Share

Bab 7

Author: Hooray
Keluarga Sudibio langsung terdiam. Mereka menatap sepuluh anak yang berdiri di atas panggung dengan tatapan kosong.

Benar juga. Semua anak ini diselamatkan oleh Adeline.

Bagaimana mungkin Adeline bukan anak yang baik?

Gadis yang berdiri paling depan memiliki sepasang mata yang besar dan jernih. Saat tersenyum, wajahnya benar-benar mirip Adeline.

"Adeline ...." Patricia tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Emosi yang dia pendam begitu lama akhirnya pecah tak terbendung.

Revan memalingkan wajah. Bahun
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 10

    Kerah pakaian Lucia masih dicengkeram Henry, tetapi dia tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut, melainkan tertawa semakin lantang.Lucia memiringkan kepala dan menatap ketiga anggota Keluarga Sudibio di hadapannya dengan tatapan penuh provokasi."Setiap kali aku menjebaknya, bukankah kalian selalu memercayaiku? Hanya dengan satu tatapan dariku, kalian langsung mengira dia menindasku. Begitu aku meneteskan setetes air mata, kalian langsung menganggap dia jahat. Saat aku mengatakan bahwa dia iri kepadaku, kalian bahkan mengurungnya di dalam kamar dan nggak mengizinkannya keluar.""Coba kalian katakan, bukankah kalian juga sudah mendesaknya sampai ke ambang kematian?"Sekujur tubuh Patricia seketika gemetar. Wajahnya kelihatan pucat pasi.Tatapan Lucia beralih kepada Henry dengan senyum mengejek tersungging di sudut bibirnya."Kamu juga, Kak Henry. Padahal aku cuma menulis sepucuk surat asal-asalan, kamu malah langsung percaya begitu saja. Kamu bahkan nggak pernah memeriksanya terlebih

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 9

    Henry menarik napas dalam-dalam. Suaranya terdengar serak. "Lucia, Adeline sudah meninggal."Lucia tertegun dan terbelalak. Ekspresinya seketika berubah menjadi tidak percaya. Matanya mulai memerah, suaranya bergetar. "Kak Adeline sudah meninggal? Mana mungkin?"Dia menggigit bibir, lalu mendongak menatap Henry. Dia mencoba memastikan kebenaran kabar itu dengan nada penuh hati-hati, "Kak, jangan-jangan berita itu palsu? Sejak dulu, Kak Adeline memang suka bersandiwara. Kalian juga tahu, ‘kan?""Menurutmu, apa mungkin dia kembali menggunakan cara ini untuk mencari simpati, lalu memanfaatkan kesempatan untuk mengusirku dari rumah?" Suara Lucia ketika berbicara terdengar penuh rasa teraniaya. Dia menunduk dengan raut wajah menyedihkan.Dulu, setiap kali Lucia menunjukkan ekspresi seperti itu, Keluarga Sudibio pasti akan merasa kasihan, lalu membelanya dan berbalik menyalahkan Adeline karena dianggap tidak pengertian.Namun kali ini, ruang tamu justru diselimuti dengan keheningan. Semua an

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 8

    Reaksi pertama Keluarga Sudibio adalah menyangkalnya. Lucia bahkan akan merasa sedih hanya karena tidak sengaja menginjak semut. Semua orang memujinya lembut dan baik hati, Lucia bahkan tidak bisa berbicara dengan suara keras, mana mungkin dia akan melakukan hal seperti ini?Patricia langsung menggeleng. Nada bicaranya terdengar yakin. "Nggak mungkin! Lucia adalah anak berhati lembut. Pasti ada salah paham dalam masalah ini.""Henry, coba periksa lagi dengan lebih teliti."Namun, semakin banyak hasil penyelidikan yang ditemukan, wajah seluruh anggota Keluarga Sudibio semakin pucat.Rekening koran, riwayat panggilan, bukti transfer .... Setiap petunjuk pada akhirnya mengarah kepada orang yang sama. Lucia bukan hanya memalsukan surat itu dan sengaja menyembunyikan kabar tentang kematianku. Ternyata, kematianku pun ada kaitannya dengannya. Keluarga Sudibio berhasil menemukan sopir truk dalam kecelakaan saat itu.Henry menghabiskan tiga hari tiga malam dan mengerahkan seluruh koneksinya.

