Share

Bab 58 -

Author: Pipin
last update publish date: 2026-01-06 06:12:25

"Bangun! Hei, bangun! Kamu mau terus-terusan meringkuk di sini seperti anjing jalanan?" teriak Dian sambil melangkah masuk ke kamar isolasi Adrian yang pengap.

​Tubuh Adrian terus bergetar hebat akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah langit-langit, sampai Dian melemparkan sebuah benda ke pangkuannya. Sebuah pemantik api perak yang baru.

​"Milikmu. Bangkitlah. Buat sebuah kekacauan besar, tapi tidak perlu pakai api. Itu terlalu dr
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesayangan Tuan Elian    Bab 237 - Kosong

    "Loh Sayang, ini kenapa murung?" tanya Jonathan lembut saat melihat putrinya murung. Karin menghela napas berat, jemarinya memainkan ujung bantal sofa dengan gelisah. "Yah... besok ulang tahunnya Saka.""Terus, kenapa?" tanya Jonathan santai, nadanya memancing. "Bukannya dari awal kamu emang nggak suka ya sama dia? Kok belakangan ini, sejak nggak ada kabar dan gangguan dari dia, kamu malah jadi melow begini? Mana sifat cuek anak Ayah yang biasanya?"Karin hanya terdiam, menggigit bibir bawahnya seraya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa karena hatinya sendiri pun sedang kacau bukan main. Jonathan mengusap pundak Karin dengan tangan besarnya yang hangat. "Dan soal undangan itu... kalau kamu emang nggak niat atau ngerasa terbebani buat datang, ya nggak usah datang. Nggak ada yang maksa. Ayah nggak mau lihat anak Ayah pergi ke pesta tapi mukanya kayak mau pergi melayat begitu."Karin menoleh, menatap ayahnya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Tapi Yah... Saka bilang, aku ini

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 236 - Undangan

    Sebulan lamanya didiamkan oleh Saka, dan di sisi lain terus didekati oleh Gio, akhirnya Karin membulatkan suaranya. "Aku suka Gio. Dia nggak lembek, bisa diandalkan, dan kami juga punya hobi yang sama, suka buku," batin Karin, mencoba meyakinkan hatinya sendiri yang entah kenapa terasa kian hambar setiap harinya. Pagi itu di koridor kampus, langkah kaki Karin dan Saka saling bertentangan dari arah berlawanan. Jarak mereka mengikis, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Saka menghentikan langkahnya tepat di depan Karin. Cowok itu merogoh tasnya, lalu menyerahkan selembar undangan elegan berwarna hitam-emas. "Kalau lo nggak sibuk, lo bisa datang, kan? Walau bagaimanapun, kita tetap teman," ucap Saka. Nada suaranya terlampau tenang, tidak ada lagi getaran gugup seperti dulu. Karin menerima undangan itu. Undangan ulang tahun Saka. Di bawah kacamata besarnya, Karin menatap tulisan nama Saka di undangan tersebut, dan tanpa sadar, sorot matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 235 -Dinding pembatas

    Beberapa hari kemudian, suasana di koridor kampus terasa sangat berbeda bagi Karin. Langkah kakinya melambat saat dari kejauhan, ia melihat kerumunan mahasiswa, khususnya mahasiswi, yang tampak heboh di dekat area loker. Di pusat kerumunan itu, berdiri Saka. Untuk pertama kalinya dalam sekian bulan terakhir, Saka kembali menjadi sosok yang dulu selalu dibicarakan orang-orang di kampus ternama ini. Cowok populer, tampan, dan ramah yang selalu dikerubungi cewek-cewek cantik. Saka tampak tertawa lepas meladeni candaan seorang mahasiswi modis di sebelahnya, bahkan dengan santai membantu membawakan beberapa buku milik cewek lain. Tidak ada lagi Saka yang berdiri sendirian untuknya dengan tampang bodoh, dan tidak ada lagi cowok nekat yang rela mengabaikan harga dirinya demi menunggu balasan pesan teks dari seorang gadis cuek. Saka yang sekarang adalah pangeran kampus yang kembali ke takhtanya. Karin menghentikan langkahnya tepat di jalur yang a

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 234 - Saran mantan preman

    Jonathan meletakkan kunci mobilnya di atas meja. Lalu berkata. "Dari restoran, nyari angin. Kamu kenapa? Tumben mukanya ditekuk kayak cucian belum disetrika gitu?" Tanyanya santai. Melihat ekspresi tak biasa putrinya, Jonathan ikut duduk di sofa sebelah Karin. Merasa tidak bisa memendamnya sendiri, Karin akhirnya menceritakan semua kejadian di mal tadi tanpa ada yang dikurangi. Tentang Saka yang marah, dan tentang bagaimana dia membawa Gio ke tengah-tengah kencan mereka. Jonathan mendengarkan dengan saksama sambil manggut-manggut. "Jadi... pemuda yang namanya Saka itu marah besar?" "Ya gitu," Karin bersedekap, mencoba membela diri. "Tapi Yah, kalau aku mau bicara atau akrab sama siapa aja kan bebas. Lagian Saka itu bukan siapa-siapanya aku. Udah ditolak berkali-kali tapi masih ngeyel, makanya akhirnya aku kasih jurus jitu pakai Gio biar dia kapok." Jonathan terkekeh pelan, menggeleng-gelengkan kepalanya melihat keras kepal

