LOGIN"Dia tidak mungkin lari jauh. Obat itu pasti sudah merusak saraf kesadarannya," seru pria bertopi hitam."Ikuti saja jejak ranting yang patah ini."Para pria itu berjalan santai mencari keberadaan Kevin. Mereka tahu, tidak ada jalan keluar di hutan, apalagi dengan kondisi ringkih begitu.Di tengah belantara, pelarian Kevin yang menyedihkan dengan langkah tertatih-tatih berakhir tragis.Pengaruh obat tidur yang kuat serta rasa lelah yang menggerogoti tubuhnya membuat pria itu tersungkur tak berdaya di atas tanah basah.Tanpa perlawanan berarti, para pengawal elit Diego menyeret tubuh Kevin kembali ke dalam vila terisolasi, melemparnya tanpa ampun ke dalam sebuah ruangan beton yang lembap dan berbau tengik.Di dalam ruangan tersebut, Laura sudah terkulai lemas di sudut dinding.Kondisinya tak kalah mengenaskan, tubuhnya penuh luka memar, rambutnya berantakan, dan jiwanya hancur total usai dijadikan objek pemuas nafsu oleh tunawisma kumuh."K-Kevin .... " Laura menatap orang yang baru s
"Hap!"Kevin mendadak membuka mata. Melihat langit-langit kamar. Ia melirik ke kiri dan kanan, tidak ada siapapun, ia masih sendiri di ruang penyiksaan itu."Ssttt! Ah! Sial!" desah Kevin meringis sakit.Rasa panas yang membakar seluruh permukaan kulit akibat ribuan sengatan serangga membuat napas Kevin memburu kian parau.Namun, di tengah penderitaan yang melumpuhkan itu, naluri bertahannya mendadak melonjak tajam saat ia menyadari ... engsel penutup di bagian atas kotak kaca itu longgar akibat dentuman tubuhnya yang berguncang hebat.Dengan sisa-sisa tenaga yang terkumpul dari keputusasaan, Kevin mendorong bagian atas akuarium menggunakan dadanya.Brak!Penutup kaca itu bergeser sedikit. Mengingat bagaimana Zhue dulu meloloskan diri dari tempat penyekapan, Kevin nekat memanjat dinding kaca yang licin dengan jemarinya yang membengkak dan berdarah.Ia meraih celah besi di plafon gantung ruangan tersebut. Dengan tubuh gemetar dan rintihan kesakitan yang ditahan mati-matian, Kevin me
"Arghh! Sial! Aku di mana?"Sementara Laura terpuruk dalam trauma tak bertepi di kamar sebelah, suara teriakan penuh penderitaan mulai menggema dari balik dinding beton ruangan khusus lainnya.Di sana, Kevin terbangun dalam kondisi yang tak kalah mengenaskan. Kedua tangannya terikat rapat di atas kepala, sementara tubuh polosnya dikurung di dalam sebuah kotak kaca tebal berukuran raksasa, serupa akuarium manusia yang menyisakan sedikit ruang untuk bernapas.Pria yang semula begitu jemawa dan merasa tak tersentuh itu kini merayap panik saat menyadari posisinya yang terkunci total tanpa busana."S-siapa di sana? Lepaskan aku! Diego, aku tahu ini perbuatanmu! Keluar dari persembunyianmu! Penakut!" teriak Kevin dengan napas memburu, menggedor-gedor dinding kaca tebal di hadapannya.Namun, tidak ada sahutan yang membalas semua panggilan Kevin.Deg!Lampu sorot di atas akuarium mendadak menyala terang, menyilaukan pandangan Kevin.Dari celah katup di bagian atas kotak kaca, suara desisan
"Tubuh ini sangat indah. Ohhh, aku sangat suka. Terima kasih Tuhan, akhirnya aku mendapatkan kesenangan di dunia."Tawa pria tunawisma itu pecah, menatap tubuh polos Laura dari ujung kaki sampai kepala.Sangat indah dan memesona. Meski kulit putih mulus itu terdapat noda muntahan dan bau makanan basi yang menyengat.Ditatap seperti ingin ditelan hidup-hidup, membuat Laura semakin histeris.Rasa jijik tak mampu lagi ia ungkapkan dengan kata. Isi lambungnya tumpah, dan tak bisa lagi dikeluarkan."Tuan Diego! Tolong ampuni aku! Kevin! Di mana kamu? Tolong aku! Tolong!"Suara jerit histeris dan raungan memohon ampun dari mulut Laura bergema memenuhi seluruh sudut ruangan berdinding beton yang dingin itu.Namun, tidak ada rasa iba sedikit pun di mata pria tunawisma yang sengaja disewa untuk memberikan pembalasan setimpal."Gadisku Sayang, kita mulai saja sekarang ya. Aku sudah tidak sabar."Pria itu menurunkan resleting celananya dengan terburu-buru sambil terus memeta lekuk tubuh Laura ya
Mata Laura perlahan terbuka. Kesadarannya perlahan kembali dengan kepala yang terasa berdenyut hebat.Efek sisa gas beracun masih menyengat paru-paru membuat tenggorokannya terasa terbakar dan pandangannya buram.Saat ia mencoba menggerakkan kedua tangan untuk mengusap wajah, sensasi dingin dan kasar langsung menyentak sarafnya."Ugh!"Kedua pergelangan tangannya terikat kuat dengan rantai besi yang menggantung ke langit-langit kamar.Tubuhnya terkulai kaku di atas lantai semen yang dingin dan kotor."K-kenapa ... di mana ini?" rintih Laura dengan batuk-batuk kecil.Saat matanya menyesuaikan dengan pendar lampu temaram yang berkedip-kedip, selimut terpal yang menutupi tubuhnya meluncur jatuh.Laura membelalak lebar saat menyadari tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun, sama persis seperti saat ia dilumpuhkan di kamar hotel."Kevin! Kevin, kamu di mana!" jerit Laura panik, suaranya bergema di dalam ruangan berdinding beton tebal tanpa jendela itu. "Aku di mana? Kevin! Apa yang kam
"Tuan, missi pertama selesai! Tidak ada korban dari tim kami. Semua anak buah Kevin tumbang. Lokasi sudah dibersihkan. Mayat-mayat mereka sudah kami buang ke danau agar dimakan buaya seperti perintah Tuan."Kabar bersihnya lorong hotel bintang lima hingga berhasil ditangkapnya Kevin dan Laura tanpa celah mendarat cepat di telinga Diego.Di dalam ruang kerja pribadi mansion Foster yang temaram, Diego meletakkan ponsel di atas meja kayu mahoni setelah mendengar informasi itu.Diego menghembus napas panjang, merapikan lengan kemejanya yang tergulung.Di sofa seberang, Freya duduk anggun sambil menyesap teh hangat. Wajah cantiknya memancarkan ketenangan.Ia sudah mendengar laporan Yoss secara langsung mengenai eksekusi penangkapan dua ular yang selama ini mengacaukan hidup mereka."Kevin dan Laura sudah dalam perjalanan ke vila tengah hutan, Baby," tutur Diego, berjalan mendekati istrinya, melangkah tegap lalu mendudukkan tubuh tepat di samping Freya.Ia merengkuh pinggang ramping sang
Freya terhenyak kaget, langkahnya tertahan di depan pintu klinik saat melihat sebuah mobil mewah sudah terparkir manis di tengah parkiran.Dua orang pria bertubuh tegap dengan setelan formal tampak berdiri tegak, lalu dengan gerakan serempak melangkah menghampiri Dokter Cantik itu."Nona, kami dat
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja







