Share

Bab 4

Penulis: Lion
Pada hari terakhir sebelum kepergianku, salju pertama musim dingin turun di ibu kota.

Aku pergi ke taman belakang untuk menyerahkan buku inventaris gudang terakhir kepada kepala pelayan.

Saat melewati paviliun berpemanas, tiba-tiba terdengar jeritan dari dalam. Sebuah tungku arang yang terjatuh telah membakar tirai, sementara kobaran api menghalangi jalan keluar menuju koridor.

Dinda juga berada di dalam. Begitu melihatku, dia berlari ke arahku dan mencengkeram pergelangan tanganku. "Kak, tolong aku!"

Aku menendang rak kayu yang menghalangi jalan, lalu mendorongnya menuju pintu keluar.

Namun tepat pada saat itu, terdengar suara balok atap yang mulai retak. Sebuah balok kayu yang terbakar jatuh ke bawah.

Aku refleks menghindar ke samping. Namun, sesosok bayangan hitam lebih dahulu menerjang masuk ke koridor.

Andias datang. Bahkan tanpa sempat melihat di mana aku berdiri, dia langsung melindungi Dinda di dalam pelukannya.

Saat menepis balok kayu yang terbakar itu, dia juga mengempasku yang berada paling dekat dengannya hingga terlempar keluar.

Punggungku menghantam anak tangga batu, sementara telapak tanganku tergores pecahan batu hingga terluka.

Andias menggendong Dinda keluar dari koridor. Dinda membenamkan wajahnya ke dada pria itu. Andias menenangkannya dengan beberapa patah kata sebelum akhirnya menoleh ke arahku.

Saat pandangannya jatuh pada tanganku yang berdarah, dia berjalan setengah langkah ke arahku. Namun, Dinda tiba-tiba mengerang kesakitan dalam pelukannya. Langkah kakinya pun terhenti.

"Pangeran, kakiku sakit sekali."

Andias memeluknya semakin erat lagi. Keraguan di matanya segera tergantikan oleh ketenangan.

"Sandora, kamu selalu kuat. Pulanglah dan obati lukamu sendiri. Aku akan mengantar Dinda menemui tabib dulu."

Aku menatapnya.

Tujuh tahun lalu, di sungai yang airnya sedingin es, aku menyeretnya yang tidak sadarkan diri akibat keracunan hingga berhasil mencapai tepi sungai.

Setelah sadar, Andias menggenggam tanganku yang membeku. Dengan mata memerah, dia berjanji bahwa dia tidak akan pernah meninggalkanku lagi.

Tujuh tahun kemudian, dia masih menganggapku cukup kuat untuk menanggung semuanya sendiri. Karena itulah, akulah yang selalu ditinggalkan.

"Baik."

Kening Andias bergerak sedikit. Sepertinya dia masih ingin mengatakan sesuatu, tetapi Dinda justru melingkarkan kedua lengannya lebih erat di lehernya.

Pada akhirnya, Andias berbalik dan pergi. Tak lama kemudian, sosoknya menghilang di ujung koridor.

Aku bertumpu pada anak tangga batu untuk bangkit, lalu menepuk-nepuk sisa salju yang menempel di pakaianku.

Luka di telapak tanganku masih berdarah. Anehnya, aku sudah tidak bisa merasakan sakit lagi.

Setelah kembali ke kediaman utama, aku tidak memanggil tabib.

Ingga membalut lukaku, sementara aku duduk di depan meja baca untuk menyelesaikan serah terima terakhir.

Papan tanda pengenal milik kepala pelayan Kediaman Pangeran Pemangku Raja, kunci gudang, daftar perkebunan, serta surat kontrak para pelayan, kuletakkan satu per satu di atas meja.

Di paling atas terdapat surat cerai yang kutulis. Di sampingnya, kutaruh laporan pembukuan yang telah disiapkan oleh rumah dagang.

Selama tujuh tahun, aku telah menalangi kekurangan dana Kediaman Pangeran sebesar 176.000 tahil perak.

Aku tidak berniat untuk menagih uang itu kembali. Bukan karena aku berhati lapang, melainkan karena aku tidak ingin memiliki hubungan apa pun lagi dengannya.

Aku menanggalkan pakaian kebesaran Putri, melepas tusuk konde berhias burung phoenix, lalu berganti mengenakan pakaian sederhana dari kain kasar.

Di dalam cermin perunggu, tampak seorang perempuan berwajah pucat, dengan hanya terselip sebuah tusuk konde kayu di rambutnya.

