Masuk"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.
Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat Diego.
Pria matang itu menatap tajam, seolah Freya adalah mangsa yang akan mengenyangkan perutnya malam ini.
"Aku senang kamu menepati janjimu." Diego kemudian duduk sambil menggerakkan tangannya, memberi isyarat pada Freya untuk duduk juga.
Mata Freya tertambat pada makanan mewah yang tersaji di atas meja. Makanan yang bahkan tidak pernah dipesan Dani saat mereka masih menjalin kasih.
Tanpa sadar, Freya tersenyum kecil. Rasa lapar mulai mencekik lambungnya, yang memang belum diisi sejak pagi tadi.
"Apa kamu suka dengan drama yang aku suguhkan tadi?" tanya Diego, memecah keheningan.
Freya termangu, matanya membulat menatap Diego yang hanya melempar senyum dingin.
Otaknya berputar cepat mencari maksud dari kata 'drama' tersebut. Apa mungkin ....
Freya mengingat kejadian di apartemen tadi. Rintihan kesakitan Nadia yang terdengar dari balik pintu ... apa mungkin semua itu adalah bagian dari rencana Diego?
Bagaimana bisa pria ini mengatur kejadian secepat dan sedetail itu? Rasa ngeri kini mulai merayap di sela-sela rasa gugupnya.
"Aku tahu kamu menginginkan yang lebih dari itu." Diego meraih gelas koktailnya, menyesap wine sambil menatap Freya lekat.
Freya tersenyum canggung, berusaha menunjukkan kekagumannya pada Diego, meski dalam hati, perasaan takut terasa semakin mencekik leher.
Jika Diego sanggup melakukan itu, bagaimana dengan nasibnya jika ia ingin menipu sang Naga Emas malam ini.
Segala persiapan matang yang sudah diatur sedemikian rapih, mendadak runtuh, hancur berantakan.
Niatnya ingin menipu Diego dengan darah segar yang ia bawa, ia ingin berpura-pura datang bulan agar terbebas dari hasrat gila paman calon suaminya itu.
Namun, mendengar ucapan Diego tadi, Freya sadar bahwa pria ini bukanlah seseorang yang bisa dikelabui dengan mudah. Satu langkah salah, ia mungkin tidak akan pernah bisa keluar dari hotel ini hidup-hidup.
"Ternyata Paman sudah tahu banyak tentang Dani, bahkan tentang siapa selingkuhan keponakanmu itu." Freya meraih minuman di hadapannya, lalu meneguk dengan cepat demi mengusir rasa gugup.
"Aku tahu segala hal. Bahkan soal unit apartemen yang dibelikan Dani khusus untuk wanita itu."
Uhuk!
Freya tersedak, nyaris menyemburkan wine dari mulutnya. Mendengar Diego menyebut soal apartemen, membuat luka di hati Freya kembali berdenyut perih, rasanya seperti luka menganga yang disiram air garam.
"Keputusanmu meminta bantuan dariku adalah langkah yang sangat tepat, bukan begitu, Dokter Freya Xania?"
Freya hanya bisa mengangguk pelan. Membenarkan pertanyaan itu.
"Kalau begitu, mari kita mulai saja sekarang ...." Diego berdiri dari kursinya.
Freya terdiam membeku, jantungnya berdegup liar. Ia menelan ludah dengan susah payah lalu memberanikan diri mengatakan, "Harus sekarang, Paman? Aku ... aku bahkan belum sempat mengisi perutku."
Diego menatap dingin, yang membuat nyali Freya menciut drastis.
"M-maksudku ...." Tanpa menunggu lagi, Freya segera menyambar sepotong daging dan memasukannya ke dalam mulut.
Namun, belum sempat ia mengunyah habis daging itu, Diego sudah berbalik dan berlalu pergi begitu saja.
"Aish! Bagaimana mungkin aku bisa melayani dia dalam keadaan perut kosong begini?" gerutu Freya sambil menatap makanan di depannya.
Dua orang bodyguard segera menghampiri Freya.
"Waktu makan Anda sudah habis, Nona."
"Habis?" Freya terpaksa menelan potongan daging itu bulat-bulat dengan susah payah.
Andai ia tahu waktu makannya sesingkat ini, ia pasti sudah menghabiskan semua menu mahal ini sejak awal.
"Sial! Perutku masih kosong!" gerutu Freya kesal.
"Mari saya antar ke kamar Tuan." Dua orang bodyguard menuntun Freya menuju kamar hotel.
Di dalam lift, Freya memberanikan diri menatap dua bodyguard yang berdiri di samping kiri dan kanan.
"Apa ada wanita yang berakhir di rumah sakit setelah melayani Paman Diego?"
Mendengar pertanyaan itu, dua bodyguard saling tatap, lalu salah satunya menjawab, "Satu bulan yang lalu ada seorang wanita yang dilarikan ke rumah sakit lalu meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan. Rahimnya copot."
Deg!
Wajah Freya memucat seketika. 'R-rahim copot?'
Menyadari ketakutan Freya, dua orang bodyguard menyembunyikan senyum mereka.
