เข้าสู่ระบบDengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.
Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift.
"Nadia?" gumamnya tak percaya.
Mencurigai ada sesuatu yang tidak beres, Dani mempercepat langkah untuk mengejar wanita itu.
Namun, gerakan kakinya terhenti secara kasar saat sekretaris pribadinya menghampiri dengan wajah tegang.
"Pak Dani, tolong tinjau lagi beberapa dokumen penting yang dibutuhkan hari ini. Ada beberapa dokumen revisi dari audit internal yang membutuhkan tanda tangan Anda segera."
"Hmm, bawa ke mejaku!" sahut Dani datar.
Sambil melangkah cepat menuju ruang kerja, Dani merogoh saku jasnya.
Dengan tangan gemetar Dani mencari nama selingkuhannya di daftar kontak. Begitu sambungan terhubung, ia tak memberikan kesempatan bagi wanita itu untuk menyapa.
"Nad! Kamu di mana?" tanya Dani tanpa basa-basi. Tidak seperti biasanya, suaranya naik beberapa oktav, penuh emosi yang tertahan.
"Kok nada bicara kamu begini sama aku?" sahut Nadia terdengar tersinggung.
Dani mendengus kasar. "Kamu ke kantor aku? Hah! Ngapain? Kalau sampai ada orang yang curiga gimana? Sudah aku katakan berulang kali, jangan gegabah! Untuk apa kamu ke sini?"
Di ujung sana, Nadia menghela napas panjang. "Iya, aku ke kantor kamu. Sekarang aku sudah di parkiran. Rencananya aku mau kasih kejutan makan siang buat kamu, tapi kayaknya kamu lagi sibuk. Lagian, ada calon Istri kamu juga tuh di sana!"
Mendengar itu, kedua mata Dani membulat sempurna. "Freya? Dia di sini?"
"Iya, dia ada di dalam ruang kerja kamu. Untung tadi aku belum masuk dan langsung balik lagi. Kamu tenang aja, dia nggak ngeliat aku kok," jawab Nadia santai.
"Kamu .... !" Dani mengeraskan rahang hingga urat-urat lehernya menegang.
"Kenapa? Kamu marah sama aku?" tanya Nadia dengan nada menantang.
Amarah Dani membuncah. Nadia benar-benar bertindak semaunya sendiri belakangan ini.
Wanita itu seolah tidak peduli dengan risiko besar yang mereka hadapi. Dani sudah berusaha mati-matian menjaga hubungan gelap mereka demi menjaga kredibilitas keluarganya yang terpandang dan karier yang sedang dipertaruhkan di depan Diego.
"Kamu ini gimana sih! Ngapain nekat ke sini? Kalau sampai ketahuan Freya, semuanya bisa berantakan! Aku tidak ingin nama baikku hancur hanya karena perselingkuhan kita! Harusnya kamu bisa lebih menjaga diri!"
"Kok kamu malah marah sama aku?" suara Nadia mulai meninggi. "Sebagai wanita, aku juga mau kepastian. Lagian kalau kamu nggak cinta sama Dokter itu, buat apa dipertahankan? Tinggal batalkan saja rencana perjodohan kalian dan nikahi aku! Kenapa harus menikahi dia? Oh, atau jangan-jangan kamu mau menikmati malam pertama dulu sama dia, baru setelah itu kamu ceraikan? Begitu?"
"Diam kamu!" geram Dani.
"Kenapa? Kenapa aku harus diam? Aku benar 'kan? Aku tahu rencana licik kamu. Kamu mau menikmati malam pertama dengan Dokter itu sebelum menceraikannya, dan menuduhnya berselingkuh."
Malas berdebat dan merasa kepalanya ingin pecah, Dani langsung memutus sambungan telepon dan mematikan ponsel.
Ia kembali melangkah menuju ruang kerjanya. Benar saja, di sana Freya sudah menunggu.
Wanita itu tampak tenang, berdiri sambil melihat-lihat sekeliling ruangan seolah sedang mengagumi setiap sudut kantor calon suaminya.
Saat Dani muncul, Freya menyambutnya dengan senyuman manis yang memesona. Berbanding terbalik dengan Dani yang menatapnya dengan tatapan dingin dan menusuk.
"Aku datang ke sini ingin memanjakan lidahmu dengan masakan spesial yang aku buat sendiri tadi," kata Freya lembut.
Ia melangkah mendekati meja dan memperlihatkan kotak bekal cantik yang dibawa.
Dani menatap kotak itu dengan lirikan mata tajam. "Kamu menyempatkan memasak di tengah kesibukanmu sebagai Dokter Kandungan? Bagaimana bisa? Apa kamu yakin kamu sendiri yang memasaknya?"
Nada bicara Dani terdengar sangat menyudutkan, ditambah lirikan tajam yang seketika membuat senyum di bibir Freya sedikit memudar.
Namun, Freya tetap berusaha bersikap biasa. Ia tahu betul Dani sedang berada di bawah tekanan besar akibat konfrontasinya dengan Diego tadi.
"Ya, kamu benar. Aku memang tidak sempat memasak karena pasien sangat banyak. Aku membelinya di restoran langganan kita," aku Freya sambil terkekeh pelan, berusaha mencairkan suasana.
Dani membuang napas panjang yang terdengar berat. Ia melangkah melewati Freya menuju kursi kebanggaan, lalu duduk tanpa mempedulikan kehadiran wanita itu lagi.
Ia membuka laptop, seolah-olah Freya hanyalah pajangan di ruangan itu.
Sementara itu, Freya menatap Dani tanpa berkedip. Ia memperhatikan setiap gurat frustrasi di wajah pria itu, seolah ingin menakar seberapa hancur mental Dani saat ini.
'Ini baru permulaan. Nikmatilah kehancuranmu,' batin Freya dengan senyum yang tersembunyi di balik wajah tenang.
"Ada apa? Kamu terlihat berbeda hari ini," tanya Freya berpura-pura peduli. Ia melangkah mendekati Dani, berdiri di belakang pria itu lalu berbisik mesra, "Mau aku temani? Atau aku buatkan teh hangat agar kamu sedikit rileks?"
Dani melirik sesaat, lalu kembali menatap laptop di depannya. "Maaf, aku sedang sibuk hari ini. Banyak dokumen yang harus aku cek ulang. Tolong tinggalkan aku sendiri, hmm."
Freya menarik sudut bibir dengan anggukan kecil. "Oke, selamat bekerja Honey." Ia memutar tubuh dan melangkah dengan anggun.
Senyum dibibir Freya merekah seketika setelah menyaksikan sendiri bagaimana Diego mulai menjerat Dani dalam kehancuran.
'Bukannya ini yang kamu inginkan?' Freya menghela napas dalam-dalam.
***
Malam harinya, saat Freya bersiap pulang, seorang kurir mengantarkan sebuah kotak misterius untuknya.
Dengan jantung berdebar, Freya segera menutup pintu ruangan dan membereskan meja.
Ia meraih kotak di atas meja, membukanya dengan tangan gemetar hebat.
Deg!
Freya terdiam membeku, napasnya seolah terhenti saat melihat isi di dalam kotak tersebut.
Sebuah lingerie berwarna merah darah yang sangat seksi tergeletak di sana. Tepat di atas kain sutra tipis, terdapat selembar kartu cantik bertuliskan pesan singkat.
[Tepati janjimu. Temui aku di Hotel Grand Sahara malam ini]
Freya meneguk air liur dengan susah payah. Detak jantungnya berdegup liar, memukul-mukul rongga dada. Keringat dingin mulai mengucur dari pori-pori kening.
'Malam ini? Di Hotel Grand Sahara? Haruskah aku melangkah sejauh ini?' batin Freya.
Mata Freya tertambat pada foto pertunangannya dengan Dani yang masih terpajang di atas meja. Andai saja pria itu tidak berselingkuh, ia tidak akan pernah melakukan semua ini.
Perlahan air mata runtuh membasahi wajahnya yang pucat. Pengkhianatan Dani, rencana licik tunangannya itu, tidak boleh dibiarkan.
"Pesta malam ini sangat melelahkan, hmm," bisik Diego serak, merendahkan tubuhnya, bertumpu pada kedua lutut di lantai tepat di hadapan Freya, lalu menangkup wajah sang istri dengan kedua telapak tangannya yang hangat.Freya tersenyum tipis, melingkarkan jemarinya di pergelangan tangan Diego. "Ya, sedikit. Tapi aku sangat bahagia melihat semuanya berakhir indah.""Kamu benar, Baby.""Aku masih memiliki tenaga, Honey," goda Freya dengan senyuman penuh gairah.Sorot mata Diego menggelap seketika mendengar godaan nakal itu."Aku juga masih memiliki sisa tenaga," ucap Diego rendah, ibu jarinya mengusap bibir merah Freya dengan perlahan. "Sekarang, saatnya dunia ini hanya menjadi milik kita berdua."Tanpa menunggu jawaban, Diego bangkit dan mengangkat tubuh Freya dengan mudah, membimbingnya berbaring di atas seprai sutra putih yang lembut.Diego mengungkung tubuh istrinya, menatap manik mata Freya yang membesar seketika menyadari gairah yang mulai berkobar di dalam diri sang suami."H
Owek! Owek!Suasana haru dan kebahagiaan yang luar biasa menyelimuti ruang rawat VIP rumah sakit ketika tangisan bayi perempuan yang nyaring akhirnya memecah keheningan.Perjuangan Zhue melawan hidup dan mati akhirnya selesai.Di sampingnya, Yenzing tidak mampu menahan bendungan air mata. Mengingat bagaimana ia sempat terbaring tak berdaya dan hampir kehilangan segalanya, kini melihat sang istri berjuang melahirkan buah hati mereka membuat dada Yenzing bergemuruh hebat."Yenzing, anak kita lahir." Zhue tak kuasa menahan kesedihan."Terima kasih, Zhue ... terima kasih banyak," bisik Yenzing parau, menciumi punggung tangan istrinya berulang kali dengan air mata yang menetes deras di pipi. "Kamu wanita terhebat."Zhue tersenyum lemah namun penuh binar kebahagiaan, menyeka air mata suaminya dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Kita berhasil, Yenzing ... anak ki
