分享

Kena Pipi

last update publish date: 2026-07-05 21:40:48

Wati membeku.

Matanya membelalak ketika akhirnya menyadari apa yang baru saja terjadi.

Sebuah area dari dirinya menyentuh pipi keponakan suaminya. Waktu satu detik seakan satu jam saat ini bagi Wati.

Lalu beberapa saat kemudian, dengan gerakan yang hampir meloncat, ia segera berdiri sambil memegang erat pisau yang baru diambilnya.

"A-astaga... maaf, Julian!" ucapnya tergagap. "Tante benar-benar nggak sengaja."

Julian yang masih berjongkok ikut berdiri perlahan. Tangannya refleks mengusap pipi yang barusan tersenggol.

“Gila...em-empuk banget!" Batinnya sambil berusaha melirik ke area yang menyentuh pipinya tadi.

“Aduh...seandainya aku dari belakang terus aku kuat-kuatin, pasti enak banget tuh, orang bentukannya kayak gitu!” kata Julian lagi di dalam hati.

Beberapa detik ia masih tak berkata apapun. Aroma parfum tadi, sekaligus aroma original seketika memikatnya. Tanpa di suruh dan tanpa di beri aba-aba apapun, ‘Tombak masa depan' Julian bangkit. Mengangguk-angguk tanda menyukai kejadian yang baru saja terjadi.

“Julian, maafin Tante, sumpah Tante nggak sengaja!” kata Wati lagi, menunggu Julian berkata.

Julian memandang ke arah tantenya, sembari memegangi pipinya yang baru menyentuh surga lalu dari sudut bibirnya terangkat.

"Nggak apa-apa kok, Tante."

Wati masih menunduk, wajahnya memerah sampai ke telinga. Getaran aneh di dirinya masih terus bergejolak.

"Maaf... benar-benar nggak sengaja." Kata Wati lagi.

Julian tertawa kecil.

"Malah... empuk."

"Hah?"

Kalimat pendek itu membuat Wati spontan mengangkat kepala.

Pipinya semakin merah.

"J-Julian!"

Julian baru sadar apa yang baru saja keluar dari mulutnya.

"Eh... maksudku... tadi kan kepentok. Ya... ya rasanya nggak sakit."

Bi Lastri yang sejak tadi menyaksikan hanya bisa menggigit bibir agar tidak tertawa.

"Mas Julian..."

"Iya, Bi?"

"Kalau ngomong dipikir dulu."

Julian menggaruk tengkuknya sambil nyengir.

"Iya... keceplosan."

Wati benar-benar tidak sanggup menatap wajah Julian lagi. Tapi sepintas, ia melihat ada yang bergerak dari kain di area tepat ‘Tombak masa depan' keponakannya itu.

“Astaga, itu dia bangun." Batinnya.

Ia langsung buru-buru kembali mengaduk sayur meski isi panci bahkan belum sempat dimasukkan.

"Ya Tuhan... kenapa bisa memalukan begini?" batinnya.

Jantungnya masih berdegup lebih cepat dari biasanya.

Ia berulang kali mengingatkan dirinya agar tenang dan kembali fokus memasak.

"Sudah, Wati. Anggap saja tidak terjadi apa-apa. Dia juga bilang tidak sengaja."

Namun setiap kali mengingat ucapan "empuk" tadi, wajahnya kembali terasa panas karena malu.

Sementara itu Julian diam-diam ikut menarik napas panjang.

"Aduh, mulutku ini."

Ia sama sekali tidak berniat menggoda.

Kalimat itu keluar begitu saja. Apalagi ia sangat tahu jika ‘Masa depannya' bangun, sepertinya dia menyukai kejadian itu.

Ia melirik sekilas ke arah Wati yang masih sibuk membelakanginya.

Dalam hati ia mengakui bahwa tantenya ini sangat menarik, sangat cantik, senyumnya menawan, kulitnya bersih dan ada satu hal lagi, dia bagaikan gitar spanyol yang paling spanyol.

"Pantas saja om Burhan sampai ninggalin enaknya hidup di kota, orang punya istri secantik Tante." pikirnya.

Ia segera menggeleng pelan.

"Sudahlah, jangan dipikirkan lagi."

Suasana dapur kembali sunyi.

Yang terdengar hanya bunyi sendok mengaduk sayur dan gemericik air.

Merasa kecanggungan itu belum juga hilang, Julian akhirnya membuka suara.

"Tante."

"Iya?"

"Kayaknya aku keluar sebentar ya."

"Mau ke mana?" Tanya Wati yang berusaha tidak terjadi apa-apa.

"Jalan-jalan lihat kampung sekalian beli rokok."

"Oh... ya sudah. Hati-hati."

"Iya."

Julian tersenyum singkat kepada Bi Lastri.

"Bi, saya pergi dulu."

"Iya, Mas."

Begitu Julian keluar dari dapur, Wati mengembuskan napas panjang.

Bi Lastri melirik majikannya sambil tersenyum tipis.

"Nyonya..."

"Apa?"

"Kayaknya Mas Julian memang orangnya suka bercanda."

Wati hanya mengangguk pelan.

"Iya..."

Wati kini lebih fokus meski dalam kepalanya masih terngiang akan ‘Masa depan” keponakannya yang menonjol tadi.

“Loh, garamnya habis to?" Celetuk Wati yang membuka toples isi garam.

“Astaga nyonya, aku lupa kalau garamnya habis." Sahut Lastri.

“Oh ya nggak apa-apa Bi, biar aku beli nanti." Jawab Wati.

---

Udara sore terasa sejuk.

Julian berjalan santai menyusuri jalan desa.

Beberapa warga yang berpapasan menyapanya dengan ramah.

Tak jauh dari rumah, ia menemukan sebuah warung kecil.

"Permisi, Bu. Rokok satu bungkus."

"Iya, Mas."

Saat pemilik warung mengambilkan rokok, terdengar suara tawa beberapa siswi SMA yang baru pulang sekolah.

Mereka berhenti di depan warung untuk membeli es krim.

Begitu salah satu dari mereka menoleh, langkahnya langsung terhenti.

"Eh..."

Temannya ikut melihat.

"Wih..."

Bisik-bisik kecil pun mulai terdengar.

"Itu siapa?"

"Nggak tahu."

"Ganteng banget..."

Julian yang mendengar lirikan mereka hanya tersenyum sopan.

Salah satu siswi yang paling berani akhirnya maju.

"Mas... orang baru ya di sini?"

"Iya."

"Pantes belum pernah lihat."

Julian mengangguk ramah.

"Iya, baru beberapa hari."

Siswi itu saling pandang dengan teman-temannya yang mulai cekikikan.

"Mas..."

"Hm?"

"Kalau sering lewat sini... jangan lupa senyum ya."

"Lho, memang kenapa?"

"Soalnya kalau Mas senyum..." gadis itu menahan tawa.

"Bisa bikin betah beli es krim tiap hari."

Teman-temannya langsung pecah tertawa.

Julian ikut terkekeh.

"Wah, gombal juga ya."

"Belajar, Mas."

"Oh ya?"

"Iya."

Julian mengangkat sebelah alis.

"Kalau begitu, nanti saya yang traktir es krim kalau kalian berhasil bikin saya kalah gombal."

"Serius?"

"Serius."

Para siswi bersorak kecil.

Namun tepat ketika Julian hendak melanjutkan candaannya, dari arah samping terdengar suara yang sangat dikenalnya.

"Bu, garam satu bungkus."

Julian spontan menoleh.

Di depan warung, berdiri Wati yang baru saja datang tanpa ia sadari.

Mata mereka kembali bertemu. Kali ini, keduanya sama-sama terdiam.

Pada mata Wati, tampak jelas dia terlihat sangat marah. Mungkin itu adalah cemburu yang tak di sadari.

在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP

最新章節

  • Keponakan Adalah Maut   Wati tiba-tiba datang

    Waktu bergulir begitu cepat. Wati masih belum bangun, padahal jam sudah menunjukan pukul 6 pagi, di mana ia biasanya sudah bangun jam 5 pagi. Semalam, dia tidak bisa tidur memikirkan beberapa kejadian dengan keponakan suaminya hanya dalam satu hari. Entah itu cinta, nafsu, atau hanya rasa ketertarikan kepada orang baru saja. Di meja makan, yang sarapan hanya Burhan dan Julian. Bi Lastri sudah menyapu halaman depan setelah selesai urusan di dapur. Setelah sarapan, Burhan langsung mengajak Julian untuk ke balai desa. Mengenalkan dengan para perangkat desa. Toh nanti, untuk urusan poskesdes, ia harus banyak berurusan dengan perangkat desa. “Permisi semuanya? Selamat pagi!” seru Burhan yang masuk ke ruangan perangkat desa. “Pagi, Pak!” jawab mereka hampir bersamaan.Ruangan balai desa yang sederhana itu langsung menjadi sedikit ramai. Beberapa perangkat desa berdiri menyambut kedatangan kepala desa mereka.Burhan tersenyum bangga.“Sekalian saya kenalkan. Ini keponakan saya,

  • Keponakan Adalah Maut   Tak Sengaja Menyentuh

    Di balik pintu yang baru saja tertutup keras, Julian masih berdiri mematung. Beberapa detik ia bahkan lupa bernapas."Astaga...gila, ini gila banget", kata Julian, Ia menepuk dahinya sendiri."Kenapa aku bisa sebodoh ini sih?"Pandangannya beralih ke gagang pintu."Harusnya tadi langsung kukunci."Ia mengacak rambutnya sendiri dengan kesal. Awalnya ia tak kepikiran jika ada orang lain yang akan masuk. Tapi setelah kejadian ini, dia menjadi menyesal."Ini rumah orang. Bukan kosan ku dulu."Mengingat kejadian tadi, rasa malu langsung menyerbunya.Ia bahkan tidak berani membayangkan ekspresi tantenya yang tadi melihatnya."Tante pasti ngira aku sengaja."Julian menggeleng cepat."Nggak... nggak mungkin."Ia buru-buru mengenakan celana panjang, lalu mengambil sweater rajut berwarna krem yang tergantung di sandaran kursi. Setelah itu ia merapikan rambutnya di depan cermin dan memasang kacamata berbingkai tipis.Melihat pantulan dirinya, ia menghela napas panjang."Semoga Tante nggak salah

  • Keponakan Adalah Maut   Tak Sengaja Melihat

    “Eh Bu Kades... ” kata para siswi SMA itu serempak. “Iya.... Ini Julian, keponakan saya, jangan di godain!" Ketus Wati sambil menatap tajam mereka satu per satu.Julian hanya bisa tersenyum getir. Ia merasa kasihan kepada para anak gadis yang langsung tersenyum kaku. “Eh... Tanteku galak juga ternyata!" Kata Julian dalam hati. Pada siswi SMA segera membayar es krim mereka dan langsung pergi dari toko itu. Sesekali mereka melirik ke arah Julian yang benar-benar sudah membuat mereka terpesona. Setelah keluar toko, mereka terus saja berbisik-bisik.“Itu Bu Kades tumben julid banget sih. Langsung banget to the point nggak boleh godain keponakannya!” ujar siswi yang paling berisi di antara lainnya. “Huhh...iya, padahal biasanya ramah. Padahal kalau si fajar ngobrol sama kita, dia biasa-biasa aja tuh!” yang lain menimpali.Perlu di ketahui, fajar adalah keponakan Wati, anak dari kakaknya. “Apa jangan-jangan Bu Kades naksir sama keponakannya sendiri ya?” celetuk yang lain. “

  • Keponakan Adalah Maut   Kena Pipi

    Wati membeku.Matanya membelalak ketika akhirnya menyadari apa yang baru saja terjadi. Sebuah area dari dirinya menyentuh pipi keponakan suaminya. Waktu satu detik seakan satu jam saat ini bagi Wati.Lalu beberapa saat kemudian, dengan gerakan yang hampir meloncat, ia segera berdiri sambil memegang erat pisau yang baru diambilnya. "A-astaga... maaf, Julian!" ucapnya tergagap. "Tante benar-benar nggak sengaja."Julian yang masih berjongkok ikut berdiri perlahan. Tangannya refleks mengusap pipi yang barusan tersenggol. “Gila...em-empuk banget!" Batinnya sambil berusaha melirik ke area yang menyentuh pipinya tadi. “Aduh...seandainya aku dari belakang terus aku kuat-kuatin, pasti enak banget tuh, orang bentukannya kayak gitu!” kata Julian lagi di dalam hati.Beberapa detik ia masih tak berkata apapun. Aroma parfum tadi, sekaligus aroma original seketika memikatnya. Tanpa di suruh dan tanpa di beri aba-aba apapun, ‘Tombak masa depan' Julian bangkit. Mengangguk-angguk tanda menyuk

  • Keponakan Adalah Maut   Bercandanya Keterlaluan

    Julian menoleh memergoki tatapan tantenya Mata keduanya bertemu sesaat, hanya beberapa detik. Tapi sudah cukup membuat dada Wati berdegup kencang."Tante, ada apa?" “Ha...hahh...n-nggak ada apa-apa kok!” jawab Wati yang tampak gugup.Lastri yang memperhatikan dari belakang, tersenyum sendiri. “Kelihatannya nyonya Wati terkesima juga sama gantengnya keponakannya sendiri. Gimana ya nanti kalau keduanya terlibat skandal. Eh....issshh..jangan, jangan pikiran yang aneh-aneh kamu.” kata Lastri dalam hati pada dirinya sendiri. Julian mengernyitkan dahi, “Kok ngelihat akunya kayak gitu? Aku ada salah to Tante? Bilang aja nggak apa-apa!”Wati langsung mengalihkan pandangannya, sebaik mungkin berpura-pura jika ia tidak kenapa-kenapa, “Nggak kok, masa' tantenya sendiri ngelihat aja nggak boleh sih.” Padahal saat itu, jantung Wati benar-benar hampir keluar dari badan sangking gugupnya. “Ohh..hee ya boleh dong Tante. Tapi jangan sering-sering ya, takut kalau keponakannya jadi kepincut

  • Keponakan Adalah Maut   Kepergok

    Wati bisa menghirup aroma pencuci muka Julian sangking dekatnya jarak mereka. Tapi anehnya, Julian malah melingkarkan tangannya di pinggang tantenya, dan menekannya ke bawah. “Ughh...ini, Tante benar-benar menggairahkan." Batin Julian. “Astaga, jangan, jangan sampai aku punya pikiran macam-macam sama tanteku!” batin Julian lagi kemudian menjauhkan tangannya dari pinggang tantenya. “An.... Anu, maaf Julian!" Kata Wati seraya berusaha berdiri. Ia tadi cukup kaget ketika Julian malah menekan pinggangnya ke bawah.“Iya Tante nggak apa-apa. Tapi jangan di atasku terus, patah Tante, patah nanti ‘masa depanku’!” kata Julian meringis. Padahal, ia merasakan kenyamanan luar biasa. Meskipun ia merasakan sakit.Bagaimana tidak. ‘Masa depan’ Julian sedang bangun dan kuat-kuatnya menantang dunia. Tapi Wati malah mendudukinya, apalah daya ‘masa depan’ yang tidak bertulang, hanya bermodal otot dan daging saja, pasti lah tidak kuat untuk menjadi tumpuan seperti itu, kecuali dalam beberapa

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status