Share

Bab 2

Penulis: Eternity
Mencoba mendapatkan uang melalui Vivian bahkan lebih sulit daripada melewati keamanan Adrian.

Vivian melihat permintaan dari klinik, lalu meletakkannya di samping dan bertanya, "Empat miliar dua ratus juta untuk operasi janin darurat? Kamu tahu itu apa?"

Aku menjawab, "Aku hanya tahu bayiku masih punya detak jantung. Mereka butuh depositnya sekarang."

Vivian menunjukkan ekspresi sabar padaku dan Adrian salah paham menganggap itu sebagai kompetensi. "Aku nggak menolakmu. Aku hanya minta dokumen untuk membenarkan pemindahan dana sebesar itu dari dana cadangan keluarga."

Aku memberi tahu Vivian bahwa para dokter masih berusaha menstabilkanku dan belum bisa menyelesaikan rencananya sampai aku masuk ke ruang operasi.

Mendengar itu, Vivian menganggukkan kepala seolah-olah itu membuktikan maksudnya. "Jadi, kamu sudah lihat masalahnya, nggak ada rencana lengkap dan detail barang. Kalau aku memaksakan ini dan ternyata klinik melebih-lebihkan risikonya, Adrian yang harus bertanggung jawab."

Saat aku berkata sudah tidak ada waktu lagi, Vivian berkata dengan suara pelan, "Aku tahu kamu ketakutan, tapi rasa takut nggak akan mengubah prosedurnya."

Setelah itu, aku menerima syarat-syaratnya yaitu rekomendasi tertulis, tanda tangan dokter kedua, formulir pelepasan dana, konfirmasi dari akuntan keluarga. Namun, setiap kali aku memenuhi satu syarat, dia akan menambahkan yang lain sambil terus meyakinkan Adrian bahwa semuanya terkendali.

Itu adalah bagian yang paling kejam. Adrian memang peduli, tetapi dia sudah memutuskan aku hanya panik, para dokter membuatku takut, dan aku hanya perburuk keadaan.

Vivian pun hanya perlu memperkuat keyakinan itu.

Saat uang akhirnya sampai ke rumah sakit, ruang operasi sudah tidak membutuhkan jawabanku lagi karena anakku sudah tiada. Aku ingat saat sedang berbaring di ruang pemulihan, aku meletakkan satu tanganku di atas perut dan menunggu untuk merasakan sesuatu yang cukup tajam untuk menghancurkanku. Namun, yang aku rasakan hanya keheningan.

Oleh karena itu, saat aku melihat foto yang Vivian unggah malam itu, aku tidak bereaksi. Akunnya privat, tetapi semua lingkaran Adrian mengikutinya. Dia berdiri di samping Adrian di lapangan tembak, lalu Adrian memegang tangannya saat memperbaiki posisinya dari belakang. Keterangannya tidak bermasalah dan begitu juga dengan gambarnya, sehingga aku menyimpan dan menyukainya.

Adrian langsung mengirimku pesan.

[ Apa yang kamu lakukan? ]

Namun, sebelum aku sempat menjawab, Adrian mengirim pesan lainnya.

[ Ini hanya latihan, jangan buat ini jadi sesuatu yang macam-macam. ]

[ Vivian sudah memberitahuku apa yang terjadi di klinik. Dokternya nggak pernah bilang itu sepasti yang kamu katakan. ]

Aku menatap kata-kata itu sampai pandanganku menjadi kabur. Adrian peduli, tetapi dia masih mengira aku berbohong.

Tak lama kemudian, pesan lainnya masuk.

[ Aku mengerti kamu sedang kesal, tapi jangan lakukan ini di online. Karena kamu sudah menekan suka, biarkan saja. Menghapusnya sekarang hanya akan membuat orang lain bergosip. Katakan saja sesuatu yang anggun. ]

Beginilah Adrian. Rasa pedulinya selalu dibungkus dengan perintah, kasih sayangnya seperti plester di atas luka yang tidak mau dihadapinya.

Oleh karena itu, aku melakukan seperti yang diminta Adrian dan mengetik komentarnya.

[ Vivian luar biasa. Dia mengatur uang, jadwal, rumah, dan sepertinya latihan pribadi Adrian juga. Di titik ini, mungkin dia sekalian saja ambil alih sisa peranku. ]

Aku posting komentar itu, lalu meletakkan ponselku dan masuk ke ruang ganti.

