LOGINKeesokan paginya, Zhue dan Yenzing melangkah keluar kamar dengan wajah yang tampak segar bugar.Kulit putih Zhue terlihat bersih berseri, tanpa ada jejak lelah sedikit pun dari malam pertama mereka yang seharusnya menjadi malam paling brutal.Berbeda jauh dengan Freya yang justru terlihat kelelahan dan menguap beberapa kali, akibat semalam suntuk harus melayani keperkasaan sang suami tanpa ampun."Kak," sapa Zhue ramah, melangkah mendekati meja makan.Ibu satu anak itu menoleh perlahan, tersenyum manis meski kedua tangannya tengah sibuk mengaduk kuah sup di dalam panci besar."Ada apa, Zhue?" Freya menatap gadis muda itu dengan mata setengah menyipit menahan kantuk. "Kamu tidak keliatan lelah sama sekali. Berbeda sekali dengan aku saat pertama kali menjadi pengantin baru dulu ...."Ia menoleh sedikit, melirik tajam ke arah Diego yang tengah duduk santai menyeruput kopi hangatnya.Zhue hanya tersenyum simpul, lalu menarik kursi dan duduk berdampingan dengan Yenzing."Sebenarnya ak
"Persiapkan dirimu untuk malam ini," goda Yenzing berbisik di telinga istrinya.Zhue melirik suaminya penuh curiga. "Memang kamu bisa melakukannya? Bukannya kamu pernah bilang kalau kamu belum berpengalaman."Yenzing terkekeh pelan. "Meskipun baru pertama kali, seorang pria tentu punya insting untuk membimbing istrinya. Secara naluriah, kita pasti bisa melakukan hubungan itu jika dilakukan atas dasar cinta."Zhue langsung terdiam. Detak jantungnya berdegup tak beraturan. Seharusnya ia senang, karena malam ini adalah malam yang ditunggu, apalagi selama berpacaran, ia selalu memancing Yenzing untuk melakukan itu, namun sekarang ....Glek! Berulang kali Zhue menelan ludah untuk membasahi tenggorokan yang terasa kering."Jangan takut, Sayang," ucap Yenzing mesra. "Aku akan melakukannya dengan perlahan, kita akan sama-sama menikmatinya. Tidak akan lecet." Pria itu terkekeh mesum."Yenzing .... " Bukannya tenang, Zhue malah semakin berdebar-debar.Setelah malam resepsi yang panjang seles
Dua bulan berlalu begitu cepat. Hari yang dinantikan oleh Zhue selama ini akhirnya terwujud. Setelah badai dan rintangan berat berhasil dilewati olehnya, ia akhirnya bisa bersanding dengan Yenzing di altar.Kondisi psikis Zhue kini sudah benar-benar stabil. Trauma berat yang sempat merusak dunianya berangsur-angsur pulih seiring berjalannya waktu dan ketulusan cinta Yenzing, membuatnya kembali menjadi Zhue yang ceria seperti dulu.Zhue berdiri di depan cermin panjang. Menatap pantulan wajahnya dengan riasan pengantin yang masih segar dan sempurna.Senyum di bibirnya mengembang indah, mengagumi kecantikan dirinya sendiri dalam balutan busana istimewa."Sudah siap, Sayang?" tanya Freya yang baru saja meletakkan alat rias ke atas meja. Ia menatap Zhue, tersenyum kecil saat ingatan masa lalunya berputar kembali ke hari pernikahannya dengan Diego satu tahun yang lalu."Sudah, Kak. Terima kasih banyak," ucap Zhue dengan suara bergetar menahan tangis haru."Jangan menangis, nanti riasa
"Tidak! Menjauh!" Zhue berteriak kencang dan terus meronta ketakutan.Setiap kali ada yang membuka pintu kamar tempatnya beristirahat, Zhue langsung berlari dan bersembunyi di bawah kolong tempat tidur.Wajah gadis itu tampak pucat pasi. Tubuhnya gemetar hebat dengan kedua tangan yang mencengkeram erat jemarinya sendiri.Tatapan matanya terlihat sangat tajam, mengamati sekitar dengan ketakutan luar biasa seolah seluruh ruangan itu dipenuhi oleh binatang buas yang siap menerkamnya kapan saja.Zhue terisak pilu. Air matanya mengalir kian deras diiringi suara napas yang memburu panik."Aku tidak mau! Menjauh! Tolong pergi," isak Zhue ketakutan.Perasaannya berkecamuk hebat. Ada luka batin dan rasa trauma yang begitu besar, merusak ketenangan jiwanya dan sangat sulit untuk dihilangkan begitu saja."Nona Zhue, jangan takut ...." Pelayan wanita paruh baya itu mencoba melangkah mendekati ranjang dengan hati-hati. "Nona, saya di sini hanya ingin membantu Nona mengganti pakaian Nona. Sud
"Semuanya sudah berakhir! Aku sudah kehilangan segalanya!"DOR!Asap mesiu mengepul tipis, menguar memenuhi ruangan beton yang sempit dan pengap.Dentuman suara tembakan baru saja mereda, menyisakan denging panjang di telinga. Namun, apa yang terjadi selanjutnya justru jauh di luar dugaan.Bukannya menembak Kevin, Laura justru menembak kepalanya sendiri.Sadar tidak ada lagi masa depan untuknya. Karier hancur, martabatnya telah diinjak-injak, dan pengampunan dari Diego maupun Freya adalah hal yang mustahil didapat.Neraka dunia yang diciptakan untuknya ini tidak akan pernah berakhir meski ia berhasil membunuh Kevin.Wanita itu tewas seketika di tempat, dengan mata terbuka lebar dan menatap kosong, tepat di hadapan mata kepala Kevin sendiri.Darah segar mengalir membasahi lantai, menciprati sekujur tubuh Kevin yang telanjang dan penuh luka.Pria itu terpaku kaku, matanya membelalak lebar menatap mayat Laura yang tergeletak mengenaskan di bawah kungkungannya. Otak Kevin mendadak ko
"Dia tidak mungkin lari jauh. Obat itu pasti sudah merusak saraf kesadarannya," seru pria bertopi hitam."Ikuti saja jejak ranting yang patah ini."Para pria itu berjalan santai mencari keberadaan Kevin. Mereka tahu, tidak ada jalan keluar di hutan, apalagi dengan kondisi ringkih begitu.Di tengah belantara, pelarian Kevin yang menyedihkan dengan langkah tertatih-tatih berakhir tragis.Pengaruh obat tidur yang kuat serta rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya membuat pria itu tersungkur tak berdaya di atas tanah basah.Tanpa perlawanan berarti, para pengawal elit Diego menyeret tubuh Kevin kembali ke dalam vila terisolasi, melemparnya tanpa ampun ke dalam sebuah ruangan beton yang lembap dan berbau tengik.Di dalam ruangan tersebut, Laura sudah terkulai lemas di sudut dinding.Kondisinya tak kalah mengenaskan, tubuhnya penuh luka memar, rambutnya berantakan, dan jiwanya hancur total usai dijadikan objek pemuas nafsu oleh tunawisma kumuh."K-Kevin .... " Laura menatap orang yang baru s
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak







