Home / Romansa / Keponakan Adalah Maut / Tak Sengaja Melihat

Share

Tak Sengaja Melihat

last update publish date: 2026-07-05 21:42:15

“Eh Bu Kades... ” kata para siswi SMA itu serempak.

“Iya.... Ini Julian, keponakan saya, jangan di godain!" Ketus Wati sambil menatap tajam mereka satu per satu.

Julian hanya bisa tersenyum getir. Ia merasa kasihan kepada para anak gadis yang langsung tersenyum kaku.

“Eh... Tanteku galak juga ternyata!" Kata Julian dalam hati.

Pada siswi SMA segera membayar es krim mereka dan langsung pergi dari toko itu. Sesekali mereka melirik ke arah Julian yang benar-benar sudah membuat mereka terpesona.

Setelah keluar toko, mereka terus saja berbisik-bisik.

“Itu Bu Kades tumben julid banget sih. Langsung banget to the point nggak boleh godain keponakannya!” ujar siswi yang paling berisi di antara lainnya.

“Huhh...iya, padahal biasanya ramah. Padahal kalau si fajar ngobrol sama kita, dia biasa-biasa aja tuh!” yang lain menimpali.

Perlu di ketahui, fajar adalah keponakan Wati, anak dari kakaknya.

“Apa jangan-jangan Bu Kades naksir sama keponakannya sendiri ya?” celetuk yang lain.

“Ehh....kau, omonganmu.” yang lain menimpali sambil terkekeh.

Di tempat lain, di jalan pulang menuju rumah, tampak Julian dan Wati saling diam. Tak ada mulai bicara, sampai mereka berpapasan dengan salah satu warga yang pulang dari kebun.

“Bu kades!” sama pria paruh baya yang menanggung cangkul dan sebuah tas plastik wadah bekal.

“Iya pak Wardi, baru pulang ya?” balas Wati menyapa dengan ramah.

“Iya Bu, ehm ini masnya siapa ya, kok baru lihat?” tanya Wardi.

“Oh ini, keponakan suami saya, dari ibukota, rencana jadi dokter poskesdes di sini. Kenalkan namanya Julian pak.” kata Wati, kemudian ia melirik ke arah Julian, menyuruhnya bersalaman dengan menggunakan isyarat mata.

Julian paham, ia menghampiri petani itu dan mengulurkan tangannya.

“Saya Julian pak!”

“Saya Wardi mas!”

“Ya sudah ya pak Wardi, kami langsung pulang dulu.” kata Wati sembari memberikan sebuah senyum kecil.

Wardi mengangguk, “Iya Bu, silahkan,” kemudian ia meneruskan langkahnya.

Sepanjang jalan, beberapa warga terus menyapa Wati. Wati juga menangkap beberapa mata istri orang dan anak gadis mengarah pada Julian.

“Seneng ya baru dateng jadi idola para binor sama anak gadis.” ketus Wati lirih sambil melirik tajam.

Julian hanya nyengir kuda. Pada saat ini, menjawab hanya akan menjadi masalah baru. Bagaimana tidak, wajah tantenya berekspresi masam.

--

Waktu bergulir tanpa terasa.

Sekarang sudah menunjukan pukul 7 malam. Bi Lastri sudah pulang menjelang magrib tadi.

“Julian!” panggil Burhan, ia sudah menunggu di meja makan.

Istrinya juga sudah di sana, makanan sudah di tata rapi. Beberapa kali keduanya melihat dari arah ruang tengah, arah kamar yang di tempati Julian. Jadi jika Julian akan ke dapur, pasti akan muncul dari ruang tengah atau ruang keluarga.

“Panggilin dek, kok lama banget.” perintah Burhan pada istrinya.

“Iya mas." Jawab Wati lembut.

Ia tak bisa menolak permintaan suaminya. Meski tadi ia sedang diam-diaman dengan Julian. Setelah melewati dinding pembatas yang memisahkan dapur dan meja makan dengan ruangan kamar, Wati memelankan langkah kakinya.

“Kemana sih anak ini!” gumamnya dalam hati.

Pintu tidak terkunci, tampak ada sedikit celah.

“Jul, Julian.” seru Wati.

“Julian!" Panggilnya lagi.

Panggilannya tak di jawab. Tapi ia mendengar ada aktifitas di kamar.

“Pasti dia masih marah sama aku soal aku marahin tadi. Dasar anak kota, manja sekali.” umpatnya kesal.

Ia pun membuka pintu kamar Julian, dengan terlebih dulu mengetuk sebelum membuka.

--beberapa menit sebelum Wati datang.