Mengemasi barangku tidak membutuhkan banyak waktu. Aku sudah tinggal di vilanya Adrian selama tiga tahun, tetapi hampir semua barangku adalah milik Keluarga Martono. Perhiasan tercatat, gaun ditentukan, dan kode brankas bukan milikku. Bahkan uang bulananku pun dikendalikan oleh kantor di lantai bawah.

Pada akhirnya, satu-satunya barang yang bisa aku bawa tanpa menimbulkan pertanyaan hanya beberapa barang. Beberapa pakaianku sebelum menikah, paspor, dan map berisi dokumen pribadi yang tidak pernah ditanyakan Adrian.

Saat itu, ponselku mulai bergetar dan itu adalah dari Adrian. Setelah itu, aku menerima pesan suara darinya dan aku pun mendengarkannya sekali.

Adrian berkata dengan suara tegang dan terkendali, "Sarah, hapus komentarnya dan jawab teleponku."

Dia berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "Aku mencoba membantumu, tapi aku nggak bisa kalau kamu terus menghindariku."

Aku mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam koper, lalu suasana di ruangan itu akhirnya sunyi. Aku pun berdiri di tengah kamar tidur dan melihat sekeliling.

Selama bertahun-tahun ini, aku menyebut tempat ini sebagai rumah. Namun, saat aku melihatnya sekarang, ini hanya sangkar yang dipoles dengan benda-benda indah yang tidak pernah menjadi milikku. Semua ini hanya kehidupan yang diatur tangan orang lain, pernikahan di mana wanita lain yang menentukan apa yang boleh kusentuh, kubelanjakan, kupakai, dan kuminta.

Saat itu, aku baru mengerti ternyata aku sudah menghilang sepenuhnya. Begitu aku mengerti, pergi dari tempat ini terasa bukan masalah lagi. Rasanya semuanya sudah terlambat untuk diperbaiki sejak lama.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 11

    Kami berdiri dalam diam sejenak, lalu aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berjalan pergi.Yayasan-yayasan itu menerima pengalihan aset tanpa banyak tanya. Penjualan properti selesai dengan cepat. Aku tidak pernah peduli siapa yang akhirnya mendapatkan pakaian, perhiasan, atau rumah itu. Saat itu, perempuan yang dulu mati-matian berjuang untuk tetap berada di dunia seorang Adrian Martono sudah tidak ada lagi.Tahun-tahun setelahnya, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Apa yang bermula dari satu penyelidikan bersama ayahku berubah menjadi karier. Aku mempelajari pola perusahaan cangkang, faktur palsu, pencucian uang lewat pelabuhan, dan dana politik yang dialirkan melalui nama-nama terhormat.Aku menulis laporan yang menjatuhkan orang-orang yang selama bertahun-tahun meyakini bahwa tak ada seorang pun yang mampu menelusuri perbuatan kotor mereka. Tak lama kemudian, banyak firma mulai mengirim analis junior untuk kulatih.Suatu sore, Leon menjatuhkan setumpuk berkas ke meja

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 10

    Adrian memberikan kompensasi perceraian yang cukup besar kepadaku untuk membangun hidup baru dari nol.Ada uang tunai, dua rekening investasi, dan rumah di tepi pelabuhan tempat aku menghabiskan tiga tahun untuk menyadari bahwa tak ada satu pun di sana yang benar-benar milikku.Satu kali, aku kembali ke sana.Tidak ada yang dipindahkan. Lemari masih berisi gaun-gaun yang dulu harus kupakai dengan izin darinya dan perhiasan yang dulu tidak pernah boleh kusentuh kini tergeletak di laci beludru seolah-olah sejak awal memang milikku. Bahkan kode brankas dinding itu diatur ulang memakai tanggal lahirku.Hampir semuanya aku jual dalam dua hari.Pakaian, perhiasan, dan rumah itu. Sebagian besar hasilnya kuberikan ke tempat penampungan, dana bantuan hukum, dan yayasan perumahan bagi perempuan yang tidak punya tempat aman untuk pergi. Saat semuanya selesai, tempat itu terlihat kosong seperti perasaan yang selalu diberikan olehnya.Ponselku bergetar saat aku sedang menandatangani surat pemindaha

