Share

Bab 3

Penulis: Lion
Tiga hari sebelum kepergianku adalah hari peringatan tujuh tahun pernikahanku dengan Andias.

Pagi harinya, Kepala Pengurus Kediaman Pangeran mengantarkan sebuah kotak. Di dalamnya terdapat sebuah tusuk konde dari batu giok putih sewarna lemak domba, dengan ukiran bunga begonia yang baru setengah mekar pada bagian kepalanya.

Kepala Pengurus itu tersenyum hormat. "Pangeran masih ingat bahwa hari ini adalah hari yang istimewa. Beliau memerintahkan untuk memilih tusuk konde ini dari gudang penyimpanan."

Aku mengusap ukiran bunga begonia itu, lalu terdiam sejenak. Andias bukanlah pria yang sama sekali tidak berperasaan. Dia ingat bahwa aku tidak tahan rasa pahit, ingat bahwa aku mudah kedinginan pada musim dingin, dan juga ingat bahwa bunga begonia adalah bunga kesukaanku.

Justru karena itu, selama ini aku selalu mencari alasan untuk memaklumi sikap dinginnya setiap kali dia mengabaikanku.

Aku meletakkan kembali tusuk konde giok itu ke dalam kotaknya tanpa mengenakannya.

Setengah jam kemudian, Dinda datang ke kediaman utama untuk memberi salam. Di kepalanya juga terselip sebuah tusuk konde dari batu giok putih seputih lemak domba.

Motif bunga begonia pada kedua tusuk konde itu sama, tetapi miliknya diukir dari satu bongkah batu giok hangat yang utuh, dengan hasil pahatan yang jauh lebih indah daripada milikku.

Saat duduk, Dinda sengaja mengangkat tangan untuk membetulkan tusuk konde di rambutnya.

"Kata Pangeran, Kakak menyukai bunga begonia. Aku juga ingin ikut merasakan sedikit keanggunan Kakak."

Mataku tertuju pada tusuk konde di rambutnya. "Itu pemberian Pangeran?"

Dinda melengkungkan bibirnya menjadi senyuman. "Tadi malam, Pangeran sendiri yang menyematkannya di rambutku. Katanya hanya batu giok ini yang pantas untukku."

Dia datang bukan untuk sekadar memberi salam, melainkan untuk menunjukkan bahwa meskipun kami memiliki tusuk konde dengan motif yang sama, kedudukan kami di hati Andias tetap berbeda.

Di hati Andias, aku bisa diperlakukan seadanya.

Aku menutup buku pembukuan. "Kalau itu memang pemberian Pangeran, simpanlah dengan baik."

Senyum Dinda sedikit memudar. "Kakak tidak mengenakan tusuk konde itu hari ini. Jangan-jangan Kakak tidak menghargai niat baik Pangeran?"

Tepat saat itu, Andias memasuki kediaman utama. Setelah melihat Dinda duduk dengan tenang, raut wajahnya yang semula tegang baru menjadi lega.

"Kondisi tubuh Dinda sedang kurang sehat. Kamu tidak seharusnya membiarkannya duduk terlalu lama di sini."

Aku menatapnya. "Apakah Pangeran masih ingat hari apa ini?"

Andias terdiam sejenak. "Aku sudah menyuruh seseorang mengantarkan hadiah."

Dia memang mengingatnya.

"Kalau begitu, mengapa tusuk konde bunga begonia miliknya lebih bagus, padahal motifnya sama?"

Ini adalah kali terakhir aku membandingkan diriku dengan wanita lain.

Kening Andias berkerut. Nada bicaranya mulai terdengar tidak sabar.

"Dinda sudah menderita sejak kecil. Untuk apa kamu mempermasalahkan sebuah tusuk konde dengannya?"

Dinda menundukkan kepala. Jari-jarinya meremas saputangan dengan gelisah. "Ini semua salahku. Biar aku copot sekarang juga dan kukembalikan kepada Kakak."

Andias mengangkat tangan untuk mencegahnya. "Tidak seorang pun berhak menyuruhmu melepaskan barang yang kuberikan kepadamu."

Satu kalimat itu menutup semua kemungkinan untuk berdamai.

Aku membuka kotak itu, lalu memanggil seorang pelayan yang bertugas membersihkan halaman.

Pelayan itu baru bekerja di kediaman ini kurang dari setengah tahun. Pakaiannya sederhana dan rambutnya hanya diikat dengan seutas kain.

Aku meletakkan tusuk konde giok itu ke tangannya. "Ini untukmu."

Pelayan itu ketakutan dan buru-buru berlutut.