Dia tidak lagi berstatus mulia, tetapi kini dia telah kembali menjadi dirinya sendiri, lebih daripada kapan pun selama tujuh tahun terakhir.

Sebelum pergi, aku menatap kediaman utama untuk terakhir kalinya. Tidak ada teh hangat yang disiapkan di atas meja, tidak ada jubah luar yang disiapkan di gantungan untuk Andias. Akhirnya, kediaman ini tidak lagi menanti kepulangan seseorang.

Tepat pada tengah malam, aku meninggalkan Kediaman Pangeran melalui pintu samping. Penjaga gerbang mengenaliku dan buru-buru berlutut.

"Putri meninggalkan kediaman pada larut malam. Apakah Anda membawa surat perintah dari Pangeran?"

Aku menggenggam erat plakat perunggu bertuliskan kata "Rumah Dagang Guandra" di telapak tanganku. "Mulai sekarang, kalian tidak perlu lagi memanggilku Putri."

Salju turun semakin lebat, menutupi jejak roda kereta sekaligus menghapus jejak terakhir yang kutinggalkan di ibu kota.

Kapal dagang sudah berlabuh di dermaga. Saat aku menaiki geladak, Ingga tidak kuasa menahan diri untuk menoleh sekali lagi. Di kejauhan, gerbang kota menjulang tinggi. Kediaman Pangeran Pemangku Raja tampak terang benderang oleh cahaya lampu.

Mungkin Andias masih menemani Dinda di depan ranjangnya, menungguku melakukan hal yang sama seperti dahulu kala, menyiapkan sup pereda mabuk untuknya. Namun, mulai malam ini, tidak akan ada lagi yang menunggunya.

Awak kapal memutuskan tali. Kapal perlahan-lahan menjauh dari tepian.

Andias, aku tidak lagi menginginkan kasih sayangmu yang pilih kasih, kediamanmu, ataupun kehidupan yang telah kamu atur untukku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 10

    Pada tahun berikutnya, Kedai Teh Sansan membuka cabang keduanya.Aku membawa pulang tiga perempuan yang tidak memiliki tempat untuk dituju dari kantor perantara tenaga kerja.Yang pertama diceraikan oleh keluarga suaminya. Yang kedua nyaris dijual karena ayahnya terlilit utang. Yang ketiga kehilangan tanahnya setelah menjanda karena dirampas kerabatnya.Awalnya, mereka bahkan tidak tahu cara berhitung. Aku mengajari mereka mulai dari pembukuan paling sederhana, lalu mengenali jenis teh, menghitung uang, hingga menawar harga dengan para pedagang.Ada yang menasihatiku agar tidak memberikan terlalu banyak uang kepada perempuan, khawatir mereka akan memiliki pikiran yang tidak semestinya.Aku hanya membagikan surat kepemilikan kedai kepada mereka."Seseorang baru bisa menentukan jalan mana yang ingin ditempuhnya setelah memiliki jalan keluar."Pada tahun kelima, kapal dagang milik Kedai Teh Sansan sudah mampu berlayar dari Kota Rama hingga ke perbatasan utara.Seorang kepala toko yang bar

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 9

    Tiga hari kemudian, para petugas kantor pemerintahan menyegel pintu Kedai Teh Sansan.Isi pengumuman itu tertulis dengan jelas bahwa istri dari Pangeran Pemangku Raja meninggalkan ibu kota tanpa izin, status dan dokumen identitasnya belum jelas, sehingga kedai teh harus menghentikan operasional untuk sementara waktu.Aku menurunkan pengumuman itu, lalu membawa surat cerai ke kantor pemerintahan setempat.Surat tersebut sudah dibubuhi cap resmi dari kantor pemerintahan ibu kota, tetapi belum dilengkapi tanda tangan dari Andias.Kepala daerah tidak berani menyinggung Pangeran Pemangku Raja. Dia hanya menyuruhku pulang untuk menunggu kabar.Menjelang petang, Andias berdiri di dalam kedai teh yang kini sedang kosong. Dia kembali mengenakan jubah resmi pangeran. Plakat tergantung di pinggangnya, sementara sorot mata dan raut wajahnya kembali sedingin dahulu.Di atas meja tergeletak surat-surat perjalanan untuk kembali ke ibu kota."Kembalilah bersamaku. Besok kedai tehmu sudah bisa dibuka l