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 9

    Bukan berarti aku tidak pernah bertengkar dengan Adrian soal hal-hal seperti itu.Aku pernah mempertanyakannya, bahkan bukan cuma satu kali. Namun setiap kali, jawaban Adrian selalu sama. Tenang, meremehkan, dan yakin dialah pihak yang paling benar."Sarah, jangan picik. Itu cuma minuman.""Dia bekerja untukku. Kalau aku memberinya hadiah, itu urusanku.""Kamu itu istriku. Bersikaplah seperti istri yang baik."Dulu, aku menelan setiap penghinaan karena dia selalu memakai alasan yang sama, yaitu demi kebaikanku sendiri. Dulu, mengingat semua itu membuatku marah. Sekarang, itu hanya membuatku lelah. Aku nyaris tidak percaya dulu aku bisa dikendalikan dengan semudah itu.Setelah kubilang aku membenci bergamot, Adrian terdiam kaku.Kemudian, kepanikan melintas di wajahnya. "Maaf," katanya cepat. "Aku salah ingat. Kalau begitu, katakan apa yang kamu suka."Aku memeriksa berkas-berkas di meja dan menjawab tanpa menoleh. "Nggak perlu."Namun, Adrian tidak pernah tahu cara berhenti begitu dia

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 8

    Dia tetap tidak mengerti.Bahkan setelah semua yang terjadi, dia sungguh-sungguh percaya bahwa jika tawarannya cukup besar, aku seharusnya menerimanya dengan penuh rasa syukur."Cukup, Adrian," kataku, memotong ucapannya. "Hubungan kita sudah selesai. Aku nggak mau uangmu, permintaan maafmu, atau rencana-rencanamu itu. Satu-satunya hal yang kuinginkan darimu hanyalah kamu menandatangani surat cerai itu."Rasa sakit terlihat begitu jelas di wajahnya. Dulu, mungkin itu akan mengguncangku.Namun, sekarang sudah tidak lagi.Dia tidak bisa mengerti kenapa setelah datang menemuiku sendiri, setelah menyingkirkan Vivian, dan menawarkan semua hal yang menurutnya penting, aku masih berdiri di sana tanpa goyah sedikit pun."Sarah, aku nggak pernah ingin ini berakhir," katanya. "Kamu istriku."Suaranya merendah, nyaris memohon."Kamu ingin aku melakukan apa?"Saat itu aku sudah terlalu lelah untuk bersabar."Adrian, kamu selalu begitu yakin kalau orang lain harus berterima kasih cuma karena kamu m

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 7

    Kenapa aku nggak diberi tahu?"Suara Adrian terdengar serak saat memecah keheningan di halaman galangan kapal itu.Dari pengeras suara ponsel, Dokter Susanto terdiam sejenak sebelum menjawab. "Pak Adrian, kami sudah berusaha menghubungi Bapak hari itu beberapa kali."Genggaman Adrian pada ponselnya mengencang. "Kalian seharusnya coba telepon terus.""Kami sudah melakukannya. Orang kantormu bilang kamu nggak boleh diganggu kecuali Bu Sarah mengalami henti jantung. Setelah itu, semua kabar dialihkan ke Bu Vivian."Wajah Vivian langsung pucat pasi.Dokter Susanto melanjutkan dengan lebih hati-hati. "Setelah itu, saat pendarahannya makin parah, aku langsung menelepon nomor pribadimu. Tim keamananmu bilang kamu sedang berada di acara pelabuhan dan sudah memberi perintah agar nggak ada panggilan lain yang diteruskan kecuali memang nggak bisa menunggu sampai pagi.""Pendarahan itu menyebabkan kerusakan permanen. Kami berhasil menyelamatkan nyawa Bu Sarah, tapi nggak ada lagi yang bisa dipulih

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 6

    Saat berbalik, aku melihat Vivian berdiri tepat di dalam gerbang dengan satu tangannya bersandar pada pagar kawat seolah-olah seluruh area dermaga itu menghiburnya.Dengan mantel berwarna pucat, sepatu hak tinggi, parfum, dan berpenampilan rapi, Vivian terlihat tidak cocok dengan tempat yang berbau solar, hujan, dan penuh karat ini. Tatapannya bergerak perlahan-lahan menyusuriku. Dia memperhatikan debu di celana jinku, papan catatan di tanganku, dan tim di belakangku yang sedang makan makanan pesanan di samping tumpukan peti.Vivian berkata dengan santai, "Jadi, kamu berakhir di sini. Aku sempat penasaran kamu bisa bertahan berapa lagi baru bisa menemukan tempat yang lebih cocok denganmu."Aku menatap sepatu hak tingginya yang mulai tenggelam di kerikil. "Kamu memang selalu terlihat lebih nyaman di kehidupanku daripada aku sendiri."Senyuman Vivian menjadi tegang.Namun, sebelum Vivian sempat menjawab, aku menambahkan, "Melihatmu mengambil alih jadwal, rumah, dan suamiku cukup membuka

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status