"Aku kembali lagi Yenzing. Aku kembali bersama anakmu di dalam perutku." Zhue tersenyum menatap suaminya.Seperti biasa ia selalu mengawali harinya dengan merawat Yenzing, membersihkan tubuh suaminya."Kamu mau memegang perutku?" Zhue mengangkat tangan Yenzing, meletakkan di atas perutnya yang sudah semakin membesar. "Kamu pasti tidak sabar menunggu kelahirannya kan? Aku juga. Kita tunggu sama-sama ya."Zhue menghela napas panjang dan lirih, menatap wajah Yenzing yang tetap tampan meski sedang tidur."Bangun Yenzing, tidurmu terlalu panjang," isak Zhue. Tak kuasa menahan kesedihan.Hari-hari di ruang rawat VIP rumah sakit itu berjalan dalam keheningan yang panjang, diisi oleh doa-doa tulus yang tidak pernah putus dari bibir Zhue.Kesetiaan gadis itu seolah menembus batas kesadaran yang paling gelap.Memasuki bulan ketiga sejak insiden mau
"Aku tidak ingin kehilanganmu!" Zhue menangis di dalam alam bawah sadarnya. "Kembali Yenzing. Kembali! Jangan pergi. Bukannya kamu sudah berjanji akan selalu ada untukku. Sekarang, tepati janji itu!"Detik-detik di depan pintu kaca ruang ICU terasa merayap begitu lambat, menghadirkan siksaan batin yang luar biasa bagi siapa pun yang menyaksikannya.Setelah perjuangan melelahkan dan pertarungan sengit melawan maut di balik meja operasi, lampu merah di atas pintu akhirnya berkedip padam, berganti dengan cahaya hijau yang menandakan prosedur medis darurat telah berakhir.Dokter kepala bedah melangkah keluar dengan langkah gontai, melepas masker bedahnya dan menghela napas panjang kelelahan.Diego dan Freya yang setia menunggu langsung bangkit dari kursi tunggu, menghampiri sang dokter dengan debaran jantung yang menggemuruh."Dokter, bagaimana keadaan Yenzing?" tanya Diego langsun
"Tuan, kami sedang dalam perjalanan ke rumah sakit," kata Yoss memberitahu Diego lewat sambungan telepon."Tetap berhati-hati. Jangan sampai terjadi sesuatu di jalan. Dan jangan katakan apapun tentang kondisi Yenzing. Jangan sampai Zhue cemas.""Baik Tuan."Setelah telepon diakhiri oleh Diego, Yoss meletakkan ponselnya ke atas dasbor. Ia menatap Zhue dan Freya dari kaca spion di atasnya."Apa kata Tuan? Bagaimana kondisi Yenzing sekarang? Dia baik-baik saja kan?" tanya Zhue panik luar biasa.Air matanya tidak berhenti mengalir membasahi wajahnya yang pucat."Tolong jawab, Yoss!" kata Freya.Yoss menghela napas panjang. "Maaf Nona Freya, Nona Zhue, Tuan belum memberitahu saya bagaimana keadaan Yenzing sekarang. Tolong doakan saja yang terbaik untuk Yenzing."Zhue membuang napas kasar. Jawaban Yoss tidak membuatnya tena
"Kondisinya kritis, kalau tetap di sini dia tidak akan bisa diselamatkan," ujar tim medis.Diego menatap Yenzing, menggenggam jemari tangan pria itu. "Bertahanlah Yenzing, Zhue menunggumu. Kamu harus tetap hidup. Kita akan kembali ke Atalia setelah badai ini mereda."Yenzing tak menanggapi. Untuk membuka mata saja ia tidak sanggup. Namun, air mata yang mengalir menjelaskan ia ingin secepatnya keluar dari gua itu."Tolong usahakan apapun agar Yenzing bisa bertahan sampai kita tiba ke Atalia!" titah Diego pada tim medis. "Jangan sampai Yenzing mati!""Baik Tuan, kami akan mengusahakan yang terbaik sebisa kami."Tuntutan besar itu membuat mental tim medis sedikit goyah. Namun, mereka tetap mengusahakan yang terbaik untuk Yenzing.***Matahari pagi di balik awan kelabu perlahan menyingkap sisa-sisa amukan badai besar yang semalam melump
"Tuan Diego sudah menunggu Anda, Nona." Kalimat itu bagai sambaran petir yang mengejutkan Freya. Entah sudah berapa lama ia berdiri mematung, menatap sosok pria yang berdiri di dekat kolam renang.Freya menelan ludah, mengangguk pelan lalu mengangkat kaki yang terasa seberat besi baja menuju tempat
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja







