Share

Bab 2

Author: Hooray
Semua orang berbisik-bisik.

"Adeline? Nama itu kedengaran begitu familier."

"Bukankah dia putri angkat yang diadopsi Keluarga Sudibio setahun lalu?"

"Aku pernah mendengar rumor bahwa Adeline dan Lucia tertukar sejak lahir. Sebenarnya, Adeline barulah putri kandung Keluarga Sudibio."

"Jangan bercanda. Mana mungkin Keluarga Sudibio menganggap putri kandung mereka sendiri sebagai anak angkat?"

Aku melayang diam-diam di belakang anggota Keluarga Sudibio. Sudut bibirku terangkat membentuk senyum getir.

Apa yang mereka katakan memang benar. Aku memang putri kandung Keluarga Sudibio.

Dulu, demi membuat putri mereka sendiri hidup dalam kemewahan, orang tua Lucia sengaja menukar anak mereka.

Lucia pun menjadi putri kesayangan Keluarga Sudibio, yang tumbuh besar dengan segala kasih sayang. Sementara, 18 tahun hidupku justru terasa seperti mimpi buruk.

Orang tua angkatku gemar berjudi. Setiap kali kalah berjudi, mereka selalu melampiaskan amarah kepadaku.

Mereka mencambukku dengan ikat pinggang, menyundutku dengan puntung rokok. Mereka menyiksaku dengan apa pun yang ada di dekat tangan mereka.

Punggungku dipenuhi bekas luka yang bertumpuk-tumpuk, luka baru menimpa luka lama.

Mereka tidak pernah peduli dengan hidup matiku. Aku bertahan hidup dengan susah payah, memungut makanan dari tempat sampah.

Seiring aku tumbuh dewasa, tatapan ayah angkatku kepadaku semakin dipenuhi nafsu. Pada suatu hari, dia mengadangku di dalam kamar.

Aku menusuknya dengan gunting hingga dia terluka, tetapi aku malah dituduh sengaja merayunya.

Aku dipukuli oleh pasangan suami istri itu hingga nyaris meninggal. Aku hampir kehabisan napas sebelum akhirnya diselamatkan oleh tetangga yang datang setelah mendengar keributan.

Dengan campur tangan polisi, akhirnya identitasku terungkap. Aku pun kembali ke Keluarga Sudibio.

Awalnya, kupikir masa-masa sulitku akhirnya berakhir.

Namun, Lucia justru menangis di hadapanku dan berkata bahwa karena aku sudah kembali, seharusnya dia pergi.

Keluarga Sudibio memeluk Lucia dengan penuh rasa kasihan dan menenangkannya dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, mereka memandangku dengan tatapan tidak senang, mengatakan bahwa Lucia juga adalah korban.

Saat itu Lucia masih begitu kecil. Kesalahan yang dilakukan orang tuanya tidak seharusnya menjadi tanggung jawabnya.

Demi mencegah Lucia kembali ke keluarga yang bagaikan sarang serigala itu, mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan tuntutan hukum. Sebaliknya, mereka memberikan sejumlah besar uang kepada pasangan suami istri itu untuk melepaskan hak asuh, lalu tetap mempertahankan Lucia di Keluarga Sudibio.

Saat mereka mengambil keputusan itu, tidak seorang pun bertanya bagaimana aku menjalani hidup selama bertahun-tahun ini.

Aku masih ingat dengan tatapan dingin Revan dan Patricia.

"Selama ini kami sudah menganggap Lucia sebagai putri kandung sendiri. Kalau identitasmu dipublikasikan, dampaknya terhadap dirinya akan terlalu besar."

"Jadi, kami memutuskan, sementara ini kami akan menyatakan bahwa kamu adalah putri angkat kami."

Kini, saat mendengar namaku disebut, wajah Keluarga Sudibio awalnya dipenuhi kebingungan. Namun, sesaat kemudian, berbagai ekspresi rumit mulai muncul di wajah mereka.

"Bagaimana mungkin dia?"

Tatapan Henry bahkan menunjukkan kebencian yang begitu kuat. "Demi bertahan hidup, dia bahkan tega meninggalkan ibunya sendiri. Mana mungkin orang seperti dia rela mati?"

Padahal aku sudah mati. Meskipun yang tersisa hanyalah sehelai arwah, hatiku tetap terasa sakit.

Patricia terdiam cukup lama. Matanya perlahan memerah. Akhirnya, dia buka suara, "Aku nggak punya putri seperti itu. Putriku hanya Lucia."

Seluruh ruangan langsung gempar. Tatapan semua orang tertuju kepada Keluarga Sudibio.

Henry tersenyum sinis. Menghadapi kebingungan semua orang, dia pun menceritakan kejadian waktu itu.

"Hari itu adalah hari ulang tahun Lucia, tapi Adeline terus merajuk dan memaksa Ibu menemaninya pergi. Demi menenangkannya, ibuku membatalkan semua jadwal dan menemaninya bermain ski. Nggak disangka, mereka malah mengalami longsoran salju."

"Kaki ibuku tertimbun salju hingga patah dan dia nggak bisa bergerak, sedangkan Adeline …." Henry terdiam sejenak. Tatapannya seolah dipenuhi racun. "Dia pergi begitu saja tanpa menoleh sedikit pun. Dia melarikan diri sendirian."

"Kalau Lucia nggak segera mendatangkan tim penyelamat untuk mencari ibuku, mungkin ibuku sudah tiada sejak dulu."

Suara Henry terdengar semakin dingin.

"Saat berada di rumah, dia selalu mencari masalah dan menindas Lucia. Selama ini, kami memilih untuk pura-pura nggak melihatnya dan membiarkannya begitu saja."

"Tapi dia menyimpan kebencian di dalam hati. Demi menyelamatkan nyawanya sendiri, dia bahkan tega mengabaikan ibunya. Setelah kejadian itu, dia juga menghilang tanpa kabar. Orang seperti itu sama sekali nggak pantas menjadi adikku."

Saat itu, pembawa acara tiba-tiba bertanya, "Jadi, sejak saat itu, kalian nggak pernah bertemu Adeline lagi?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 10

    Kerah pakaian Lucia masih dicengkeram Henry, tetapi dia tidak sedikit pun menunjukkan rasa takut, melainkan tertawa semakin lantang.Lucia memiringkan kepala dan menatap ketiga anggota Keluarga Sudibio di hadapannya dengan tatapan penuh provokasi."Setiap kali aku menjebaknya, bukankah kalian selalu memercayaiku? Hanya dengan satu tatapan dariku, kalian langsung mengira dia menindasku. Begitu aku meneteskan setetes air mata, kalian langsung menganggap dia jahat. Saat aku mengatakan bahwa dia iri kepadaku, kalian bahkan mengurungnya di dalam kamar dan nggak mengizinkannya keluar.""Coba kalian katakan, bukankah kalian juga sudah mendesaknya sampai ke ambang kematian?"Sekujur tubuh Patricia seketika gemetar. Wajahnya kelihatan pucat pasi.Tatapan Lucia beralih kepada Henry dengan senyum mengejek tersungging di sudut bibirnya."Kamu juga, Kak Henry. Padahal aku cuma menulis sepucuk surat asal-asalan, kamu malah langsung percaya begitu saja. Kamu bahkan nggak pernah memeriksanya terlebih

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 9

    Henry menarik napas dalam-dalam. Suaranya terdengar serak. "Lucia, Adeline sudah meninggal."Lucia tertegun dan terbelalak. Ekspresinya seketika berubah menjadi tidak percaya. Matanya mulai memerah, suaranya bergetar. "Kak Adeline sudah meninggal? Mana mungkin?"Dia menggigit bibir, lalu mendongak menatap Henry. Dia mencoba memastikan kebenaran kabar itu dengan nada penuh hati-hati, "Kak, jangan-jangan berita itu palsu? Sejak dulu, Kak Adeline memang suka bersandiwara. Kalian juga tahu, ‘kan?""Menurutmu, apa mungkin dia kembali menggunakan cara ini untuk mencari simpati, lalu memanfaatkan kesempatan untuk mengusirku dari rumah?" Suara Lucia ketika berbicara terdengar penuh rasa teraniaya. Dia menunduk dengan raut wajah menyedihkan.Dulu, setiap kali Lucia menunjukkan ekspresi seperti itu, Keluarga Sudibio pasti akan merasa kasihan, lalu membelanya dan berbalik menyalahkan Adeline karena dianggap tidak pengertian.Namun kali ini, ruang tamu justru diselimuti dengan keheningan. Semua an

