Home / Romansa / Keponakan Adalah Maut / Bercandanya Keterlaluan

Share

Bercandanya Keterlaluan

last update publish date: 2026-07-01 13:23:28

Julian menoleh memergoki tatapan tantenya

Mata keduanya bertemu sesaat, hanya beberapa detik. Tapi sudah cukup membuat dada Wati berdegup kencang.

"Tante, ada apa?"

“Ha...hahh...n-nggak ada apa-apa kok!” jawab Wati yang tampak gugup.

Lastri yang memperhatikan dari belakang, tersenyum sendiri.

“Kelihatannya nyonya Wati terkesima juga sama gantengnya keponakannya sendiri. Gimana ya nanti kalau keduanya terlibat skandal. Eh....issshh..jangan, jangan pikiran yang aneh-aneh kamu.” kata Lastri dalam hati pada dirinya sendiri.

Julian mengernyitkan dahi, “Kok ngelihat akunya kayak gitu? Aku ada salah to Tante? Bilang aja nggak apa-apa!”

Wati langsung mengalihkan pandangannya, sebaik mungkin berpura-pura jika ia tidak kenapa-kenapa, “Nggak kok, masa' tantenya sendiri ngelihat aja nggak boleh sih.”

Padahal saat itu, jantung Wati benar-benar hampir keluar dari badan sangking gugupnya.

“Ohh..hee ya boleh dong Tante. Tapi jangan sering-sering ya, takut kalau keponakannya jadi kepincut sama tantenya sendiri." Kata Julian tiba-tiba sambil terus memotong sayuran.

“Hah...” seru Wati sama Lastri serempak, mata mereka langsung mengarah ke Julian yang seperti tak merasa bersalah sama sekali.

Julian sambil nyengir kuda malah asik memotong sayuran, “Bercanda lho Tante, masa' sama Tante sendiri nggak boleh bercanda.”

Julian kembal tertawa kecil melihat ekspresi panik kedua perempuan di depannya masih belum selesai.

"Serius, aku cuma bercanda."

"Iya... bercandanya bikin kaget," gumam Wati sambil menggeleng pelan.

Bi Lastri mengembuskan napas lega.

"Mas Julian ini kalau bercanda suka nggak ada remnya."

"Hehe... maaf."

Suasana yang sempat canggung akhirnya kembali mencair.

Wati lalu mematikan api di wajan pertama. Bumbu tumis yang tadi dimasak sudah matang dan siap dituangkan ke mangkuk.

"Nah, yang ini sudah selesai."

Ia mengangkat wajan, lalu menuangkan tumisan itu dengan hati-hati.

"Kalau yang ini buat lauk. Sekarang tinggal masak sayur bening sama tumis daun pepaya. Ambilkan tempat bawang, Tante mau ngiris bawang lagi, buat bumbu sayur tumis."

"Ini tan," kata Julian sambil memberikan keranjang isi bawang.

"Aku kira tadi bawangnya kebanyakan."

"Beda masakan, beda bumbu juga."

Julian tersenyum.

"Masak ternyata lumayan ribet ya."

"Makanya jangan dikira ibu-ibu di dapur cuma berdiri doang."

"Iya juga sih."

Julian kembali melanjutkan mengiris wortel, sementara Wati mulai mengupas beberapa siung bawang merah dan bawang putih untuk bumbu sayur berikutnya.

Entah kenapa, setelah obrolan tadi, suasana menjadi jauh lebih santai.

Wati pun memberanikan diri membuka percakapan.

"Julian."

"Iya, Tante?"

"Dulu sekolah di Amerika berapa lama?"

Julian berhenti mengiris sejenak.

"Hampir tujuh tahun."

"Selama itu?"

"Iya. Awalnya kuliah, terus lanjut pendidikan profesi."

"Pasti beda banget sama di Indonesia ya?"

"Jauh beda."

"Apa yang paling beda?"

Julian berpikir sesaat.

”Bedanya, aku harus kerja sambil kuliah, orang miskin soalnya aku Tan.” kata Julian sambil terkekeh.

“Ihh kamu, orang tante nanya serius kok!” seru Wati.

“Iya-iya.” jawab Julian sambil nyengir kuda.

"Kalau di sana orang-orang lebih menghargai waktu. Janjian jam sembilan ya benar-benar jam sembilan. Terus dosennya juga lebih senang kalau mahasiswanya berani bertanya."

"Kalau terlambat?"

"Bisa dianggap nggak menghargai orang lain."

Wati mengangguk-angguk.

"Pantas."

"Terus apa lagi?" tanyanya lagi, kali ini benar-benar penasaran.

"Masyarakatnya lebih mandiri. Banyak mahasiswa yang sambil kuliah juga kerja paruh waktu. Bahkan ada yang nyuci piring di restoran malam-malam, paginya kuliah lagi. Nah itu aku."

"Capek dong kamu."

"Iya pasti, tapi daripada mati kelaparan aku tan, ya aku kerjain aja."

Bi Lastri yang sedari tadi mendengarkan ikut menyela.

"Untungnya mas mau juga kerja begitu?"

Julian tertawa kecil.

"Terpaksa bi."

"Hah...kok terpaksa sih?"

"Yang ku bilang tadi lho bi, kalau nggak kerja nggak makan."

Bi Lastri tampak tidak percaya kalau Julian miskin. Soalnya, dari wajah saja dia cocok menjadi orang kaya.

"Kirain orang ganteng nggak pernah kerja kasar."

Julian terkekeh.

"Justru di sana nggak ada yang peduli ganteng atau jelek, Bi. Selama kerjaannya nggak melanggar hukum ya dikerjakan."

Jawaban itu membuat Wati diam sejenak.

Tanpa sadar, rasa kagumnya pada Julian bertambah. Bukan hanya karena wajahnya, tetapi juga cara berpikirnya yang sederhana meski pernah hidup di luar negeri.

"Berarti banyak pengalaman ya?"

"Lumayan. Tapi yang paling aku kangen justru masakan Indonesia. Di sana susah cari rasa yang benar-benar pas."

Wati tersenyum tipis.

"Kalau begitu nanti kamu harus sering makan di rumah. Tante suruh bi Lastri masakin yang enak."

"Wah, aku senang banget kalau ditawari begitu."

Senyum tulus Julian membuat Wati kembali salah tingkah. Ia buru-buru menundukkan kepala, lalu kembali fokus mengiris bawang untuk bumbu sayur berikutnya.

Pada saat yang hampir bersamaan, api kompor tiba-tiba mengecil hingga hampir padam.

"Lho?"

Api kompor tiba-tiba mengecil hingga hampir padam.

Julian ikut melihat ke arah tungku.

"Kayaknya gasnya kurang keluar deh, Tante."

"Oh ya?"

"Iya, coba aku lihat dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Julian langsung berjongkok di samping Wati untuk memeriksa regulator dan selang gas yang berada tepat di bawah kompor.

"Kayaknya cuma longgar sedikit."

Wati tetap melanjutkan pekerjaannya, sementara Bi Lastri berdiri agak jauh sambil sesekali melirik, lalu buru-buru mengalihkan pandangan setiap kali mata mereka hampir bertemu.

Julian memutar regulator dengan hati-hati.

"Nah... harusnya udah beres."

Tepat saat itu...

"Clek!"

Pisau yang digunakan Wati untuk mengiris bawang terlepas dari tangannya dan jatuh ke lantai.

"Aduh!"

Refleks, Wati langsung membungkukkan badan untuk mengambil pisau itu agar tidak mengenai kaki siapa pun.

Di saat yang sama, Julian yang masih berjongkok tepat di sampingnya agak kebelakang.

Duk!

Karena posisi mereka yang terlalu berdekatan, Wati sama sekali tidak menyadari keberadaan Julian tepat di sampingnya.

Saat membungkuk, pinggulnya tanpa sengaja menyenggol pipi Julian.

Julian langsung membeku di tempat.

Wati juga ikut terdiam.

