공유

Kepergok

last update 게시일: 2026-07-01 13:22:33

Wati bisa menghirup aroma pencuci muka Julian sangking dekatnya jarak mereka.

Tapi anehnya, Julian malah melingkarkan tangannya di pinggang tantenya, dan menekannya ke bawah.

“Ughh...ini, Tante benar-benar menggairahkan." Batin Julian.

“Astaga, jangan, jangan sampai aku punya pikiran macam-macam sama tanteku!” batin Julian lagi kemudian menjauhkan tangannya dari pinggang tantenya.

“An.... Anu, maaf Julian!" Kata Wati seraya berusaha berdiri. Ia tadi cukup kaget ketika Julian malah menekan pinggangnya ke bawah.

“Iya Tante nggak apa-apa. Tapi jangan di atasku terus, patah Tante, patah nanti ‘masa depanku’!” kata Julian meringis. Padahal, ia merasakan kenyamanan luar biasa. Meskipun ia merasakan sakit.

Bagaimana tidak. ‘Masa depan’ Julian sedang bangun dan kuat-kuatnya menantang dunia. Tapi Wati malah mendudukinya, apalah daya ‘masa depan’ yang tidak bertulang, hanya bermodal otot dan daging saja, pasti lah tidak kuat untuk menjadi tumpuan seperti itu, kecuali dalam beberapa kasus yang berbeda.

Wati segera berdiri lalu membantu keponakannya untuk berdiri.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Wati dengan nada khawatir.

“Nggak apa-apa kok Tante!” jawab Julian sambil meringis.

Karena suasana yang canggung dan merasa bersalah, Wati pun pamit untuk pergi dengan alasan harus membantu memasak bi Lastri karena dia baru saja pingsan.

“Bi, biar aku bantuin masak. Bibi duduk aja, tinggal kasih tahu apa saja yang harus aku kerjakan. Nanti kalau udah Mateng, biar di antar bapak pulang.” kata Wati sambil meminum segelas air.

“Iya Bu, masih lemes memang badanku. Gara-gara keponakan ibu itu sih, terlalu ganteng, sampai pingsan aku karena kaget lihat gantengnya!” kata Lastri yang memang dia orang yang ceplas-ceplos.

“Uhuk” Wati tersedak. Ia terkejut dengan penyebab kenapa pembantunya itu pingsan.

“Pelan-pelan Bu minumnya!” kata Lastri polos. Bahkan tak merasa jika penyebab nyonya-nya tersedak karena ucapannya.

Wati mengelap bibirnya dengan punggung tangan. Sebagian air membasahi baju bagian bawah leher.

“Jadi, bi Lastri pingsan karena ngelihat Julian terlalu tampan gitu?" Tanya Wati sekali lagi memastikan.

Lastri mengangguk, “Iya Bu!”

“Astaga!” Wati berdiri menggelengkan kepalanya. Hampir saja tawanya meledak. Jika tak merasa kasihan karena bi Lastri habis pingsan, ia pasti sudah tertawa terbahak-bahak.

“Udah sekarang ajarin aku masak aja!" Kata Wati.

Bi Lastri mulai memberitahu apa saja yang harus di lakukan nyonya-nya. Mulai dari memasak beras hingga menumis sayur.

Tapi tak lama kemudian Julian datang di dapur. Bi Lastri langsung memalingkan badannya. Ia tak mau menatap Julian, takut kembali pingsan.

“Bi, sudah mendingan.” Julian menyapa Bi Lastri.

Lastri mengangguk cepat, “Sudah mas.”

“Julian, kamu lapar?” tanya Wati.

“Nggak kok Tan, cuman mau bantuin Tante aja. Apa yang bisa aku kerjain tan. Aku bisa masak juga kok.” kata Julian sambil berdiri tepat di samping Wati.

Ia tak tahu, jika tantenya pada saat ini menjadi sangat salah tingkah. Aroma parfum Julian yang lembut, manis, maskulin, yang tidak pernah di hirup Wati sebelumnya, membuat perempuan itu langsung menunjukan ketertarikan dari sisi kewanitaan.

Juga paras Julian yang plek ketiplek dengan artis Korea, membuat Wati kebingungan sendiri karena rasa tertarik itu tiba-tiba hadir dalam dirinya.

Julian mengambil celemek yang tergantung di dinding dapur, lalu memakainya dengan santai.

"Kalau Tante lagi masak, aku bantu motong sayur aja ya?" ujarnya sambil tersenyum.

Wati yang sedang mencuci kangkung sempat melirik sekilas. Senyum itu kembali membuat dadanya berdebar tanpa alasan yang bisa ia pahami.

"I... iya. Itu ada wortel sama bawang di meja."

"Oke."

Julian mengambil pisau, lalu mulai mengiris bawang dengan gerakan yang rapi.

Wati diam-diam memperhatikan.

"Anak kota begini kok bisa masak juga ya?" batinnya.

Sementara itu, Bi Lastri masih berdiri membelakangi Julian sambil pura-pura sibuk mengaduk panci.

"Bi."

"Iya, Mas?" jawabnya cepat tanpa berani menoleh.

"Bi Lastri marah sama aku?"

"Bukan... bukan marah."

"Terus kenapa dari tadi nggak mau lihat aku?"

Bi Lastri menggigit bibirnya sendiri.

"Nggak kenapa-kenapa."

Julian justru tertawa kecil.

"Bi takut ya?"

Barulah Bi Lastri menoleh sebentar. Hanya satu detik.

Begitu mata mereka bertemu, wajahnya langsung memerah.

"Aduh..."

Ia buru-buru memalingkan wajah lagi sambil memegang dadanya.

"Mas jangan senyum-senyum begitu."

"Loh memang kenapa?"

"Nanti saya pingsan lagi."

Ucapan polos itu membuat Julian terkekeh.

"Segitunya?"

"Iya."

Wati yang mendengar percakapan itu akhirnya tak kuasa menahan tawa.

"Hahaha... Bi Lastri ini ada-ada saja."

Bi Lastri malah semakin malu.

"Serius Bu."

Julian mengusap tengkuknya.

"Dari tadi aku malah merasa bersalah."

"Nggak salah Mas."

"Lho?"

"Mas ganteng itu bukan salah."

Kalimat itu membuat suasana dapur langsung hening beberapa detik.

Wati spontan menutup mulutnya agar tidak kembali tertawa.

Sedangkan Julian hanya menggeleng sambil tersenyum canggung.

"Kalau begitu nanti aku usahain jangan terlalu sering senyum."

"Jangan, Mas."

"Loh kok jangan?"

"Kalau nggak senyum malah tambah ganteng."

Wati benar-benar tertawa kali ini.

"Bi... sudah... sudah... nanti aku nggak bisa masak."

Bi Lastri sendiri baru sadar apa yang baru saja diucapkannya.

"Astaga... saya ngomong apa sih."

Ia langsung menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Julian hanya bisa tersenyum geli.

Dalam hati ia berpikir penghuni rumah ini benar-benar unik.

Tidak ada yang dibuat-buat.

Semua bereaksi apa adanya.

Justru hal itu membuatnya merasa nyaman.

Sementara Wati berusaha kembali fokus mengiris cabai.

Namun entah mengapa, setiap kali Julian bergerak di dekatnya, ia menjadi lebih berhati-hati.

Saat hendak mengambil garam, ia sengaja memastikan tangan mereka tidak bersentuhan.

Ketika Julian ingin mengambil talenan, Wati malah buru-buru memindahkannya lebih dekat.

"Nih... biar gampang."

"Makasih, Tante."

"Eh... iya."

“Ehm..besok boleh bantu masak lagi?"

Wati tersenyum tipis.

"Kalau memang lagi di rumah ya boleh."

Bi Lastri yang kini mulai tenang akhirnya berani melirik Julian lagi.

Namun hanya sekilas.

Begitu Julian tanpa sengaja membalas tatapannya sambil tersenyum ramah, Bi Lastri langsung membuang muka lagi.

"Ya ampun..."

Ia mengelus dada sendiri.

"Mas, jangan lihat saya."

"Lho kenapa lagi?"

"Nanti saya deg-degan."

Julian kembali tertawa.

"Saya kan cuma ngobrol."

"Iya itu masalahnya."

"Apa hubungannya?"

"Kalau Mas ngobrol sambil senyum, saya susah mikir."

Wati kembali menggeleng sambil terkekeh.

"Apa wajahku memang segitu mengganggunya ya?" pikir Julian polos.

Ia benar-benar tidak mengerti kenapa Bi Lastri bereaksi seheboh itu.

Dalam benaknya, semua orang pasti biasa saja melihat dirinya.

Pikiran sederhana itu membuatnya sama sekali tidak menyadari kalau ketampanannya memang mudah menarik perhatian.

"Penghuni rumah ini benar-benar unik." Kata Julian dalam hati.

Sementara itu, Wati yang diam-diam mencuri pandang melihat Julian tersenyum sendiri menjadi penasaran.

"Dia senyum sendiri kenapa ya?"

Rasa ingin tahunya membuat ia sesekali melirik tanpa sadar.

Julian yang kebetulan menoleh memergoki tatapan itu.

"Tante?"

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Keponakan Adalah Maut   Cemburu

    “Tante cemburu ya!” Julian sedikit membungkuk, mencoba melihat wajah Wati dari bawah.Wati spontan menggeleng sambil terkekeh kecil. Ia memalingkan wajah agar rona wajah merah menahan malunya tak di lihat keponakannya. “Cemburu apanya? Tante ini cuma ngingetin.” “Ngapain diingetin segala?”“Ratih itu masih muda, cantik. Banyak yang ngejar dia, tapi dia juga gampang akrab sama orang baru. Tante takut nanti kamu jadi bahan omongan warga.”Julian menghela napas pelan.“Berarti Tante khawatir sama aku?” “Iya, jelaslah. Kamu kan baru datang ke desa ini. Belum tahu watak orang satu-satu.”Julian tersenyum tipis.“Siap, Bu Tante.”“Nah, gitu.”Mereka kembali melanjutkan perjalanan.Jalan desa mulai berubah menjadi tanjakan yang cukup curam. Tidak lagi berupa jalan berbatu, melainkan susunan batu kali yang ditata menyerupai anak tangga mengikuti kontur bukit. Julian mendongak. “Wah... tinggi juga.”Wati tertawa. “Baru segini sudah capek?” “Lumayan.”“Dulu lebih parah.”“Maksudnya?” Jul

  • Keponakan Adalah Maut   Berkunjung Ke rumah Orang Tua

    Wati baru bangun, ia memunguti pakaiannya. Tak lupa ia membangunkan Wawan yang masih tertidur di sampingnya, di sofa ruang keluarga. “Julian, Julian bangun!" Wati menggoyangkan kaki kalian dengan tangannya. Julian mengerjap sebentar, lalu duduk di sebelah Wati dengan wajah mengantuknya. Pertempuran tadi benar-benar membuatnya lemah. Wati benar-benar ganas kali ini. Meskipun tadi pagi mengeluh kakinya sakit untuk berjalan, ia tak menyangka jika Wati begitu liar ketika berada di atasnya. “Buruan mandi!" Wati bangkit terlebih dahulu menuju kamarnya, “Habis itu antar aku ke rumah orang tuaku!”“Katanya sakit kakinya?" Tanya Julian heran sambil menatap punggung tantenya tanpa penghalang sedikitpun. “Nggak apa-apa, toh aku bilang kakiku sakit, masih kau paksa juga." Wati tersenyum sebelum menutup pintu kamar. Tak lama kemudian ia keluar lagi dengan handuk melilit tubuhnya. “Jangan lama-lama!”Julian mengangguk, kemudian ia menuju kamar. Di sana ia mengambil handuk dan membakar s

  • Keponakan Adalah Maut   Bercocok Tanam Lagi

    "Asshhh...."Julian melenguh pelan. Sensasi ketika Wati yang mengambil inisiatif terasa jauh lebih intens.Wati tidak berhenti. Ia memberikan tekanan lebih pada punggung Julian, lalu membuka sedikit bibirnya untuk memberikan gigitan kecil yang nakal pada tonjolan tersebut. Reaksi Julian instan; pusakanya semakin mengeras, berdenyut di bawah sentuhan bibir Wati.Tangan Wati bergerak turun, meraba permukaan kain celana Julian, memastikan letak kepala pusaka keponakannya itu. Ia adalah wanita muda yang selama ini terabaikan. Suaminya memiliki segalanya—kekayaan dan kekuasaan—namun gagal memberikan kepuasan di ranjang. Kehadiran Julian adalah jawaban atas segala dahaga yang selama ini ia pendam.Sementara itu, Julian sudah kehilangan akal sehatnya. Ia meloloskan kancing celana lalu menurunkan celana dan bungkus pundaknya ke bawah. Membuat pusakanya mengacung bebas di depan wajah Wati. Pusaka Julian membusung, urat-uratnya menonjol seperti akar pohon, merah padam dan sedikit bergetar. Wa

  • Keponakan Adalah Maut   Julian Mancing

    "Ke ruang keluarga aja yuk ngobrolnya, kurang enak kalau di dapur kayak gini!" “Kamu jangan aneh-aneh ya!” Wati menaruh telapak tangannya di depan Julian untuk menahan. “Ya nggak lah Tante, lagian Tante masih sakit kan!” Julian mengulurkan tangan, telapaknya terbuka lebar menanti sambutan. Wati mengangguk, merasakan panas menjalar ke pipinya. Ia meraih tangan keponakannya itu, jemarinya gemetar saat bertumpu pada pinggiran meja makan untuk mengangkat tubuh. Setiap inci pergerakannya terasa berat. Ada rasa nyeri yang berdenyut di antara pangkal pahanya, sebuah pengingat tajam tentang apa yang terjadi semalam. Saat ia mencoba melebarkan langkah, wajahnya meringis kecil. Julian menangkap ekspresi itu. Tatapannya berubah redup, dipenuhi rasa bersalah yang bercampur dengan sisa-sisa gairah. Ia tahu persis mengapa langkah wanita itu tertatih. "Maafin aku ya, Tante!" Bisikan itu datang bersamaan dengan tubuh Julian yang merapat, memapah pinggang Wati agar tidak limbung. Wati membuang

  • Keponakan Adalah Maut   akal cerdik Julian

    Dering telepon menghentikan Wati dan Wawan yang sedang makan. Wati meraih ponsel di kantong bajunya, panggilan telepon dari suaminya. “Dek, mas belum bisa pulang sekarang.. menurut info jalan ke desa rusak parah karena hujan semalam. Mungkin seminggu mas baru pulang soalnya sekalian belanja bahan bangunan buat poskesdes. Terus pak camat tiba-tiba ngajak rapat penting." Suara Burhan pelan menjelaskan. “Lama banget ya mas? Mas sama siapa aja di situ?" Tanya Wati cemas. Mau bagaimanapun Burhan adalah suaminya yang sudah beberapa tahun ini hidup bersama. Perasaan khawatir merayapi hati Maya. Di tambah juga rasa bersalah mengingat kejadian tadi malam. “Oh, kalau perangkat desa yang ikut itu Ratih sama Pak Darto. Tapi Ratih ikut pembinaan dari kabupaten, beda tempat sama mas. Kalau mas sama pak Darto ada di kecamatan." Burhan meyakinkan istrinya. “Yang penting mas hati-hati ya!" Ratih berkata dengan nada khawatir. “Iya sayangku, udah dulu ya!” Burhan menutup telepon. “Om mu pul

  • Keponakan Adalah Maut   kesusahan berjalan

    Pagi harinya, bi Lastri sudah datang saat masih subuh. Ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah saat matahari mulai tampak. Wajan berisi gulai telur masih menguap saat bi Lastri menuangnya ke dalam wadah kaca dan meletakkannya di meja makan. Saat bi Lastri menata meja makan, terlihat Wati berjalan dengan aneh. Sedikit melebarkan kakinya dan melangkah pelan sembari tangannya mencari pegangan. Bi Lastri menaikan satu alisnya. Tak pernah ia lihat bosnya seperti itu sebelumnya. Ia mengira jika Wati baru jatuh dengan posisi duduk. “Nyonya kenapa?" Bi Lastri memberikan bahunya sebagian pegangan Wati. “Ehm... Ja-jatuh bi!” Wati memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum simpul mengingat kejadian semalam yang ia lakukan dengan Julian. Ia tak pernah merasa senikmat itu dengan Burhan. Tapi semalam, meskipun tidak membuatnya mencapai puncak, tapi benar-benar terasa nikmat. “Sudah sampai sini aja bi, makasih!” Maya dengan tertatih menutup kamar mandi. Bi Lastri melanjutkan menyeduh ko

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status