Share

Dilema Reya

Author: Eng_
last update publish date: 2026-07-10 10:11:29

Senin pagi,

Reya langsung bangun waktu alarmnya berbunyi. Dia menyeret langkahnya ke kamar mandi, mencuci muka seadanya lalu keluar kamar sambil menahan kantuk. Dia butuh kopi.

Namun belum sampai di meja yang Reya tuju, langkahnya langsung terhenti begitu melihat Wendy sudah duduk di meja makan dengan segelas kopi dan sepotong roti di tangan. Pakaiannya rapi, wajahnya sudah dipoles make up tipis, tas kerja bahkan sudah berada di samping kursi. Siap berangkat.

Reya sampai melirik jam dinding sek
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (5)
goodnovel comment avatar
diol
thoooorrrrr. up. upppppp
goodnovel comment avatar
Wili yana
ayo dong up date tiap hari
goodnovel comment avatar
diol
thor mana up nya
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Wendy dan Sagara

    Wendy sampai di kantor tepat sesuai perintah Saga. Saat ia tiba, Saga baru saja selesai mengeringkan rambut setelah mandi. Pria itu tampaknya memang tidak pulang entah sejak kapan. Wendy tidak bicara banyak. Ia hanya menyapa singkat lalu duduk di tempatnya sambil menunggu perintah. Setelah merapikan rambut, Saga menyambar dompet dan kunci mobil. “Ayo.” Ajakan itu singkat, tanpa penjelasan. Meski begitu Wendy pun berdiri dan mengikuti langkah Saga keluar. Baru dua langkah meninggalkan studio, mereka berpapasan dengan Langit yang sepertinya memang sengaja akan menemui mereka.“Mau kemana ini pagi-pagi?” tanya Langit. Senyumnya cerah sekali pagi ini– lebih cerah dari biasanya.Sebaliknya, Saga justru menanggapi dengan ketus. “Bukan urusan lo.”Langit mengusap tengkuk sambil menyeringai tipis “Iya deh, iya.” “Ada perlu apa?” tanya Saga lagi, masih dengan nada datar yang tidak terdengar ramah sama sekali.“Nyari Wendy gue, bukan elo.”Alis Wendy terangkat sedikit. Ia menggeser tubu

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Dilema Reya

    Senin pagi,Reya langsung bangun waktu alarmnya berbunyi. Dia menyeret langkahnya ke kamar mandi, mencuci muka seadanya lalu keluar kamar sambil menahan kantuk. Dia butuh kopi.Namun belum sampai di meja yang Reya tuju, langkahnya langsung terhenti begitu melihat Wendy sudah duduk di meja makan dengan segelas kopi dan sepotong roti di tangan. Pakaiannya rapi, wajahnya sudah dipoles make up tipis, tas kerja bahkan sudah berada di samping kursi. Siap berangkat.Reya sampai melirik jam dinding sekali lagi, memastikan kalau dia bangun di jam normal dan tidak kesiangan. “Lo jam segini udah rapi aja Wen, mau kemana?” Wendy menoleh. Senyumnya tipis, sedikit masam.dan tersenyum masam. “Kerja lah. It is Monday, you know.”Reya menguap lebar sambil melanjutkan langkahnya ke meja dapur. “Kantor Lo sekarang ada jam kerja baru apa gimana?”“Kantor sih nggak ya,” balas Wendy setelah menghela napas murung, “cuma bos gue aja yang emang kadang-kadang suka diluar nalar.”“Tadi pagi tiba-tiba WA, kata

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Keep our promise

    Setelah makan siang yang berakhir canggung tadi, mereka akhirnya pulang. Di perjalanan, Reya tetap menyetir. Dia tidak banyak bicara, hanya fokus pada jalanan dan kemudi yang ia genggam erat. Dan diamnya Reya ini pada akhirnya membawa suasana canggung sekaligus menegangkan. Wendy yang duduk di kursi samping pengemudi jelas paling tertekan. Berkali-kali ia menoleh ke Sky yang duduk di belakang. Keduanya saling memberi kode tanpa suara, jelas sedang membicarakan Reya, tapi Reya memilih diam pura-pura tidak peduli.Begitu mobil berhenti di garasi rumah, Reya langsung turun tanpa mengatakan apa-apa. Ia berjalan cepat masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju kamarnya. Di belakangnya, Reya bisa dengar Wendy dan Sky berkasak-kusuk. Kepanikan jelas terasa dalam bisik-bisik itu, tapi Riya tetap memilih tidak mau tahu, kepalanya sudah terlalu penuh.Sampai tepat ketika Reya sudah berdiri di depan pintu kamar, Sky menahan tangannya.“Ibu…” Reya berhenti.“Boleh ngomong bentar nggak?”Reya men

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Makan Siang dan Sedikit Nostalgia

    Sudah lewat pukul dua siang waktu akhirnya Sky dan teman-temannya menyerah. Lyra mulai merengek lapar. Elio juga sudah mengeluh dari tadi. Energi mereka yang tadi seolah tidak ada habisnya, kini benar-benar sudah terkuras. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan di area foodcourt yang ada di Dufan. Pilihan makanan beragam, dari jajanan cepat sampai restoran keluarga. Setelah diskusi singkat, rombongan itu sepakat untuk masuk ke Yoshinoya.Begitu masuk, sudah ada beberapa orang yang berbaris mengantri.Langit menoleh ke anak-anak. “Mau makan apa?” tanyanya.“Mau pilih sendiri, atau O aja yang pesenin, kalian duduk?”Elio langsung angkat tangan tangan. “Ikut Om Langit aja. Yang penting enak, cepet, dan bikin kenyang.”Yang lain mengangguk setuju.Langit lalu menoleh ke Reya dan Wendy. “Kalian gimana, Wen, Re? Mau pilih sendiri?”“Gue samain kayak anak-anak aja,” jawab Wendy santai.“Aku juga,” tambah Reya pelan.Langit tersenyum. “Oke. Gue aja yang antri. Kalian duduk dulu.”“Nggak a

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Dufan - 4

    Bagi Reya, kenyataan hampir selalu pahit.Lebih pahit dari racun mematikan.Setidaknya racun tidak akan membiarkannya sadar lagi, tapi kenyataan justru sebaliknya– memaksanya terjaga dengan rasa sakit.Kora-kora yang Reya naiki perlahan berhenti. Ayunannya melambat. Suara mesin mulai senyap hingga akhirnya tak terdengar lagi. Sesi mereka selesai.Reya masih diam sesaat. Matanya masih terpejam dan wajahnya masih tersembunyi di balik lengan Langit. Ia juga masih bisa merasakan tangannya digenggam erat.Detik ini, Reya berharap ia sedang dalam alam mimpi. Hanya bunga tidurnya. Maka saat dia membuka mata, semua akan lenyap begitu saja. Riuh taman bermain akan berganti dengan kamarnya yang kosong dan sunyi. Dengan begitu akan mudah bagi Reya untuk kembali menjalani kenyataan.Sayangnya … semua ini nyata. Tangannya yang digenggam dengan hangat, aroma parfum maskulin yang menyelimuti indra penciumannya, dan jantungnya yang berdebar tidak normal, semuanya nyata. Manis, tapi akan mencekik Re

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Dufan - 3

    “Roller coaster dulu gimana?”Sky menoleh kebelakang dan melempar pertanyaan itu dengan wajah sumringah yang seolah tidak akan surut.Mereka kini berdiri depan wahana dengan papan bertuliskan ‘Halilintar’ terpampang jelas di atas gerbangnya. Tulisannya merah menyala dengan jenis huruf tajam dan tambahan bentuk kilat yang membuatnya semakin dramatis.Reya melirik ke arah wahana yang sedang berjalan. Sama seperti roller coaster pada umumnya, beberapa kereta kecil-kecil berjejer panjang ke belakang di atas rel besi, meliuk tinggi lalu meluncur tajam. Gerakannya secepat kilat, benar-benar sesuai dengan nama wahananya. Teriakan penumpang memecah udara di ketinggian dan semakin keras saat kereta menukik tajam. Reya bergidik. “Count me out,” jawab Reya cepat. “Kalian aja.”Dia mundur satu langkah dan bergeser cepat ke balik pagar pembatas.“Come on, Mom,” Sky memohon, tapi Reya menggeleng kuat.Wendy tak ketinggalan, ia menyambar pergelangan tangan Reya cepat, tidak memberi kesempatan Rey

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Sky's Fav Person

    Sepanjang perjalanan, Reya tidak banyak bicara. Pandangannya lebih sering terlempar ke luar jendela, mengikuti lalu lalang kendaraan lain yang melintas cepat.Ibrar beberapa kali mencoba membuka obrolan, tentang pekerja

    last updateLast Updated : 2026-04-05
  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Kandidat Favorit

    Langit dan Sky memilih sebuah restoran mie Yamin tak jauh dari Skywave. Tempatnya sederhana, khas Bandung, dengan jendela kaca lebar menghadap jalan utama yang mulai padat oleh arus pulang kantor.Lampu-lampu kend

    last updateLast Updated : 2026-04-04
  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Apa lagi sekarang?

    Wendy tiba di kantor lebih pagi dari biasanya. Bahkan resepsionis yang biasanya menyambut di lobby bawah saja belum datang. Jika bukan karena Langit, Wendy tidak mungkin serajin ini.Ngomong-ngomong tentang Langit

    last updateLast Updated : 2026-04-02
  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Konfirmasi

    Ruangan Langit terasa lebih dingin dari biasanya. Tirai kaca setengah terbuka, membiarkan cahaya pagi masuk tapi tidak cukup hangat untuk mengusir tegang yang menggantung.“Ibrar siapa, Wen?”

    last updateLast Updated : 2026-04-02
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status