تسجيل الدخولRinjani hanya bisa mematung di atas kursi rodanya, menatap kosong ke arah pintu lorong rumah sakit tempat Elian baru saja digiring oleh dua petugas berpakaian sipil. Ia tidak menangis lagi—air matanya sudah kering—yang tersisa hanyalah kepasrahan yang menyesakkan dada. Ia tahu, meskipun Elian menyelamatkannya, hukum tetaplah hukum, dan tangan suaminya kini benar-benar telah ternoda darah. Di sisi lain kota, di dalam sebuah ruangan interogasi yang remang dengan aroma kopi pahit dan asap rokok yang tertinggal, Kombes Darmono duduk berseberangan dengan Elian. Lampu neon di atas mereka berkedip-kedip, menciptakan bayangan yang gelisah di wajah Elian yang masih tercoreng sisa mesiu dan darah Adrian.Darmono melepaskan topinya, menghela napas berat sambil melemparkan map berisi foto-foto tempat kejadian perkara ke atas meja besi."Elian, kasusmu ini bukan sekadar pertikaian keluarga biasa. Ini pembunuhan di markas besar perusahaan rahasia. Skalanya terlalu besar, dan media sudah mulai m
"Kalian kira bisa kabur gitu saja, hah?!" raung Adrian. Wajahnya yang basah kuyup tampak benar-benar gila.Dengan satu sentakan kuat, Adrian menarik kaki Rinjani hingga wanita itu tergelincir hebat. Kepalanya membentur lantai, dan sebelum ia sempat bereaksi, Adrian sudah berada di atasnya dengan mata yang haus darah.Jleb! Jleb!"AAAGHHH!" Rinjani menjerit histeris. Dua tusukan cepat mendarat di paha dan betisnya. Darah segar merembes keluar, bercampur dengan air sprinkler yang terus mengguyur lantai."Kalau aku tidak bisa mendapatkanmu, maka tidak ada satu pun orang yang bisa memilikimu!" Adrian mengangkat pisaunya tinggi-tinggi, mengarah tepat ke dada Rinjani.BRAAAKKK!Pintu jati setebal sepuluh sentimeter itu hancur berantakan, bukan karena didobrak, tapi karena hantaman tenaga yang luar biasa. Sesosok pria berdiri di sana—tubuhnya dibalut seragam putih pusat rehabilitasi yang sudah compang-camping dan basah oleh hujan,
Keesokan paginya, suasana kantor Baskara Group terasa mencekam sejak jam pertama. Rinjani melangkah masuk ke ruangannya, namun langkahnya terhenti di depan meja Maya.Maya tidak ada di sana. Kursinya kosong, namun tasnya masih tersampir. Yang mengerikan adalah, di atas meja Maya terdapat sebuah vas berisi mawar yang sudah mati dan hangus terbakar, dengan sebuah amplop hitam terselip di antaranya."Maya? Maya!" panggil Rinjani panik.Ia segera berlari ke ruangannya sendiri, namun saat ia membuka pintu, jantungnya serasa berhenti berdetak.Di kursi kebesaran Elian, Adrian duduk dengan santai sambil menyilangkan kaki. Di depannya, di atas meja kerja, Maya duduk bersimpuh di lantai dengan mulut yang diplester dan tangan terikat. Wajah Maya basah oleh air mata, matanya membelalak ketakutan saat melihat Rinjani."Selamat pagi, Rinjani. Aku suka dekorasi ruangan ini, sangat... maskulin. Persis seperti Elian yang kaku," sapa Adrian dengan nada ya
Sesampainya di lobi apartemen, Maya masih menyunggingkan senyuman kecil. Rasanya beban di pundaknya sedikit terangkat hanya karena mendengar ocehan tidak masuk akal dari pria di sampingnya ini. "Mau langsung pulang, Mas?" tanya Maya sambil membetulkan letak tasnya. "Kenapa? Lo mau ngajak gue nginep? Duh, jangan macem-macem ya, May. Gini-gini gue masih sanggup bikin Maya Junior kalau lo nekat. Nggak usah aneh-aneh deh pikiran lo!" ucap Boy yang jemarinya sudah menari lincah di atas layar ponsel. Maya memutar bola matanya, hampir tidak percaya dengan tingkat kepercayaan diri pria ini. "Lagi apa sih, Mas? Serius banget." "Lagi pesan taksi online lah! Lo kira gue lagi asyik chatting-an sama bini orang? Gue kan jomblo berkualitas," sahut Boy tanpa menoleh. "Ya sudah, Mas. Makasih ya sudah nganterin aku pulang. Hati-hati di jalan," ucap Maya tulus. "Iya, iya. Ya udah sono, balik ke kandang. Istirahat yang bener, jangan sampai besok muka lo makin mirip cucian kusut," ucap Boy mel
"Maya! Lo nggak usah sok kuat nyetir kalau muka lo masih planga-plongo kayak orang habis liat hantu gini. Sini kuncinya, gue yang antar lo pulang!" tegas Boy sambil merebut kunci mobil dari tangan Maya.Maya menghela napas pasrah, tapi tetap mencoba protes. "Mas Boy, emangnya nggak ada kerjaan lain apa? Mas kan sibuk.""Adalah! Kerjaannya Mas Boy yang paling utama saat ini itu pastiin orang yang gue sayang pulang dengan aman, sentosa, dan tanpa lecet sedikit pun!" Boy membukakan pintu mobil dengan gerakan teatrikal yang sangat heboh.Maya mematung di tempat. "Orang yang Mas sayang? Maksudnya... siapa?"Boy menghentikan gerakannya, menatap Maya dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu menepuk jidatnya sendiri. "Aduh, nih bocah... baru gede kemarin sore apa gimana sih? Padahal umur udah mau dua puluh enam tahun, tapi kok gobloknya dipelihara, bukan kambing aja yang dipelihara!" gumam Boy gemas."Maksud gue itu jelas, Mayang Sayang...
"Sendirian, Nyonya Baskara? Sepertinya tidak. Apa banci itu mengekor di belakangmu, atau dia sedang mengintip dari sudut gelap?" Adrian melangkah keluar. Suaranya masih sama—berat, berayun santai, namun membawa getaran yang membuat bulu kuduk berdiri. Ia memutar-mutar pemantik perak di jemarinya. Klik. Klak. "Aku tahu itu kamu, Adrian. Suara pecundang yang bersembunyi di balik telepon berbulan-bulan lalu itu tidak mungkin aku lupakan." Adrian menghentikan langkahnya, sedikit terkejut melihat Rinjani yang tidak langsung gemetar ketakutan. Ia menyeringai tipis, matanya menatap Rinjani dengan intensitas yang mengerikan. "Wah, ingatanmu cukup tajam untuk wanita yang baru saja kehilangan bayinya," goda Adrian tanpa belas kasihan. "Sepertinya kamu tidak pernah benar-benar bisa melakukan apa-apa tanpa perlindungan. Bahkan suamimu sendiri saja sanggup mencekikmu sampai berakhir di rumah sakit. Apa kamu kira orang asing sepertik







