Masuk"Bangun! Hei, bangun! Kamu mau terus-terusan meringkuk di sini seperti anjing jalanan?" teriak Dian sambil melangkah masuk ke kamar isolasi Adrian yang pengap.
Tubuh Adrian terus bergetar hebat akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah langit-langit, sampai Dian melemparkan sebuah benda ke pangkuannya. Sebuah pemantik api perak yang baru."Milikmu. Bangkitlah. Buat sebuah kekacauan besar, tapi tidak perlu pakai api. Itu terlalu dr"Ya ampun, apa-apaan ini?! Ini beneran aku?! Aku minta orang-orang sorak buat nyium? Astaga Karin, harga dirimu jatuh ke inti bumi!" batin Karin histeris di pojok koridor kampus.Di layar ponselnya, video berdurasi 15 detik yang dikirim ke grup angkatan kampus itu terputar berulang-ulang. Di sana terlihat jelas bagaimana Karin dengan sangat santai mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, mencolek hidung cowok itu dengan jahil, lalu berteriak lantang ke arah kerumunan mahasiswa seolah sedang kesurupan."Rasanya nggak pengen masuk kelas. Pinjam mantel tembus pandang Doraemon bisa nggak sih sekarang? Biar bisa lenyap tanpa diketahui siapa pun," gumam Karin, matanya sudah berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa.Pantas saja sejak melewati gerbang kampus tadi, pandangan semua orang tertuju padanya dengan tatapan aneh. Beberapa mahasiswa yang biasanya cuek setengah mati, mendadak menyapanya dengan sok akrab. Bahkan, tadi ada mahasiswi yang terang-terangan m
Kenapa bisa ada dua orang tua sekaligus di sini, sih?!batin Saka kesal campur panik. Halaman gedung yang tadinya sudah ramai karena ulah konyol Karin, kini mendadak suram. Dua pria matang bertubuh kekar saling berdiri berhadapan, melemparkan tatapan dingin. "Wih, siapa tuh Om-om yang rambutnya agak gondrong di sebelah ayahnya Saka? Ganteng banget, gila! Apa jangan-jangan... sugar daddy-nya Karin, ya?" bisik seorang cewek dari dalam dibalik kaca pintu lobi, beberapa cewek yang ikut mengintip jalannya keributan mulai berbisik-bisik heboh. "Bukan, ih! Perhatiin deh, struktur wajahnya kan mirip banget sama Karin. Bapaknya kali!" sahut temannya. "Bapaknya? Gila, kalau bapaknya sekeren itu, gue deketin Karin biar bisa dapetin bapaknya aja, boleh nggak?" tawa cewek satunya lagi, terpukau melihat aura maskulin Jonathan. "Malam, Jo. Udah lama ya, kita nggak ketemu?" sapa Antonio santai. Jonathan mendengus malas. Tentu saja dia tahu persis siapa pria perlente di depannya ini. Mengingat si
"Lo tuh nggak kuat minum, jangan sok-sokan deh!" Ujar Saka setelah keluar gedung dan menurunkan tubuh Karin.Kepalanya mendadak pening memikirkan bagaimana cara memulangkan gadis ini. Bisa habis dia dimaki-maki atau bahkan dijadikan sansak hidup oleh ayah Karin kalau sampai tahu putri tunggalnya pulang dalam keadaan teler begini.Bukannya takut atau sadar, Karin malah mengerjap-ngerjapkan matanya yang sayu. Melihat wajah Saka yang berjarak begitu dekat di depannya, Karin justru tersenyum jahil. Dengan gerakan santai ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, membuat tubuh mereka kembali merapat.Saka tersentak, tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Jantungnya berdegup gila-gilaan karena jarak mereka yang mengikis habis. "Karin, lepasin. Lo beneran udah nggak sadar, ya?"Karin tidak memedulikan ucapan Saka. Gadis itu malah memalingkan wajahnya ke arah beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat di halaman gedung untuk pulang, lalu berteriak dengan suara lantang yang cempreng."Oii,
Sebelum Gio benar-benar pergi menjauh, Karin dengan cepat menahan lengannya."Maksud kamu ngomong kayak gitu apa, Gio?" desis Karin tajam, menatap mata cowok itu dengan napas memburu. "Bukannya kamu sendiri yang dengan senang hati nawarin diri buat nemenin aku ke sini?""Dengan senang hati?" Gio tertawa meremehkan, lalu mengentakkan lengannya hingga pegangan Karin terlepas kasar. "Gue bukan cowok bodoh yang bisa ditipu sama muka polesan hasil salon kayak lo. Cih! Jangan kepedean, Karin. Lo pikir selama sebulan ini gue deketin lo karena gue bener-bener jatuh cinta? Nggak sudi!"Gio menyeringai sinis, menatap Karin dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Gue cuma pengen buktiin kalau gue bisa dapetin apa yang gagal ditaklukkan sama si pangeran kampus idola semua orang itu. Lo itu cuma trofi buat ego gue, tau nggak? Biar semua orang lihat, cewek yang nolak Saka mentah-mentah malah tunduk sama gue. Ya... anggap aja malam ini gue kalah bacot sama dia, tapi sejatinya, gue udah me
Sore itu, Jonathan benar-benar niat. Nggak tanggung-tanggung, dia mendatangkan langsung tim penata rias profesional ke rumah. Hanya dalam waktu kurang dari satu jam, jemari lincah para penata rias itu sukses mengubah Karin, si gadis super cuek, menjadi seorang princess dalam semalam.Karin berdiri di depan cermin besar, menatap pantulan dirinya sendiri dengan perasaan campur aduk. Rambutnya yang biasa dikuncir asal-asalan kini ditata gaya half-updo yang elegan, menyisakan beberapa helai lembut yang membingkai wajah manisnya. Kacamata tebalnya sudah berganti dengan softlens, membuat sepasang matanya terlihat jauh lebih hidup.Gaun pesta yang melekat di tubuhnya malam itu bener-bener pas. Sebuah party dress selutut berwarna putih salju, dengan detail kerah v-neck silang yang anggun di bagian dada, mengekspos garis bahunya yang indah karena modelnya yang sleeveless. Bagian bawah roknya sedikit mekar, melambai lembut setiap kali Karin mengambil langkah.Begitu Karin keluar dari ruang r
"Loh Sayang, ini kenapa murung?" tanya Jonathan lembut saat melihat putrinya murung. Karin menghela napas berat, jemarinya memainkan ujung bantal sofa dengan gelisah. "Yah... besok ulang tahunnya Saka.""Terus, kenapa?" tanya Jonathan santai, nadanya memancing. "Bukannya dari awal kamu emang nggak suka ya sama dia? Kok belakangan ini, sejak nggak ada kabar dan gangguan dari dia, kamu malah jadi melow begini? Mana sifat cuek anak Ayah yang biasanya?"Karin hanya terdiam, menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena hatinya sendiri pun sedang kacau bukan main. Jonathan mengusap pundak Karin dengan tangan besarnya yang hangat. "Dan soal undangan itu... kalau kamu emang nggak niat atau ngerasa terbebani buat datang, ya nggak usah datang. Nggak ada yang maksa. Ayah nggak mau lihat anak Ayah pergi ke pesta tapi mukanya kayak mau pergi melayat begitu."Karin menoleh, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi Yah... Saka bilang, aku ini
"Duh, El! Rasanya pengen banget gue sewa tukang santet paling mumpuni se-Asia Tenggara, biar paman lo itu bisulan sebadan-badan! Kesal banget gue, masa karya seni gue dianggap kayak tumpukan koran bekas. Minimal kasih dia gatal-gatal yang nggak sembuh tujuh turunan deh, biar dia nggak sempat mik
Setelah jam yang terasa berdetak tanpa henti, akhirnya pintu ruang ICU terbuka. Dokter keluar sambil melepas maskernya. "Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Maya dengan suara gemetar, matanya menatap penuh harap sekaligus ketakutan."Kami berhasil mengembalikan ritme jantungnya, tapi kea
"Jangan pikirkan Cia sekarang. Pikirkan saja bagaimana caranya kita mengganti janin yang sempat hilang itu..."Rinjani merona hebat, jantungnya berdebar kencang saat napas hangat Elian menerpa kulit lehernya. "Aku berharap bisa memberinya dalam waktu singkat," gumam Rinjani lirih, hampir seperti b
"Pak Elian, maaf, ada tamu di bawah. Namanya Pak Adam," ucap Maya melalui interkom.Elian menghentikan aktivitasnya sejenak. Sorot matanya yang tajam sedikit melunak, namun ada seringai tipis yang muncul di sudut bibirnya. "Suruh dia ke atas sekarang," jawab Elian singkat.Beg







