LOGIN"Bangun! Hei, bangun! Kamu mau terus-terusan meringkuk di sini seperti anjing jalanan?" teriak Dian sambil melangkah masuk ke kamar isolasi Adrian yang pengap.
Tubuh Adrian terus bergetar hebat akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah langit-langit, sampai Dian melemparkan sebuah benda ke pangkuannya. Sebuah pemantik api perak yang baru."Milikmu. Bangkitlah. Buat sebuah kekacauan besar, tapi tidak perlu pakai api. Itu terlalu drBUG! BUG!Dua hantaman keras berturut-turut mendarat telak di rahang dan tulang rusuk Saka. Untuk kesekian kalinya, Saka gagal mengelak maupun membalas serangan kilat dari Gio.Cowok itu terhuyung mundur, tangan kirinya bergerak menyeka darah segar yang mulai mengalir dari sudut bibirnya yang pecah. Gila... nih anak cupu-cupu tapi teknik bela dirinya gila juga! batin Saka mengumpat. Pergerakan Gio sama sekali tidak mencerminkan anak perpus yang lemah; setiap serangannya terukur, efisien, dan sangat cepat.Gio berdiri dengan angkuh, sedikit pun napasnya tidak memburu. Ia menatap Saka yang mulai kepayahan dengan pandangan merendahkan. "Cuma segitu kemampuan lo? Pangeran kampus baru dipukul beberapa kali aja lututnya udah gemetar," ejek Gio, sengaja memancing emosi penonton di sekitar parkiran.Saka tidak menjawab. Ia mencoba fokus, mengatur napasnya yang mulai kacau, dan membaca pergerakan lawan. Begitu Gio kembali menerjang maju dengan sebuah pukulan lurus, Saka merunduk cepat memanfa
Sepulang dari kelas siang itu, area parkir luar kampus tampak cukup ramai. Namun, perhatian Saka langsung terkunci pada dua orang yang tengah berdebat sengit di dekat tiang koridor. Itu Karin dan Gio. Gio tampak mencengkeram pergelangan tangan Karin dengan kasar, menariknya paksa."Gio, lepas! Aku nggak bakal lupa ya apa yang kamu omongin semalam! kamu udah bikin malu, tahu nggak?!" bentak Karin, berusaha menghempaskan tangan Gio."Malu? Karin, gue sama sekali nggak bikin lo malu, ya! Taruhan semalam itu cuma bercanda!" kilas Gio, wajahnya tidak merasa bersalah sedikit pun."Aku bilang lepas!" teriak Karin frustrasi.Saka yang saat itu sedang berjalan bersisian dengan Amara langsung menghentikan langkah, instingnya mendesak untuk segera melangkah ke sana. Namun, Amara dengan cepat menahan lengan Saka, mencengkeramnya erat."Udah, nggak usah kesana. Itu bukan urusan kamu lagi, Saka," ketus Amara, ego terusik melihat Saka yang begitu reaktif jika menyangkut Karin.Saka menoleh, menatap
"Ya ampun, apa-apaan ini?! Ini beneran aku?! Aku minta orang-orang sorak buat nyium? Astaga Karin, harga dirimu jatuh ke inti bumi!" batin Karin histeris di pojok koridor kampus.Di layar ponselnya, video berdurasi 15 detik yang dikirim ke grup angkatan kampus itu terputar berulang-ulang. Di sana terlihat jelas bagaimana Karin dengan sangat santai mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, mencolek hidung cowok itu dengan jahil, lalu berteriak lantang ke arah kerumunan mahasiswa seolah sedang kesurupan."Rasanya nggak pengen masuk kelas. Pinjam mantel tembus pandang Doraemon bisa nggak sih sekarang? Biar bisa lenyap tanpa diketahui siapa pun," gumam Karin, matanya sudah berkaca-kaca menahan malu yang luar biasa.Pantas saja sejak melewati gerbang kampus tadi, pandangan semua orang tertuju padanya dengan tatapan aneh. Beberapa mahasiswa yang biasanya cuek setengah mati, mendadak menyapanya dengan sok akrab. Bahkan, tadi ada mahasiswi yang terang-terangan m
Kenapa bisa ada dua orang tua sekaligus di sini, sih?!batin Saka kesal campur panik. Halaman gedung yang tadinya sudah ramai karena ulah konyol Karin, kini mendadak suram. Dua pria matang bertubuh kekar saling berdiri berhadapan, melemparkan tatapan dingin. "Wih, siapa tuh Om-om yang rambutnya agak gondrong di sebelah ayahnya Saka? Ganteng banget, gila! Apa jangan-jangan... sugar daddy-nya Karin, ya?" bisik seorang cewek dari dalam dibalik kaca pintu lobi, beberapa cewek yang ikut mengintip jalannya keributan mulai berbisik-bisik heboh. "Bukan, ih! Perhatiin deh, struktur wajahnya kan mirip banget sama Karin. Bapaknya kali!" sahut temannya. "Bapaknya? Gila, kalau bapaknya sekeren itu, gue deketin Karin biar bisa dapetin bapaknya aja, boleh nggak?" tawa cewek satunya lagi, terpukau melihat aura maskulin Jonathan. "Malam, Jo. Udah lama ya, kita nggak ketemu?" sapa Antonio santai. Jonathan mendengus malas. Tentu saja dia tahu persis siapa pria perlente di depannya ini. Mengingat si
"Lo tuh nggak kuat minum, jangan sok-sokan deh!" Ujar Saka setelah keluar gedung dan menurunkan tubuh Karin.Kepalanya mendadak pening memikirkan bagaimana cara memulangkan gadis ini. Bisa habis dia dimaki-maki atau bahkan dijadikan sansak hidup oleh ayah Karin kalau sampai tahu putri tunggalnya pulang dalam keadaan teler begini.Bukannya takut atau sadar, Karin malah mengerjap-ngerjapkan matanya yang sayu. Melihat wajah Saka yang berjarak begitu dekat di depannya, Karin justru tersenyum jahil. Dengan gerakan santai ia mengalungkan kedua lengannya ke leher Saka, membuat tubuh mereka kembali merapat.Saka tersentak, tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Jantungnya berdegup gila-gilaan karena jarak mereka yang mengikis habis. "Karin, lepasin. Lo beneran udah nggak sadar, ya?"Karin tidak memedulikan ucapan Saka. Gadis itu malah memalingkan wajahnya ke arah beberapa mahasiswa yang kebetulan lewat di halaman gedung untuk pulang, lalu berteriak dengan suara lantang yang cempreng."Oii,
Sebelum Gio benar-benar pergi menjauh, Karin dengan cepat menahan lengannya."Maksud kamu ngomong kayak gitu apa, Gio?" desis Karin tajam, menatap mata cowok itu dengan napas memburu. "Bukannya kamu sendiri yang dengan senang hati nawarin diri buat nemenin aku ke sini?""Dengan senang hati?" Gio tertawa meremehkan, lalu mengentakkan lengannya hingga pegangan Karin terlepas kasar. "Gue bukan cowok bodoh yang bisa ditipu sama muka polesan hasil salon kayak lo. Cih! Jangan kepedean, Karin. Lo pikir selama sebulan ini gue deketin lo karena gue bener-bener jatuh cinta? Nggak sudi!"Gio menyeringai sinis, menatap Karin dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Gue cuma pengen buktiin kalau gue bisa dapetin apa yang gagal ditaklukkan sama si pangeran kampus idola semua orang itu. Lo itu cuma trofi buat ego gue, tau nggak? Biar semua orang lihat, cewek yang nolak Saka mentah-mentah malah tunduk sama gue. Ya... anggap aja malam ini gue kalah bacot sama dia, tapi sejatinya, gue udah me
"Mencintaiku?" Rinjani tertawa getir, suaranya pecah di antara deru angin desa yang kering. "Atau kau cuma butuh wadah untuk meluapkan segalanya lalu menghancurkannya sesukamu? Kau sudah mengatakan banyak hal, Elian, dan semua itu adalah kebohongan yang dibungkus kemewahan. Aku membencimu! Pergi da
"Aku sudah berjanji akan menjaganya pada Mama dan Papa Tuan Elian," bisik Rinjani di antara isaknya. Ia mengingat tatapan tulus kedua orang tua Elian yang memintanya untuk menjaga putra mereka."Tapi seberapa lama aku kuat, Tuan? Aku adalah wadah, tapi wadah juga punya batasnya."
Setelah Elian meminum obat dan kembali tidur, Rinjani memutuskan ini adalah akhir. Cinta yang baru tumbuh ini terlalu menyakitkan, dan ia tidak bisa lagi menjadi wadah bagi Elian yang mengkhianatinya.Ia berganti pakaian dengan kemeja sederhana dan celana panjangnya yang paling rapi. Ia
"Tuan Elian. Tuan tidak membeli saya. Tuan meminjam saya. Dan sebagai imbalannya, saya akan menjadi yang paling jujur pada Tuan.""Nyonya Kirana sudah pergi, Tuan. Sekarang waktunya Tuan memilih. Maukah Tuan memberi ruang untuk diri Tuan sendiri, atau Tuan akan tetap menjadi tawanan dari







