공유

Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku
Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku
작가: Eternity

Bab 1

작가: Eternity
Saat menyadari aku tidak mengajukan satu pun permintaan kebutuhan rumah tangga selama tiga hari ini, ini pertama kalinya dalam beberapa bulan ini Adrian sendiri yang meneleponku.

Adrian berkata dengan nada halus dan sabar, "Sarah, kliniknya sudah dibereskan dan berkasmu kembali diprioritaskan. Lihatlah. Ketika kamu nggak mempersulit keadaan dan belajar bagaimana caranya keluarga ini bekerja, aku akan pastikan kamu terurus."

Nada bicara Adrian selalu terdengar paling lembut saat mengingatkanku siapa yang sebenarnya memegang kendali. Namun, yang tidak diketahuinya adalah surat perceraian sudah disiapkan saat namanya muncul di layarku.

Dari luar, aku memang terlihat seperti memiliki segala yang diinginkan seorang wanita. Dari vila yang dilengkapi penjagaan, sopir yang siap dipanggil, pakaian desainer, dan marga dari salah satu pria yang paling ditakuti di kota. Namun, hampir semuanya bukan benar-benar milikku.

Kartu-kartuku diawasi dan pemakaian uang tunai pun harus disetujui. Staf juga harus menerima perintah dari Vivian terlebih dulu, baru mau mendengarkan permintaanku. Bahkan anggaran pakaian, jadwalku, dan akses ke kantor keluarga pun semuanya berada di bawah kendali Vivian. Adrian bilang ini demi kemudahan.

Tiga hari yang lalu, aku dilarikan ke klinik pribadi dengan kondisi darah merembes melalui gaunku. Sementara itu, seorang dokter bilang masih ada kesempatan untuk menyelamatkan bayi di kandunganku jika segera membayar dana darurat pada klinik. Aku menelepon Adrian sampai tanganku gemetar.

Namun, Vivian menunda transfer uangnya. Awalnya, alasannya adalah tidak ada otorisasi langsung dan jumlah nominalnya pun terlalu besar. Selain itu, Adrian sedang rapat dan tidak bisa diganggu untuk sesuatu yang mungkin tidak serius.

Saat transfer uangnya akhirnya masuk, semuanya sudah terlambat. Bayiku sudah tiada.

Aku bisa bertahan hidup bersama Adrian karena dua alasan, yaitu aku mencintainya dan aku percaya dia akan memilihku saat menghadapi masalah yang benar-benar penting. Namun, aku salah dalam kedua hal itu.

Anakku dengan Adrian mati terlebih dulu, lalu pernikahanku ikut mati bersamanya.

....

Saat aku keluar dari Pusat Perawatan Maria, kata-kata dari dokter tetap masih terngiang di telingaku.

"Kami sudah kehilangan kesempatan terakhir untuk mempertahankan kehamilan ini, nggak ada gunanya kembali lagi untuk memeriksa kehamilan ini."

Saat aku tiba di kantor pusat Grup Martono, Adrian berada di ruang kerja pribadinya dan menandatangani dokumen yang baru saja diletakkan Vivian di hadapannya. Saat aku berkata ingin bercerai, dia bahkan tidak mengangkat kepalanya dan hanya tertawa singkat.

"Apa lagi sekarang? Kamu marah karena aku nggak pulang makan malam tadi malam? Sarah, jangan bicara seperti itu, terlalu kekanak-kanakan," kata Adrian dengan nada yang agak menegur.

"Aku nggak bercanda, aku mau cerai," kataku.

Kata-kata itu akhirnya berhasil membuat Adrian mengangkat kepala. Dia berdiri dan berjalan ke arahku dengan tenang sekaligus hampir seperti memanjakan, seolah-olah aku hanya ingin membuatnya kesulitan lagi.

Saat Adrian hendak meraih tanganku, aku melangkah mundur sebelum dia sempat menyentuhku. Tangannya sempat berhenti di udara sejenak, lalu mengernyitkan alis dan mereda kembali. Dia berkata, "Aku tahu kamu kesal soal klinik. Tapi, aku menghentikan itu karena aku nggak mau kamu langsung setuju dengan setiap prosedur mahal yang mereka sarankan. Panik bukan rencana."

Setelah itu, Adrian melirik Vivian yang berdiri tenang di dekat mejanya. Vivian terlihat rapi dan terkendali, gambaran sempurna dari efisiensi dan setia. "Dia hanya mengikuti instruksiku. Kenapa kamu malah berdebat dengannya di bagian pembayaran di depan para staf? Kemarin aku sudah mengembalikan aksesmu. Jadi, kalau ini soal uang, itu sudah selesai."

Sebelum aku sempat menjawab, Adrian melihat jam tangannya. "Ada orang yang menungguku. Aku menjalankan seluruh organisasi, Sarah. Aku nggak bisa terus membuang waktu untuk drama seperti ini. Aku akan mampir malam ini dan bawa makanan penutup dari Belladonna. Baik-baiklah dan tunggu aku."

Adrian begitu yakin aku akan tetap tinggal, yakin sedikit kelembutan darinya akan membuatku memaafkan semuanya.

Selama tiga tahun ini, Adrian berpikir apa pun yang dilakukannya selalu benar. Bahkan saat dia meninggalkanku berdiri di tengah hujan karena Vivian membutuhkannya di tempat lain. Dia hanya perlu berkata Vivian bekerja untuknya dan jangan membuat situasinya menjadi buruk, aku akan menelan rasa sakit itu dan berpura-pura mengerti.

Kini, makanan penutup sudah tidak berarti apa-apa, apakah Adrian sudah membuka kembali transfer itu juga tidak berarti apa-apa. Jika tiga hari yang lalu Adrian mendengarkan ucapanku, aku mungkin masih akan bertahan dengan bodoh.

Hari itu, aku menelepon Adrian dari lorong rumah sakit dan memohon agar dia tidak menutup telepon sebelum aku selesai berbicara.

Namun, terdengar suara Vivian yang sudah berbicara dengan Adrian terlebih dulu. "Bos, aku rasa Nyonya Sarah sudah salah paham. Aku hanya bilang ke klinik jumlahnya terlalu besar untuk dicairkan tanpa detail. Kalau dia benar-benar membutuhkannya segera, aku bisa memaksakan prosesnya. Meskipun itu melanggar prosedur."

"Aku hanya khawatir nanti bagian keuangan akan mulai bertanya. Aku bersikap lebih ketat karena aku pikir dia harus belajar bagaimana caranya keluarga ini menangani semuanya."

Kata-kata itu sudah cukup bagi Adrian. Dia pun berkata dengan nada kesal, "Sarah, kamu dengar sendiri betapa perhatiannya dia? Kenapa kamu nggak bisa belajar darinya dan malahan panik setiap kali ada sesuatu yang berjalan salah? Lakukan saja apa yang dikatakan Vivian. Setelah dokumennya selesai, kita baru bicara."

Semuanya selalu seperti itu. Setiap kali aku membutuhkan sesuatu, aku harus bicara dengan Vivian. Setelah itu, aku mengikuti pengaturannya dan melakukan apa pun yang dikatakannya.

Aku adalah istrinya Adrian, tetapi wewenangku lebih sedikit di dunia itu dibandingkan wanita yang mengatur jadwalnya. Bahkan untuk makan malam formal, penggalangan dana politik, dan acara keluarga pribadi di mana aku seharusnya berdiri di sisinya, aku tetap harus minta gaun dan perhiasanku melalui Vivian.

Namun, setiap kali Vivian selalu berhasil menemukan alasan untuk membuatku pulang dengan tangan kosong. Warnanya bukan selera Adrian, kalungnya terlalu mencolok, permintaan datang terlalu terlambat, dan barang yang lebih baik sudah dialokasikan. Oleh karena itu, aku selalu berakhir berdiri di samping Adrian dengan sesuatu yang ketinggalan zaman atau tidak pas.

Sementara itu, Adrian membungkuk dan berbisik dengan lembut, "Sarah, kamu mewakiliku. Jangan mempermalukan keluarga."