“Dingin banget deh. Kayaknya kalau pakai kaos gini bakal nggak kuat deh.....nanana” gumam Julian sambil bersenandung lagu baru seventeen. Di telinganya, tersumbat earphone portable pabrikan China karena Julian menyesuaikan dengan kantongnya.

Ia melepas kaosnya, juga melepas celana pendek yang ia kenakan tadi. Sehingga ia hanya memakai sebuah kain segitiga untuk menutupi ‘Masa depannya’. Toh dia pun di kamar, siapa juga yang akan melihat, pikirnya saat itu.

Ia tak mendengar jika ada orang yang memanggilnya beberapa kali. Bahkan saat pintu di ketuk pun ia tak mendengar.

“Julian!” seru Wati sambil membuka pintu kamar Julian.

Satu detik berlalu, dua detik berlalu, tiga detik berlalu.

Keduanya sama-sama diam. Tak mengeluarkan sepatah kata pun.

Wajah Wati menjadi seperti kepiting rebus, memerah. Apa yang di lihat oleh matanya saat ini adalah sebuah pemandangan yang sangat indah, yang kembali lagi menghidupkan api gelora yang ada pada tubuhnya.

Julian terpaku. Ia bagaikan mati langkah. Mempertontonkan roti sobeknya dan kekar badannya. Meskipun itu adalah adegan yang tak di sengaja sama sekali.

“Brakkk!”

Wati yang sadar langsung membanting pintu.

Seketika ia bersandar beberapa saat di sana. Tubuhnya gemetar, jantung berdetak kencang. Pemandangan yang benar-benar tak ingin ia lupakan jika mengikuti hatinya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Keponakan Adalah Maut   Cemburu

    “Tante cemburu ya!” Julian sedikit membungkuk, mencoba melihat wajah Wati dari bawah.Wati spontan menggeleng sambil terkekeh kecil. Ia memalingkan wajah agar rona wajah merah menahan malunya tak di lihat keponakannya. “Cemburu apanya? Tante ini cuma ngingetin.” “Ngapain diingetin segala?”“Ratih itu masih muda, cantik. Banyak yang ngejar dia, tapi dia juga gampang akrab sama orang baru. Tante takut nanti kamu jadi bahan omongan warga.”Julian menghela napas pelan.“Berarti Tante khawatir sama aku?” “Iya, jelaslah. Kamu kan baru datang ke desa ini. Belum tahu watak orang satu-satu.”Julian tersenyum tipis.“Siap, Bu Tante.”“Nah, gitu.”Mereka kembali melanjutkan perjalanan.Jalan desa mulai berubah menjadi tanjakan yang cukup curam. Tidak lagi berupa jalan berbatu, melainkan susunan batu kali yang ditata menyerupai anak tangga mengikuti kontur bukit. Julian mendongak. “Wah... tinggi juga.”Wati tertawa. “Baru segini sudah capek?” “Lumayan.”“Dulu lebih parah.”“Maksudnya?” Jul

  • Keponakan Adalah Maut   Berkunjung Ke rumah Orang Tua

    Wati baru bangun, ia memunguti pakaiannya. Tak lupa ia membangunkan Wawan yang masih tertidur di sampingnya, di sofa ruang keluarga. “Julian, Julian bangun!" Wati menggoyangkan kaki kalian dengan tangannya. Julian mengerjap sebentar, lalu duduk di sebelah Wati dengan wajah mengantuknya. Pertempuran tadi benar-benar membuatnya lemah. Wati benar-benar ganas kali ini. Meskipun tadi pagi mengeluh kakinya sakit untuk berjalan, ia tak menyangka jika Wati begitu liar ketika berada di atasnya. “Buruan mandi!" Wati bangkit terlebih dahulu menuju kamarnya, “Habis itu antar aku ke rumah orang tuaku!”“Katanya sakit kakinya?" Tanya Julian heran sambil menatap punggung tantenya tanpa penghalang sedikitpun. “Nggak apa-apa, toh aku bilang kakiku sakit, masih kau paksa juga." Wati tersenyum sebelum menutup pintu kamar. Tak lama kemudian ia keluar lagi dengan handuk melilit tubuhnya. “Jangan lama-lama!”Julian mengangguk, kemudian ia menuju kamar. Di sana ia mengambil handuk dan membakar s

  • Keponakan Adalah Maut   Bercocok Tanam Lagi

    "Asshhh...."Julian melenguh pelan. Sensasi ketika Wati yang mengambil inisiatif terasa jauh lebih intens.Wati tidak berhenti. Ia memberikan tekanan lebih pada punggung Julian, lalu membuka sedikit bibirnya untuk memberikan gigitan kecil yang nakal pada tonjolan tersebut. Reaksi Julian instan; pusakanya semakin mengeras, berdenyut di bawah sentuhan bibir Wati.Tangan Wati bergerak turun, meraba permukaan kain celana Julian, memastikan letak kepala pusaka keponakannya itu. Ia adalah wanita muda yang selama ini terabaikan. Suaminya memiliki segalanya—kekayaan dan kekuasaan—namun gagal memberikan kepuasan di ranjang. Kehadiran Julian adalah jawaban atas segala dahaga yang selama ini ia pendam.Sementara itu, Julian sudah kehilangan akal sehatnya. Ia meloloskan kancing celana lalu menurunkan celana dan bungkus pundaknya ke bawah. Membuat pusakanya mengacung bebas di depan wajah Wati. Pusaka Julian membusung, urat-uratnya menonjol seperti akar pohon, merah padam dan sedikit bergetar. Wa

  • Keponakan Adalah Maut   Julian Mancing

    "Ke ruang keluarga aja yuk ngobrolnya, kurang enak kalau di dapur kayak gini!" “Kamu jangan aneh-aneh ya!” Wati menaruh telapak tangannya di depan Julian untuk menahan. “Ya nggak lah Tante, lagian Tante masih sakit kan!” Julian mengulurkan tangan, telapaknya terbuka lebar menanti sambutan. Wati mengangguk, merasakan panas menjalar ke pipinya. Ia meraih tangan keponakannya itu, jemarinya gemetar saat bertumpu pada pinggiran meja makan untuk mengangkat tubuh. Setiap inci pergerakannya terasa berat. Ada rasa nyeri yang berdenyut di antara pangkal pahanya, sebuah pengingat tajam tentang apa yang terjadi semalam. Saat ia mencoba melebarkan langkah, wajahnya meringis kecil. Julian menangkap ekspresi itu. Tatapannya berubah redup, dipenuhi rasa bersalah yang bercampur dengan sisa-sisa gairah. Ia tahu persis mengapa langkah wanita itu tertatih. "Maafin aku ya, Tante!" Bisikan itu datang bersamaan dengan tubuh Julian yang merapat, memapah pinggang Wati agar tidak limbung. Wati membuang

  • Keponakan Adalah Maut   akal cerdik Julian

    Dering telepon menghentikan Wati dan Wawan yang sedang makan. Wati meraih ponsel di kantong bajunya, panggilan telepon dari suaminya. “Dek, mas belum bisa pulang sekarang.. menurut info jalan ke desa rusak parah karena hujan semalam. Mungkin seminggu mas baru pulang soalnya sekalian belanja bahan bangunan buat poskesdes. Terus pak camat tiba-tiba ngajak rapat penting." Suara Burhan pelan menjelaskan. “Lama banget ya mas? Mas sama siapa aja di situ?" Tanya Wati cemas. Mau bagaimanapun Burhan adalah suaminya yang sudah beberapa tahun ini hidup bersama. Perasaan khawatir merayapi hati Maya. Di tambah juga rasa bersalah mengingat kejadian tadi malam. “Oh, kalau perangkat desa yang ikut itu Ratih sama Pak Darto. Tapi Ratih ikut pembinaan dari kabupaten, beda tempat sama mas. Kalau mas sama pak Darto ada di kecamatan." Burhan meyakinkan istrinya. “Yang penting mas hati-hati ya!" Ratih berkata dengan nada khawatir. “Iya sayangku, udah dulu ya!” Burhan menutup telepon. “Om mu pul

  • Keponakan Adalah Maut   kesusahan berjalan

    Pagi harinya, bi Lastri sudah datang saat masih subuh. Ia sudah menyelesaikan pekerjaan rumah saat matahari mulai tampak. Wajan berisi gulai telur masih menguap saat bi Lastri menuangnya ke dalam wadah kaca dan meletakkannya di meja makan. Saat bi Lastri menata meja makan, terlihat Wati berjalan dengan aneh. Sedikit melebarkan kakinya dan melangkah pelan sembari tangannya mencari pegangan. Bi Lastri menaikan satu alisnya. Tak pernah ia lihat bosnya seperti itu sebelumnya. Ia mengira jika Wati baru jatuh dengan posisi duduk. “Nyonya kenapa?" Bi Lastri memberikan bahunya sebagian pegangan Wati. “Ehm... Ja-jatuh bi!” Wati memalingkan wajahnya, menyembunyikan senyum simpul mengingat kejadian semalam yang ia lakukan dengan Julian. Ia tak pernah merasa senikmat itu dengan Burhan. Tapi semalam, meskipun tidak membuatnya mencapai puncak, tapi benar-benar terasa nikmat. “Sudah sampai sini aja bi, makasih!” Maya dengan tertatih menutup kamar mandi. Bi Lastri melanjutkan menyeduh ko

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status