LOGINDiego menghela napas panjang, menatap lekat manik mata indah milik wanitanya.Freya membalas tatapan itu dengan wajah penuh harap. Jawaban yang keluar dari bibir Diego akan menjadi penentu, 'Apa ia masih pantas mengemis cinta, atau harus tahu diri dan mundur.'Setelah hening selama beberapa detik, Diego akhirnya bersuara. "Jangan berharap banyak pada pria sepertiku. Sejak awal kamu tahu, aku tidak akan melibatkan perasaan hanya karena kita sudah melewati malam bersama. Bukan hanya kamu wanita yang pernah tidur denganku, Dokter Freya Xiana!"Mendengar jawaban itu, Freya tersenyum kecut. Ia mengangguk paham, lalu melepas genggaman tangannya dari Diego dan berdiri."Lagi-lagi aku memperlihatkan kebodohanku hanya karena cinta yang semu." Freya mengusap bibir dengan kasar, menahan agar tidak menunjukkan perasaan sakit hatinya. "Setelah malam ini, aku tidak akan sebodoh ini lagi. Mari kita selesaikan perjanjian kerja sama kita. Aku akan memberimu kepuasan seperti yang kamu inginkan!"F
Tiba di mansion mewah Naga Emas, Freya langsung disambut oleh empat orang pelayan wanita yang kemudian mengantarnya menuju kamar utama.Di dalam kamar, para pelayan meminta Freya untuk mengenakan lingerie seksi transparan berwarna merah tua yang telah disiapkan khusus oleh Diego."Aku satu-satunya wanita yang pernah masuk ke dalam kamar ini, 'kan?" tanya Freya pada salah satu pelayan, mencari kepastian. "Paman bahkan tidak pernah membawa wanita murahannya ke halaman mansion ini, bukan begitu?" Ia menyempitkan mata.Pelayan itu tidak menjawab, hanya menganggukkan kepala sedikit dengan sopan.Setelah memastikan Freya didandani secantik mungkin, mereka buru-buru melangkah keluar dari kamar utama, agar tidak salah bicara.Tak lama, beberapa pelayan lain datang membawa hidangan mewah, lalu menatanya dengan rapi di atas meja makan yang terletak di balkon kamar.Freya hanya duduk diam di tepi ranjang, menatap ke arah para pelayan yang sibuk berlalu-lalang."Makanan sudah siap, Nona," la
Di Meksiko, Dani baru saja menghabiskan sepotong roti pemberian seorang anak kecil. Sama seperti hari-hari biasa, entah darimana anak kecil itu tahu keberadaannya setiap pagi. Ia selalu ditemukan dan diberi makanan enak.Deg!Saat bersiap meninggalkan tempat peristirahatan di depan sebuah toko, sekilat bayangan wanita yang sangat familier menarik perhatiannya.Dengan langkah kaki tergesa, Dani bergegas menghampiri wanita paruh baya itu."Mami!" Suaranya parau, menahan tangis yang nyaris pecah saat melihat wanita itu benar-benar ibunya. "Mam!"Wanita paruh baya yang baru saja turun dari mobil mewah itu melangkah mendekat, lalu memeluk erat tubuh putranya yang kini berpenampilan seperti gelandangan di negara orang."Mami ... akhirnya Mami datang. Kenapa Mami lama sekali menyadari kalau aku tidak ada di Atalia? Aku hampir gila berjuang bertahan hidup di sini tanpa uang dan makanan," isak Dani di pelukan ibunya.Wanita bernama Tiara itu hanya menghela napas dalam-dalam. "Masuk ke mo
Baru saja Diego hendak mengunci pergerakan Freya dalam pelukannya, seorang petugas gudang arsip tiba-tiba melangkah mendekat.Pelukan itu terlepas seketika. Freya berjalan cepat meninggalkan Diego untuk menghampiri si petugas."Bagaimana? Apa data yang saya minta ketemu?" tanya Freya tak sabar."Semua ada di sini, Bu Freya. Pada tahun 2001, memang ada seorang wanita bernama Nyonya Giani yang melahirkan bayi perempuan di rumah sakit ini. Nama anak itu ... Freya Xiana."Tubuh Freya seketika membeku. Dengan tangan sedikit gemetar, ia mengambil dokumen yang disodorkan dan langsung membacanya.Semua tertulis jelas, tanggal lahir, jenis kelamin, hingga nama lengkap kedua orang tuanya."Jadi benar ... aku anak kandung Mama dan Papa?" gumam Freya lirih.Ada sedikit harap dalam hati kalau semua ini hanya mimpi buruk. Selama ini, ia tidak pernah mendapatkan kasih sayang tulus dari kedua orang tua yang membesarkannya.Saat Freya melihat foto sepasang suami-istri di ruang rahasia Diego beb
"Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu, Dokter Freya?" Lionel menatap Freya lekat, menyadari ada beban yang dipikirkan oleh teman kuliahnya.Saat masih berkuliah, Freya berteman cukup akrab dengan Lionel, salah satu mahasiswa terpintar yang berhasil mendapatkan beasiswa hingga jenjang S2.Freya hanya tersenyum kecil sambil menggeleng, berusaha menyembunyikan keluh kesahnya."Kalau kamu butuh bantuan atau sekedar teman curhat, kamu bisa menghubungi aku. Nomor teleponku masih yang lama," lanjut Lionel menawarkan bantuan."Iya, terima kasih," ucap Freya sambil menghela napas dalam. "Ngomong-ngomong, sejak kapan kamu bekerja di rumah sakit ini?" tanyanya.Lionel tersenyum. "Sebenarnya aku tidak bekerja di rumah sakit ini. Apa kamu lupa? Aku ini Dokter Bedah di rumah sakit sebelah."Kening Freya berkerut dalam. "Lalu, kenapa kamu ada di sini?" Ia menoleh ke kiri dan kanan, memperhatikan sekitar."Aku di sini mengantar Kakak iparku yang melahirkan. Kebetulan suaminya, sedang bek
Setibanya di rumah sakit bersalin terbesar di Atalia, Freya berjalan cepat menuju meja administrasi.Dengan napas terengah-engah, ia menatap petugas di depannya lalu mengatakan. "Selamat malam, Sus. Saya ingin mengecek data rekam medis persalinan pada tahun 2001," ujar Freya, mencoba menstabilkan suara yang hampir habis. "Saya butuh konfirmasi apa benar pada tahun itu, seorang wanita bernama Giani pernah melahirkan bayi perempuan di rumah sakit ini?""Maaf Bu, untuk membuka rekam medis pada tahun itu, prosedurnya harus melalui persetujuan manajemen, kepala rekam medis, atau Ibu harus membawa surat kuasa kalau itu bukan atas nama Ibu sendiri."Freya menghela napas panjang. "Saya sangat paham prosedurnya, Sus. Saya sendiri adalah Dokter Kandungan di klinik Cahaya. Justru karena ini menyangkut asal-usul kelahiran saya sendiri, saya harus memastikannya sekarang."Ia memajukan tubuhnya sedikit. "Saya hanya minta Anda mengecek apa ada rekam medis persalinan atas nama Ibu Giani di tahun 20
Freya menyembunyikan senyum kemenangan saat melihat kedua orang menjijikkan di hadapannya mati kutu karena salah tingkah."Oh iya, maaf ya, Bu Nadia. Tadi saya salah dengar informasi dari Sekuriti. Ternyata kebocoran gasnya ada di unit lain, bukan di unit Anda. Mungkin karena panik jadi saya salah
"Lakukan, Baby," pinta Diego dengan tatapan mesum."Aku tidak bisa, Paman ... bagaimana caranya?" tanya Freya dengan napas yang mulai memburu.Diego memijat kening sesaat, menahan gairah yang meluap, lalu kembali menatap Freya. "Ingat apa yang aku lakukan padamu malam itu? Permainan yang membuatm
"Paman ... sendirian di sana?"Freya memberanikan diri bertanya, sambil meremas ujung pakaian erat-erat, ia tahu betul kalau sikapnya bisa dibilang terlalu mencampuri urusan pribadi yang mungkin tidak akan disukai oleh Diego.Namun, respons Diego justru di luar dugaan. Bukannya marah atau memutus
"Ya, aku pasti akan datang, Ma," jawab Freya dengan suara lesu yang dipaksakan.Jika ibunya yang memohon seperti ini, ia sama sekali tidak memiliki alasan untuk menolak.Dani memang licik, memanfaatkan orang tuaku sebagai senjata, batin Freya penuh amarah."Mama senang sekali mendengarnya, Sayang