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 7

    Keluarga Sudibio langsung terdiam. Mereka menatap sepuluh anak yang berdiri di atas panggung dengan tatapan kosong.Benar juga. Semua anak ini diselamatkan oleh Adeline.Bagaimana mungkin Adeline bukan anak yang baik?Gadis yang berdiri paling depan memiliki sepasang mata yang besar dan jernih. Saat tersenyum, wajahnya benar-benar mirip Adeline."Adeline ...." Patricia tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Emosi yang dia pendam begitu lama akhirnya pecah tak terbendung.Revan memalingkan wajah. Bahunya bergetar pelan.Mata Henry memerah. Dia mengatupkan giginya erat-erat, sementara jakunnya bergerak naik turun. Akhirnya mereka menyadari bahwa aku benar-benar telah meninggal.Putri yang selama ini mereka anggap jahat dan keras kepala, yang bahkan pernah mereka harapkan tidak pernah ditemukan kembali, ternyata benar-benar sudah meninggal.Atas permohonan keras Keluarga Sudibio, Anjas membawa mereka untuk melihat jenazahku.Di dalam laboratorium, cahaya lampu putih yang dingin menerangi wajahk

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 6

    Orang yang berbicara adalah seorang pria lanjut usia. Dia bertumpu pada tongkatnya sambil perlahan berjalan keluar dari kerumunan. Punggungnya tegap, sementara sepasang matanya terlihat begitu tajam.Begitu melihatnya, semua orang langsung menunjukkan sikap hormat, termasuk Keluarga Sudibio."Pak Anjas? Kenapa Pak Anjas datang ke sini?"Dia adalah Kepala Keluarga Liandra di ibu kota, sekaligus sosok yang begitu berpengaruh. Dengan satu gerakan saja, seluruh ibu kota bisa ikut gempar. Saat ini, wajahnya tampak muram saat memandang Henry.Henry akhirnya sedikit tenang. Dia menenangkan diri sejenak sebelum berkata, "Pak Anjas, penyelenggara acara ini sengaja ingin mempersulit Keluarga Sudibio. Kami benar-benar nggak bermaksud menyinggungmu."Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Anjas sudah berkata dengan nada datar, "Orang yang menyelenggarakan acara makan malam amal ini adalah aku."Ekspresi di wajah Henry langsung membeku.Tatapan Anjas yang sulit ditebak tertuju kepadanya. "Maks

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 5

    Pembawa acara menampilkan dokumen di ponselnya ke layar besar. Begitu foto itu muncul, semua orang sontak menahan napas. "Ternyata ... jenazah Adeline berada di sana."Aku pun mengikuti arah pandang semua orang dengan rasa penasaran. Tubuhku terbaring kaku di atas meja laboratorium dengan kedua tanganku terlipat di atas perut.Mataku terpejam, bulu mataku menjuntai ke bawah. Wajahku yang pucat sama sekali tidak menunjukkan ekspresi. Aku tampak seperti sedang tertidur. Namun, tepat di hadapanku terpasang sebuah papan penanda. [ Spesimen Nomor 231. ]"Adeline benar-benar sudah meninggal.""Dia bukan hanya mendonorkan organnya, dia bahkan mendonorkan jenazahnya.""Pantas saja Keluarga Sudibio nggak pernah melihat jenazahnya. Ternyata dia memilih menjadi donor tubuh untuk keperluan pendidikan kedokteran."Suara bisikan dari segala penjuru mengalir seperti gelombang. Setiap ucapan itu seolah menghantam hati anggota Keluarga Sudibio. Wajah Patricia langsung berubah pucat pasi. Tubuhnya t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status