Share

Keputusan yang Berat

Author: Eng_
last update Last Updated: 2025-09-04 06:32:36

Ruang rapat GCP di Toronto siang itu sepi. Hanya ada Reya dan atasannya, Mr. Hamilton. Di atas meja, dokumen kontrak terbuka lebar dengan beberapa highlight mencolok.

“Mrs. Reya,” suara Mr. Hamilton tenang tapi tegas, “As I mentioned before. We’ve been watching your performance. You’re sharp, reliable, and consistent. That’s why the board wants you to lead our expansion in Southeast Asia. Jakarta regional office will be yours, if you accept.”

Reya menelan ludah. Jakarta. Kata itu saja sudah cukup membuat jantungnya berdegup lebih keras.

Mr. Hamilton mendorong dokumen ke arahnya. “The position comes with higher salary, housing allowance, international school benefit for your son, and a full relocation package. You deserve this.”

Reya tersenyum tipis, meski hatinya kacau. “Thank you, Sir. I… I’ll think about it.”

“Sure. But we’re hoping to get your response soon. Jakarta office needs someone who can deliver, and you’re our best candidate.”

***

Malam ini, sepulang kerja Reya memilih untuk tidak langsung pulang. Ia bersama Ibrar, duduk di bar kecil dekat kampus tempat mereka kuliah dulu. Segelas virgin mojito dengan hiasan potongan jeruk nipis dan daun mint tersaji di depan mereka.

“Kamu benar-benar dapat tawaran itu?” Ibrar menatapnya lekat.

Reya mengangguk. “Posisi tinggi, gaji besar, sekolah bagus untuk Sky. Semua fasilitas lengkap.”

Ibrar menyandarkan punggungnya, menarik napas panjang. “Tapi itu artinya kamu harus kembali ke Indonesia.”

Keheningan sejenak. Reya menatap gelas mojitonya yang mulai basah karena es batu yang mencair.

Bertahun-tahun lalu saat awal ia tinggal di Kanada, Reya juga sering di bar ini. Bukan sebagai pengunjung melainkan sebagai seorang pelayan. Siapa sangka gadis kumal itu kini kembali kesini dengan setelan bermerek dan membicarakan kontrak kerja bernilai jutaan dolar.

Secara kasat mata, Reya yang sekarang memang bukan Reya yang sama seperti sembilan tahun lalu. Namun apa yang ada dalam hatinya, nyaris tak pernah berubah.

“Gue takut, Brar,” bisiknya lirih. “Takut semua yang gue tinggalkan dulu… akan gue temukan lagi. Gue nggak tahu apakah gue sudah siap.”

Ibrar memutar kursinya hingga bisa menatap Reya penuh. Wajahnya yang teduh menatap prihatin dibalik kacamata tipis yang bertengger di hidungnya.

Tidak ada yang berubah dari Ibrar selain usianya. Kini Ibrar bukan lagi remaja yang dulu membantu Reya ke klinik saat tengah malam karena konteraksi yang makin menjadi. Ibrar sudah tumbuh jadi pria dewasa yang berwibawa dan penuh perhatian.

Bagi Reya, Ibrar bukan hanya anak pemilik panti tempat ia kabur dan bersembunyi. Ibrar adalah teman, sahabat, saudara dan orang yang sangat ia hormati. Mereka tumbuh bersama dan berbagi banyak kisah. Bahkan Ibrar yang membawa Reya ke Kanada. Ia seperti pelindung yang selalu hadir saat Reya butuh. Banyak yang bilang Ibrar terlalu serius, tapi di matanya, Ibrar adalah kebaikan yang hangat. Itulah kenapa malam ini Reya ingin mendengar pendapat Ibrar.

“Kalau menurutku, kamu lebih nyaman di sini. Di Kanada, kamu sudah settle, Re. Kamu dihargai, Sky juga sudah punya teman. Dia cerdas. Masa depannya cerah disini. Kalau kembali… akan banyak luka yang terbuka.”

