Share

Belum Move On

Penulis: Eng_
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-18 14:42:57

Sabtu malam ini rumah keluarga Prayoga lebih ramai dari biasanya. Halaman belakang dipenuhi aroma daging BBQ yang dipanggang, asap tipis mengepul di udara dingin Jakarta, bercampur dengan tawa riuh yang pecah dari setiap sudut.

Hari ini ulang tahun Bima. Semua keluarganya berkumpul. Irine, istrinya cekatan sibuk bolak-balik dari dapur, Elio Prayoga, putra semata wayangnya dan tak lupa Sang adik, Sadewa Prayoga. Semua sahabat dekat Bima juga datang. Sagara- yang meski jarang bicara panjang tapi selalu jadi sahabat setia, datang bersama putranya, Noah. Begitu juga Juan, membawa putrinya yang cantik, Lyra. Tentu saja Orion dan Langit tak ketinggalan.

Secara teknis Orion dan Langit adalah teman Sadewa, tapi hubungan mereka sudah terjalin lama, jadi keduanya sudah seperti adik sekaligus teman bagi Bima. Bahkan Langit hampir bisa dibilang tinggal bersama mereka, saking seringnya ia menginap di rumah Bima.

Langit jarang pulang ke rumahnya sendiri. Ia lebih sering menginap di rumah teman-tem
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Bukan Tempatku

    Langit memarkirkan mobilnya di halaman rumah Reya, tepat di samping mobil yang tadi Wendy dan Sky kendarai. Mesin dimatikan. Ia menoleh ke Sky sambil tersenyum.“Kita sampai,” katanya sambil melepas seat belt.Sky membalas senyum itu dan ikut membuka seat beltnya. Mereka turun dari mobil bersamaan.“Thank’s for the pizza. It seriously helped before I had to face my mom’s punishment,” Sky berkelakar.Langit terkekeh pelan. “You do know this punishment didn’t come out of nowhere, right?” ucapnya dengan ekspresi dibuat-buat seolah galak. Tangannya terangkat, mengacak rambut Sky dengan lembut. Senyumnya tulus.“Kamu berhak marah. Saya juga pasti marah kalau jadi kamu—”Dalam hati Langit menambahkan, mungkin saya bahkan bisa jauh lebih brutal dari kamu kalau ada di posisi itu.“Tapi kemarahan nggak bikin tindakan melukai orang lain jadi benar. Iya kan?”Sky mengangguk. “Noted, Coach. Lain kali saya akan belajar lebih

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Penyesalan

    Ramon menepikan mobilnya di depan gerbang sekolah Sky. Belum sempat mesin benar-benar mati, Reya sudah membuka pintu dan masuk. Gerakannya cepat, nyaris kasar. Pintu tertutup dengan bunyi yang terlalu keras untuk sebuah kebetulan.Ramon menoleh sekilas. Reya duduk tegak, menatap lurus ke depan. Wajahnya pucat, rahangnya kaku.“What’s wrong?” tanya Ramon akhirnya, pelan. “You look a mess … what happened?"Mobil mulai melaju. Jalanan siang itu ramai, tapi di dalam mobil terasa sunyi.“Apa Sky dapat masalah di sekolah?”“Iya.”Nada Reya datar. Terlalu datar.Ramon mengerutkan kening. “Masalah apa?”Reya menarik napas pendek. Tatapannya tetap lurus ke depan.“Dia mukulin temannya sampai masuk rumah sakit.”Ramon refleks menginjak rem sedikit. “What?!”Ia menoleh cepat. “Tha’s impossible. Sky would never do something like that.” “Tapi itu fakta.”Reya akhirnya menoleh. Ta

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Pizza dan Percakapan

    Adakalanya suatu hari, matahari terasa tepat berada di atas kepala. Panasnya menyengat, membuat isi kepala ikut mendidih. Keringat bercucuran. Tidak nyaman. Rasanya ingin marah-marah dan mengumpat pada apa saja.Lalu tiba-tiba hujan turun begitu saja.Tanpa mendung. Tanpa peringatan.Dan semua amarah itu hilang begitu saja.Itulah yang Langit rasakan.Suara Sky membuatnya luruh seketika. Emosinya mereda. Kekacauan dalam kepalanya tenang perlahan, seperti debu yang jatuh satu per satu ke dasar.Langit menoleh. Matanya bertemu dengan manik cokelat gelap Sky. Senyum anak itu tersungging tipis tapi terasa amat tulus. Langit bisa melihat jelas wajah lelah dan sudut bibir Sky yang sedikit biru. Sky masih amat muda.Sky—anak manis dan hangat itu—kenapa dia harus mendengar hinaan sekejam itu?Hanya dengan memikirkannya saja, dada Langit terasa disayat. Padahal sedetik lalu kepalanya masih penuh tanda tanya. Ia

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Fakta Baru (?)