Wajah Andias seketika berubah dingin. "Sandora, apa kau harus sampai menghina niat baikku seperti ini?"

"Sudah semestinya aku memutuskan bagaimana memperlakukan semua pemberian Pangeran kepadaku."

Andias menatapku seolah tidak mengenal diriku. "Sungguh tidak masuk akal!"

Dia mengibaskan lengan bajunya, lalu berjalan pergi. Dinda buru-buru mengejarnya.

Saat melewatiku, mutiara yang menghiasi rambutnya bergoyang pelan. Aku tidak meliriknya lagi.

Siang harinya, aku pergi ke ruang baca. Di dinding tergantung lukisan potret Andias yang kulukis sendiri pada hari ulang tahunnya yang ke-26.

Tahun itu, dia kembali ke ibu kota setelah menaklukkan wilayah barat laut. Tubuhnya dipenuhi luka ketika duduk di hadapanku, tetapi dia tetap tidak mengizinkanku melukiskan luka-luka itu.

Andias menggenggam tanganku yang memegang kuas, lalu menambahkan sekuntum bunga begonia di sudut lukisan.

"Jasa-jasaku di medan perang kutunjukkan kepada seluruh negeri, tetapi luka-lukaku hanya kuperlihatkan kepadamu."

Dulu, aku mengira bahwa itu adalah kepercayaan yang hanya diberikan kepadaku.

Kini, dia justru menyimpan potongan tulisan tak utuh milik wanita lain di dalam kompartemen tersembunyi. Yang tersisa untukku hanyalah sebuah lukisan lama.

Aku menurunkan lukisan itu dan melemparkannya ke dalam wadah bara api. Kobaran api menjalar di sepanjang kertas lukisan. Wajah Andias perlahan-lahan berubah menjadi abu.

Ingga menyegel peti barang terakhir. "Nona, rumah dagang mengirim kabar. Kapalnya sudah merapat di dermaga."

Aku menatap dinding yang kini kosong. Tiga hari lagi, tidak akan ada lagi jejak keberadaanku di Kediaman Pangeran.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 10

    Pada tahun berikutnya, Kedai Teh Sansan membuka cabang keduanya.Aku membawa pulang tiga perempuan yang tidak memiliki tempat untuk dituju dari kantor perantara tenaga kerja.Yang pertama diceraikan oleh keluarga suaminya. Yang kedua nyaris dijual karena ayahnya terlilit utang. Yang ketiga kehilangan tanahnya setelah menjanda karena dirampas kerabatnya.Awalnya, mereka bahkan tidak tahu cara berhitung. Aku mengajari mereka mulai dari pembukuan paling sederhana, lalu mengenali jenis teh, menghitung uang, hingga menawar harga dengan para pedagang.Ada yang menasihatiku agar tidak memberikan terlalu banyak uang kepada perempuan, khawatir mereka akan memiliki pikiran yang tidak semestinya.Aku hanya membagikan surat kepemilikan kedai kepada mereka."Seseorang baru bisa menentukan jalan mana yang ingin ditempuhnya setelah memiliki jalan keluar."Pada tahun kelima, kapal dagang milik Kedai Teh Sansan sudah mampu berlayar dari Kota Rama hingga ke perbatasan utara.Seorang kepala toko yang bar

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 9

    Tiga hari kemudian, para petugas kantor pemerintahan menyegel pintu Kedai Teh Sansan.Isi pengumuman itu tertulis dengan jelas bahwa istri dari Pangeran Pemangku Raja meninggalkan ibu kota tanpa izin, status dan dokumen identitasnya belum jelas, sehingga kedai teh harus menghentikan operasional untuk sementara waktu.Aku menurunkan pengumuman itu, lalu membawa surat cerai ke kantor pemerintahan setempat.Surat tersebut sudah dibubuhi cap resmi dari kantor pemerintahan ibu kota, tetapi belum dilengkapi tanda tangan dari Andias.Kepala daerah tidak berani menyinggung Pangeran Pemangku Raja. Dia hanya menyuruhku pulang untuk menunggu kabar.Menjelang petang, Andias berdiri di dalam kedai teh yang kini sedang kosong. Dia kembali mengenakan jubah resmi pangeran. Plakat tergantung di pinggangnya, sementara sorot mata dan raut wajahnya kembali sedingin dahulu.Di atas meja tergeletak surat-surat perjalanan untuk kembali ke ibu kota."Kembalilah bersamaku. Besok kedai tehmu sudah bisa dibuka l

