Home / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 136 - Diantara keriuhan.

Share

Bab 136 - Diantara keriuhan.

Author: Pipin
last update publish date: 2026-02-21 17:10:04

Lana hanya mengerucutkan bibirnya kesal, matanya tak sengaja menangkap sosok Saka di kejauhan yang membuat pipinya kembali merona.

​"Ka, apa ini yang namanya cinta pertama ya?" bisik Lana pelan.

"Udah, nggak usah aneh-aneh deh. Palingan lo cuma kagum doang gara-gara dia habis nolongin lo jatuh tadi. Efek adrenalin itu, Lan, bukan asmara." Ucap Arka memutar bola mata nya malas.

​"Tapi beda ya? Kagum sama cinta?" tanya Lana lagi.

​"Duh, bego amat sih nih anak! Makanya, otak jangan isinya cuma
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 164 - Patah

    "Aku tidak bisa, Sonya. Aku tidak bisa membawamu ke tempat yang bahkan lebih buruk dari neraka itu sendiri," suara Antonio memberat, seolah setiap kata yang keluar adalah beban yang menghimpit dadanya.​Ia memejamkan mata sejenak, bayangan masa lalu yang berdarah melintas cepat. "Aku pernah hanya sekadar berkenalan dengan seorang wanita. Besoknya... tubuhnya dibelah dua tanpa ampun, padahal kami tidak ada hubungan apa-apa. Musuh-musuhku terus mencari celah, mencari titik lemahku. Dan aku tidak ingin menambah daftar kelemahanku lagi. Cukup satu orang, Sonya. Cukup Saka saja yang membuatku harus bertaruh nyawa setiap hari."​Sonya terdiam sejenak,lalu berkata. "Jadi... aku benar-benar nggak punya tempat di hati Om?"​Antonio menatapnya dengan tatapan dingin yang dipaksakan, sebuah benteng yang ia bangun demi melindungi gadis di depannya. "Kamu bisa menjadi pacar Saka. Menjadi calon menantuku, tapi bukan istriku."​"Aku nggak punya perasaan seperti itu ke

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 163 - Suka..

    Sementara itu, di dalam kamar rawat yang hening, kelopak mata Antonio bergerak perlahan.​"Om? Om sudah sadar?" Sapa Sonya saat pria itu baru membuka mata.​"Sonya... kenapa kamu di sini?" bisik Antonio parau. Seluruh tubuhnya terasa kaku dan nyeri, seolah-olah ia baru saja dihantam truk. Sudah berapa lama aku tertidur? pikirnya linglung.​"Aku panggil Kak Saka dulu ya, Om. Sebentar!" Sonya setengah berlari keluar kamar, mencari Saka yang sedang mencari udara segar di taman rumah sakit.​"Kak Saka! Om Antonio sudah siuman!"​Saka tidak membuang waktu. Ia berlari secepat kilat melewati koridor, membuka pintu kamar 402. Matanya panas saat melihat pria yang dipanggilnya Papa itu menoleh lemah dengan senyum tipis di bibirnya.​"Ya ampun, Pa... Papa bikin aku khawatir setengah mati, tahu nggak!" seru Saka sambil menggenggam tangan Antonio yang dingin. "Masih sakit banget, Pa?"​"Masih," jawab Antonio jujur. ​Saka mengembuskan napas lega, senyumnya kini lebih lebar. "Papa tahu nggak, Sony

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 162 - Memperbaiki Segalanya

    "Lana..." Elian terpaku, suaranya tercekat saat melihat putrinya berdiri di ambang pintu ruang kerja. Setelah dua minggu penuh aksi bungkam, kehadiran Lana terasa seperti oksigen bagi Elian yang nyaris mati sesak.​"Pa, aku pengen makan ramen," bisik Lana, ingin mencoba memperbaiki hubungan mereka sepenuhnya.​Rinjani yang sedang meletakkan nampan minuman di meja kerja Elian tersenyum lebar. Matanya berkaca-kaca melihat keras kepala putrinya akhirnya melunak. Elian segera berdiri, senyum yang sempat hilang dari wajahnya kini merekah kembali dengan tulus.​"Kamu mau sekarang? Ngga mau ganti seragam dulu, Sayang?" tanya Elian antusias.​"Pengen sekarang," jawab Lana singkat tanpa menoleh sepenuhnya. "Mama nggak boleh ikut. Aku mau berdua aja ama Papa."​Rinjani tertawa kecil, ia paham ini adalah cara Lana untuk membuka kembali pintu komunikasi yang sempat tertutup rapat."Ya sudah, kalian hati-hati. Yakin nggak mau ganti baju dulu?"​"Enggak, Ma," sahut Lana tetap pada pendiriannya.​El