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 8

    Reaksi pertama Keluarga Sudibio adalah menyangkalnya. Lucia bahkan akan merasa sedih hanya karena tidak sengaja menginjak semut. Semua orang memujinya lembut dan baik hati, Lucia bahkan tidak bisa berbicara dengan suara keras, mana mungkin dia akan melakukan hal seperti ini?Patricia langsung menggeleng. Nada bicaranya terdengar yakin. "Nggak mungkin! Lucia adalah anak berhati lembut. Pasti ada salah paham dalam masalah ini.""Henry, coba periksa lagi dengan lebih teliti."Namun, semakin banyak hasil penyelidikan yang ditemukan, wajah seluruh anggota Keluarga Sudibio semakin pucat.Rekening koran, riwayat panggilan, bukti transfer .... Setiap petunjuk pada akhirnya mengarah kepada orang yang sama. Lucia bukan hanya memalsukan surat itu dan sengaja menyembunyikan kabar tentang kematianku. Ternyata, kematianku pun ada kaitannya dengannya. Keluarga Sudibio berhasil menemukan sopir truk dalam kecelakaan saat itu.Henry menghabiskan tiga hari tiga malam dan mengerahkan seluruh koneksinya.

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 7

    Keluarga Sudibio langsung terdiam. Mereka menatap sepuluh anak yang berdiri di atas panggung dengan tatapan kosong.Benar juga. Semua anak ini diselamatkan oleh Adeline.Bagaimana mungkin Adeline bukan anak yang baik?Gadis yang berdiri paling depan memiliki sepasang mata yang besar dan jernih. Saat tersenyum, wajahnya benar-benar mirip Adeline."Adeline ...." Patricia tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Emosi yang dia pendam begitu lama akhirnya pecah tak terbendung.Revan memalingkan wajah. Bahunya bergetar pelan.Mata Henry memerah. Dia mengatupkan giginya erat-erat, sementara jakunnya bergerak naik turun. Akhirnya mereka menyadari bahwa aku benar-benar telah meninggal.Putri yang selama ini mereka anggap jahat dan keras kepala, yang bahkan pernah mereka harapkan tidak pernah ditemukan kembali, ternyata benar-benar sudah meninggal.Atas permohonan keras Keluarga Sudibio, Anjas membawa mereka untuk melihat jenazahku.Di dalam laboratorium, cahaya lampu putih yang dingin menerangi wajahk

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 6

    Orang yang berbicara adalah seorang pria lanjut usia. Dia bertumpu pada tongkatnya sambil perlahan berjalan keluar dari kerumunan. Punggungnya tegap, sementara sepasang matanya terlihat begitu tajam.Begitu melihatnya, semua orang langsung menunjukkan sikap hormat, termasuk Keluarga Sudibio."Pak Anjas? Kenapa Pak Anjas datang ke sini?"Dia adalah Kepala Keluarga Liandra di ibu kota, sekaligus sosok yang begitu berpengaruh. Dengan satu gerakan saja, seluruh ibu kota bisa ikut gempar. Saat ini, wajahnya tampak muram saat memandang Henry.Henry akhirnya sedikit tenang. Dia menenangkan diri sejenak sebelum berkata, "Pak Anjas, penyelenggara acara ini sengaja ingin mempersulit Keluarga Sudibio. Kami benar-benar nggak bermaksud menyinggungmu."Belum sempat dia menyelesaikan ucapannya, Anjas sudah berkata dengan nada datar, "Orang yang menyelenggarakan acara makan malam amal ini adalah aku."Ekspresi di wajah Henry langsung membeku.Tatapan Anjas yang sulit ditebak tertuju kepadanya. "Maks

  • Kepergian yang Terkubur di Musim Dingin   Bab 5

    Pembawa acara menampilkan dokumen di ponselnya ke layar besar. Begitu foto itu muncul, semua orang sontak menahan napas. "Ternyata ... jenazah Adeline berada di sana."Aku pun mengikuti arah pandang semua orang dengan rasa penasaran. Tubuhku terbaring kaku di atas meja laboratorium dengan kedua tanganku terlipat di atas perut.Mataku terpejam, bulu mataku menjuntai ke bawah. Wajahku yang pucat sama sekali tidak menunjukkan ekspresi. Aku tampak seperti sedang tertidur. Namun, tepat di hadapanku terpasang sebuah papan penanda. [ Spesimen Nomor 231. ]"Adeline benar-benar sudah meninggal.""Dia bukan hanya mendonorkan organnya, dia bahkan mendonorkan jenazahnya.""Pantas saja Keluarga Sudibio nggak pernah melihat jenazahnya. Ternyata dia memilih menjadi donor tubuh untuk keperluan pendidikan kedokteran."Suara bisikan dari segala penjuru mengalir seperti gelombang. Setiap ucapan itu seolah menghantam hati anggota Keluarga Sudibio. Wajah Patricia langsung berubah pucat pasi. Tubuhnya t

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status