Kata-kata Adrian itu seolah-olah kegagalan itu milikku. Kenyataannya sebenarnya jauh lebih sederhana, aku bahkan tidak bisa menangani hal-hal kecil karena Adrian telah menempatkan segalanya di tangan Vivian. Setelah itu, dia bertindak seolah-olah aku tidak kompeten karena terlalu bergantung padanya.

Padahal Adrian tahu kehamilanku sejak awal memang tidak stabil. Dia tahu para dokter sudah memperingatkan kehamilanku bisa dalam bahaya jika ada sesuatu yang ditunda. Dia tahu aku sudah bolak-balik menjalani pemeriksaan selama berminggu-minggu ini. Namun, saat aku paling membutuhkannya, dia tetap memberiku jawaban yang sama seperti biasanya yaitu melewati Vivian.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 11

    Kami berdiri dalam diam sejenak, lalu aku melepaskan tanganku dari genggamannya dan berjalan pergi.Yayasan-yayasan itu menerima pengalihan aset tanpa banyak tanya. Penjualan properti selesai dengan cepat. Aku tidak pernah peduli siapa yang akhirnya mendapatkan pakaian, perhiasan, atau rumah itu. Saat itu, perempuan yang dulu mati-matian berjuang untuk tetap berada di dunia seorang Adrian Martono sudah tidak ada lagi.Tahun-tahun setelahnya, aku menenggelamkan diri dalam pekerjaan.Apa yang bermula dari satu penyelidikan bersama ayahku berubah menjadi karier. Aku mempelajari pola perusahaan cangkang, faktur palsu, pencucian uang lewat pelabuhan, dan dana politik yang dialirkan melalui nama-nama terhormat.Aku menulis laporan yang menjatuhkan orang-orang yang selama bertahun-tahun meyakini bahwa tak ada seorang pun yang mampu menelusuri perbuatan kotor mereka. Tak lama kemudian, banyak firma mulai mengirim analis junior untuk kulatih.Suatu sore, Leon menjatuhkan setumpuk berkas ke meja

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 10

    Adrian memberikan kompensasi perceraian yang cukup besar kepadaku untuk membangun hidup baru dari nol.Ada uang tunai, dua rekening investasi, dan rumah di tepi pelabuhan tempat aku menghabiskan tiga tahun untuk menyadari bahwa tak ada satu pun di sana yang benar-benar milikku.Satu kali, aku kembali ke sana.Tidak ada yang dipindahkan. Lemari masih berisi gaun-gaun yang dulu harus kupakai dengan izin darinya dan perhiasan yang dulu tidak pernah boleh kusentuh kini tergeletak di laci beludru seolah-olah sejak awal memang milikku. Bahkan kode brankas dinding itu diatur ulang memakai tanggal lahirku.Hampir semuanya aku jual dalam dua hari.Pakaian, perhiasan, dan rumah itu. Sebagian besar hasilnya kuberikan ke tempat penampungan, dana bantuan hukum, dan yayasan perumahan bagi perempuan yang tidak punya tempat aman untuk pergi. Saat semuanya selesai, tempat itu terlihat kosong seperti perasaan yang selalu diberikan olehnya.Ponselku bergetar saat aku sedang menandatangani surat pemindaha

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 9

    Bukan berarti aku tidak pernah bertengkar dengan Adrian soal hal-hal seperti itu.Aku pernah mempertanyakannya, bahkan bukan cuma satu kali. Namun setiap kali, jawaban Adrian selalu sama. Tenang, meremehkan, dan yakin dialah pihak yang paling benar."Sarah, jangan picik. Itu cuma minuman.""Dia bekerja untukku. Kalau aku memberinya hadiah, itu urusanku.""Kamu itu istriku. Bersikaplah seperti istri yang baik."Dulu, aku menelan setiap penghinaan karena dia selalu memakai alasan yang sama, yaitu demi kebaikanku sendiri. Dulu, mengingat semua itu membuatku marah. Sekarang, itu hanya membuatku lelah. Aku nyaris tidak percaya dulu aku bisa dikendalikan dengan semudah itu.Setelah kubilang aku membenci bergamot, Adrian terdiam kaku.Kemudian, kepanikan melintas di wajahnya. "Maaf," katanya cepat. "Aku salah ingat. Kalau begitu, katakan apa yang kamu suka."Aku memeriksa berkas-berkas di meja dan menjawab tanpa menoleh. "Nggak perlu."Namun, Adrian tidak pernah tahu cara berhenti begitu dia

