LOGIN"Menyebalkan! Pantas saja aku sampai melupakan semua kenangan tentangmu!" dengkus Freya sambil melempar lirikan sebal.Diego menghela napas dalam-dalam, sorot matanya meredup. "Jadi ... kamu benar-benar belum mengingatku sama sekali?""Belum! Dan aku sama sekali tidak tertarik untuk mengingat semua kenangan tentang kita!" jawab Freya ketus, memalingkan wajah.Diego menundukkan kepala, perlahan meletakkan kembali cangkir kopi di tangannya ke atas meja. "Aku akan tetap setia menunggu sampai kamu mengingat semuanya, Baby. Semua kenangan tentang kita dan perasaan cintamu padaku." Ia melirik Freya lirih."Ya, tunggu saja terus sampai kamu tua dan beruban," celetuk Freya asal bicara, sambil melirik Diego dengan senyuman yang sengaja ia sembunyikan di balik cangkir tehnya.Diego hanya diam. Masih menatap wajah cantik wanitanya. Sementara Freya berusaha menghindari tatapan itu, samb
"Keperluanku di sini sudah selesai. Aku hanya ingin mengantar surat undangan itu," ucap Santoso sambil bangkit berdiri dari sofa. "Aku sangat berharap kamu bisa menyempatkan diri untuk datang ke pesta kepulangan Dani, tentu saja bersama dengan Freya."Diego masih bergeming, terdiam menatap kartu undangan mewah yang tergeletak di atas meja kaca.Sementara itu, Santoso sudah melangkah pergi dengan dikawal ketat oleh para penjaga keluar dari mansion mewah tersebut.Setelah sang kakak benar-benar pergi, Diego menatap lurus ke depan, lalu mengangkat satu tangannya, memberi isyarat agar Yenzing yang sedari tadi berdiri di belakang untuk mendekat.Yenzing menundukkan tubuh dengan hormat. "Ada perintah apa, Tuan?""Hubungi Yoss sekarang juga. Tanyakan padanya kenapa Dani memilih pulang ke rumah Santoso. Bukannya selama ini dia bersikeras ingin hidup bersama Nadia? Kenapa sekarang di
Malam penuh gairah berakhir. Pagi harinya, dua orang pelayan datang mengantar makanan hangat ke kamar tidur utama.Tok! Tok! Tok!Mendengar ketukan di pintu, Freya membuka perlahan lalu berbicara dengan pelayan tersebut. "Tuan kalian masih tidur. Biar aku saja yang membawa makanannya ke dalam. Dia ...."Freya menoleh sesaat ke arah ranjang sambil mengulum senyum. "Dia sedang tidak berpakaian."Dua orang pelayan yang berdiri di depannya saling melempar pandang, lalu segera menundukkan kepala untuk menyembunyikan senyuman mereka."Baik, Nona. Ini makanannya," ucap salah satu pelayan sambil menyerahkan meja dorong berisi makanan, yang langsung diterima dan dibawa masuk oleh Freya.Setelah menutup pintu rapat, Freya terdiam di tempatnya. Mengingat kembali ucapan spontan barusan. "Apa aku ... pernah mengatakan hal seperti itu sebelumnya?" Freya menyentuh bibi
Setelah pergulatan panas di dalam kamar mandi selesai, Diego membawa Freya yang memakai handuk kimono putih, kembali ke kamar tidur dan membaringkannya dengan lembut di atas ranjang."Kamu mau ke mana?" tanya Freya saat melihat Diego memunguti pakaian dan mulai memakainya satu per satu."Sudah malam, kamu harus beristirahat," jawab Diego tenang.Freya mendengus sebal, menatap Diego dengan sorot mata jengkel. "Setelah apa yang kita lakukan di kamar mandi tadi, sekarang kamu mau meninggalkanku sendirian di sini begitu saja?"Diego menaikkan kedua alis tebalnya, menatap wanita itu dengan heran. "Bukannya kamu tidak suka melihat keberadaanku di dalam kamar ini?""Kamu pikir aku ini wanita kesepian yang membutuhkan kehadiranmu hanya untuk memuaskan nafsu saja? Lalu, setelah kamu selesai mendapatkan apa yang kamu mau, kamu pergi? Begitu?" cecar Freya ketus.
