Share

Bab 9

Penulis: Lion
Tiga hari kemudian, para petugas kantor pemerintahan menyegel pintu Kedai Teh Sansan.

Isi pengumuman itu tertulis dengan jelas bahwa istri dari Pangeran Pemangku Raja meninggalkan ibu kota tanpa izin, status dan dokumen identitasnya belum jelas, sehingga kedai teh harus menghentikan operasional untuk sementara waktu.

Aku menurunkan pengumuman itu, lalu membawa surat cerai ke kantor pemerintahan setempat.

Surat tersebut sudah dibubuhi cap resmi dari kantor pemerintahan ibu kota, tetapi belum dile
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 10

    Pada tahun berikutnya, Kedai Teh Sansan membuka cabang keduanya.Aku membawa pulang tiga perempuan yang tidak memiliki tempat untuk dituju dari kantor perantara tenaga kerja.Yang pertama diceraikan oleh keluarga suaminya. Yang kedua nyaris dijual karena ayahnya terlilit utang. Yang ketiga kehilangan tanahnya setelah menjanda karena dirampas kerabatnya.Awalnya, mereka bahkan tidak tahu cara berhitung. Aku mengajari mereka mulai dari pembukuan paling sederhana, lalu mengenali jenis teh, menghitung uang, hingga menawar harga dengan para pedagang.Ada yang menasihatiku agar tidak memberikan terlalu banyak uang kepada perempuan, khawatir mereka akan memiliki pikiran yang tidak semestinya.Aku hanya membagikan surat kepemilikan kedai kepada mereka."Seseorang baru bisa menentukan jalan mana yang ingin ditempuhnya setelah memiliki jalan keluar."Pada tahun kelima, kapal dagang milik Kedai Teh Sansan sudah mampu berlayar dari Kota Rama hingga ke perbatasan utara.Seorang kepala toko yang bar

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 9

    Tiga hari kemudian, para petugas kantor pemerintahan menyegel pintu Kedai Teh Sansan.Isi pengumuman itu tertulis dengan jelas bahwa istri dari Pangeran Pemangku Raja meninggalkan ibu kota tanpa izin, status dan dokumen identitasnya belum jelas, sehingga kedai teh harus menghentikan operasional untuk sementara waktu.Aku menurunkan pengumuman itu, lalu membawa surat cerai ke kantor pemerintahan setempat.Surat tersebut sudah dibubuhi cap resmi dari kantor pemerintahan ibu kota, tetapi belum dilengkapi tanda tangan dari Andias.Kepala daerah tidak berani menyinggung Pangeran Pemangku Raja. Dia hanya menyuruhku pulang untuk menunggu kabar.Menjelang petang, Andias berdiri di dalam kedai teh yang kini sedang kosong. Dia kembali mengenakan jubah resmi pangeran. Plakat tergantung di pinggangnya, sementara sorot mata dan raut wajahnya kembali sedingin dahulu.Di atas meja tergeletak surat-surat perjalanan untuk kembali ke ibu kota."Kembalilah bersamaku. Besok kedai tehmu sudah bisa dibuka l

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 8

    Andias sudah tinggal di rumah seberang selama sebulan. Dia tidak lagi menerobos masuk ke kedai teh, juga tidak lagi memohon agar aku kembali.Saat atap rumah bocor, dia menyuruh orang mengantarkan genting. Ketika petugas datang untuk memeriksa dokumen kependudukan para pedagang dari luar daerah, dia lebih dahulu meminta orang mengirimkan surat cerai dari ibu kota yang sudah dibubuhi cap resmi. Namun, dia tak kunjung membubuhkan tanda tangannya sendiri.Dia telah melakukan banyak hal. Hanya saja, dia tetap tidak bersedia untuk melepaskanku.Setiap pagi, Andias selalu duduk di tempat paling dekat dengan pintu kedai teh dan memesan secangkir teh hijau.Dulu, Andias hanya minum teh pekat. Kini, dia meminum teh kesukaanku. Entah apakah itu caranya menghukum diri sendiri atau mengingatkanku bahwa dia masih mengingat masa lalu.Hari itu, setelah kedai tutup, dia mengadangku di pintu belakang. Di tangannya tidak ada hadiah, juga tidak ada plakat Pangeran Pemangku Raja."Sandora, dulu aku mengi

