LOGINSaat acara makan malam amal tahunan memasuki sesi pemberian penghargaan, pembawa acara tiba-tiba menggandeng sepuluh anak kecil naik ke atas panggung. "Hari ini, masih ada satu penerima penghargaan khusus. Beliau meninggal karena kecelakaan, tapi sebelum mengembuskan napas terakhir, beliau mendonorkan seluruh organnya dan menyelamatkan nyawa anak-anak yang sedang berdiri di samping saya saat ini." Di barisan paling depan, putra sulung Keluarga Sudibio yang mengenakan setelan jas lengkap mencibir, "Entah siapa orang bodoh itu. Sudah mati pun masih mau cari nama baik." Di sampingnya, sang ibu, Patricia Inggara, memasang wajah penuh iba. "Tubuhnya saja sudah nggak lengkap. Bagaimana dia bisa bereinkarnasi di kehidupan berikutnya? Orang tuanya benar-benar tega, bahkan nggak berusaha mencegahnya." Revan Sudibio menenangkan istrinya, lalu menoleh dan memerintahkan sekretarisnya, "Setelah memastikan siapa keluarganya, batalkan semua kerja sama dengan keluarga itu mulai sekarang." Suara pembawa acara kembali terdengar, "Selanjutnya, mari kita undang orang tua almarhum untuk naik ke atas panggung." "Bapak Direktur Utama Keluarga Sudibio beserta istrinya."
View MoreKerah pakaian Lucia masih dicengkeram Henry, tetapi dia tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut, melainkan tertawa semakin lantang.Lucia memiringkan kepala dan menatap ketiga anggota Keluarga Sudibio di hadapannya dengan tatapan penuh provokasi."Setiap kali aku menjebaknya, bukankah kalian selalu memercayaiku? Hanya dengan satu tatapan dariku, kalian langsung mengira dia menindasku. Begitu aku meneteskan setetes air mata, kalian langsung menganggap dia jahat. Saat aku mengatakan bahwa dia iri kepadaku, kalian bahkan mengurungnya di dalam kamar dan nggak mengizinkannya keluar.""Coba kalian katakan, bukankah kalian juga sudah mendesaknya sampai ke ambang kematian?"Sekujur tubuh Patricia seketika gemetar. Wajahnya kelihatan pucat pasi.Tatapan Lucia beralih kepada Henry dengan senyum mengejek tersungging di sudut bibirnya."Kamu juga, Kak Henry. Padahal aku cuma menulis sepucuk surat asal-asalan, kamu malah langsung percaya begitu saja. Kamu bahkan nggak pernah memeriksanya terlebih
Henry menarik napas dalam-dalam. Suaranya terdengar serak. "Lucia, Adeline sudah meninggal."Lucia tertegun dan terbelalak. Ekspresinya seketika berubah menjadi tidak percaya. Matanya mulai memerah, suaranya bergetar. "Kak Adeline sudah meninggal? Mana mungkin?"Dia menggigit bibir, lalu mendongak menatap Henry. Dia mencoba memastikan kebenaran kabar itu dengan nada penuh hati-hati, "Kak, jangan-jangan berita itu palsu? Sejak dulu, Kak Adeline memang suka bersandiwara. Kalian juga tahu, ‘kan?""Menurutmu, apa mungkin dia kembali menggunakan cara ini untuk mencari simpati, lalu memanfaatkan kesempatan untuk mengusirku dari rumah?" Suara Lucia ketika berbicara terdengar penuh rasa teraniaya. Dia menunduk dengan raut wajah menyedihkan.Dulu, setiap kali Lucia menunjukkan ekspresi seperti itu, Keluarga Sudibio pasti akan merasa kasihan, lalu membelanya dan berbalik menyalahkan Adeline karena dianggap tidak pengertian.Namun kali ini, ruang tamu justru diselimuti dengan keheningan. Semua an
Reaksi pertama Keluarga Sudibio adalah menyangkalnya. Lucia bahkan akan merasa sedih hanya karena tidak sengaja menginjak semut. Semua orang memujinya lembut dan baik hati, Lucia bahkan tidak bisa berbicara dengan suara keras, mana mungkin dia akan melakukan hal seperti ini?Patricia langsung menggeleng. Nada bicaranya terdengar yakin. "Nggak mungkin! Lucia adalah anak berhati lembut. Pasti ada salah paham dalam masalah ini.""Henry, coba periksa lagi dengan lebih teliti."Namun, semakin banyak hasil penyelidikan yang ditemukan, wajah seluruh anggota Keluarga Sudibio semakin pucat.Rekening koran, riwayat panggilan, bukti transfer .... Setiap petunjuk pada akhirnya mengarah kepada orang yang sama. Lucia bukan hanya memalsukan surat itu dan sengaja menyembunyikan kabar tentang kematianku. Ternyata, kematianku pun ada kaitannya dengannya. Keluarga Sudibio berhasil menemukan sopir truk dalam kecelakaan saat itu.Henry menghabiskan tiga hari tiga malam dan mengerahkan seluruh koneksinya.
Keluarga Sudibio langsung terdiam. Mereka menatap sepuluh anak yang berdiri di atas panggung dengan tatapan kosong.Benar juga. Semua anak ini diselamatkan oleh Adeline.Bagaimana mungkin Adeline bukan anak yang baik?Gadis yang berdiri paling depan memiliki sepasang mata yang besar dan jernih. Saat tersenyum, wajahnya benar-benar mirip Adeline."Adeline ...." Patricia tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Emosi yang dia pendam begitu lama akhirnya pecah tak terbendung.Revan memalingkan wajah. Bahunya bergetar pelan.Mata Henry memerah. Dia mengatupkan giginya erat-erat, sementara jakunnya bergerak naik turun. Akhirnya mereka menyadari bahwa aku benar-benar telah meninggal.Putri yang selama ini mereka anggap jahat dan keras kepala, yang bahkan pernah mereka harapkan tidak pernah ditemukan kembali, ternyata benar-benar sudah meninggal.Atas permohonan keras Keluarga Sudibio, Anjas membawa mereka untuk melihat jenazahku.Di dalam laboratorium, cahaya lampu putih yang dingin menerangi wajahk












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.