Diego tidak bersuara. Pria itu langsung menurunkan tubuhnya ke dalam air dan bergerak mendekati Freya."Kamu gila, ya? Masuk ke kamar mandiku tanpa pakaian seperti ini? Dasar pria dingin mesum!" pekik Freya panik sembari memejamkan kedua matanya rapat-rapat.Tanpa memberi aba-aba, Diego langsung merengkuh tengkuk Freya. Memangkas jarak di antara mereka dan mengecup lembut bibir merah alami wanitanya."Euhm! Lepaskan aku!" Freya mencoba mendorong dada bidang Diego, namun tenaganya sama sekali tidak sebanding. "Kurang ajar! Kamu berani menyentuhku seperti ini di tempat sempit begini?"Bukannya menyudahi, Diego justru membuat ciuman itu menjadi semakin dalam. Melumat habis bibir Freya hingga perlahan pertahanan Freya mulai runtuh.Meski akalnya terus menolak dan tangannya masih berusaha mendorong tubuh kekar Diego, entah mengapa tubuh Freya justru memberikan reaksi yang berbeda.Sentuhan itu terasa familier dan ia mulai menikmati.Tanpa sadar, Freya berhenti melawan. Membiarkan Di
"Tuan Diego masuk ke dalam kamar Nona Freya," bisik seorang pelayan bertubuh gempal pada pelayan lain yang berdiri di sampingnya."Ya, aku melihatnya sendiri tadi. Aku harap Nona tidak mengamuk lagi di dalam sana."Pelayan bertubuh gempal itu menggeleng-gelengkan kepala. "Tuan nekat sekali, ya. Kenapa Tuan tidak bisa bersabar sebentar saja sampai ingatan Nona Freya kembali pulih?"Pelayan satunya menyahut dengan senyum kecil. "Namanya juga laki-laki. Kalau sudah menginginkan sesuatu, mana bisa bersabar? Semua laki-laki itu hampir sama, mereka selalu ingin mendapatkan apa yang mereka mau detik itu juga. Mungkin kata 'sabar' hanya dikhususkan untuk kaum wanita saja."Pelayan bertubuh gempal manggut-manggut setuju. "Ya, aku sependapat denganmu."Saat keduanya sedang asyik membicarakan sang majikan, tiba-tiba Bibi Ziang menghampiri mereka dari belakang.Sontak kedua pelayan itu langsung bungkam, merapatkan mulut mereka karena terkejut setengah mati."Jangan sampai Tuan mendengar ka
Dengan langkah gontai yang tak lagi mampu menahan bobot tubuh, Dani ke luar dari ruang kerja Diego.Saat ia mendongak menatap ke depan, sekilas ia menangkap bayangan seorang wanita yang sangat ia kenal sedang melangkah masuk ke dalam lift."Nadia?" gumamnya tak percaya.Mencurigai ada sesuatu yan
"Waktumu sudah habis, kamu harus memberi jawaban sekarang!"Freya tersentak, kedua alisnya terangkat saat mendengar desakan Diego. Ini adalah pilihan paling sulit dalam hidupnya.Apakah ia benar-benar harus merelakan dirinya menjadi boneka Diego demi sebuah pembalasan dendam?Namun, Freya sadar s
[Aku menerima tawaran itu]Dengan ujung jari yang gemetar, Freya mengetik pesan singkat itu dan mengirimkannya kepada Diego.Begitu status pesan berubah menjadi 'dibaca,' Freya segera mematikan ponselnya dan melangkah pergi meninggalkan koridor ruang kerja Dani yang terasa memuakkan.Tidak ada ja
"Paman, aku datang ke sini karena aku ingin .... ""Aku akan membantumu, dengan satu syarat."Kalimat Diego memutus kata-kata Freya. Mata Freya membulat sempurna. Bagaimana mungkin pria ini tahu maksud kedatangannya sebelum ia sempat mengucapkannya?Freya Xania seorang spesialis kandungan, tidak







