Share

Bab 58 -

Penulis: Pipin
last update Tanggal publikasi: 2026-01-06 06:12:25

"Bangun! Hei, bangun! Kamu mau terus-terusan meringkuk di sini seperti anjing jalanan?" teriak Dian sambil melangkah masuk ke kamar isolasi Adrian yang pengap.

​Tubuh Adrian terus bergetar hebat akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah langit-langit, sampai Dian melemparkan sebuah benda ke pangkuannya. Sebuah pemantik api perak yang baru.

​"Milikmu. Bangkitlah. Buat sebuah kekacauan besar, tapi tidak perlu pakai api. Itu terlalu dr
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 240 - Hampir aja

    ​"Lo tuh nggak kuat minum, jangan sok-sokan deh!" Ujar Saka setelah keluar gedung dan menurunkan tubuh Karin.Kepalanya mendadak pening memikirkan bagaimana cara memulangkan gadis ini. Bisa habis dia dimaki-maki atau bahkan dijadikan sansak hidup oleh ayah Karin kalau sampai tahu putri tunggalnya pulang dalam keadaan teler begini.​Bukannya takut atau sadar, Karin malah mengerjap-ngerjapkan matanya yang sayu. Melihat wajah Saka yang berjarak begitu dekat di depannya, Karin justru tersenyum jahil. Dengan gerakan santai ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, membuat tubuh mereka kembali merapat.​Saka tersentak, tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Jantungnya berdegup gila-gilaan karena jarak mereka yang mengikis habis. "Karin, lepasin. Lo beneran udah nggak sadar, ya?"​Karin tidak memedulikan ucapan Saka. Gadis itu malah memalingkan wajahnya ke arah beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat di halaman gedung untuk pulang, lalu berteriak dengan suara lantang yang cempreng.​"Oii,

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 239 - Mabuk

    Sebelum Gio benar-benar pergi menjauh, Karin dengan cepat menahan lengannya.​"Maksud kamu ngomong kayak gitu apa, Gio?" desis Karin tajam, menatap mata cowok itu dengan napas memburu. "Bukannya kamu sendiri yang dengan senang hati nawarin diri buat nemenin aku ke sini?"​"Dengan senang hati?" Gio tertawa meremehkan, lalu mengentakkan lengannya hingga pegangan Karin terlepas kasar. "Gue bukan cowok bodoh yang bisa ditipu sama muka polesan hasil salon kayak lo. Cih! Jangan kepedean, Karin. Lo pikir selama sebulan ini gue deketin lo karena gue bener-bener jatuh cinta? Nggak sudi!"​Gio menyeringai sinis, menatap Karin dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Gue cuma pengen buktiin kalau gue bisa dapetin apa yang gagal ditaklukkan sama si pangeran kampus idola semua orang itu. Lo itu cuma trofi buat ego gue, tau nggak? Biar semua orang lihat, cewek yang nolak Saka mentah-mentah malah tunduk sama gue. Ya... anggap aja malam ini gue kalah bacot sama dia, tapi sejatinya, gue udah me

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 238 - Putri dongeng + Pangeran kodok

    Sore itu, Jonathan benar-benar niat. Nggak tanggung-tanggung, dia mendatangkan langsung tim penata rias profesional ke rumah. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, jemari lincah para penata rias itu sukses mengubah Karin, si gadis super cuek, menjadi seorang princess dalam semalam.​Karin berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Rambutnya yang biasa dikuncir asal-asalan kini ditata gaya half-updo yang elegan, menyisakan beberapa helai lembut yang membingkai wajah manisnya. Kacamata tebalnya sudah berganti dengan softlens, membuat sepasang matanya terlihat jauh lebih hidup.​Gaun pesta yang melekat di tubuhnya malam itu bener-bener pas. Sebuah party dress selutut berwarna putih salju, dengan detail kerah v-neck silang yang anggun di bagian dada, mengekspos garis bahunya yang indah karena modelnya yang sleeveless. Bagian bawah roknya sedikit mekar, melambai lembut setiap kali Karin mengambil langkah.​Begitu Karin keluar dari ruang r

  • Kesayangan Tuan Elian    Bab 237 - Kosong

    "Loh Sayang, ini kenapa murung?" tanya Jonathan lembut saat melihat putrinya murung. Karin menghela napas berat, jemarinya memainkan ujung bantal sofa dengan gelisah. "Yah... besok ulang tahunnya Saka.""Terus, kenapa?" tanya Jonathan santai, nadanya memancing. "Bukannya dari awal kamu emang nggak suka ya sama dia? Kok belakangan ini, sejak nggak ada kabar dan gangguan dari dia, kamu malah jadi melow begini? Mana sifat cuek anak Ayah yang biasanya?"Karin hanya terdiam, menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena hatinya sendiri pun sedang kacau bukan main. Jonathan mengusap pundak Karin dengan tangan besarnya yang hangat. "Dan soal undangan itu... kalau kamu emang nggak niat atau ngerasa terbebani buat datang, ya nggak usah datang. Nggak ada yang maksa. Ayah nggak mau lihat anak Ayah pergi ke pesta tapi mukanya kayak mau pergi melayat begitu."Karin menoleh, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi Yah... Saka bilang, aku ini

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 236 - Undangan

    Sebulan lamanya didiamkan oleh Saka, dan di sisi lain terus didekati oleh Gio, akhirnya Karin membulatkan suaranya. "Aku suka Gio. Dia nggak lembek, bisa diandalkan, dan kami juga punya hobi yang sama, suka buku," batin Karin, mencoba meyakinkan hatinya sendiri yang entah kenapa terasa kian hambar setiap harinya. Pagi itu di koridor kampus, langkah kaki Karin dan Saka saling bertentangan dari arah berlawanan. Jarak mereka mengikis, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Saka menghentikan langkahnya tepat di depan Karin. Cowok itu merogoh tasnya, lalu menyerahkan selembar undangan elegan berwarna hitam-emas. "Kalau lo nggak sibuk, lo bisa datang, kan? Walau bagaimanapun, kita tetap teman," ucap Saka. Nada suaranya terlampau tenang, tidak ada lagi getaran gugup seperti dulu. Karin menerima undangan itu. Undangan ulang tahun Saka. Di bawah kacamata besarnya, Karin menatap tulisan nama Saka di undangan tersebut, dan tanpa sadar, sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 235 -Dinding pembatas

    Beberapa hari kemudian, suasana di koridor kampus terasa sangat berbeda bagi Karin. Langkah kakinya melambat saat dari kejauhan, ia melihat kerumunan mahasiswa, khususnya mahasiswi, yang tampak heboh di dekat area loker. Di pusat kerumunan itu, berdiri Saka. Untuk pertama kalinya dalam sekian bulan terakhir, Saka kembali menjadi sosok yang dulu selalu dibicarakan orang-orang di kampus ternama ini. Cowok populer, tampan, dan ramah yang selalu dikerubungi cewek-cewek cantik. Saka tampak tertawa lepas meladeni candaan seorang mahasiswi modis di sebelahnya, bahkan dengan santai membantu membawakan beberapa buku milik cewek lain. Tidak ada lagi Saka yang berdiri sendirian untuknya dengan tampang bodoh, dan tidak ada lagi cowok nekat yang rela mengabaikan harga dirinya demi menunggu balasan pesan teks dari seorang gadis cuek. Saka yang sekarang adalah pangeran kampus yang kembali ke takhtanya. Karin menghentikan langkahnya tepat di jalur yang a

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 57 -

    Rinjani hanya duduk di kursi utama, berusaha keras tidak terlihat gemetar saat puluhan mata menanti jawabannya atas pertanyaan teknis yang bahkan belum sempat ia pelajari. Beruntung, Maya selalu sigap membisikkan kata kunci atau menyodorkan grafik yang tepat.​Setelah pintu tertutup dan

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-23
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 50 - Adik?

    "ELIAN! CINTA KU! MANA CINTA KU?!"​Sebuah lengkingan nyaring memecah ketenangan halaman depan rumah Baskara. Rinjani yang baru saja ingin bersantai di teras langsung berjengit kaget. Dari arah gerbang, muncul seorang pria dengan langkah yang... sangat gemulai, mengenakan setelan sutra motif bunga-

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 47 - Seseorang Yang gagal dilindungi Elian

    Suasana di lantai eksekutif Baskara Group terasa mencekam sejak Alexa, sekretaris senior Elian, memutuskan mengundurkan diri secara mendadak. Tanpa sekretaris yang mumpuni, ritme kerja Elian menjadi kacau, dan itu berarti temperamennya memburuk dua kali lipat.​Bapak Gunawan, sang HR Man

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 49 - Perkara Pohon Mangga

    "Bukannya kamu harusnya dengan Dokter Agus, ya?" tanya Elian sambil menuntun Rinjani masuk ke area poli spesialis.​"Enggak, mulai hari ini, tiap bulan atau kalau ada masalah aku dengan Dokter Zidan," ucap Rinjani tenang sambil menunjukkan kartu kontrol barunya."Dokter Agus sedang mengambil cuti p

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-22
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status