Bahkan Bi Lastri yang melihat kejadian itu sampai membelalakkan mata sambil menutup mulutnya.

Suasana dapur mendadak sunyi.

Tak ada seorang pun yang bergerak selama beberapa detik...

Dan tepat ketika Wati menyadari apa yang barusan terjadi, wajahnya perlahan berubah merah padam.

"Astaga..."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Keponakan Adalah Maut   Cemburu

    “Tante cemburu ya!” Julian sedikit membungkuk, mencoba melihat wajah Wati dari bawah.Wati spontan menggeleng sambil terkekeh kecil. Ia memalingkan wajah agar rona wajah merah menahan malunya tak di lihat keponakannya. “Cemburu apanya? Tante ini cuma ngingetin.” “Ngapain diingetin segala?”“Ratih itu masih muda, cantik. Banyak yang ngejar dia, tapi dia juga gampang akrab sama orang baru. Tante takut nanti kamu jadi bahan omongan warga.”Julian menghela napas pelan.“Berarti Tante khawatir sama aku?” “Iya, jelaslah. Kamu kan baru datang ke desa ini. Belum tahu watak orang satu-satu.”Julian tersenyum tipis.“Siap, Bu Tante.”“Nah, gitu.”Mereka kembali melanjutkan perjalanan.Jalan desa mulai berubah menjadi tanjakan yang cukup curam. Tidak lagi berupa jalan berbatu, melainkan susunan batu kali yang ditata menyerupai anak tangga mengikuti kontur bukit. Julian mendongak. “Wah... tinggi juga.”Wati tertawa. “Baru segini sudah capek?” “Lumayan.”“Dulu lebih parah.”“Maksudnya?” Jul

  • Keponakan Adalah Maut   Berkunjung Ke rumah Orang Tua

    Wati baru bangun, ia memunguti pakaiannya. Tak lupa ia membangunkan Wawan yang masih tertidur di sampingnya, di sofa ruang keluarga. “Julian, Julian bangun!" Wati menggoyangkan kaki kalian dengan tangannya. Julian mengerjap sebentar, lalu duduk di sebelah Wati dengan wajah mengantuknya. Pertempuran tadi benar-benar membuatnya lemah. Wati benar-benar ganas kali ini. Meskipun tadi pagi mengeluh kakinya sakit untuk berjalan, ia tak menyangka jika Wati begitu liar ketika berada di atasnya. “Buruan mandi!" Wati bangkit terlebih dahulu menuju kamarnya, “Habis itu antar aku ke rumah orang tuaku!”“Katanya sakit kakinya?" Tanya Julian heran sambil menatap punggung tantenya tanpa penghalang sedikitpun. “Nggak apa-apa, toh aku bilang kakiku sakit, masih kau paksa juga." Wati tersenyum sebelum menutup pintu kamar. Tak lama kemudian ia keluar lagi dengan handuk melilit tubuhnya. “Jangan lama-lama!”Julian mengangguk, kemudian ia menuju kamar. Di sana ia mengambil handuk dan membakar s

  • Keponakan Adalah Maut   Bercocok Tanam Lagi

    "Asshhh...."Julian melenguh pelan. Sensasi ketika Wati yang mengambil inisiatif terasa jauh lebih intens.Wati tidak berhenti. Ia memberikan tekanan lebih pada punggung Julian, lalu membuka sedikit bibirnya untuk memberikan gigitan kecil yang nakal pada tonjolan tersebut. Reaksi Julian instan; pusakanya semakin mengeras, berdenyut di bawah sentuhan bibir Wati.Tangan Wati bergerak turun, meraba permukaan kain celana Julian, memastikan letak kepala pusaka keponakannya itu. Ia adalah wanita muda yang selama ini terabaikan. Suaminya memiliki segalanya—kekayaan dan kekuasaan—namun gagal memberikan kepuasan di ranjang. Kehadiran Julian adalah jawaban atas segala dahaga yang selama ini ia pendam.Sementara itu, Julian sudah kehilangan akal sehatnya. Ia meloloskan kancing celana lalu menurunkan celana dan bungkus pundaknya ke bawah. Membuat pusakanya mengacung bebas di depan wajah Wati. Pusaka Julian membusung, urat-uratnya menonjol seperti akar pohon, merah padam dan sedikit bergetar. Wa

  • Keponakan Adalah Maut   Julian Mancing

    "Ke ruang keluarga aja yuk ngobrolnya, kurang enak kalau di dapur kayak gini!" “Kamu jangan aneh-aneh ya!” Wati menaruh telapak tangannya di depan Julian untuk menahan. “Ya nggak lah Tante, lagian Tante masih sakit kan!” Julian mengulurkan tangan, telapaknya terbuka lebar menanti sambutan. Wati mengangguk, merasakan panas menjalar ke pipinya. Ia meraih tangan keponakannya itu, jemarinya gemetar saat bertumpu pada pinggiran meja makan untuk mengangkat tubuh. Setiap inci pergerakannya terasa berat. Ada rasa nyeri yang berdenyut di antara pangkal pahanya, sebuah pengingat tajam tentang apa yang terjadi semalam. Saat ia mencoba melebarkan langkah, wajahnya meringis kecil. Julian menangkap ekspresi itu. Tatapannya berubah redup, dipenuhi rasa bersalah yang bercampur dengan sisa-sisa gairah. Ia tahu persis mengapa langkah wanita itu tertatih. "Maafin aku ya, Tante!" Bisikan itu datang bersamaan dengan tubuh Julian yang merapat, memapah pinggang Wati agar tidak limbung. Wati membuang

  • Keponakan Adalah Maut   akal cerdik Julian

    Dering telepon menghentikan Wati dan Wawan yang sedang makan. Wati meraih ponsel di kantong bajunya, panggilan telepon dari suaminya. “Dek, mas belum bisa pulang sekarang.. menurut info jalan ke desa rusak parah karena hujan semalam. Mungkin seminggu mas baru pulang soalnya sekalian belanja bahan bangunan buat poskesdes. Terus pak camat tiba-tiba ngajak rapat penting." Suara Burhan pelan menjelaskan. “Lama banget ya mas? Mas sama siapa aja di situ?" Tanya Wati cemas. Mau bagaimanapun Burhan adalah suaminya yang sudah beberapa tahun ini hidup bersama. Perasaan khawatir merayapi hati Maya. Di tambah juga rasa bersalah mengingat kejadian tadi malam. “Oh, kalau perangkat desa yang ikut itu Ratih sama Pak Darto. Tapi Ratih ikut pembinaan dari kabupaten, beda tempat sama mas. Kalau mas sama pak Darto ada di kecamatan." Burhan meyakinkan istrinya. “Yang penting mas hati-hati ya!" Ratih berkata dengan nada khawatir. “Iya sayangku, udah dulu ya!” Burhan menutup telepon. “Om mu pul

  • Keponakan Adalah Maut   kesusahan berjalan

    Pagi harinya, bi Lastri sudah datang saat masih subuh. Ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah saat matahari mulai tampak. Wajan berisi gulai telur masih menguap saat bi Lastri menuangnya ke dalam wadah kaca dan meletakkannya di meja makan. Saat bi Lastri menata meja makan, terlihat Wati berjalan dengan aneh. Sedikit melebarkan kakinya dan melangkah pelan sembari tangannya mencari pegangan. Bi Lastri menaikan satu alisnya. Tak pernah ia lihat bosnya seperti itu sebelumnya. Ia mengira jika Wati baru jatuh dengan posisi duduk. “Nyonya kenapa?" Bi Lastri memberikan bahunya sebagian pegangan Wati. “Ehm... Ja-jatuh bi!” Wati memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum simpul mengingat kejadian semalam yang ia lakukan dengan Julian. Ia tak pernah merasa senikmat itu dengan Burhan. Tapi semalam, meskipun tidak membuatnya mencapai puncak, tapi benar-benar terasa nikmat. “Sudah sampai sini aja bi, makasih!” Maya dengan tertatih menutup kamar mandi. Bi Lastri melanjutkan menyeduh ko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status