تسجيل الدخولKami berdiri dalam diam sejenak, lalu aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berjalan pergi.Yayasan-yayasan itu menerima pengalihan aset tanpa banyak tanya. Penjualan properti selesai dengan cepat. Aku tidak pernah peduli siapa yang akhirnya mendapatkan pakaian, perhiasan, atau rumah itu. Saat itu, perempuan yang dulu mati-matian berjuang untuk tetap berada di dunia seorang Adrian Martono sudah tidak ada lagi.Tahun-tahun setelahnya, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Apa yang bermula dari satu penyelidikan bersama ayahku berubah menjadi karier. Aku mempelajari pola perusahaan cangkang, faktur palsu, pencucian uang lewat pelabuhan, dan dana politik yang dialirkan melalui nama-nama terhormat.Aku menulis laporan yang menjatuhkan orang-orang yang selama bertahun-tahun meyakini bahwa tak ada seorang pun yang mampu menelusuri perbuatan kotor mereka. Tak lama kemudian, banyak firma mulai mengirim analis junior untuk kulatih.Suatu sore, Leon menjatuhkan setumpuk berkas ke meja
Adrian memberikan kompensasi perceraian yang cukup besar kepadaku untuk membangun hidup baru dari nol.Ada uang tunai, dua rekening investasi, dan rumah di tepi pelabuhan tempat aku menghabiskan tiga tahun untuk menyadari bahwa tak ada satu pun di sana yang benar-benar milikku.Satu kali, aku kembali ke sana.Tidak ada yang dipindahkan. Lemari masih berisi gaun-gaun yang dulu harus kupakai dengan izin darinya dan perhiasan yang dulu tidak pernah boleh kusentuh kini tergeletak di laci beludru seolah-olah sejak awal memang milikku. Bahkan kode brankas dinding itu diatur ulang memakai tanggal lahirku.Hampir semuanya aku jual dalam dua hari.Pakaian, perhiasan, dan rumah itu. Sebagian besar hasilnya kuberikan ke tempat penampungan, dana bantuan hukum, dan yayasan perumahan bagi perempuan yang tidak punya tempat aman untuk pergi. Saat semuanya selesai, tempat itu terlihat kosong seperti perasaan yang selalu diberikan olehnya.Ponselku bergetar saat aku sedang menandatangani surat pemindaha
Bukan berarti aku tidak pernah bertengkar dengan Adrian soal hal-hal seperti itu.Aku pernah mempertanyakannya, bahkan bukan cuma satu kali. Namun setiap kali, jawaban Adrian selalu sama. Tenang, meremehkan, dan yakin dialah pihak yang paling benar."Sarah, jangan picik. Itu cuma minuman.""Dia bekerja untukku. Kalau aku memberinya hadiah, itu urusanku.""Kamu itu istriku. Bersikaplah seperti istri yang baik."Dulu, aku menelan setiap penghinaan karena dia selalu memakai alasan yang sama, yaitu demi kebaikanku sendiri. Dulu, mengingat semua itu membuatku marah. Sekarang, itu hanya membuatku lelah. Aku nyaris tidak percaya dulu aku bisa dikendalikan dengan semudah itu.Setelah kubilang aku membenci bergamot, Adrian terdiam kaku.Kemudian, kepanikan melintas di wajahnya. "Maaf," katanya cepat. "Aku salah ingat. Kalau begitu, katakan apa yang kamu suka."Aku memeriksa berkas-berkas di meja dan menjawab tanpa menoleh. "Nggak perlu."Namun, Adrian tidak pernah tahu cara berhenti begitu dia
Dia tetap tidak mengerti.Bahkan setelah semua yang terjadi, dia sungguh-sungguh percaya bahwa jika tawarannya cukup besar, aku seharusnya menerimanya dengan penuh rasa syukur."Cukup, Adrian," kataku, memotong ucapannya. "Hubungan kita sudah selesai. Aku nggak mau uangmu, permintaan maafmu, atau rencana-rencanamu itu. Satu-satunya hal yang kuinginkan darimu hanyalah kamu menandatangani surat cerai itu."Rasa sakit terlihat begitu jelas di wajahnya. Dulu, mungkin itu akan mengguncangku.Namun, sekarang sudah tidak lagi.Dia tidak bisa mengerti kenapa setelah datang menemuiku sendiri, setelah menyingkirkan Vivian, dan menawarkan semua hal yang menurutnya penting, aku masih berdiri di sana tanpa goyah sedikit pun."Sarah, aku nggak pernah ingin ini berakhir," katanya. "Kamu istriku."Suaranya merendah, nyaris memohon."Kamu ingin aku melakukan apa?"Saat itu aku sudah terlalu lelah untuk bersabar."Adrian, kamu selalu begitu yakin kalau orang lain harus berterima kasih cuma karena kamu m
Kenapa aku nggak diberi tahu?"Suara Adrian terdengar serak saat memecah keheningan di halaman galangan kapal itu.Dari pengeras suara ponsel, Dokter Susanto terdiam sejenak sebelum menjawab. "Pak Adrian, kami sudah berusaha menghubungi Bapak hari itu beberapa kali."Genggaman Adrian pada ponselnya mengencang. "Kalian seharusnya coba telepon terus.""Kami sudah melakukannya. Orang kantormu bilang kamu nggak boleh diganggu kecuali Bu Sarah mengalami henti jantung. Setelah itu, semua kabar dialihkan ke Bu Vivian."Wajah Vivian langsung pucat pasi.Dokter Susanto melanjutkan dengan lebih hati-hati. "Setelah itu, saat pendarahannya makin parah, aku langsung menelepon nomor pribadimu. Tim keamananmu bilang kamu sedang berada di acara pelabuhan dan sudah memberi perintah agar nggak ada panggilan lain yang diteruskan kecuali memang nggak bisa menunggu sampai pagi.""Pendarahan itu menyebabkan kerusakan permanen. Kami berhasil menyelamatkan nyawa Bu Sarah, tapi nggak ada lagi yang bisa dipulih
Saat berbalik, aku melihat Vivian berdiri tepat di dalam gerbang dengan satu tangannya bersandar pada pagar kawat seolah-olah seluruh area dermaga itu menghiburnya.Dengan mantel berwarna pucat, sepatu hak tinggi, parfum, dan berpenampilan rapi, Vivian terlihat tidak cocok dengan tempat yang berbau solar, hujan, dan penuh karat ini. Tatapannya bergerak perlahan-lahan menyusuriku. Dia memperhatikan debu di celana jinku, papan catatan di tanganku, dan tim di belakangku yang sedang makan makanan pesanan di samping tumpukan peti.Vivian berkata dengan santai, "Jadi, kamu berakhir di sini. Aku sempat penasaran kamu bisa bertahan berapa lagi baru bisa menemukan tempat yang lebih cocok denganmu."Aku menatap sepatu hak tingginya yang mulai tenggelam di kerikil. "Kamu memang selalu terlihat lebih nyaman di kehidupanku daripada aku sendiri."Senyuman Vivian menjadi tegang.Namun, sebelum Vivian sempat menjawab, aku menambahkan, "Melihatmu mengambil alih jadwal, rumah, dan suamiku cukup membuka