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 8

    Dia tetap tidak mengerti.Bahkan setelah semua yang terjadi, dia sungguh-sungguh percaya bahwa jika tawarannya cukup besar, aku seharusnya menerimanya dengan penuh rasa syukur."Cukup, Adrian," kataku, memotong ucapannya. "Hubungan kita sudah selesai. Aku nggak mau uangmu, permintaan maafmu, atau rencana-rencanamu itu. Satu-satunya hal yang kuinginkan darimu hanyalah kamu menandatangani surat cerai itu."Rasa sakit terlihat begitu jelas di wajahnya. Dulu, mungkin itu akan mengguncangku.Namun, sekarang sudah tidak lagi.Dia tidak bisa mengerti kenapa setelah datang menemuiku sendiri, setelah menyingkirkan Vivian, dan menawarkan semua hal yang menurutnya penting, aku masih berdiri di sana tanpa goyah sedikit pun."Sarah, aku nggak pernah ingin ini berakhir," katanya. "Kamu istriku."Suaranya merendah, nyaris memohon."Kamu ingin aku melakukan apa?"Saat itu aku sudah terlalu lelah untuk bersabar."Adrian, kamu selalu begitu yakin kalau orang lain harus berterima kasih cuma karena kamu m

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 7

    Kenapa aku nggak diberi tahu?"Suara Adrian terdengar serak saat memecah keheningan di halaman galangan kapal itu.Dari pengeras suara ponsel, Dokter Susanto terdiam sejenak sebelum menjawab. "Pak Adrian, kami sudah berusaha menghubungi Bapak hari itu beberapa kali."Genggaman Adrian pada ponselnya mengencang. "Kalian seharusnya coba telepon terus.""Kami sudah melakukannya. Orang kantormu bilang kamu nggak boleh diganggu kecuali Bu Sarah mengalami henti jantung. Setelah itu, semua kabar dialihkan ke Bu Vivian."Wajah Vivian langsung pucat pasi.Dokter Susanto melanjutkan dengan lebih hati-hati. "Setelah itu, saat pendarahannya makin parah, aku langsung menelepon nomor pribadimu. Tim keamananmu bilang kamu sedang berada di acara pelabuhan dan sudah memberi perintah agar nggak ada panggilan lain yang diteruskan kecuali memang nggak bisa menunggu sampai pagi.""Pendarahan itu menyebabkan kerusakan permanen. Kami berhasil menyelamatkan nyawa Bu Sarah, tapi nggak ada lagi yang bisa dipulih

  • Kepergian bayiku, Kematian Pernikahanku   Bab 6

    Saat berbalik, aku melihat Vivian berdiri tepat di dalam gerbang dengan satu tangannya bersandar pada pagar kawat seolah-olah seluruh area dermaga itu menghiburnya.Dengan mantel berwarna pucat, sepatu hak tinggi, parfum, dan berpenampilan rapi, Vivian terlihat tidak cocok dengan tempat yang berbau solar, hujan, dan penuh karat ini. Tatapannya bergerak perlahan-lahan menyusuriku. Dia memperhatikan debu di celana jinku, papan catatan di tanganku, dan tim di belakangku yang sedang makan makanan pesanan di samping tumpukan peti.Vivian berkata dengan santai, "Jadi, kamu berakhir di sini. Aku sempat penasaran kamu bisa bertahan berapa lagi baru bisa menemukan tempat yang lebih cocok denganmu."Aku menatap sepatu hak tingginya yang mulai tenggelam di kerikil. "Kamu memang selalu terlihat lebih nyaman di kehidupanku daripada aku sendiri."Senyuman Vivian menjadi tegang.Namun, sebelum Vivian sempat menjawab, aku menambahkan, "Melihatmu mengambil alih jadwal, rumah, dan suamiku cukup membuka

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status