Reya menggigit bibir. Ia tahu Ibrar benar. Tapi di sisi lain, ia juga tahu Sky selalu ingin tahu tentang Indonesia, tentang tanah kelahirannya. Juga tentang ayahnya.

“Kamu sudah diskusi sama Sky?”

Reya menggeleng. “Aku takut dia terlalu excited… Sky sekarang semakin sering membahas soal kemungkinan kuliah di Singapur. Aku tahu itu hanya alibi. Tujuannya jelas. Dia ingin lebih dekat ke Indonesia. Dan aku nggak bisa menahannya selamanya.”

Ibrar menghela napas, lalu tersenyum tipis. “Apapun keputusanmu, aku akan dukung. Tapi satu hal, Reya… jangan sakiti dirimu lagi.”

Reya menunduk. Kata-kata itu terasa seperti doa.

***

Aula Maplewood Middle School malam ini berkilau oleh cahaya lampu. Kursi-kursi yang tertata rapi sudah penuh dengan orang tua dan keluarga murid. Suara riuh orang-orang yang sedang mengobrol dan tertawa bercampur dengan dentingan piano yang sedang diuji coba. Spanduk besar bertuliskan “Winter Year-End Performance” tergantung megah di atas panggung.

Di barisan tengah Reya dan Wendy duduk berdampingan. Sejak tadi Wendy gelisah tak bisa diam. Tangannya sibuk merapikan gaun Reya, lalu beralih mengusap rambut Sky yang sudah disemprot hairspray sejak rumah.

“Oh my gosh, Sky… don’t forget to smile up there on stage. Jangan kayak ibumu yang mukanya datar terus udah macam kertas HVS itu.” bisiknya keras-keras sampai beberapa orang di kursi depan menoleh.

“Wen!” Reya menepuk tangan Wendy, menahan malu. “Pelan dikit dong, diliatin orang-orang ini.”

“Biarin! Anak gue ganteng banget hari ini. Ya Tuhan,” balas Wendy tanpa rasa bersalah.

Reya mendengus, protes, “Anak gue ya, enak aja ngaku-ngaku lo. Gue yang ngeden.” ‘

“Please. Gue yang nyebokin, yang nyuapin, jadi setengahnya punya gue dong.”

Sky mendongak dari partitur yang masih ia hafalkan, lalu memutar bola matanya. “Oh, c’mon… Masih aja kalian ini ngeributin itu terus.”

Tawa kecil pun pecah di antara mereka bertiga.

Sky berdiri, meraih ranselnya. ““I’m gonna get ready backstage now. Wish me luck, okay? See you later!”

Reya mengangguk dengan senyum lembut. “Good luck, Sayang.”

***

Tak lama, giliran Sky dan teman-temannya tampil.

“Alright, enjoy the performance from class 9-1!.”

Sorak sorai terdengar, beberapa siswa bersiul, ada yang bertepuk tangan heboh. Sky dan teman-temannya berdiri di panggung. Bersiap memberikan penampilan terbaik mereka.

Di balik piano besar, Sky menunduk sebentar dan menarik nafas panjang. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang berkilau tertimpa cahaya.

Wendy langsung berdiri, “Go, Sky! You’re gonna rock the stage!” teriak Wendy sambil mengacungkan dua jempol seperti cheerleader.

Beberapa penonton menoleh. Reya buru-buru menarik lengan Wendy supaya duduk. “Wen, please… bisa nggak sih?” katanya setengah berbisik.

Reya menarik lengan Wendy agar duduk kembali. “Wen, please…”

Wendy cengengesan. “Apa? Gue kan bangga.”

Meski di depan Wendy ia bilang malu, tapi dalam hati, Reya bersyukur. Ada Wendy di sisinya yang bisa melakukan itu mewakilinya.

Pandangan Reya tak lepas dari sang putra. Ia memperhatikan Sky yang sempat gemetar. Sky melihat ke arahnya dan Reya membalas dengan senyum menenangkan. Bibir Sky lantas menyunggingkan senyum yang sama - senyum yang hanya dimengerti satu sama lain.

Nada pertama terdengar. Lembut. Mengalun perlahan. Lagu itu… Reya langsung mengenalinya.

When I see you smile… I can face the world…

Reya membeku. Dadanya bergemuruh. Lagu ini…Setiap bait lirik yang Sky nyanyikan, menyeret Reya ke memori yang selalu ia tepis sekuat tenaga.

Yang Reya lihat bukan lagi Sky. Di mata Reya, di hadapannya adalah Langit yang sedang menyanyi lagu itu untuknya. Seperti enam belas tahun lalu. Dengan gitar tua dipangkuan, Langit menyanyikan lagu yang sama dengan senyum lebar dan mata berbinar. Membuat Reya merasa amat dicintai terasa kembali begitu nyata.

Dada Reya bergemuruh. Air mata hangat jatuh begitu saja. Makin lama makin deras, bhunya bergetar. Reya buru-buru menutup mulut dengan tangan agar tangisnya tak terdengar.

“Re? Elo nangis?” Wendy memeluk lengannya, wajah panik sekaligus haru. “Astaga, terharu banget, ya?”

“Gue juga terharu.” Tangan Wendy mengelus-elus Reya. “Dia kayak… bener-bener lahir buat ini,” gumam Wendy, matanya ikut berkaca.

Reya mengangguk pelan, tak mampu berkata-kata. Pandangannya tak pernah lepas dari Sky. Jemari anak itu menari di atas tuts piano dengan keyakinan yang mempesona.

Tapi disaat yang sama setiap bait lagu seperti menusuk hatinya.

“Kenapa masih sesakit ini?” bisiknya dalam hati.

Di atas panggung, Sky menutup penampilannya dengan nada terakhir yang panjang dan manis. Tepuk tangan menggema memenuhi aula. Wendy berdiri paling pertama, bertepuk tangan sekuat tenaga sambil bersorak, “Bravo! That’s my boy!!”

Reya terdiam sejenak, mengatur nafasnya. Setelah cukup yakin ia bisa mengendalikan diri, ia pun berdiri perlahan, masih mengusap air matanya. Pandangannya kabur, tapi ia ikut melambai ketika Sky melirik ke arahnya dengan sebuah senyum hangat.

Di panggung, Sky menatap ke arahnya, lalu tersenyum, senyum yang sama persis dengan senyum Langit dulu.

Hati Reya kembali terguncang. Di balik kebanggaan yang membuncah, ada ketakutan yang merayap.

Enam belas tahun sudah berlalu, tapi rasanya Reya masih di tempat yang sama. Masih menyimpan nama yang sama. Masih takut…

Bagaimana jika Langit sudah bahagia dengan hidupnya tanpa Reya? Apa dia siap jika Langit ternyata sudah melupakannya? Bagaimana dengan Sky?

Reya selalu meyakinkan Sky bahwa Langit bukan tidak menginginkan kehadiran Sky. Langit hanya tidak bisa bersama Sky karena suatu alasan. Tapi bagaimana jika ia salah? Bagaimana kalau ternyata sebaliknya. Mungkin saja Langit telah bahagia dengan hidupnya dan keberadaan Sky justru membuatnya terganggu.

Sorak sorai mulai mereda. Anak-anak menunduk memberi salam, lalu berjalan ke belakang panggung.

Reya masih berdiri terpaku, menahan perasaan yang berkecamuk. Ia tahu, di balik alasan pekerjaan dan masa depan, ada hal lain yang membuatnya harus kembali ke Indonesia.