    Aroma kopi yang khas menguar di ruang makan rumah Bima. Wangi pahit itu bercampur dengan udara pagi yang sejuk dari halaman belakang. Hangat. Menenangkan. Matahari yang menyelinap lewat jendela kaca membuat suasana pagi terasa ringan, seolah hari ini akan berjalan tanpa beban.Sadewa berdiri di depan mesin penyeduh kopi. Cairan hitam pekat menetes pelan ke dalam cangkir. Ia bersenandung riang, tubuhnya ikut bergoyang mengikuti irama musik dari speaker kecil di sudut ruangan. Kemeja cokelatnya digulung sampai lengan, memperlihatkan pergelangan tangan yang sesekali bergerak mengikuti ketukan.Langit terkekeh pelan dari kursinya. Tangannya tersilang di dada. Lengan sweater cokelat yang ia tarik sedikit ke atas memperlihatkan jam tangan bermerek di pergelangan tangannya—kontras dengan penampilannya yang santai. Di hadapannya, cangkir kopi masih mengepulkan asap.“Morning.”Suara Irene muncul dari arah ruang tengah. Ia melangkah masuk sambil meletakkan

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Sidang Komite

    Malam yang panjang dan dingin akhirnya berganti pagi. Matahari bersinar cerah, tapi rumah Reya masih sama suramnya. Sky belum membuka suara. Ia juga tak keluar saat Wendy memintanya sarapan. Pintu kamar Sky baru terbuka ketika Reya mengajaknya berangkat. Sama seperti kemarin, anak itu masih menghindari tatapan Reya.Mereka berangkat cukup pagi. Wendy yang menyetir dan Reya duduk di samping. Sky di kursi belakang, headphone terpasang, mata terpejam‒ seolah sengaja menghindari percakapan apapun. Reya dan Wendy hanya bisa saling pandang, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Saat mobil Reya melewati gerbang sekolah, beberapa mobil lain sudah berjajar rapi di area parkir tamu. Sepertinya Reya dan Sky bukan yang pertama tiba. “Elo berangkat ke kantor aja, Wen. Nanti kalau rapatnya selesai gue kabarin,” ucap Reya sambil melepas seatbelt. “Nggak papa. Gue tunggu,” jawab Wendy cepat. “Gue juga udah izin nggak masuk kantor hari ini. Percuma gue ke kantor, pikiran gue pasti kesini terus.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Bungkam

    Sore itu Reya masih di kantornya, terpaku pada layar laptop, memeriksa beberapa dokumen yang harus segera ia selesaikan.Ponselnya berdering. Reya mengernyit saat melihat nama yang berkedip di layar, Mr. Alex– konselor di sekolah Sky itu. Ini sudah lewat jam pulang sekolah. Ada apa?“Ya, selamat siang, Sir,” sapa Reya begitu ponsel menempel di telinganya. Di seberang, suara Mr. Alex terdengar hati-hati. “Ada hal penting yang harus saya sampaikan tentang Sky.”Deg. Perasaan Reya langsung tidak enak.“Ada apa, Sir?” tanyanya, pelan tapi tegang.“Sky memukuli temannya hingga pingsan, dan sekarang temannya sedang dibawa ke rumah sakit.”Reya bangkit dari kursinya seketika. Jantungnya bertalu. “Apa‒ tunggu! Sky … apa?” suara Reya gemetar.“Saya rasa anda harus segera ke sini.”Meski Mr. Alex jelas tidak akan melihatnya, Reya mengangguk cepat, panik. “Baik. Saya akan ke sana sekarang.”Telepon ditutup.Reya menyambar tas dan kunci mobilnya lalu meninggalkan ruangan dengan tergesa. Ia ba

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status