LOGINTiba di klinik, Freya melangkah cepat memasuki ruang ganti khusus medis untuk mengenakan baju operasi steril, lalu bergegas menuju ruang tindakan utama.
Di belakangnya, tiga orang Perawat senior mengekor. Salah satu Perawat memberi laporan rekam medis mengenai kondisi pasien dan kronologi yang memicu pendarahannya.
Freya mengernyitkan kening, sedikit terkejut saat mendengar penyebab utama kontraksi dini dan pendarahan hebat tersebut akibat serangan sy
"Laura?"Jantung Freya nyaris berhenti berdetak setelah membaca pesan masuk dari Zhue.Nama Laura yang tertera jelas di layar ponselnya bukanlah orang asing. Wanita itu adalah Dokter yang sejak lama memendam perasaan cinta pada Diego.Dulu, Laura memang sahabat dekat Freya. Mereka menempuh pendidikan di universitas yang sama, berjuang bersama menuntaskan studi medis.Laura memilih menjadi Dokter spesialis anak, sementara Freya menekuni spesialisasi kandungan. Keduanya bahkan menjalani masa-masa koas di rumah sakit yang sama selama bertahun-tahun.Freya mengenal Laura luar dalam. Wanita berparas lumayan cantik itu belum juga menikah sampai saat ini. Ia pernah berkali-kali gagal melangkah ke pelaminan karena alasan tak jelas.Sebelum Freya menjalin hubungan dengan Diego, Laura pernah mengakui betapa ia mengagumi sosok pria dewasa tersebut.Namun, saat mengetahui Freya akhirnya berpacaran bahkan menikah dengan Diego, Laura mendadak menghilang tanpa kabar. Freya tahu alasan di balik si
"Tenangkan diri Anda, Pak Diego." Dokter wanita bernama Laura itu mengusap lembut bahu Diego, menuntunnya duduk di kursi tunggu.Melihat itu, kedua mata Zhue membulat sempurna. "Lho, lho! Kenapa pakai pegang-pegang begitu?" cetus Zhue dengan emosi yang tak bisa lagi diendung.Tanpa ragu, gadis itu nekat melangkah cepat menghampiri Diego dan sang Dokter.Zhue berdiri tepat di depan Laura, memotong jarak di antara mereka. Kedatangan tiba-tiba Zhue membuat Dokter cantik itu salah tingkah dan buru-buru menarik tangannya, menjauh dari Diego."Kenapa? Sebenarnya sakit apa anak itu?" tanya Zhue dengan nada ketus, langsung mengalihkan pandangan ke dalam ruangan melalui kaca pintu.Di dalam sana, Jegar terlihat baik-baik saja. Lalu kenapa vonis yang dikatakan Dokter ini terdengar begitu mengerikan?"Pasien kecil itu mengidap penyakit langka yang cukup kompleks," jawab Laura tenang, lalu buru-buru merapatkan pintu kamar inap Jegar hingga tertutup sempurna.Kening Zhue berkerut dalam. "Peny
"Baby! Kita ke rumah sakit sekarang, Jegar panas tinggi!" teriak Diego panik.Pria itu berlari tergesa-gesa menuju pintu utama sambil menggendong Jegar yang terus merintih kecil.Freya hanya diam membeku, menatap suaminya yang terlihat sangat mengkhawatirkan keselamatan anak laki-laki itu.Ada perasaan kesal dan tidak terima yang menyelimuti dadanya. Ia merasa Diego jauh lebih perhatian pada Jegar sejak anak itu datang ke mansion ini."Baby!" panggil Diego. Suaranya naik satu oktav. Langkahnya terhenti di dekat pintu. Menoleh, melihat istrinya masih berdiri mematung tak bergerak sama sekali."Ayo ikut aku! Kenapa malah diam saja?"Freya mendengus emosi, menatap Diego tajam. "Aku masih harus menyusui Dante! Aku tidak bisa seenaknya ikut ke rumah sakit yang penuh virus. Kamu saja yang pergi ke sana!" balasnya kesal."Ya sudah kalau begitu!" sahut Diego dengan suara kasar dan dingin.Jelas sekali pria itu sangat marah mendengar penolakan istrinya. Tanpa membuang waktu, ia melangkah ce
"Kak Freya, aku ingin bicara."Baru saja Freya melintasi ambang pintu utama mansion, Zhue sudah berdiri menghentikan langkah kakinya.Gadis itu menarik pelan lengan Freya dan mengajaknya menjauh dari area koridor utama.Ternyata Zhue memang sudah menunggu kepulangan Freya sejak tadi. Entah apa yang ingin dibicarakan, tetapi dari raut wajah gadis itu terlihat jelas ada hal serius yang ingin disampaikan."Ada apa, Zhue?" Freya menghentikan langkah tepat di sudut mini bar, area yang paling sepi dan jarang dilalui oleh para penghuni mansion.Napas Zhue terdengar sedikit terengah-engah. Matanya bergerak liar mengamati sekitar, memastikan tidak ada seorang pun yang menguping atau mengawasi pergerakan mereka.Setelah merasa benar-benar aman, Zhue melangkah lebih dekat dan berbisik, "Kak, tolong pikirkan lagi soal keputusan mengasuh Jegar. Aku sangat takut Yoss salah mencari informasi. Apalagi tadi katanya Jegar adalah anak dari wanita gila ... aku takut semua cerita itu hanya akal-akala
Rumah Sakit Jiwa Satu Hati.Plang besar berwarna putih dengan tulisan merah itu terpampang di depan pintu gerbang utama.Mobil hitam yang dikendarai Yoss bergerak pelan memasuki area halaman lalu diparkir dengan rapi di slot parkir VIP."Saya akan membawa Anda menemui Dokter Axel, Dokter spesialis kejiwaan yang menangani wanita itu," kata Yoss sambil membukakan pintu mobil, memberi jalan pada Diego dan Freya.Tiba di depan ruang konsultasi, Yoss, yang sebelumnya sudah membuat janji temu langsung menemui Dokter Axel.Tanpa mengulur waktu, sang Dokter mengarahkan mereka menuju blok perawatan khusus untuk wanita yang diduga kuat sebagai ibu kandung Jegar."Pasien wanita itu ada di sana." Pintu jeruji besi kokoh itu dibuka oleh Dokter Axel.Di sudut ruangan, Diego dan Freya melihat seorang wanita berpakaian rumah sakit tengah duduk termenung di depan jendela berlapis jeruji, menatap kosong ke arah luar halaman."Sudah satu tahun lebih dia berada di sini dan menjalani perawatan intensi
"Katakan!" Suara bariton Diego menggema di seluruh sudut ruang kerjanya yang megah.Di balik pintu yang sedikit terbuka, Freya mengintip dan melirik ragu ke arah suaminya yang sedang berdiri tegap dengan wajah dingin.Diego melirik, menyadari istrinya tengah mengintip. "Masuk, Baby!" panggilnya tanpa menoleh.Freya menyeringai manis, menunjukkan susunan giginya yang rapi lalu mendorong pintu hingga terbuka lebar dan melangkah masuk."Terima kasih, Honey ...." ucapnya sedikit canggung melihat raut wajah serius sang suami. "Maaf aku mengganggumu." Freya kembali menutup pintu.Diego melangkah mendekati Freya, lalu menuntun jemari wanita cantik itu menuju kursi kebesarannya. "Kamu adalah Nyonya di rumah ini. Jangan pernah ragu untuk masuk atau menyuarakan pendapatmu. Duduklah di sini dan temani suamimu, hm?"Freya mendongak, menatap wajah tampan yang kini menyunggingkan senyum tipis.Sejujurnya ia memang masih sering merasa segan dan canggung, bahkan terkadang sedikit takut pada aur
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat







