan di halaman galangan kapal itu.Dari pengeras suara ponsel, Dokter Susanto terdiam sejenak sebelum menjawab. "Pak Adrian, kami sudah berusaha menghubungi Bapak hari itu beberapa kali."Genggaman Adrian pada ponselnya mengencang. "Kalian seharusnya coba telepon terus.""Kami sudah melakukannya. Orang kantormu bilang kamu nggak boleh diganggu kecuali Bu Sarah mengalami henti jantung. Setelah itu, semua kabar dialihkan ke Bu Vivian."Wajah Vivian langsung pucat pasi.Dokter Susanto melanjutkan dengan lebih hati-hati. "Setelah itu, saat pendarahannya makin parah, aku langsung menelepon nomor pribadimu. Tim keamananmu bilang kamu sedang berada di acara pelabuhan dan sudah memberi perintah agar nggak ada panggilan lain yang diteruskan kecuali memang nggak bisa menunggu sampai pagi.""Pendarahan itu menyebabkan kerusakan permanen. Kami berhasil menyelamatkan nyawa Bu Sarah, tapi nggak ada lagi yang bisa dipulih

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 6

    Saat berbalik, aku melihat Vivian berdiri tepat di dalam gerbang dengan satu tangannya bersandar pada pagar kawat seolah-olah seluruh area dermaga itu menghiburnya.Dengan mantel berwarna pucat, sepatu hak tinggi, parfum, dan berpenampilan rapi, Vivian terlihat tidak cocok dengan tempat yang berbau solar, hujan, dan penuh karat ini. Tatapannya bergerak perlahan-lahan menyusuriku. Dia memperhatikan debu di celana jinku, papan catatan di tanganku, dan tim di belakangku yang sedang makan makanan pesanan di samping tumpukan peti.Vivian berkata dengan santai, "Jadi, kamu berakhir di sini. Aku sempat penasaran kamu bisa bertahan berapa lagi baru bisa menemukan tempat yang lebih cocok denganmu."Aku menatap sepatu hak tingginya yang mulai tenggelam di kerikil. "Kamu memang selalu terlihat lebih nyaman di kehidupanku daripada aku sendiri."Senyuman Vivian menjadi tegang.Namun, sebelum Vivian sempat menjawab, aku menambahkan, "Melihatmu mengambil alih jadwal, rumah, dan suamiku cukup membuka

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status