Short
Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin

Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin

By:  HoorayCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
10Chapters
0views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat acara makan malam amal tahunan memasuki sesi pemberian penghargaan, pembawa acara tiba-tiba menggandeng sepuluh anak kecil naik ke atas panggung. "Hari ini, masih ada satu penerima penghargaan khusus. Beliau meninggal karena kecelakaan, tapi sebelum mengembuskan napas terakhir, beliau mendonorkan seluruh organnya dan menyelamatkan nyawa anak-anak yang sedang berdiri di samping saya saat ini." Di barisan paling depan, putra sulung Keluarga Sudibio yang mengenakan setelan jas lengkap mencibir, "Entah siapa orang bodoh itu. Sudah mati pun masih mau cari nama baik." Di sampingnya, sang ibu, Patricia Inggara, memasang wajah penuh iba. "Tubuhnya saja sudah nggak lengkap. Bagaimana dia bisa bereinkarnasi di kehidupan berikutnya? Orang tuanya benar-benar tega, bahkan nggak berusaha mencegahnya." Revan Sudibio menenangkan istrinya, lalu menoleh dan memerintahkan sekretarisnya, "Setelah memastikan siapa keluarganya, batalkan semua kerja sama dengan keluarga itu mulai sekarang." Suara pembawa acara kembali terdengar, "Selanjutnya, mari kita undang orang tua almarhum untuk naik ke atas panggung." "Bapak Direktur Utama Keluarga Sudibio beserta istrinya."

View More

Chapter 1

Bab 1

Suasana di seluruh ruangan mendadak hening. Semua orang terpaku di tempat, lalu menatap ke barisan paling depan dengan tidak percaya.

Pembawa acara mendesak dengan wajah penuh senyum, "Pak Revan, Bu Patricia, silakan naik ke atas panggung untuk menerima penghargaan. Kasih sayang kalian yang begitu besar memang pantas mendapatkan penghargaan ini."

Begitu ucapan itu selesai, terdengar suara bisikan dari berbagai penjuru.

"Ternyata Keluarga Sudibio? Aku nggak menyangka mereka akan begitu dermawan."

"Bukannya Bu Patricia biasanya paling percaya pada reinkarnasi? Dia malah tega mendonorkan organ anaknya sendiri?"

Setiap bisikan itu terdengar begitu menusuk bagi Patricia. Ekspresi lembut di wajahnya perlahan menghilang. Wajahnya kelihatan pucat dan gusar. Dia hampir saja jatuh pingsan. Dia mencengkeram lengan Revan erat-erat dan berkata dengan suara bergetar, "Mereka ... apa maksudnya?"

"Anakku jelas-jelas masih hidup dengan baik. Kenapa mereka malah mengutuk anakku!"

Raut wajah putra sulung Keluarga Sudibio, Henry Sudibio, langsung menjadi muram. Tatapan tajamnya menyapu ke arah pembawa acara. Suaranya terdengar dingin dan tegas. "Kenapa kamu malah omong kosong. Nggak ada satu pun anggota Keluarga Sudibio yang meninggal!"

Tubuh Revan bahkan memancarkan tekanan yang begitu kuat. "Hmph. Pikirkan baik-baik sebelum bicara."

Pembawa acara itu ketakutan hingga mundur setengah langkah. Dia buru-buru menundukkan kepala dan mengeluarkan dokumen yang ada di tangannya. Dia memeriksanya sampai tiga atau empat kali. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.

Setelah beberapa saat, pembawa acara baru membuka suara dengan ragu-ragu, "Pak Revan, Bu Patricia, nama pendonor yang tertera di dalam dokumen ini … memang adalah putri kalian."

"Diam!" jerit Patricia. Matanya sudah memerah.

"Jelas-jelas Lucia sedang liburan setelah lulus kuliah di luar negeri. Beberapa hari lalu, dia bahkan masih mengirimiku foto. Mana mungkin ...."

Henry segera menahan tangan ibunya dan menenangkannya dengan suara rendah, "Ibu, jangan panik." Kemudian, dia menoleh kepada pembawa acara dengan menunjukkan sorot mata suram. "Aku akan memberimu kesempatan terakhir. Katakan yang sebenarnya kepadaku."

Patricia menyela dengan suara terisak-isak, "Henry, cepat telepon adikmu. Jangan-jangan memang sudah terjadi sesuatu dengannya."

Henry segera melakukan panggilan video.

Tuut, tuut, tuut.

Satu dering, dua dering, tiga dering.

Tidak ada yang mengangkatnya.

Perasaan beberapa orang itu perlahan menjadi berat.

Wajah Patricia pucat pasi. Dia menatap layar ponsel lekat-lekat, bibirnya gemetar hingga tidak mampu berbicara sama sekali.

Revan juga sudah tidak bisa duduk tenang. Tubuhnya sedikit condong ke depan. Jakunnya bergerak naik turun.

Tiba-tiba, panggilan itu masuk kembali. Henry langsung mengangkatnya. "Lucia!"

Layar ponsel menyala dan menampilkan wajah mungil dan cantik. Lucia mengucek matanya. Rambutnya kelihatan berantakan, jelas baru saja terbangun karena suara dering ponsel. Dia berkata dengan suara masih mengantuk, "Kak, kenapa meneleponku tengah malam begini? Apa Kakak lupa kita beda zona waktu?"

Patricia langsung merebut ponsel itu dan bertanya dengan cemas, "Lucia, kamu nggak kenapa-kenapa, ‘kan?"

"Ibu?" Lucia tertegun sejenak, lalu tersenyum. "Aku sedang liburan di luar. Memangnya aku kenapa? Sudah kubilang, kalian nggak usah khawatir. Aku juga sudah dewasa!"

Air mata Patricia langsung mengalir. Dia menangis dan tersenyum.

Revan menghela napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke sandaran kursi.

Henry mengambil ponselnya kembali, kemudian mengingatkan dengan penuh sabar. Setelah itu, panggilan baru diakhiri.

Henry menoleh melihat ke arah pembawa acara dengan tatapan dingin. "Apa kamu sudah lihat? Adikku masih hidup. Kamu malah mengutuk adikku seperti itu. Kamu harus memberikan penjelasan kepada Keluarga Sudibio!"

Suasana di dalam acara menjadi memanas.

Ketika pembawa acara tidak tahu harus berbuat apa, salah satu anak perempuan yang usianya sedikit lebih besar di atas panggung mengangkat tangannya dengan ragu-ragu. "Bukan kakak yang itu."

Semua orang langsung menoleh kepadanya.

Anak perempuan itu menggigit bibirnya dan berkata pelan, "Ayah pernah memperlihatkanku foto kakak perempuan yang sudah menyelamatkanku."

"Namanya Adeline."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
10 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status