Home / Romansa / Kesayangan Tuan Elian / Bab 43 - Jejak kemenangan

Share

Bab 43 - Jejak kemenangan

Author: Pipin
last update Last Updated: 2025-12-31 17:56:21

Mobil polisi yang dikendarai Darmono meraung membelah jalanan kota, sirinenya memekakkan telinga, namun bagi Elian, suara itu kalah kencang dengan detak jantungnya sendiri.

​"Cepat, Darmono! Dia akan membakar ruangan itu!" raung Elian.

​"Sabar, Elian! Kita hampir sampai!"

​Di Rumah Sakit – Bangsal VVIP Lantai 7

​Suasana sunyi senyap. Hanya ada bunyi bip... bip... yang monoton dari monitor jantung di samping tempat tidur Rinjani. Kelopak mata Rinjani bergetar. Perlahan, ia membuka mata. Pandangannya kabur, langit-langit putih berputar, dan bau antiseptik yang tajam menusuk hidungnya.

​"E-elian..." suaranya hanya berupa bisikan pecah.

​"Elian tidak ada di sini, Sayang."

​Rinjani tersentak. Di sudut ruangan yang remang, Adrian duduk di kursi tunggu, tenang seperti malaikat maut. Ia sedang memegang botol alkohol medis yang besar, menuangkannya perlahan ke lantai marmer seolah sedang menyiram tanaman.

​"Apa yang... kamu lakukan?" Rinjani mencoba bergerak, tapi tubuhnya terlalu lemah.

​"El
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 79 - Pilihan Maya

    Malam itu, restoran bintang lima tersebut terasa begitu menyesakkan bagi Maya. Di hadapannya, Abil duduk dengan senyum percaya diri, dikelilingi oleh keluarga besar mereka yang tengah sibuk membicarakan detail pertunangan.​"May," sapa Boy singkat.​Ia tidak datang sendiri. Di belakangnya, Elian berjalan dengan tenang, memberikan dukungan moral yang tak terucapkan. Langkah Boy terhenti tepat di samping meja panjang keluarga besar itu.​"Mas... kamu mau apa ke sini?" tanya Maya. Jantungnya berdegup kencang, antara takut dan bahagia melihat Boy benar-benar muncul. ​"Lo nggak lihat? Ini tempat makan, ya gue ke sini mau makan malam lah," sahut Boy santai, meski matanya berkilat tajam menatap Abil. "Sekalian, gue mau bilang deh kalau gitu—di depan calon lo, di depan keluarga besar lo—kalau gue nggak setuju sama pertunangan lo sama Abil Labil entah siapa itu namanya!"​Meja itu seketika hening. Abil tersentak, wajahnya memerah menahan malu. Ay

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 78 - Jangan menyerah

    "Mama nggak akan pernah merestui kamu dengan dia. Mama nggak mau keluarga kita jadi bahan tertawaan karena kamu memilih pria yang... entahlah, Mama bahkan ragu menyebutnya pria. Dengar itu baik-baik, Maya," ucap wanita itu dengan nada final yang dingin sebelum melangkah masuk ke dalam mobilnya dan berlalu tanpa perasaan.​Maya berdiri mematung di tengah lobi, merasakan tatapan orang-orang kantor yang mulai berbisik. Dengan sisa tenaga yang ada, ia memutar tumit dan berjalan cepat menuju lift. Begitu sampai di ruangan sekretaris yang sepi karena jam istirahat belum berakhir, pertahanannya runtuh total. ​Maya jatuh terduduk di kursinya, menyembunyikan wajah di balik lipatan tangan di atas meja. Ia menangis sejadi-jadinya, isakan yang menyesakkan dada hingga bahunya terguncang hebat. Semua pengakuan cintanya, semua harapannya, hancur lebur hanya dalam hitungan menit oleh lisan sang ibu dan kepasrahan Boy yang menyakitkan.​Di tengah isakannya, ponsel yang tergeletak d

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 77 - Takdir Yang tak merestui

    ​Matahari siang itu terasa menyengat di depan gedung megah Baskara Group, namun suasana di antara Boy dan Maya jauh lebih panas. Sudah dua hari Boy menghilang bak ditelan bumi, meninggalkan Maya dalam kegelisahan yang menyiksa. ​"Mas... Mas sengaja cuekin aku?" tanya Maya dengan suara bergetar. Langkahnya mencegat Boy tepat di lobi luar.​Boy berhenti, namun ia tidak menoleh. Kacamata hitam menutupi matanya yang lelah karena lembur dan kurang tidur. "Gimana pertemuan lo? Lancar? Apa lo bakal langsung tunangan?" tanya Boy, nadanya datar, tanpa embel-embel ceria seperti biasanya.​"Mas, aku suka sama Mas!" seru Maya akhirnya, pecah sudah pertahanannya. Ia tidak peduli lagi dengan orang-orang kantor yang berlalu-lalang.​Boy perlahan membuka kacamatanya, menatap Maya dengan tatapan yang sulit diartikan. "Lo bilang suka sama gue, tapi jalan sama cowok lain di depan mata gue. Maksud lo apa, May? Lo mau pamer kalau lo laku?"​"Karena Mas nggak bisa kasih apa yang aku mau! Mas nggak pernah

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 76 - Dunia yang RETAK

    "May, jadi kita ketemuan?" tanya Abil di seberang telepon. Suaranya terdengar penuh harap, namun Maya hanya bisa menatap aspal di depan lobi kantor dengan pandangan kosong.​"Aku pikir lagi ya, Mas. Soalnya masih banyak kerjaan yang harus diberesin," ucap Maya pelan. Ia segera menutup sambungan telepon itu bahkan sebelum Abil sempat membalas.​"May, kamu ada masalah?​Maya tersentak. Ia menoleh dan mendapati Elian sudah berdiri di sampingnya. Pria itu tampak lebih tenang setelah rapat panjangnya, namun sorot matanya yang tajam tetap bisa menangkap kegelisahan sang sekretaris. ​Maya diam sejenak, meremas pelan ponsel di tangannya. Ia menghela napas panjang, lalu tertawa kecil—tipe tawa yang digunakan seseorang untuk menutupi rasa sesak.​"Gini Pak, sebenarnya..." Maya menjeda kalimatnya, menatap ujung sepatunya sendiri. "Sebenarnya saya sedikit berharap pada Mas Boy. Tapi gimana ya, Pak Elian kan tahu sendiri... dia lebih tertarik pada cowok beroto

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 75 - kena marah kan?

    Sesampainya di ruangan Maya, Boy disambut oleh suara ketukan papan ketik yang terdengar lebih seperti dentuman genderang perang. Maya tidak menoleh sedikit pun, wajahnya kaku, menunjukkan level kekesalan yang sudah mencapai ambang batas.​"Ada apa, Mas Boy? Enggak ada kerjaan lain apa selain ke sini?" tanya Maya dengan nada dingin yang bisa membekukan air laut. Maya benar-benar murka karena Boy menghilang tanpa kabar kemarin, meninggalkannya menunggu seperti patung di kafe sementara Boy asyik berlibur dengan Elian dan Rinjani.​Boy yang awalnya masuk dengan gaya catwalk, langsung mengerem mendadak. Bahunya menciut. "Eh... lo marah, May?"​"Menurut Mas gimana?" tantang Maya sambil membanting folder dokumen ke meja. BRAK! Ia menatap Boy tajam.​"Duh, May... itu mata udah kayak mau keluar dari celahnya. Gue kan takut diplototin gitu. Gue kan udah kirim pesan permintaan maaf semalam," ucap Boy dengan suara yang mulai melengking panik, tangannya s

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 74

    "Rinjani, kamu dan Boy kembali saja ke rumah. Aku harus mengurus banyak hal setelah meninggalkan ruangan ini cukup lama," gumam Elian sambil merapikan tumpukan berkas yang sempat disentuh Hendra.​Rinjani menatap suaminya cemas. "Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan Paman Hendra? Dia tidak akan membiarkanmu tenang begitu saja di sini."​"Kamu percaya padaku, bukan?" Elian menghentikan aktivitasnya, menatap Rinjani dengan sorot mata yang berusaha tetap kokoh.​Rinjani menghela napas. Ia tahu Elian sedang memasang dinding pertahanannya lagi. Ia menoleh ke arah pintu. "Boy, kamu tunggu di luar sebentar ya. Aku ada urusan sebentar dengan Elian."​Boy yang mengerti kode tersebut hanya mengangguk dan mengedipkan sebelah mata sebelum menutup pintu rapat-rapat. Begitu suasana menjadi sunyi, Rinjani berjalan mendekat dan duduk di sisi meja, tepat di samping Elian.​"Kamu tidak perlu pura-pura baik-baik saja di depan kami, apalagi di depanku," bisik Rinjani sambil meraih tangan Elian yang terasa d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status