"Pesta malam ini sangat melelahkan, hmm," bisik Diego serak, merendahkan tubuhnya, bertumpu pada kedua lutut di lantai tepat di hadapan Freya, lalu menangkup wajah sang istri dengan kedua telapak tangannya yang hangat.Freya tersenyum tipis, melingkarkan jemarinya di pergelangan tangan Diego. "Ya, sedikit. Tapi aku sangat bahagia melihat semuanya berakhir indah.""Kamu benar, Baby.""Aku masih memiliki tenaga, Honey," goda Freya dengan senyuman penuh gairah.Sorot mata Diego menggelap seketika mendengar godaan nakal itu."Aku juga masih memiliki sisa tenaga," ucap Diego rendah, ibu jarinya mengusap bibir merah Freya dengan perlahan. "Sekarang, saatnya dunia ini hanya menjadi milik kita berdua."Tanpa menunggu jawaban, Diego bangkit dan mengangkat tubuh Freya dengan mudah, membimbingnya berbaring di atas seprai sutra putih yang lembut.Diego mengungkung tubuh istrinya, menatap manik mata Freya yang membesar seketika menyadari gairah yang mulai berkobar di dalam diri sang suami."H
Owek! Owek!Suasana haru dan kebahagiaan yang luar biasa menyelimuti ruang rawat VIP rumah sakit ketika tangisan bayi perempuan yang nyaring akhirnya memecah keheningan.Perjuangan Zhue melawan hidup dan mati akhirnya selesai.Di sampingnya, Yenzing tidak mampu menahan bendungan air mata. Mengingat bagaimana ia sempat terbaring tak berdaya dan hampir kehilangan segalanya, kini melihat sang istri berjuang melahirkan buah hati mereka membuat dada Yenzing bergemuruh hebat."Yenzing, anak kita lahir." Zhue tak kuasa menahan kesedihan."Terima kasih, Zhue ... terima kasih banyak," bisik Yenzing parau, menciumi punggung tangan istrinya berulang kali dengan air mata yang menetes deras di pipi. "Kamu wanita terhebat."Zhue tersenyum lemah namun penuh binar kebahagiaan, menyeka air mata suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Kita berhasil, Yenzing ... anak ki
"Aku kembali lagi Yenzing. Aku kembali bersama anakmu di dalam perutku." Zhue tersenyum menatap suaminya.Seperti biasa ia selalu mengawali harinya dengan merawat Yenzing, membersihkan tubuh suaminya."Kamu mau memegang perutku?" Zhue mengangkat tangan Yenzing, meletakkan di atas perutnya yang sudah semakin membesar. "Kamu pasti tidak sabar menunggu kelahirannya kan? Aku juga. Kita tunggu sama-sama ya."Zhue menghela napas panjang dan lirih, menatap wajah Yenzing yang tetap tampan meski sedang tidur."Bangun Yenzing, tidurmu terlalu panjang," isak Zhue. Tak kuasa menahan kesedihan.Hari-hari di ruang rawat VIP rumah sakit itu berjalan dalam keheningan yang panjang, diisi oleh doa-doa tulus yang tidak pernah putus dari bibir Zhue.Kesetiaan gadis itu seolah menembus batas kesadaran yang paling gelap.Memasuki bulan ketiga sejak insiden mau
"Aku tidak ingin kehilanganmu!" Zhue menangis di dalam alam bawah sadarnya. "Kembali Yenzing. Kembali! Jangan pergi. Bukannya kamu sudah berjanji akan selalu ada untukku. Sekarang, tepati janji itu!"Detik-detik di depan pintu kaca ruang ICU terasa merayap begitu lambat, menghadirkan siksaan batin yang luar biasa bagi siapa pun yang menyaksikannya.Setelah perjuangan melelahkan dan pertarungan sengit melawan maut di balik meja operasi, lampu merah di atas pintu akhirnya berkedip padam, berganti dengan cahaya hijau yang menandakan prosedur medis darurat telah berakhir.Dokter kepala bedah melangkah keluar dengan langkah gontai, melepas masker bedahnya dan menghela napas panjang kelelahan.Diego dan Freya yang setia menunggu langsung bangkit dari kursi tunggu, menghampiri sang dokter dengan debaran jantung yang menggemuruh."Dokter, bagaimana keadaan Yenzing?" tanya Diego langsun
"Tuan, kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," kata Yoss memberitahu Diego lewat sambungan telepon."Tetap berhati-hati. Jangan sampai terjadi sesuatu di jalan. Dan jangan katakan apapun tentang kondisi Yenzing. Jangan sampai Zhue cemas.""Baik Tuan."Setelah telepon diakhiri oleh Diego, Yoss meletakkan ponselnya ke atas dasbor. Ia menatap Zhue dan Freya dari kaca spion di atasnya."Apa kata Tuan? Bagaimana kondisi Yenzing sekarang? Dia baik-baik saja kan?" tanya Zhue panik luar biasa.Air matanya tidak berhenti mengalir membasahi wajahnya yang pucat."Tolong jawab, Yoss!" kata Freya.Yoss menghela napas panjang. "Maaf Nona Freya, Nona Zhue, Tuan belum memberitahu saya bagaimana keadaan Yenzing sekarang. Tolong doakan saja yang terbaik untuk Yenzing."Zhue membuang napas kasar. Jawaban Yoss tidak membuatnya tena
"Kondisinya kritis, kalau tetap di sini dia tidak akan bisa diselamatkan," ujar tim medis.Diego menatap Yenzing, menggenggam jemari tangan pria itu. "Bertahanlah Yenzing, Zhue menunggumu. Kamu harus tetap hidup. Kita akan kembali ke Atalia setelah badai ini mereda."Yenzing tak menanggapi. Untuk membuka mata saja ia tidak sanggup. Namun, air mata yang mengalir menjelaskan ia ingin secepatnya keluar dari gua itu."Tolong usahakan apapun agar Yenzing bisa bertahan sampai kita tiba ke Atalia!" titah Diego pada tim medis. "Jangan sampai Yenzing mati!""Baik Tuan, kami akan mengusahakan yang terbaik sebisa kami."Tuntutan besar itu membuat mental tim medis sedikit goyah. Namun, mereka tetap mengusahakan yang terbaik untuk Yenzing.***Matahari pagi di balik awan kelabu perlahan menyingkap sisa-sisa amukan badai besar yang semalam melump
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan







