LOGINFreya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.
Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu.
"Nona, kami datang untuk menjemput Anda," ucap salah satu dari mereka.
Mendengar itu, kedua mata Freya membulat sempurna. "Menjemput?" ulangnya, memastikan tidak salah dengar. Pertanyaan itu hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh kedua pria di depan.
"Silakan masuk ke dalam mobil, Nona Freya. Mari kami antar," lanjut pria itu sembari membukakan pintu belakang mobil.
Freya langsung menggeleng cepat, refleks mundur satu langkah. Tatapan matanya beralih pada mobil hitam miliknya yang terparkir tak jauh di samping mobil mewah itu.
"Aku bawa mobil sendiri. Aku bisa pulang sendiri," ucap Freya dengan suara yang sedikit bergetar.
Ia tahu betul kedua orang ini adalah orang suruhan Diego. Pria matang itu benar-benar tidak sabaran. Diego bahkan tidak memberinya ruang untuk sekedar bernapas dan bersiap-siap dengan tenang.
Jika Freya memilih ikut sekarang, ia yakin tidak akan dibawa pulang ke apartemen. Bisa saja ia langsung dibawa menuju hotel dalam kondisi yang belum siap secara mental maupun fisik.
"Aku bisa pulang sendiri, maaf," ucap Freya dengan sopan.
"Tapi Nona, kami diperintahkan langsung untuk membawa Anda sekarang juga bersama kami .... " Pria itu bersikeras.
Freya mendengus kesal. "Aku bilang aku bisa pulang sendiri! Tolong sampaikan pada Paman, tunggu aku di hotel. Katakan padanya jangan khawatir, aku tidak akan lari. Aku pasti akan datang ke sana tepat waktu."
Kedua pria itu saling melempar pandang. Ada keraguan yang jelas terpancar di wajah mereka.
"Kalau kita menjawab iya, Tuan pasti marah." Salah satu pria berbisik.
Freya menyadari ketakutan dua pria itu. Dengan gerakan cepat ia merogoh saku tasnya dan mengeluarkan ponsel.
"Kalian tidak perlu khawatir, aku akan memberitahu Paman Diego," katanya sambil menempelkan ponsel ke telinga.
Tak butuh waktu lama, telepon darinya diterima. Suara bariton terdengar dari ujung sambungan.
"Aku menunggumu. Masuk ke mobil sekarang," ucap Diego.
Freya menarik napas panjang, berusaha mempertahankan sikap tegasnya, agar tak bisa dengan mudah dikendalikan oleh Diego.
"Maaf Paman, aku tidak bisa ikut dengan orang suruhan Paman. Tapi Paman tenang saja, aku pasti akan datang ke hotel Sahara malam ini. Aku juga sudah menerima gaun malam itu, aku pasti akan memakainya. Tapi tolong beri aku sedikit ruang, aku ingin bersiap-siap di apartemen."
Hening!
Hanya terdengar suara hembusan napas berat dari ujung sambungan. Namun, Freya tetap pada pendiriannya. Jika ia lemah, ia akan diperlakukan sama seperti wanita lain, pikirnya.
"Bagaimana Paman?" tanya Freya.
"Hmm, jangan melewatkan jam makan malam denganku!" jawab Diego, lalu mengakhiri telepon.
Freya menghela napas lega. Tatapan matanya beralih pada dua orang pria tadi, lalu tersenyum.
"Kalian boleh pergi," ucap sang Dokter.
"Baik Nona, terima kasih."
Freya masuk ke mobilnya.
Setibanya di apartemen, tepat saat jemari tangan Freya baru saja hendak menyentuh gagang pintu unitnya, samar-samar ia menangkap suara rintihan.
Langkah Freya terhenti. Ia menoleh ke arah pintu unit Nadia yang tampak sedikit terbuka.
Suara itu terdengar semakin jelas saat Freya memberanikan diri mendekatkan telinganya ke celah pintu.
