Mag-log in"Tubuh ini sangat indah. Ohhh, aku sangat suka. Terima kasih Tuhan, akhirnya aku mendapatkan kesenangan di dunia."Tawa pria tunawisma itu pecah, menatap tubuh polos Laura dari ujung kaki sampai kepala.Sangat indah dan memesona. Meski kulit putih mulus itu terdapat noda muntahan dan bau makanan basi yang menyengat.Ditatap seperti ingin ditelan hidup-hidup, membuat Laura semakin histeris.Rasa jijik tak mampu lagi ia ungkapkan dengan kata. Isi lambungnya tumpah, dan tak bisa lagi dikeluarkan."Tuan Diego! Tolong ampuni aku! Kevin! Di mana kamu? Tolong aku! Tolong!"Suara jerit histeris dan raungan memohon ampun dari mulut Laura bergema memenuhi seluruh sudut ruangan berdinding beton yang dingin itu.Namun, tidak ada rasa iba sedikit pun di mata pria tunawisma yang sengaja disewa untuk memberikan pembalasan setimpal."Gadisku Sayang, kita mulai saja sekarang ya. Aku sudah tidak sabar."Pria itu menurunkan resleting celananya dengan terburu-buru sambil terus memeta lekuk tubuh Laura ya
Mata Laura perlahan terbuka. Kesadarannya perlahan kembali dengan kepala yang terasa berdenyut hebat.Efek sisa gas beracun masih menyengat paru-paru membuat tenggorokannya terasa terbakar dan pandangannya buram.Saat ia mencoba menggerakkan kedua tangan untuk mengusap wajah, sensasi dingin dan kasar langsung menyentak sarafnya."Ugh!"Kedua pergelangan tangannya terikat kuat dengan rantai besi yang menggantung ke langit-langit kamar.Tubuhnya terkulai kaku di atas lantai semen yang dingin dan kotor."K-kenapa ... di mana ini?" rintih Laura dengan batuk-batuk kecil.Saat matanya menyesuaikan dengan pendar lampu temaram yang berkedip-kedip, selimut terpal yang menutupi tubuhnya meluncur jatuh.Laura membelalak lebar saat menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun, sama persis seperti saat ia dilumpuhkan di kamar hotel."Kevin! Kevin, kamu di mana!" jerit Laura panik, suaranya bergema di dalam ruangan berdinding beton tebal tanpa jendela itu. "Aku di mana? Kevin! Apa yang kam
"Tuan, missi pertama selesai! Tidak ada korban dari tim kami. Semua anak buah Kevin tumbang. Lokasi sudah dibersihkan. Mayat-mayat mereka sudah kami buang ke danau agar dimakan buaya seperti perintah Tuan."Kabar bersihnya lorong hotel bintang lima hingga berhasil ditangkapnya Kevin dan Laura tanpa celah mendarat cepat di telinga Diego.Di dalam ruang kerja pribadi mansion Foster yang temaram, Diego meletakkan ponsel di atas meja kayu mahoni setelah mendengar informasi itu.Diego menghembus napas panjang, merapikan lengan kemejanya yang tergulung.Di sofa seberang, Freya duduk anggun sambil menyesap teh hangat. Wajah cantiknya memancarkan ketenangan.Ia sudah mendengar laporan Yoss secara langsung mengenai eksekusi penangkapan dua ular yang selama ini mengacaukan hidup mereka."Kevin dan Laura sudah dalam perjalanan ke vila tengah hutan, Baby," tutur Diego, berjalan mendekati istrinya, melangkah tegap lalu mendudukkan tubuh tepat di samping Freya.Ia merengkuh pinggang ramping sang
Pertempuran peluh di dalam kamar hotel belum juga usai. Tanpa mereka sadari di luar ruang kamar mewah itu, pasukan Diego sedang menyiapkan tabung gas khusus.Ruth mengode dengan gerakan tangan agar pengawal lain menyegel celah udara di bawah pintu dengan selotip kedap suara.Sebuah selang bening tipis berukuran mikroskopis dimasukkan secara perlahan melewati lubang kunci yang sudah dilubangi secara presisi."Ini racun gas yang sama yang dipakai anak buah Kevin untuk melumpuhkan Zhue di mobil," desis Ruth dingin, matanya menatap tajam lewat monitor pemantau. "Perintah Tuan Diego dan Nyonya Freya sudah jelas. Biarkan kedua orang ini merasakan siksaan dan penderitaan yang sama persis seperti yang dialami Nona Zhue.""Pembalasan yang memang pantas mereka dapatkan!" kekeh pria di depan Ruth.Tombol katup dibuka. Gas beracun tak berwarna dan tak berbau itu menyembur halus membaur dengan udara kamar VIP yang pengap oleh aroma keringat pertempuran haram.Di atas ranjang, erangan gairah La
"Ah! Ah! Kevin! Teruskan, lebih cepat lagi!" racau Laura sambil memejamkan kedua mata."Sangat sempit, kenapa bisa serapat ini?" desah Kevin, menghentakkan tubuhnya turun naik dengan ritme cepat."Aku ... ah! Sshhhh! Merawatnya untuk Diego!" jawab Laura dengan napas terengah-engah."Pria itu lagi! Dia tidak akan mendapatkan kenikmatan ini. Tidak sebelum aku bosan!" dengkus Kevin."Euhmm! Jangan gila Kevin," racau Laura menggigit bibirnya.Desahan napas yang tertahan dan desakan gairah terus bergema menyelimuti setiap sudut kamar presidential suite yang temaram itu."Ahh! Auwwhhhh!"Laura mengerang dalam kepasrahan, jemari lentiknya mencengkeram sprei sutra secara kasar saat Kevin memacu irama pertempuran mereka di atas kasur empuk."Ahh ... Kevin! Ssstthhh ... lebih cepat Sayang ...." bisik Laura mendayu-dayu dengan mata masih terpejam, menyerahkan seluruh kesadarannya pada gairah membakar yang menguasai pikiran."Kamu selalu luar biasa, Laura ...." desis Kevin parau di sela napas y
"Jangan lupa janjimu malam ini, Cantik," kekeh Kevin berbicara dengan Laura di telepon."Aku tidak lupa. Kalau aku lupa, kamu pasti akan mendatangiku ke rumah sakit. Aku tidak akan membiarkanmu melakukan hal gila seperti itu!""Hahahaha," tawa Kevin pecah. "Kamu sudah tahu kegilaanku. Jadi, jangan pernah kecewakan aku. Karena aku gagal menikmati tubuh indah gadis manja itu, kamu harus menggantikannya sampai aku mendapatkan mainan baru sebagai penggantimu nanti.""Kamu gila! Sampai kapan, hah!""Ya, aku memang sudah tergila-gila dengan permainan panasmu di ranjang Sayang. Aku ingin kamu memanjakanku lagi. Asal kamu tahu, tidak ada wanita yang bisa membuatku puas sepertimu.""Sial! Aku tidak mau menjadi pemuas nafsumu! Kamu sudah tahu tujuanku, bukan? Kalau aku berhasil mendapatkan Diego, aku tidak ingin kamu mengganggu hubunganku dengan dia!""Ya, ya, ya," balas Kevin sedikit kecewa. "Untuk itu, aku ingin bersenang-senang denganmu sampai aku bosan. Jadi, tolong layani aku dengan baik,
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan







