Masuk"Bangun! Hei, bangun! Kamu mau terus-terusan meringkuk di sini seperti anjing jalanan?" teriak Dian sambil melangkah masuk ke kamar isolasi Adrian yang pengap.
Tubuh Adrian terus bergetar hebat akibat pengaruh obat penenang dosis tinggi. Matanya yang sayu menatap kosong ke arah langit-langit, sampai Dian melemparkan sebuah benda ke pangkuannya. Sebuah pemantik api perak yang baru."Milikmu. Bangkitlah. Buat sebuah kekacauan besar, tapi tidak perlu pakai api. Itu terlalu drSepulang dari kantor, Eran menghentikan motor bututnya di seberang jalan, mengedarkan pandangan ke arah gerbang besi rumah tahanan itu. Sudah setahun berlalu sejak ayahnya, Hasan, mendekam di balik jeruji besi ini."Aku bisa. Aku pasti bisa," bisik Eran meyakinkan dirinya sendiri.Setiap kali Eran mengajukan permohonan kunjungan, Hasan selalu menolak untuk menemuinya. Namun hari ini, entah karena mukjizat apa, pintu itu akhirnya terbuka. Biar bagaimanapun, seburuk dan sekejam apa pun perlakuan pria itu dulu di masa lalu—dengan makian dan pukulan yang membekas di tubuh Eran—Hasan adalah satu-satunya darah daging yang Eran punya di dunia ini.Setelah melewati birokrasi dan pemeriksaan ketat, Eran duduk di ruang kunjungan, menunggu dengan cemas di balik pembatas kaca. Hingga akhirnya, pintu sel dalam terbuka. Sosok pria tua dengan seragam tahanan oranye melangkah keluar. Gurat wajah Hasan terlihat jauh lebih tua, rambutnya memutih, namun tatapan matanya yang tajam dan sarat akan keben
Sepulang dari kampus, Lana tidak langsung pulang ke rumah. Gadis itu justru mengarahkan mobilnya menuju kantor pusat Baskara Group. Jelas sekali, tujuan utamanya sore ini adalah menemui sang Office Boy paruh waktu yang merangkap sebagai pria incarannya.Eran.Lana melangkah keluar dari lift di lantai dasar, matanya langsung menyapu area lobi yang luas dan mengkilap. Kosong. Hanya ada beberapa resepsionis dan satpam yang menyapanya dengan hormat. Lana mendengus kesal, lalu naik ke lantai berikutnya."Di mana sih, tuh anak? Kenapa nggak kelihatan ya dari tadi?" gumam Lana dengan wajah merengut, celingukan ke kanan dan ke kiri sembari memegang tali tasnya erat-erat.Ia berjalan menyusuri koridor kaca dengan langkah menghentak. Rasa kesalnya pada Bagas di kafe tadi mendadak menguap, berganti dengan rasa rindu bercampur gemas karena pesannya sejak siang hanya dibalas Eran dengan satu huruf: "Y"."Kenapa juga punya Papa harus punya gedung setinggi dan sekeren ini sih? Lantainya banyak
Beberapa bulan kemudian, dinamika kampus mulai terasa semakin sibuk. Lana melangkah masuk ke sebuah kafe di dekat kampus dengan wajah yang ditekuk habis-habis. Matanya langsung menangkap sosok familiar di sudut ruangan."Sonya!" teriak Lana, suaranya sukses membuat beberapa pengunjung menoleh.Sonya yang tengah menikmati minumannya sedikit tersentak. "Lana..."Tanpa menunggu izin, Lana langsung mengempaskan dirinya di kursi samping Sonya. Ia sedang dalam fase "BT akut". Eran baru saja menolaknya lagi—kali ini lebih tegas, lebih logis, dan itu yang membuatnya semakin kesal. Lana butuh asupan gula dosis tinggi untuk melampiaskan emosinya."Kamu ada masalah? Wajahmu sudah seperti benang kusut," tanya Sonya heran.Lana mengembuskan napas kasar, lalu menirukan gaya bicara Eran dengan nada mengejek. "'Gue harus fokus kuliah, bukan pacaran! Kita bisa jumpa tiap hari di kampus, satu jurusan, satu kelas, kenapa juga harus pacaran?'... Begitu katanya, Son! Dia terus saja menggantung hubung
"Kita hadapi ini bersama, tapi tolong jangan pernah pergi dari aku. Itu saja mauku, Om..." bisik Sonya sembari menggenggam tangan pria itu.Antonio menatap netra gadis di depannya, lalu menghela napas panjang. "Kamu benar-benar keras kepala, Sonya."Saat Antonio mencoba berdiri untuk berpindah tempat ke area yang lebih privasi, ia tiba-tiba meringis pelan sembari memegangi pinggangnya. Gerakannya tertahan, dan wajahnya sedikit memucat."Luka baru lagi?" tanya Sonya dengan nada yang mendadak dingin namun sarat akan kekhawatiran. "Peluru?" sambungnya singkat.Antonio hanya mengangguk tipis. Beruntung peluru itu hanya menyerempet bagian pinggang dan sudah berhasil dikeluarkan secara mandiri sebelum ia menemui Sonya. Luka-luka seperti ini sudah menjadi "makanan harian" yang ia santap sejak lama di dunia gelapnya.Sonya mengembuskan napas panjang. "Sampai kapan calon suamiku ini bakal luka terus? Nanti yang membekas di badan Om cuma luka-luka ini, bukan aku," keluh Sonya, mencoba meny
"Papa!" teriak Lana sembari menggebrak pintu. Elian yang tengah serius meninjau laporan di meja kerjanya sampai tersentak dan hampir menjatuhkan pena. "Ya ampun, Lana! Kamu mau bikin Papa masuk rumah sakit karena jantungan?" Elian mengurut dadanya, menatap putrinya yang sudah duduk dengan wajah ditekuk di depannya."Pa, kenapa Eran nggak kerja hari ini?" tanya Lana tanpa basa-basi.Elian menghela napas, mencoba kembali tenang. "Ini hari Minggu, Lana. Dia masih mahasiswa dan butuh hari libur, bukan? Papa bukan mandor yang kejam.""Terus kalau Eran bakal kena bully kalau diistimewakan ?"Diistimewakan?" Elian menaikkan sebelah alisnya. "Kamu pikir karena Eran kenalan kamu, Papa bakal kasih keistimewaan? Di kantor, dia bukan siapa-siapa bagi Papa. Paham?" tegas Elian.Rinjani masuk ke ruangan sambil membawa camilan, tersenyum kecil melihat tingkah suami dan putrinya. Ia duduk di samping Lana dan mengusap bahunya. "Jadi benar, kamu beneran menyukai pria itu?" tanya Rinjani lembut.
Setelah dari ruangan ayahnya,Lana keluar dari ruangan dengan langkah terburu-buru,lorong tadi sudah sepi, membuat nya mencari Eran kesudut lain. "Di mana sih dia? Cepat banget hilangnya!" gumam Lana kesal. "Cari siapa, Tuan Putri?" Lana tersentak. Eran tiba-tiba muncul dari balik pilar besar sambil meletakkan ember pel di tangannya. Pria itu berdiri santai, menatap Lana dengan pandangan menyelidik yang khas. "Nyari lo lah!" jawab Lana jujur, napasnya masih sedikit terengah. "Gue? Buat apa? Lo ada masalah apa lagi sama gue?" tanya Eran sambil melipat tangan di dada. "Bukan masalah. Ini... gue ada hadiah buat lo, sekalian permintaan maaf," ujar Lana sembari menyodorkan kotak hitam yang sejak tadi ia sembunyikan di balik tasnya. Eran mengernyitkan dahi, menatap kotak itu dengan ragu. "Ini apa? Minta maaf buat apa?" "Karena gue udah bikin lo tertahan di pusat rehabilitasi cukup lama." Eran terdiam sejenak. Ia menatap kotak mahal itu, lalu kembali menatap Lana. Ia sempat
Sore itu di studio baru "Boy’s Touch", Boy sedang sibuk dengan kapur jahitnya di atas kain beludru. Tiba-tiba, pintu kaca studionya terbuka dengan denting lonceng yang kencang. Masuklah Nabila dengan gaya catwalk seolah-olah lantai studio itu adalah panggung Paris Fashion Week."Boy! Miss me?" s
"Bagaimana dengan pembelian saham tambahan itu? Kenapa laporannya belum masuk?!" bentak Hendra."M-maaf, Tuan Hendra. Ada kendala teknis dari bank koresponden di Kamboja," jawab sekretaris itu dengan suara bergetar. "Sistem mereka menolak otorisasi transaksi kita sejak pagi tadi."
"Duh, El! Rasanya pengen banget gue sewa tukang santet paling mumpuni se-Asia Tenggara, biar paman lo itu bisulan sebadan-badan! Kesal banget gue, masa karya seni gue dianggap kayak tumpukan koran bekas. Minimal kasih dia gatal-gatal yang nggak sembuh tujuh turunan deh, biar dia nggak sempat mik
Boy melangkah gontai menuju parkiran.Tanpa berpikir panjang, ia melajukan kendaraannya menuju kediaman Elian. Namun, tujuannya kali ini bukan sang kakak, melainkan sosok yang selalu punya sisi lembut untuk mendengarkan keluh kesahnya.Sesampainya di sana, Boy langsung menghampiri Rinjani yang teng