"Sakit! Aduh, tolong ... perut aku sakit sekali!"
Freya membeku di tempat. Ia mengenali pemilik suara itu ... Nadia__wanita yang telah menghancurkan rencana masa depannya bersama Dani.
Sebagai seorang Dokter kandungan, instingnya langsung bekerja, ia tahu kemungkinan besar sedang terjadi sesuatu yang serius pada janin di rahim wanita itu.
Jiwa dokternya bergejolak, mendesak agar segera masuk dan memberikan pertolongan pertama. Namun, rasa sakit hati yang masih menganga jauh lebih mendominasi.
"Sakit! Tolong, perut aku sakit!" Teriakan Nadia terdengar semakin pilu, disusul suara benda terjatuh.
Freya menarik napas panjang, berusaha menulikan pendengarannya. Ia menegakkan tubuh, menempelkan cardlock, lalu melangkah masuk ke dalam unitnya sendiri dengan santai.
Klik!
Pintu tertutup dengan rapat, seolah-olah tidak ada yang terjadi tepat di balik dinding kamarnya.
Selesai bersiap-siap dan mengenakan gaun pilihan, Freya keluar dari apartemen.
Di koridor, suasana sudah berubah riuh. Ia melihat beberapa petugas medis berpakaian seragam sedang sibuk di depan unit sebelah.
Seorang Dokter yang kebetulan bertugas di sana mengenali Freya dan menyapanya, "Dokter Freya? Anda tinggal di apartemen ini?"
"Iya Dokter Ellen." Freya hanya mengangguk pelan, wajahnya dibuat sedatar mungkin.
Tatapan matanya tanpa sengaja beradu dengan Nadia yang tengah dibawa keluar menggunakan tandu oleh dua orang petugas medis.
Wajah Nadia pucat pasi, matanya memerah menatap Freya penuh kekesalan. Dengan cepat, Freya memalingkan wajah, menatap ke arah lain.
"Wanita itu terpeleset di kamar mandi, Dok. Tapi untungnya setelah kami periksa singkat, kandungannya baik-baik saja, tidak ada pendarahan hebat," ucap Dokter Ellen memberi tahu tanpa diminta.
"Oh, syukurlah kalau begitu. Saya benar-benar tidak tahu ada kejadian seperti itu di sebelah, karena saya baru saja sampai di rumah," dusta Freya dengan senyuman tenang.
Dokter Ellen, rekan sejawatnya itu, mengangguk. Matanya menelusuri penampilan Freya dari ujung kaki sampai kepala.
Malam ini Freya tampak sangat memukau, mengenakan gaun merah panjang yang membalut tubuhnya dengan seksi dan elegan.
"Sepertinya Anda ingin pergi, Dok?"
"Iya, saya ada janji makan malam penting dengan seseorang," jawab Freya singkat.
"Baik, kalau begitu selamat bersenang-senang, Dok." Dokter Ellen memberi jalan pada Freya.
Freya melangkah cepat menuju lift, mengabaikan suara deru roda tandu di belakang. Ia berusaha keras melupakan pemandangan tadi.
'Seharusnya kandungan itu hancur, hancur, sehancur hatiku,' batin Freya.
***
Setibanya di Hotel Sahara, Freya disambut dua orang bodyguard bertubuh tinggi tegap.
"Nona Freya .... " Dua bodyguard membungkuk memberi hormat.
Tanpa banyak bicara, mereka membawa Freya menuju area makan malam yang telah disiapkan secara privat.
Pemandangan yang luar biasa indah menyambut indra penglihatannya. Di sudut yang tenang dekat kolam renang, tampak seorang pria berdiri gagah dengan postur tubuh yang begitu proporsional.
Diego Foster, menatap ke arah Freya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Jantung Freya berdegup kencang, suara itu seolah berdentum di telinganya sendiri.
Kakinya mendadak terasa berat dan lemas, bahkan hanya untuk sekedar menopang bobot tubuhnya sendiri.
Berada di ruangan terbuka seperti ini saja, aura dominan yang dipancarkan Diego nyaris membuat Freya kehilangan kewarasan dan kendali diri. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya saat mereka hanya berdua di dalam kamar nanti.
Setiap kali membayangkan tentang apa yang akan terjadi di kamar, Freya mendadak ingin menenggelamkan diri di dalam tanah.
Tuhan Tolong Aku!
"Bagaimana Paman?""Hmm, apanya Baby?"Freya menghela napas dalam. Berusaha tenang dan tetap mengeluarkan jurus rayuan yang menjadi kelemahan sang suami."Kondisimu sudah lebih baik?" tanya Diego lembut. "Apa yang kamu rasakan sekarang? Selain merindukan aku."Ia menatap manik mata Freya yang memancarkan pendar kehangatan begitu memikat.Sorot mata yang sarat akan kepasrahan dan kelembutan itu seketika membakar habis seluruh sisa logika di kepala sang Naga.Gairah yang semula terpendam rapat kini meledak hebat, menguasai jalan pikirannya."Aku sudah jauh lebih baik dari sebelumnya ...." bisik Freya mendayu, jemari lentiknya mengusap rahang tegap Diego dengan gerakan sangat perlahan."Aku melihatnya seperti itu," kekeh Diego mesum."Paman ...." rengek Freya. "Jawab aku dulu ... maukah Paman mendengarkanku?"Bukannya menjawab dengan kata-kata, Diego justru merengkuh pinggang ramping Freya secara posesif, menarik tubuh molek itu hingga menempel tanpa jarak pada dada bidangnya."Aku tid
Jauh dari heningnya hutan. Yoss dan Bayu masih berjuang menemukan titik terang keberadaan Zhue."Rumahnya di sini, alamatnya sesuai dengan yang diberikan oleh tukang sapu itu .... " Yoss dan Bayu bergegas ke rumah pemilik toko.Setelah mendatangi kediaman pemilik toko kelontong tua tersebut dan memohon izin dengan sangat sopan, mereka berhasil mengakses serta menyalin rekaman CCTV yang mengarah ke lorong jalan pintas.Di dalam rekaman video berdurasi singkat dan sangat jelas itu, tampak sebuah mobil hitam menghentikan lajunya.Jelas bukan Zhue yang memasukkan racun, gadis muda itu justru menjadi korban penculikan dua orang pria asing berbadan tegap yang secara paksa menyeret tubuh Zhue yang sudah terkulai lemas akibat efek gas beracun dari dalam mobil Yenzing, lalu memindahkan ke mobil mereka.Video itu menjadi bukti tak terbantahkan bahwa Zhue adalah korban penculikan, bukan pelaku sabotase."Kita punya buktinya, Yoss!" seru Bayu bersemangat langsung mencabut flashdisk dari komput
"Gadis lemah dan kelaparan seperti dia pasti akan mencari tempat aman untuk berlindung. Dia pasti ada di gubuk itu!" desis anak buah Kevin menatap ke arah gubuk tua di depannya."Ayo kita ke sana!"Buk! Buk! Buk!Suara gedoran keras bergema menghantam pintu kayu gubuk yang rapuh, diselingi umpatan-umpatan kasar yang membuat bulu kuduk berdiri."Dobrak saja pintunya!" teriak pria bernada garang.Sebelum kayu pintu itu hancur berantakan akibat hantaman sepatu laras, Nenek Diana dengan tenang menarik sel slot besi dan membuka pintu lebar-lebar.Angin malam yang dingin menusuk langsung menyapu ruangan, membawa serta aroma mesiu yang menyengat.Di ambang pintu, berdiri tiga orang anak buah Kevin berbadan kekar dengan senjata api di genggaman.Wajah-wajah brutal mereka dipenuhi peluh, menatap sengit ke arah wanita tua yang berdiri gemetar di hadapan mereka."Ada apa ini, Nak? Kenapa malam-malam begini berteriak dan membawa senjata di depan rumah Nenek?" tanya Nenek Diana dengan suara be
Sang nenek tersenyum menatap ke arah Zhue. Selama tinggal di hutan, untuk pertama kali ia didatangi seorang tamu, apalagi tamu ini gadis muda yang cantik. Meski kondisi Zhue sangat memprihatinkan seperti habis dikeroyok massa."Habiskan makanannya, kalau kurang, Nenek akan memasak pasta lagi. Kebetulan stok pasta di rumah ini cukup banyak."Zhue hanya mengangguk sedikit. Perutnya terasa sangat lapar hingga membuatnya tak sanggup berbicara."Uuh!"Seteguk air hangat dan beberapa suap pasta hangat itu perlahan mengembalikan tenaga Zhue yang sempat terkuras habis.Setelah menghabiskan sisa makanan di piring, Zhue meletakkan gelas kayu itu perlahan.Tangannya yang lecet masih terasa perih, tetapi rasa penasarannya jauh lebih besar.Gadis itu menatap nenek tua yang sedang merajut kain di sudut meja dengan tenang."Nenek .
Jauh dari keramaian kota, seorang gadis muda sedang berjuang untuk hidupnya seorang diri di selimuti ketakutan yang menghancurkan kewarasannya."Aku takut ... Ibu, tolong selamatkan anakmu." Zhue menahan napas di dalam kegelapan rongga pohon raksasa itu.Suasana hutan lambat laun kembali menghening, menyisakan gesekan dedaunan yang ditiup angin malam dan derik jangkrik yang bersahut-sahutan.Suara letusan senjata api serta teriakan kasar anak buah Kevin perlahan menjauh dan menghilang di balik bukit.Setelah memastikan situasi aman, Zhue perlahan merangkak keluar dari lubang pohon.Tubuhnya gemetar hebat, rasa perih akibat gigitan semut ganas dan sengatan luka-luka di kulitnya masih menyengat tajam."Aku ... aku harus terus berjalan," ucap Zhue pada dirinya sendiri dengan suara parau yang hampir tak terdengar.Dengan pergelangan kaki k
"Di dekat sini tempatnya." Yoss membuka sabuk pengaman di pinggang dan mendorong pintu. "Ayo turun!" ajaknya pada Bayu yang duduk di jok samping."Hmm." Bayu membuka pintu dan segera keluar dari mobil. Ia mengamati sekitar, mencari jejak-jejak kecelakaan mobil yang dikendarai Yenzing."Bukan di titik ini," kata Yoss menggeleng pelan. "Di mana?" Bayu mengerutkan kening. "Aku lupa, ingatanku tidak sebagus dirimu.""Di sebelah sana." Yoss menunjuk ke depan. "Ikuti aku.""Hmmm."Keduanya melangkah mendekati lokasi sebenarnya.Yoss dan Bayu menghentikan langkah tepat di lokasi tempat mobil Yenzing menghantam dinding pembatas dari beton.Berbekal instruksi rahasia dan jaminan perlindungan dari Freya, kedua pengawal itu menyisir area sekitar tanpa berani membuang waktu sedikit pun."Kita mulai dari mana, Yoss?" tanya Bayu mengedarkan pandangan ke sepanjang trotoar yang mulai sepi."CCTV lalu lintas kota," sahut Yoss mantap, memajukan posisinya. "Seseorang menculik Nona Zhue saat situasi s
"Pakai gaun malammu!"Freya seketika membeku di tempat. Baru saja kakinya menginjak lantai kamar hotel yang mewah itu, Diego sudah memberikan perintah.Matanya tertuju pada gaun malam seksi berbahan tipis yang sudah tergeletak di atas ranjang berukuran king size."Emm, Paman ... sebaiknya kita me
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak