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 233 - Ucapan selamat tinggal

    "Apaan sih lo, cupu. Sana pergi, nggak usah ikut campur," usir Saka ketus. Matanya menatap Gio dengan kilatan permusuhan. Enak saja cowok asing ini datang-datang langsung merusak suasana dan melabelinya sebagai penguntit. "Apaan sih, Saka! Kamu aja yang pergi kalau nggak suka. Gio, ayo gabung duduk di sini," potong Karin cepat. Suaranya terdengar tegas, membela Gio tanpa ragu sedikit pun. Gio tersenyum tipis, tampak dengan senang hati menarik kursi kosong di sebelah Karin lalu duduk. Setelah memesan minuman pada pelayan yang lewat, Gio kembali memfokuskan perhatiannya pada Karin. Sesekali ia melemparkan senyum hangat yang langsung dibalas dengan anggukan ramah oleh gadis itu. Dalam waktu singkat, obrolan santai dan mengalir langsung tercipta di antara keduanya. Mereka membahas soal buku, lingkungan kompleks rumah baru mereka, hingga dosen-dosen di kampus. Semuanya terasa begitu nyambung. Pemandangan itu berbanding terbalik 180 derajat saat Karin bersamanya. Bersama Gio, Karin terl

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 232 - Mengusir Benalu

    "Ah, akhirnya hari ini datang juga," batin Saka, sesekali mencuri pandang pada gadis incarannya yang berjalan dengan langkah santun namun tegas di sampingnya. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya, sebuah sensasi asing yang ia rasakan hanya pada Karin. Saka berdeham kecil, mencoba memecah keheningan. "Makasih ya, lo akhirnya mau menerima ajakan jalan gue hari ini."Karin hanya mendesah singkat, wajahnya tetap sedatar papan tulis. Setelah puluhan kali menolak ajakan cowok itu, ia akhirnya menyerah juga hari ini. Bagaimana bisa dia membiarkan pemuda di depannya ini terus-menerus mengganggu ketenangannya di kampus? Mulai dari membuntutinya di koridor, sampai sengaja mengintipnya dari balik jendela perpustakaan saat dia sedang belajar.Karin kadang heran, apakah Saka ini terlalu banyak waktu kosong atau memang tidak punya kerjaan? Padahal mereka satu angkatan di semester lima, dan tugas kuliah harusnya sudah menumpuk setinggi gunung. Tapi nyatanya, Saka tetap saja jadi co

  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 74

    "Rinjani, kamu dan Boy kembali saja ke rumah. Aku harus mengurus banyak hal setelah meninggalkan ruangan ini cukup lama," gumam Elian sambil merapikan tumpukan berkas yang sempat disentuh Hendra.​Rinjani menatap suaminya cemas. "Kamu yakin? Lalu bagaimana dengan Paman Hendra? Dia tidak akan membia

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 73 - Dua Raja di Satu Singgasana

    ​Ketegangan di lantai eksekutif Baskara Group pagi itu bisa dirasakan bahkan oleh staf paling junior sekalipun. Lorong yang biasanya sibuk, kini sunyi mencekam. Semua mata tertuju pada pintu ruangan Direktur Utama yang terbuka lebar.​Elian melangkah masuk dengan setelan jas hitam yang sempurna, la

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 71 -

    Elian duduk di kursi kayu rotan, menatap taman kecil di depannya yang sedang disirami oleh Rinjani dari kejauhan. Wajahnya kini lebih segar, guratan ketegangan yang biasanya mengunci rahangnya mulai memudar. Di hadapannya, Dokter Aris, psikiater kepercayaannya, menutup catatan medis dengan senyum s

    last updateLast Updated : 2026-03-25
  • Kesayangan Tuan Elian   Bab 76 - Dunia yang RETAK

    "May, jadi kita ketemuan?" tanya Abil di seberang telepon. Suaranya terdengar penuh harap, namun Maya hanya bisa menatap aspal di depan lobi kantor dengan pandangan kosong.​"Aku pikir lagi ya, Mas. Soalnya masih banyak kerjaan yang harus diberesin," ucap Maya pelan. Ia segera menutup sa

    last updateLast Updated : 2026-03-25
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status