Dan saat tatapan Sky menyapu penonton lalu berhenti tepat padanya, Reya sadar akan satu hal, keputusan pulang kali ini bukan hanya soal karier. Ini tentang hati. Tentang dirinya. Dan tentang seorang pria yang mungkin tak lagi menunggu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Pizza dan Percakapan

    Adakalanya suatu hari, matahari terasa tepat berada di atas kepala. Panasnya menyengat, membuat isi kepala ikut mendidih. Keringat bercucuran. Tidak nyaman. Rasanya ingin marah-marah dan mengumpat pada apa saja.Lalu tiba-tiba hujan turun begitu saja.Tanpa mendung. Tanpa peringatan.Dan semua amarah itu hilang begitu saja.Itulah yang Langit rasakan.Suara Sky membuatnya luruh seketika. Emosinya mereda. Kekacauan dalam kepalanya tenang perlahan, seperti debu yang jatuh satu per satu ke dasar.Langit menoleh. Matanya bertemu dengan manik cokelat gelap Sky. Senyum anak itu tersungging tipis tapi terasa amat tulus. Langit bisa melihat jelas wajah lelah dan sudut bibir Sky yang sedikit biru. Sky masih amat muda.Sky—anak manis dan hangat itu—kenapa dia harus mendengar hinaan sekejam itu?Hanya dengan memikirkannya saja, dada Langit terasa disayat. Padahal sedetik lalu kepalanya masih penuh tanda tanya. Ia

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Fakta Baru (?)

    Aroma kopi yang khas menguar di ruang makan rumah Bima. Wangi pahit itu bercampur dengan udara pagi yang sejuk dari halaman belakang. Hangat. Menenangkan. Matahari yang menyelinap lewat jendela kaca membuat suasana pagi terasa ringan, seolah hari ini akan berjalan tanpa beban.Sadewa berdiri di depan mesin penyeduh kopi. Cairan hitam pekat menetes pelan ke dalam cangkir. Ia bersenandung riang, tubuhnya ikut bergoyang mengikuti irama musik dari speaker kecil di sudut ruangan. Kemeja cokelatnya digulung sampai lengan, memperlihatkan pergelangan tangan yang sesekali bergerak mengikuti ketukan.Langit terkekeh pelan dari kursinya. Tangannya tersilang di dada. Lengan sweater cokelat yang ia tarik sedikit ke atas memperlihatkan jam tangan bermerek di pergelangan tangannya—kontras dengan penampilannya yang santai. Di hadapannya, cangkir kopi masih mengepulkan asap.“Morning.”Suara Irene muncul dari arah ruang tengah. Ia melangkah masuk sambil meletakkan

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Sidang Komite

    Malam yang panjang dan dingin akhirnya berganti pagi. Matahari bersinar cerah, tapi rumah Reya masih sama suramnya. Sky belum membuka suara. Ia juga tak keluar saat Wendy memintanya sarapan. Pintu kamar Sky baru terbuka ketika Reya mengajaknya berangkat. Sama seperti kemarin, anak itu masih menghindari tatapan Reya.Mereka berangkat cukup pagi. Wendy yang menyetir dan Reya duduk di samping. Sky di kursi belakang, headphone terpasang, mata terpejam‒ seolah sengaja menghindari percakapan apapun. Reya dan Wendy hanya bisa saling pandang, sama-sama tidak tahu harus berbuat apa. Saat mobil Reya melewati gerbang sekolah, beberapa mobil lain sudah berjajar rapi di area parkir tamu. Sepertinya Reya dan Sky bukan yang pertama tiba. “Elo berangkat ke kantor aja, Wen. Nanti kalau rapatnya selesai gue kabarin,” ucap Reya sambil melepas seatbelt. “Nggak papa. Gue tunggu,” jawab Wendy cepat. “Gue juga udah izin nggak masuk kantor hari ini. Percuma gue ke kantor, pikiran gue pasti kesini terus.”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Bungkam

    Sore itu Reya masih di kantornya, terpaku pada layar laptop, memeriksa beberapa dokumen yang harus segera ia selesaikan.Ponselnya berdering. Reya mengernyit saat melihat nama yang berkedip di layar, Mr. Alex– konselor di sekolah Sky itu. Ini sudah lewat jam pulang sekolah. Ada apa?“Ya, selamat siang, Sir,” sapa Reya begitu ponsel menempel di telinganya. Di seberang, suara Mr. Alex terdengar hati-hati. “Ada hal penting yang harus saya sampaikan tentang Sky.”Deg. Perasaan Reya langsung tidak enak.“Ada apa, Sir?” tanyanya, pelan tapi tegang.“Sky memukuli temannya hingga pingsan, dan sekarang temannya sedang dibawa ke rumah sakit.”Reya bangkit dari kursinya seketika. Jantungnya bertalu. “Apa‒ tunggu! Sky … apa?” suara Reya gemetar.“Saya rasa anda harus segera ke sini.”Meski Mr. Alex jelas tidak akan melihatnya, Reya mengangguk cepat, panik. “Baik. Saya akan ke sana sekarang.”Telepon ditutup.Reya menyambar tas dan kunci mobilnya lalu meninggalkan ruangan dengan tergesa. Ia ba

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Batas Kesabaran

    Sky sudah cukup tenang.Bisik-bisik itu masih beredar. Tatapan aneh pun masih mengikutinya sepanjang pagi. Bahkan di kelas, dia berkali-kali memergoki teman-temannya menoleh ke arahnya. Tapi Sky belajar mengabaikannya. Tidak apa-apa. Dia bisa menahannya. Selama Elio, Lyra, Noah, dan Bian tetap berdiri di sisinya, semua itu bukan masalah besar.Pergantian jam terakhir berbunyi. Kelas Sky harus menuju laboratorium kimia. Elio dan Bian sudah lebih dulu keluar, disusul anak-anak lain. Sky masih di dalam kelas, merapikan buku-bukunya dengan gerakan pelan.Saat ia melangkah keluar, lorong sudah hampir kosong. Dan di sanalah Xander berdiri. Bersandar di dinding, tangan terlipat di dada, dengan senyum miring yang sejak pagi jelas mencarinya. Sepertinya melihat Sky tetap tenang setelah provokasi tadi pagi membuat Xander tidak puas.“Ternyata selain nggak punya bapak,” Xander membuka suara, nyaring di lorong sepi itu, “elo juga nggak punya malu ya.”Sky tidak berhenti. Dia terus berjalan.“Eh?”

  • Kesempatan Kedua? (Aku, Kau dan Rahasia)    Pesan Misterius

    Reya menurunkan kaca mobil begitu Sky membuka pintu.“Good luck, Sayang. See you after school.”Sky mendekat, mencium pipi ibunya singkat. “See you, Mom.”Ia berbalik, melangkah ke arah gerbang. Pagi itu cerah, tapi langit tidak menjamin perasaan manusia di bawahnya ikut cerah, kan?Begitu Sky melewati gerbang, ia menangkap sekilas tatapan beberapa siswa. Bukan tatapan biasa. Cara mereka melihat Sky terasa aneh.Mereka menunduk cepat setelah Sky menoleh. Tapi jelas tadi mereka saling bisik di belakang tangan, menunjuk samar ke arah Sky.Apa gue cuma overthinking? Mungkin. Sky menarik napas, memilih tidak ambil pusing. Namun semakin jauh Sky masuk ke halaman, semakin banyak tatapan itu berdatangan. Sama bentuknya, sama nadanya: berbisik, melirik, dan menahan tawa kecil.Langkah Sky mulai terasa berat.Saat ini tiba di depan kelasnya, Xander sudah disana, berdiri bersandar pada dinding. Tangannya terlipat di dada, wajahnya memancarkan senyum yang menyebalkan. Senyum yang membuat Sky me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status