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 161 - Terima kenyataan

    "Gimana, Kak? Om Antonio udah baikkan?" tanya Sonya duduk disamping Saka di bangku taman sekolah.​"Papa masih belum mau buka mata," jawab Saka. "Sonya, lo tahu sesuatu tentang Papa?"​Untuk kali pertama dalam hidupnya, Saka menyadari betapa sedikit ia mengenal pria yang membesarkannya. Selama ini, Antonio selalu tampil rapi dengan pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun, di ruang ICU kemarin, saat perawat mengganti perban, Saka melihatnya—deretan tato legam yang merayap di punggung dan lengan ayahnya. Sebuah peta rahasia dari dunia yang tak pernah ia sentuh.​Sonya duduk di samping Saka, mengabaikan tatapan penasaran murid lain yang berlalu-lalang. "Menurutmu sendiri gimana?"​"Papa cuma pakai kedok sebagai pengusaha logistik. Dia menyembunyikan hal yang jauh lebih kelam di sana," gumam Saka.​"Dan kamu keberatan?" tanya Sonya tenang.​Saka menatap gadis di sampingnya. Sonya yang dulu ia anggap rapuh, kini justru menjadi orang yang paling berani menasihatinya.​"Kak, siapapun d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 161 - Bangun Pa

    "Sonya..." Saka berbisik, suaranya tercekat saat menatap pakaian gadis itu yang basah kuyup oleh darah merah pekat yang mulai mengering. Horor terpancar jelas dari matanya.​"Saka... Om Antonio..." Sonya tidak sanggup melanjutkan kalimatnya, bahunya berguncang hebat karena sisa trauma. ​"Ada apa sebenarnya? Kenapa bisa seperti ini? Apa Papa dirampok?" cecar Saka, tangannya gemetar saat memegang pundak Sonya, menuntut jawaban yang masuk akal.​Sonya terdiam. Ingatannya kembali ke pelabuhan—pemandangan mayat yang bergelimpangan, senjata api, dan bagaimana Antonio bertarung layaknya monster yang haus darah. Jelas sekali pria itu bukan orang sembarangan. Apa aku harus mengatakannya? Apa aku harus membongkar sisi gelap pria itu sekarang? batin Sonya. ​"Tidak..." ucap Sonya tegas, ia memilih menyimpan rahasia itu demi martabat Antonio di mata anaknya.​"Apa Papa menyembunyikan hal lain lagi?" gumam Saka, mulai curiga dengan keheningan Sonya y

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 160 -

    Sore itu, begitu pintu depan terbuka, Antonio langsung berdiri dari kursi kerjanya. Ia sengaja menunda semua demi anaknya. ​"Saka, kamu sudah pulang? Bagaimana tadi... di sekolah?" tanya Antonio, suaranya mengandung nada kecemasan yang tertahan setelah Saka kabur dari rumah. ​"Baik, Pa," jawab Saka singkat. Ia memberikan senyum simpul—hanya sebuah formalitas agar sang ayah tidak bertanya lebih jauh."Kamu masih marah pada Papa?" Tanya Antonio menahan bahu Saka saat anak itu hendak ke kamarnya.​Saka terdiam sejenak, menatap anak tangga di depannya dengan tatapan kosong. "Aku nggak bisa marah lama-lama sama Papa. Memangnya aku bisa apa tanpa Papa?" Saka menoleh sedikit, menatap ayahnya dengan sorot mata yang penuh luka tersembunyi. "Aku harus sadar diri, kan? Kalau bukan karena Papa, aku hanyalah anak yang ditelantarkan. Mungkin kalau bukan karena pertolongan Papa belasan tahun lalu, aku sudah ada di dalam tanah bersama Mama.""Jangan bersikap seperti ini pada Papa, Saka... Papa mel

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 13 - Hampir Saja

    Elian melajukan mobil dengan kecepatan tinggi setelah meninggalkan rumah Dian. Suasana di dalam mobil kembali tegang. Mereka telah melakukan perjalanan selama sekitar satu jam ketika tiba-tiba mobil melenceng tajam ke kanan. "Tuan!" teriak Rinjani karena mobil mereka hampir saja me

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 12 - Mawar dan Bunga Liar

    "Duduk, Rinjani. Ceritakan padaku, bagaimana rasanya menjadi pengganti Kirana?"Rinjani menarik napas dalam-dalam. Ia tahu ia tidak boleh bereaksi emosional, tetapi ia harus mempertahankan martabatnya."Saya tidak pernah menjadi pengganti Kirana, Bu Dian," jawab Rinjani, suarany

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 9 - Badai

    Rinjani berdiri di taman samping, mencoba mengusir rasa sepi dengan menyiram deretan krisan yang mulai layu. Suara langkah kaki di atas kerikil membuatnya menoleh. ​"Siang, Nyonya," sapa Cleo. Pemuda itu berdiri dengan posisi tegak, tangan tertaut di depan tubuh—posisi formal seorang bawahan. ​Ri

    last updateLast Updated : 2026-03-17
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 11 - Seseorang yang melebihi "pedasnya" Elian

    Rinjani bangun dengan memar di pipinya yang tertutup riasan tipis. Ia bersiap-siap untuk kembali ke mode patuh. Pukul lima pagi, saat Rinjani membereskan ruang makan, Elian menuruni tangga. Ia sudah berpakaian rapi, siap untuk keberangkatan."Tuan Elian..." sapa Rinjani, menghindari kont

    last updateLast Updated : 2026-03-17
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status