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 8

    Andias sudah tinggal di rumah seberang selama sebulan. Dia tidak lagi menerobos masuk ke kedai teh, juga tidak lagi memohon agar aku kembali.Saat atap rumah bocor, dia menyuruh orang mengantarkan genting. Ketika petugas datang untuk memeriksa dokumen kependudukan para pedagang dari luar daerah, dia lebih dahulu meminta orang mengirimkan surat cerai dari ibu kota yang sudah dibubuhi cap resmi. Namun, dia tak kunjung membubuhkan tanda tangannya sendiri.Dia telah melakukan banyak hal. Hanya saja, dia tetap tidak bersedia untuk melepaskanku.Setiap pagi, Andias selalu duduk di tempat paling dekat dengan pintu kedai teh dan memesan secangkir teh hijau.Dulu, Andias hanya minum teh pekat. Kini, dia meminum teh kesukaanku. Entah apakah itu caranya menghukum diri sendiri atau mengingatkanku bahwa dia masih mengingat masa lalu.Hari itu, setelah kedai tutup, dia mengadangku di pintu belakang. Di tangannya tidak ada hadiah, juga tidak ada plakat Pangeran Pemangku Raja."Sandora, dulu aku mengi

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 7

    Enam bulan kemudian, Kedai Teh Sansan mulai dikenal di Kota Rama. Kedainya tidak besar, tetapi terkenal karena daun tehnya yang segar dan kue-kue lezat yang disajikan dengan apik.Para pedagang di sekitar kedai tahu bahwa aku seorang janda yang berasal dari kota di utara. Tidak seorang pun bertanya lebih jauh tentang masa laluku.Aku mengenakan pakaian berwarna polos, mencatat pembukuan sendiri, dan sesekali duduk di dekat jendela untuk menyeduh teh bagi para pelanggan.Pada suatu hari ketika hujan musim semi, aku sedang bersiap menutup kedai. Sebuah tangan menahan pintu yang hendak kututup. Tangan itu panjang dan kuat, dengan bekas luka lama di antara ibu jari dan telunjuk. Aku mengenalinya. Andias berdiri di luar pintu tanpa pengawal maupun iring-iringan kebesaran yang biasanya menyertai seorang pangeran. Dia hanya mengenakan jubah biru kehitaman yang telah basah kuyup. Tubuhnya jauh lebih kurus. Garis rahangnya tampak lebih tegas, sementara lingkaran hitam terlihat di bawah matany

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 6

    Selama bulan pertama setelah tiba di Kota Rama, aku tidak langsung membuka kedai teh.Meskipun rumah dagang milik pamanku bisa memberiku tempat tinggal sementara, aku tetap tidak ingin bergantung pada keluargaku seumur hidup. Dengan hasil penjualan barang-barang berhargaku, aku menyewa sebuah toko tua. Aku mengurus semuanya sendiri, mulai dari memilih teh, mencatat keuangan hingga memperbaiki pintu serta jendela. Dulu, untuk mengurus semua ini, aku hanya perlu memberi perintah. Para pelayan Kediaman Pangeran akan segera membereskannya.Kini, bahkan untuk menentukan harga papan nama toko, aku harus berunding dengan tukang kayu selama setengah hari.Pada malam hari, ketika jari-jariku begitu pegal hingga nyaris tidak sanggup menggenggam kuas, aku terkadang tanpa sadar melirik ke arah pintu.Seandainya Andias berada di sini, cukup dengan sepucuk surat perintah darinya, semua kesulitan ini pasti akan teratasi. Namun, setelah terlalu lama bergantung pada seseorang, bahkan untuk pergi pun

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 5

    Pada hari ketujuh sejak meninggalkan ibu kota, kapal dagang bersandar di Dermaga Linantara untuk mengisi perbekalan.Kepala Rumah Dagang Guandra menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Surat itu dititipkan Ridman, mantan kepala pelayan, melalui Rumah Dagang Guandra. Di bagian depan amplop hanya tertulis, "Khusus untuk Nona Sandora".Saat ibuku masih hidup, Ridman sudah merawatku. Dia juga termasuk segelintir orang di Kediaman Pangeran Pemangku Raja yang masih bersedia memanggilku dengan sebutan Nona.Surat itu tebal, dengan tulisan sepanjang enam halaman. Setelah membukanya, barulah aku mengetahui bahwa pada malam kepergianku, Andias kembali ke kediaman utama.Saat itu, waktu sudah lewat tengah malam. Dia mendorong pintu kamar, lalu menyuruh seseorang menambahkan arang ke dalam tungku, juga meminta orang dapur mengantarkan secangkir teh hangat. Namun, tidak ada balasan.Ridman melangkah masuk ke dalam ruangan. Saat melihat meja rias yang telah kosong, dia menyadari ada sesuatu yang tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status