Mag-log inPonsel Elian di atas nakas bergetar hebat tepat setelah ia merebahkan diri di samping Rinjani. Layarnya menyala, menampilkan nama "Darmono".
Elian menghela napas, ia tahu jika pria itu menelpon di jam seperti ini, artinya ada sesuatu yang sudah tidak bisa ditahan lagi oleh jalur hukum biasa.Elian bangkit pelan agar tidak mengejutkan Rinjani, lalu melangkah ke balkon kamar."Ya, Darmono?" sapa Elian rendah."Elian, aku baru saja mendapat laporan dari timBerbulan-bulan lamanya, penolakan demi penolakan menjadi asupan harian bagi Lana. Namun, gadis itu memiliki keteguhan hati yang keras kepala. Hingga tiba di hari itu, di sebuah sore yang tenang di taman pusat rehabilitasi, pemandangan di depannya membuat napas Lana tertahan. Eran sedang duduk di bawah pohon besar, tangannya sibuk menggoreskan sketsa di atas kertas. Wajahnya tidak lagi sepucat mayat; ada rona kehidupan yang kembali menghiasi kulitnya. "Eran!" teriak Lana gembira, setengah berlari menghampiri pria itu. Eran mendongak. Matanya yang tajam kini terlihat lebih jernih dan fokus. Ia memperhatikan Lana dari ujung kaki hingga ujung kepala. Lana hari ini tampil berbeda; ia mengenakan gaun floral selutut yang manis, dan rambut panjangnya kini berwarna cokelat terang yang berkilau tertimpa cahaya matahari. Jantung Lana berdetak tak keruan saat Eran terus menatapnya tanpa kedip. Apakah dia terpesona? batin
Begitu didalam mobil, yang hari itu ia ditemani ayah nya, Alana bersandar di pundak kokoh Elian. Pa..." suaranya serak karena terlalu banyak menangis di pusat rehabilitasi tadi. "Bagaimana kabar ayah Eran? Papa pasti tahu sesuatu, kan?" "Papa sudah menyelidiki sedikit latar belakang mereka. Ayahnya dulu pebisnis yang cukup terkenal, punya nama besar. Tapi menurut pengakuannya, semuanya hancur karena skandal dan kesalahan putranya sendiri, Eran. Itulah yang membuatnya menjadi monster." Jawab Elian tanpa menutupi apapun. Lana terdiam sejenak, membayangkan bagaimana Eran memikul beban sebagai penyebab kehancuran keluarganya setiap hari. "Tapi setelah semua siksaan itu? Apa ayahnya akan dibiarin gitu aja, Pa?" "Siapa bilang, Sayang? Ayahnya sudah dipenjarakan sekarang. Dia dijemput paksa pagi tadi." Lana tersentak, ia mengangkat kepalanya dari bahu Elian. "Dipenjara?" "Maaf kalau Papa mengambil keputusan ini tanpa bicara denganmu. Tapi dia memang sudah lama menjadi perusuh di
Lana menjalani hari-harinya di kampus dengan perasaan yang tidak menentu. Meski di ruang kelas, pikirannya sering kali terbang ke sebuah bangunan putih di pinggiran kota yang dijaga ketat. Begitu hari libur tiba, Lana tidak membuang waktu. Ia segera meminta supirnya mengantar ke pusat rehabilitasi tempat Eran berada. Begitu sampai di taman belakang, Lana melihat sosok yang ia cari. Eran sedang duduk di bangku kayu. "Eran!" seru Lana sambil melambaikan tangan dengan riang, mencoba mencairkan suasana. Namun, Eran tidak membalas senyuman itu. Ia justru menatap Lana dengan pandangan yang begitu dingin, seolah-olah Lana adalah musuh terbesarnya. Saat Lana mendekat, Eran berdiri dengan sentakan kasar. "Ngapain lo ke sini?" desis Eran, suaranya rendah namun penuh dengan kemarahan yang tertahan. "Gue cuma mau lihat keadaan lo, Eran. Dokter bilang lo mulai membaik, dan—"
"Di mana ini?" tanya Eran lirih. Suaranya serak, nyaris tak terdengar. Matanya yang sayu mengerjap berkali-kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya lampu neon yang putih menusuk. Begitu menoleh, ia mendapati Lana duduk di sampingnya dengan mata yang masih sembap. "Rumah sakit," jawab Lana singkat. Suaranya bergetar, ada campuran antara lega dan sedih di sana. Eran melirik lengannya. Ada selang infus yang tertancap di kulitnya yang pucat. Ia mencoba bergerak, namun seluruh tubuhnya terasa seperti dihantam beton—kaku dan sakit luar biasa. Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Seorang dokter masuk membawa papan catatan medis, menatap Eran sejenak sebelum beralih kepada Lana yang langsung berdiri tegak. Dokter itu menjelaskan secara rinci kondisi Eran. Bukan hanya soal malnutrisi dan luka-luka fisik yang dideritanya, tapi juga tentang zat kimia yang mulai merusak sistem saraf Eran akibat penggunaan obat-obatan terlarang tersebut. Lana mendengarkan dengan napas tertahan. Ia
"Eran... lo gapapa?" tanya Lana saat mereka berpapasan di gerbang kampus keesokan harinya. Awalnya Lana sudah bertekad untuk mogok bicara. Ia marah, kecewa, dan takut setelah tahu uangnya dipakai untuk membeli barang haram. Namun, melihat Eran yang berjalan sempoyongan dengan wajah sepucat kertas dan keringat dingin yang membasahi pelipisnya. Hatinya tetap saja terenyuh. Tanpa memedulikan tatapan mahasiswa lain, Lana menarik tangan Eran menuju area taman kampus yang sepi. Begitu sampai di sana, Lana langsung menarik lengan baju Eran lebih tinggi. "Eran, luka ini... kenapa makin banyak? Ini bukan cuma lebam, ini luka baru!" seru Lana ngeri melihat bekas sabetan yang masih memerah di kulit pria itu. Eran tidak menanggapi rasa khawatir Lana. Pikirannya sedang kalut. Tubuhnya terasa sakit luar biasa, saraf-sarafnya berteriak meminta "asupan" yang semalam ia habiskan dengan rakus. Di matanya saat ini, Lana bukan lagi teman sekelas atau gadis yang harus ia jauhi, melainkan satu-satu
Setelah hari itu, semua berjalan normal di kampus. Namun, pada hari ketiga dan keempat, Eran tidak menampakkan batang hidungnya. Lana sempat merasa heran, bahkan ada sedikit kekosongan di bangku sebelahnya. Baru pada hari kelima, Lana melihat pria itu kembali duduk di sampingnya dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya."Lo mau tahu apa? Bentar lagi dosen masuk..." gumam Eran tanpa menoleh."Judes amat, lo kena— Wait! Lo kenapa?!" Lana memekik pelan. Saat Eran hendak meletakkan tasnya, lengan kaos panjangnya tak sengaja tersingkap, memperlihatkan sisa luka terbuka dan lebam biru gelap yang mengerikan di sepanjang lengan bawahnya.Eran segera menarik turun lengan kaosnya, tak peduli. Baginya, rasa perih itu sudah menjadi teman akrab setiap malam."Lo beli salep kek, atau apa... itu lukanya bisa infeksi, Eran!""Gue nggak ada uang, paham?" ujar Eran singkat, lalu menguap lebar seolah luka-luka itu hanyalah goresan kucing.
"Eh, Bil, nabila... tunggu dulu! Ini nggak kayak yang lo pikirin, Sayang! Listen to me dulu, ini..." Boy mencoba mendekat dengan tangan terbuka, bermaksud menjelaskan."Nggak kayak yang aku pikirin gimana?!" potong Nabila histeris. Ia menunjuk ke arah bayi itu. "Mukanya... muk
"El... kalau Sarah bilang itu anak lo, gue cenderung percaya kalau dia nggak bohong. Dia bukan tipe wanita yang suka memanipulasi hal rendah kayak gitu, gue kenal dia," gumam Boy pelan. "Tapi masalahnya... Rinjani. Sialan, El! Kalau Rinjani tahu, hidup lo bakal berantakan. Lo tahu sendiri Rinjani
"Tenang, Elian... Tenang," gumamnya, mencoba mengatur napas yang terasa semakin pendek. "Sarah sudah pernah tidur dengan pria lain. Dia pernah menikah, dia punya masa lalu yang kelam. Mungkin itu bukan anakmu. Ya, mungkin dia hanya mencari kambing hitam karena dia sudah bangkrut."Pikiran itu menj
Sudah tiga hari berlalu sejak pertengkaran hebat di taman itu, dan selama itu pula ponsel Boy tidak aktif. Pesan-pesan Maya hanya berakhir dengan centang satu yang membeku."Udah tiga hari, Mas Boy kenapa nggak bisa dihubungi ya?" gumam Maya gelisah."Maya..." Sebuah suara serak memecah keheninga