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 8

    Andias sudah tinggal di rumah seberang selama sebulan. Dia tidak lagi menerobos masuk ke kedai teh, juga tidak lagi memohon agar aku kembali.Saat atap rumah bocor, dia menyuruh orang mengantarkan genting. Ketika petugas datang untuk memeriksa dokumen kependudukan para pedagang dari luar daerah, dia lebih dahulu meminta orang mengirimkan surat cerai dari ibu kota yang sudah dibubuhi cap resmi. Namun, dia tak kunjung membubuhkan tanda tangannya sendiri.Dia telah melakukan banyak hal. Hanya saja, dia tetap tidak bersedia untuk melepaskanku.Setiap pagi, Andias selalu duduk di tempat paling dekat dengan pintu kedai teh dan memesan secangkir teh hijau.Dulu, Andias hanya minum teh pekat. Kini, dia meminum teh kesukaanku. Entah apakah itu caranya menghukum diri sendiri atau mengingatkanku bahwa dia masih mengingat masa lalu.Hari itu, setelah kedai tutup, dia mengadangku di pintu belakang. Di tangannya tidak ada hadiah, juga tidak ada plakat Pangeran Pemangku Raja."Sandora, dulu aku mengi

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 7

    Enam bulan kemudian, Kedai Teh Sansan mulai dikenal di Kota Rama. Kedainya tidak besar, tetapi terkenal karena daun tehnya yang segar dan kue-kue lezat yang disajikan dengan apik.Para pedagang di sekitar kedai tahu bahwa aku seorang janda yang berasal dari kota di utara. Tidak seorang pun bertanya lebih jauh tentang masa laluku.Aku mengenakan pakaian berwarna polos, mencatat pembukuan sendiri, dan sesekali duduk di dekat jendela untuk menyeduh teh bagi para pelanggan.Pada suatu hari ketika hujan musim semi, aku sedang bersiap menutup kedai. Sebuah tangan menahan pintu yang hendak kututup. Tangan itu panjang dan kuat, dengan bekas luka lama di antara ibu jari dan telunjuk. Aku mengenalinya. Andias berdiri di luar pintu tanpa pengawal maupun iring-iringan kebesaran yang biasanya menyertai seorang pangeran. Dia hanya mengenakan jubah biru kehitaman yang telah basah kuyup. Tubuhnya jauh lebih kurus. Garis rahangnya tampak lebih tegas, sementara lingkaran hitam terlihat di bawah matany

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 6

    Selama bulan pertama setelah tiba di Kota Rama, aku tidak langsung membuka kedai teh.Meskipun rumah dagang milik pamanku bisa memberiku tempat tinggal sementara, aku tetap tidak ingin bergantung pada keluargaku seumur hidup. Dengan hasil penjualan barang-barang berhargaku, aku menyewa sebuah toko tua. Aku mengurus semuanya sendiri, mulai dari memilih teh, mencatat keuangan hingga memperbaiki pintu serta jendela. Dulu, untuk mengurus semua ini, aku hanya perlu memberi perintah. Para pelayan Kediaman Pangeran akan segera membereskannya.Kini, bahkan untuk menentukan harga papan nama toko, aku harus berunding dengan tukang kayu selama setengah hari.Pada malam hari, ketika jari-jariku begitu pegal hingga nyaris tidak sanggup menggenggam kuas, aku terkadang tanpa sadar melirik ke arah pintu.Seandainya Andias berada di sini, cukup dengan sepucuk surat perintah darinya, semua kesulitan ini pasti akan teratasi. Namun, setelah terlalu lama bergantung pada seseorang, bahkan untuk pergi pun

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 5

    Pada hari ketujuh sejak meninggalkan ibu kota, kapal dagang bersandar di Dermaga Linantara untuk mengisi perbekalan.Kepala Rumah Dagang Guandra menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Surat itu dititipkan Ridman, mantan kepala pelayan, melalui Rumah Dagang Guandra. Di bagian depan amplop hanya tertulis, "Khusus untuk Nona Sandora".Saat ibuku masih hidup, Ridman sudah merawatku. Dia juga termasuk segelintir orang di Kediaman Pangeran Pemangku Raja yang masih bersedia memanggilku dengan sebutan Nona.Surat itu tebal, dengan tulisan sepanjang enam halaman. Setelah membukanya, barulah aku mengetahui bahwa pada malam kepergianku, Andias kembali ke kediaman utama.Saat itu, waktu sudah lewat tengah malam. Dia mendorong pintu kamar, lalu menyuruh seseorang menambahkan arang ke dalam tungku, juga meminta orang dapur mengantarkan secangkir teh hangat. Namun, tidak ada balasan.Ridman melangkah masuk ke dalam ruangan. Saat melihat meja rias yang telah kosong, dia menyadari ada sesuatu yang tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status