MasukTiba di klinik, Freya melangkah cepat memasuki ruang ganti khusus medis untuk mengenakan baju operasi steril, lalu bergegas menuju ruang tindakan utama.
Di belakangnya, tiga orang Perawat senior mengekor. Salah satu Perawat memberi laporan rekam medis mengenai kondisi pasien dan kronologi yang memicu pendarahannya.
Freya mengernyitkan kening, sedikit terkejut saat mendengar penyebab utama kontraksi dini dan pendarahan hebat tersebut akibat serangan sy
"Beri aku jalan! Minggir kalian semua!"Wanita di lobi utama masih terus menjerit mengancam, jemarinya tak lepas dari sakelar sambil menunjukkan angka merah di rompi bom yang melilit tubuhnya.Semua orang yang berlarian panik sudah berhasil dievakuasi keluar. Kini, hanya tersisa barisan aparat kepolisian dan tim elit Diego yang mengepung area lobi. Moncong senjata otomatis mereka tertuju ke arah wanita itu."Aku tidak takut mati! Jangan coba-coba mendekat!" teriak wanita itu dengan mata memerah dan melotot liar, mengawasi setiap pergerakan di sekelilingnya.Ting!Denting pintu lift memecah ketegangan. Seluruh pasang mata serentak beralih ke sumber suara.Dari dalam kotak baja itu, Diego Foster melangkah keluar dengan tenang, wibawanya yang mematikan mendominasi ruangan."Aku yang dicari oleh bosmu," ucap Diego tegas, suaranya dingin menembus keheningan. "Sudahi kekacauan ini. Aku akan ikut bersamamu."Wanita itu tertawa sinis. "Bukan hanya Anda yang diinginkan oleh Tuan Zhang,
"Aku tidak akan pergi tanpamu!" tegas Freya dengan suara lantang, matanya berkaca-kaca menatap Diego.Diego menghela napas panjang, menatap istrinya dengan senyum yang dibuat semanis mungkin. "Aku pasti akan menyusul kalian, Baby. Pergilah sekarang, situasi di bawah benar-benar kacau. Aku tidak bisa membiarkan sesuatu yang buruk terjadi pada kalian berdua."Freya menggeleng dengan tatapan bersikeras. "Tidak! Aku tidak akan melangkah satu inci pun dari sini tanpamu! Kalau kamu berniat menemui wanita gila itu, aku ikut. Kita hadapi dia bersama-sama!"Diego melangkah cepat mendekati istrinya. Jemari kekarnya merengkuh kedua lengan Freya dengan lembut. "Mengertilah, Baby ... situasi ini tidak sesederhana seperti yang kamu bayangkan. Nyawamu dan Dante sedang dalam bahaya. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kalian!""Lalu kamu akan mengorbankan nyawamu sendiri? Kamu ingin meninggalkan aku dan Dante?" tanya Freya lirih, suaranya bergetar menahan keputusasaan. "Kalau memang beg
Dengan napas memburu dan pelipis bercucuran keringat dingin, anak buah Diego tiba di lantai atas setelah berlari kencang menaiki tangga darurat.Tiga orang pengawal elit yang bersiaga di depan pintu lift menatapnya panik. Salah satu dari mereka bergegas menghampiri."Ada apa?"Pria bertopi itu menjawab ketakutan, "D-di lobi ... ada wanita gila yang berhasil menerobos masuk ke dalam gedung. Dia melilitkan bom waktu aktif di tubuhnya dan mengancam akan meledakkan rumah sakit ini.""APA?"Sontak, seluruh pengawal di sepanjang koridor membulatkan mata mereka, terperanjat kaget mendengar kabar mengejutkan itu."Bom? Bagaimana mungkin benda berbahaya itu bisa lolos dari barisan penjagaan ketat depan?""Ceritanya panjang! Yang jelas sekarang wanita itu memaksa ingin naik ke lantai atas. Dia mengancam akan meledakkan seluruh gedung jika ada yang berani menghalanginya! Tuan dan Nyonya Freya dalam bahaya besar," jelas pria bertopi itu dengan suara bergetar hebat."Cepat laporkan situasi
"Kalian semua minggir! Atau aku tekan tombol ini sekarang dan seluruh bangunan rumah sakit ini hancur berkeping-keping!" ancam wanita itu sambil menyibakkan jubah hitam, memperlihatkan rakitan bom waktu aktif yang melilit tubuhnya.Sontak, belasan pengawal Diego menarik diri dan mundur beberapa langkah. Suasana lobi rumah sakit berubah menjadi kacau.Para perawat, Dokter dan pasien berlarian panik, menjerit histeris berhamburan menyelamatkan diri ke luar gedung.Di tengah gelombang manusia yang saling sikut, Jackie memasang badan, menerobos paksa kerumunan itu.Setelah berhasil menembus area tengah lobi, matanya membelalak lebar menyaksikan wanita itu melangkah tanpa rasa takut mendekati barisan pertahanan di depan pintu lift."Bagaimana bisa dia menembus pemeriksaan ketat di depan?" bentak Jackie emosi, menghardik anak buah Diego dan petugas kepolisian yang berjaga.&
"Ya, aku akan ikut suamiku pulang ke Atalia. Dan soal permasalahan kami ... aku anggap semuanya sudah selesai," jawab Freya tegas tanpa ada keraguan sedikit pun.Terdengar hembusan napas berat penuh kekecewaan dari ujung sambungan telepon. "Baiklah kalau begitu ... semoga kalian berdua selalu bahagia," ucap Jackie parau. "Terima kasih sudah mau menjadi temanku selama beberapa bulan terakhir ini, Freya."Belum sempat Freya membalas ucapan itu, Jackie sudah menutup sambungan secara sepihak.Tak lama kemudian, suara deheman halus terdengar dari samping.Diego menatap Freya lekat-lekat dengan sebelah alis terangkat naik. "Siapa pria itu, Baby?""Bukan siapa-siapa. Dia hanya teman yang selama ini menjaga dan membantu merawat kandunganku," jawab Freya tenang.Diego mengangguk pelan. Berusaha keras menekan gejolak cemburu yang membakar dada saat mengetahui ada pria lain yang pernah begitu peduli pada istrinya."Aku ingin kamu .... ""Hanya sebatas pertemanan, Paman, tidak lebih," poto
"Ya, Tuan Muda Dante adalah anak kandung dari Tuan Diego Foster dan Nyonya Freya, istri sahnya."Jackie terdiam membeku dengan mata membulat sempurna. Kalimat itu menghantamnya begitu telak. Dadanya terasa sangat sesak, seolah pasokan udara di sekitarnya menguap tanpa sisa."Silakan tinggalkan lantai ini sekarang juga, Detektif. Saya yakin Anda tidak memiliki janji temu dengan Tuan Diego Foster. Hanya pihak berkepentingan yang diizinkan berada di area ini," tegas pengawal bertubuh tinggi besar seperti raksasa itu dengan suara berat.Sepersekian detik membisu, Jackie menelan ludah dengan tenggorokan yang terasa mengering. Matanya menyapu suasana koridor yang dipenuhi deretan pria berjas hitam.Meski kerinduan pada Freya begitu membakar dada, ia sadar ... jika tetap nekat berhadapan dengan Diego Foster tanpa persiapan, sama saja dengan menyerahkan nyawa secara cuma-cuma."Silakan pergi!" tegur pengawal itu sekali lagi, nadanya mulai mengancam.Jackie mengangguk kaku. Tanpa menguca
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat