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 7

    Enam bulan kemudian, Kedai Teh Sansan mulai dikenal di Kota Rama. Kedainya tidak besar, tetapi terkenal karena daun tehnya yang segar dan kue-kue lezat yang disajikan dengan apik.Para pedagang di sekitar kedai tahu bahwa aku seorang janda yang berasal dari kota di utara. Tidak seorang pun bertanya lebih jauh tentang masa laluku.Aku mengenakan pakaian berwarna polos, mencatat pembukuan sendiri, dan sesekali duduk di dekat jendela untuk menyeduh teh bagi para pelanggan.Pada suatu hari ketika hujan musim semi, aku sedang bersiap menutup kedai. Sebuah tangan menahan pintu yang hendak kututup. Tangan itu panjang dan kuat, dengan bekas luka lama di antara ibu jari dan telunjuk. Aku mengenalinya. Andias berdiri di luar pintu tanpa pengawal maupun iring-iringan kebesaran yang biasanya menyertai seorang pangeran. Dia hanya mengenakan jubah biru kehitaman yang telah basah kuyup. Tubuhnya jauh lebih kurus. Garis rahangnya tampak lebih tegas, sementara lingkaran hitam terlihat di bawah matany

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 6

    Selama bulan pertama setelah tiba di Kota Rama, aku tidak langsung membuka kedai teh.Meskipun rumah dagang milik pamanku bisa memberiku tempat tinggal sementara, aku tetap tidak ingin bergantung pada keluargaku seumur hidup. Dengan hasil penjualan barang-barang berhargaku, aku menyewa sebuah toko tua. Aku mengurus semuanya sendiri, mulai dari memilih teh, mencatat keuangan hingga memperbaiki pintu serta jendela. Dulu, untuk mengurus semua ini, aku hanya perlu memberi perintah. Para pelayan Kediaman Pangeran akan segera membereskannya.Kini, bahkan untuk menentukan harga papan nama toko, aku harus berunding dengan tukang kayu selama setengah hari.Pada malam hari, ketika jari-jariku begitu pegal hingga nyaris tidak sanggup menggenggam kuas, aku terkadang tanpa sadar melirik ke arah pintu.Seandainya Andias berada di sini, cukup dengan sepucuk surat perintah darinya, semua kesulitan ini pasti akan teratasi. Namun, setelah terlalu lama bergantung pada seseorang, bahkan untuk pergi pun

  • Kepergian yang Tak Berujung Pulang   Bab 5

    Pada hari ketujuh sejak meninggalkan ibu kota, kapal dagang bersandar di Dermaga Linantara untuk mengisi perbekalan.Kepala Rumah Dagang Guandra menyerahkan sepucuk surat kepadaku. Surat itu dititipkan Ridman, mantan kepala pelayan, melalui Rumah Dagang Guandra. Di bagian depan amplop hanya tertulis, "Khusus untuk Nona Sandora".Saat ibuku masih hidup, Ridman sudah merawatku. Dia juga termasuk segelintir orang di Kediaman Pangeran Pemangku Raja yang masih bersedia memanggilku dengan sebutan Nona.Surat itu tebal, dengan tulisan sepanjang enam halaman. Setelah membukanya, barulah aku mengetahui bahwa pada malam kepergianku, Andias kembali ke kediaman utama.Saat itu, waktu sudah lewat tengah malam. Dia mendorong pintu kamar, lalu menyuruh seseorang menambahkan arang ke dalam tungku, juga meminta orang dapur mengantarkan secangkir teh hangat. Namun, tidak ada balasan.Ridman melangkah masuk ke dalam ruangan. Saat melihat meja rias yang telah kosong, dia menyadari ada sesuatu yang tidak

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status