ログインSetelah dari ruangan ayahnya,Lana keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru,lorong tadi sudah sepi, membuat nya mencari Eran kesudut lain. "Di mana sih dia? Cepat banget hilangnya!" gumam Lana kesal. "Cari siapa, Tuan Putri?" Lana tersentak. Eran tiba-tiba muncul dari balik pilar besar sambil meletakkan ember pel di tangannya. Pria itu berdiri santai, menatap Lana dengan pandangan menyelidik yang khas. "Nyari lo lah!" jawab Lana jujur, napasnya masih sedikit terengah. "Gue? Buat apa? Lo ada masalah apa lagi sama gue?" tanya Eran sambil melipat tangan di dada. "Bukan masalah. Ini... gue ada hadiah buat lo, sekalian permintaan maaf," ujar Lana sembari menyodorkan kotak hitam yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tasnya. Eran mengernyitkan dahi, menatap kotak itu dengan ragu. "Ini apa? Minta maaf buat apa?" "Karena gue udah bikin lo tertahan di pusat rehabilitasi cukup lama." Eran terdiam sejenak. Ia menatap kotak mahal itu, lalu kembali menatap Lana. Ia sempat
Seminggu berlalu. Eran akhirnya berdiri di depan gedung pencakar langit milik keluarga Baskara. Ia terpaksa menerima tawaran itu, bukan karena ia tunduk pada kekuasaan Elian, melainkan karena realita hidup menghantamnya dengan keras. Belasan lamaran kerja paruh waktu yang ia sebar selama seminggu ini berakhir nihil; sebagian menolak karena status rehabilitasinya, sebagian lagi bahkan tidak memberinya kesempatan bicara. Demi bisa tetap kuliah pagi dan menyambung hidup, ia harus menelan harga dirinya bulat-bulat.Di dalam ruang kerja yang luas dan aromanya tercium seperti kemewahan yang mengintimidasi, Eran duduk berhadapan langsung dengan pria yang menjadi alasan ayahnya di penjara."Siang, Pak Elian," sapa Eran. Suaranya rendah, tanpa nada berlebihan. "Saya tidak menyangka, orang sepenting Anda punya waktu luang untuk mewawancarai langsung orang seperti saya." Ucapannya sopan, namun ada sindiran tipis yang tersirat di sana. Ia tahu betul, untuk posisi Office Boy, seharusnya Elian
Beberapa minggu berlalu dengan cepat. Hari ini adalah hari kebebasan Eran. Sebelum menjemput pria itu, Lana menyeret sahabat masa kecilnya, Arka, ke sebuah mal mewah.Arka kuliah di kampus kelas atas jurusan Manajemen, sementara Lana dan Eran satu kampus di jurusan yang sama—Manajemen Bisnis."Lana, please! Kita sudah keliling tiga lantai hanya untuk mencari satu benda mekanik ini!" Arka memprotes sambil membenahi tatanan rambutnya di pantulan kaca etalase. "Bisa nggak kita ke store parfum aja? Bau mal ini terlalu 'biasa' buat hidung gue hari ini.""Diem deh, Ka! Ini penting. Eran itu punya ambisi besar. Dia nggak mau cuma jadi orang biasa, dia mau sukses. Dan kamera ini... ini alat dia buat melihat dunia dari sudut pandang beda," sahut Lana sambil menunjuk sebuah kamera profesional seri terbaru.Arka mendekat, matanya menyipit kritis melihat harga yang tertera. "Lo mau beli barang seharga gaji manajer tingkat menengah untuk seorang cowok yang baru keluar rehab? Seriously, Lana? Lo
Berbulan-bulan lamanya, penolakan demi penolakan menjadi asupan harian bagi Lana. Namun, gadis itu memiliki keteguhan hati yang keras kepala. Hingga tiba di hari itu, di sebuah sore yang tenang di taman pusat rehabilitasi, pemandangan di depannya membuat napas Lana tertahan. Eran sedang duduk di bawah pohon besar, tangannya sibuk menggoreskan sketsa di atas kertas. Wajahnya tidak lagi sepucat mayat; ada rona kehidupan yang kembali menghiasi kulitnya. "Eran!" teriak Lana gembira, setengah berlari menghampiri pria itu. Eran mendongak. Matanya yang tajam kini terlihat lebih jernih dan fokus. Ia memperhatikan Lana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lana hari ini tampil berbeda; ia mengenakan gaun floral selutut yang manis, dan rambut panjangnya kini berwarna cokelat terang yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Jantung Lana berdetak tak keruan saat Eran terus menatapnya tanpa kedip. Apakah dia terpesona? batin
Begitu didalam mobil, yang hari itu ia ditemani ayah nya, Alana bersandar di pundak kokoh Elian. Pa..." suaranya serak karena terlalu banyak menangis di pusat rehabilitasi tadi. "Bagaimana kabar ayah Eran? Papa pasti tahu sesuatu, kan?" "Papa sudah menyelidiki sedikit latar belakang mereka. Ayahnya dulu pebisnis yang cukup terkenal, punya nama besar. Tapi menurut pengakuannya, semuanya hancur karena skandal dan kesalahan putranya sendiri, Eran. Itulah yang membuatnya menjadi monster." Jawab Elian tanpa menutupi apapun. Lana terdiam sejenak, membayangkan bagaimana Eran memikul beban sebagai penyebab kehancuran keluarganya setiap hari. "Tapi setelah semua siksaan itu? Apa ayahnya akan dibiarin gitu aja, Pa?" "Siapa bilang, Sayang? Ayahnya sudah dipenjarakan sekarang. Dia dijemput paksa pagi tadi." Lana tersentak, ia mengangkat kepalanya dari bahu Elian. "Dipenjara?" "Maaf kalau Papa mengambil keputusan ini tanpa bicara denganmu. Tapi dia memang sudah lama menjadi perusuh di
Lana menjalani hari-harinya di kampus dengan perasaan yang tidak menentu. Meski di ruang kelas, pikirannya sering kali terbang ke sebuah bangunan putih di pinggiran kota yang dijaga ketat. Begitu hari libur tiba, Lana tidak membuang waktu. Ia segera meminta supirnya mengantar ke pusat rehabilitasi tempat Eran berada. Begitu sampai di taman belakang, Lana melihat sosok yang ia cari. Eran sedang duduk di bangku kayu. "Eran!" seru Lana sambil melambaikan tangan dengan riang, mencoba mencairkan suasana. Namun, Eran tidak membalas senyuman itu. Ia justru menatap Lana dengan pandangan yang begitu dingin, seolah-olah Lana adalah musuh terbesarnya. Saat Lana mendekat, Eran berdiri dengan sentakan kasar. "Ngapain lo ke sini?" desis Eran, suaranya rendah namun penuh dengan kemarahan yang tertahan. "Gue cuma mau lihat keadaan lo, Eran. Dokter bilang lo mulai membaik, dan—"
Di dalam kamar tamu, Rinjani bergerak dengan sangat tenang. Tidak ada air mata yang jatuh, yang ada hanya gerakan jemari yang cekatan melipat pakaian-pakaian lamanya—pakaian yang ia bawa sebelum ia "dibeli" oleh Elian.Ia tidak menyentuh satu pun gaun sutra, tas bermerek, atau sepatu mewah pemberi
"Mencintaiku?" Rinjani tertawa getir, suaranya pecah di antara deru angin desa yang kering. "Atau kau cuma butuh wadah untuk meluapkan segalanya lalu menghancurkannya sesukamu? Kau sudah mengatakan banyak hal, Elian, dan semua itu adalah kebohongan yang dibungkus kemewahan. Aku membencimu! Pergi da
"Aku sudah berjanji akan menjaganya pada Mama dan Papa Tuan Elian," bisik Rinjani di antara isaknya. Ia mengingat tatapan tulus kedua orang tua Elian yang memintanya untuk menjaga putra mereka."Tapi seberapa lama aku kuat, Tuan? Aku adalah wadah, tapi wadah juga punya batasnya."
Setelah Elian meminum obat dan kembali tidur, Rinjani memutuskan ini adalah akhir. Cinta yang baru tumbuh ini terlalu menyakitkan, dan ia tidak bisa lagi menjadi wadah bagi Elian yang mengkhianatinya.Ia berganti pakaian dengan kemeja sederhana dan celana panjangnya yang paling rapi. Ia







