MasukSetelah menjalani hidup yang berliku-liku sejak kecil, satu hal yang Reya yakin dengan pasti: cara untuk bertahan hidup adalah dengan tidak menghindari kenyataan. Sepahit dan semenyakitkan apapun kenyataan itu, kita harus berdamai dengannya.
Reya mengetuk pintu kamar Sky malam itu. “Sky?” Tidak ada jawaban. Reya mendorong pelan pintu kayu itu, mendapati putranya sedang sibuk di depan laptop dengan headphone menutupi telinga. Layar laptop memperlihatkan sebuah video rekaman pertandingan karate. Kualitas gambarnya tidak terlalu bagus, menunjukkan bahwa video itu adalah video lama, dan Reya tahu betul siapa yang ada dalam video itu. Ia menelan ludah, lalu mendekat dan menyentuh bahu Sky, “Ibu ganggu nggak?” Sky hampir meloncat dari kursi. “Mom!” katanya, buru-buru menutup laptopnya. Wajahnya tampak gugup seolah tak ingin Reya tahu apa yang sedang ia tonton. Reya hanya menatapnya, tersenyum tipis meski hatinya getir. “Kenapa, Mom?” Reya melangkah pelan ke ranjang Sky dan duduk. “Cuma mau ngobrol sama kamu aja, gak boleh?” balasnya. Sky mengangkat alis. “Come on, Mom… basi-basi banget. That’s so not you.” Reya terkekeh hambar. Senyumnya pahit, membuat Sky ikut mengernyit. “What is that? Did something bad happen?” Reya menggeleng, “Nope. Nothing bad.” Ia menarik napas dalam. “Actually … it might be something you’ve been waiting for.” Sky makin bingung. “Then why do you look so…worried?” Butuh beberapa detik untuk Reya menata kalimat. “Perusahaan tempat Ibu kerja planning to expand in Southeast Asia. Dan salah satunya adalah di Jakarta. Ibu dapat tawaran untuk posisi Regional Finance Director di sana.” Kerut di kening Sky perlahan pudar, berganti senyum dan sorot mata berbinar. Reya tahu Sky akan senang, tapi ia tidak menyangka putranya akan terlihat sebahagia ini. “That’s sounds great, Mom!” “Kamu beneran mau kita pindah ke Jakarta?” Sky mengangguk penuh semangat. Matanya berkilat bahagia. “Of course! I’ve always wnted to see Indonesia. And …” ia terhenti, senyumnya sedikit ragu. Reya menunduk, lalu menatap Sky lagi. “Sky, I know.… kamu pasti penasaran sama banyak hal. Sama Indonesia… sama ayahmu.” Reya melempar pandangan pada laptop yang tadi buru-buru Sky tutup saat ia masuk. Rasa getir merayap di dadanya. Ia meraih tangan Sky dan menggenggamnya erat. “Ibu tahu kamu nggak suka kalau ibu ngomong ini.” Ada sesak yang merambat ke tenggorokannya, “I’m sorry for everything. Maaf karena bikin kamu tumbuh tanpa sosok ayah hanya karena keegoisan Ibu.” “Mom…” Sky mencoba memotong, tapi Reya melanjutkan. Suaranya bergetar. “Kamu adalah segalanya buat Ibu, Sky. Apa pun yang kamu minta, Ibu akan coba wujudkan.” Reya menatap mata Sky dalam-dalam. “Kalau kamu mau kita ke Jakarta, sure, we’ll move back to Jakarta, tapi Ibu mau kamu janji satu hal …” Sky mengangguk pelan, matanya penuh rasa ingin tahu. “Kita pulang ke Jakarta… bukan untuk cari ayahmu,” ucap Reya sendu. Tenggorokannya sudah tercekat air mata, tapi ia coba menguatkan diri. “Ibu nggak tahu seperti apa hidup ayahmu sekarang. Mungkin saja dia sudah punya keluarganya sendiri dan bahagia. Without us.” Sunyi. Sky menatap ibunya lama sekali. Reya sungguh tercabik melihat sorot mata Sky saat ini. Seperti ia baru saja mematahkan harapan Sky, padahal sejak dulu dia sendiri yang membuat Sky berharap. “I get it, Mom. I promise.” Sky berkata lirih tapi yakin. Reya mengangguk. Matanya berkaca-kaca. Perasaan bersalah itu semakin nyata ia rasakan. Betapa egoisnya dia, memaksa anak sekecil ini mengerti hal yang tidak seharusnya dihadapi anak seusianya. Reya mengelus pipi putranya. “I love you so much, honey.” “I know… and that’s more than enough for me. I don’t need anything else.” Sky menarik ibunya dalam pelukan. Entah apa yang akan terjadi nanti. Reya tahu satu hal: iya punya Sky bersamanya. *** Beberapa jam kemudian, Reya duduk sendiri di dapur. Dengan segelas wine dingin di tangan, Reya merenungi obrolannya dengan Sky tadi. Tidak bisa dipungkiri ada perasaan lega setelah ia bicara dengan Sky tentang kekhawatirannya, tapi disatu sisi ia juga terharu, tak menyangka Sky telah tumbuh dewasa begitu cepat. Anak yang dulu ia timang kini bahkan bisa memberinya pelukan hangat menenangkan. Suara pintu depan berderit. Wendy muncul dari sana. Dengan langkah gontai, menghampiri Reya. “Hai,” sapa Wendy lirih, terdengar letih. Ia menarik kursi dan duduk di samping Reya. Reya menoleh, mengamati sahabatnya itu. Wendy tampak kacau sekali. Wajahnya lusuh dan matanya sembab, kontras sekali dengan gaun satin selutut yang melekat manis di tubuh rampingnya. “Hey, what’s going on? Did you cry?” Wendy mengangkat alis sambil meraih gelas kosong, mengisinya dengan wine di atas meja lalu menyesapnya. “I broke up with Sandy,” ucap Wendy. Suaranya pecah. “What?” Reya tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Dari semua hal yang mungkin menjadi alasan, Reya sama sekali tidak menyangka akan mendengar pernyataan itu. “But… Why? You guys seemed totally fine.” Wendy tertawa kering. “Yeah… you’re right. Everything was fine. We even talked about getting married.” Reya bisa merasakan kesedihan dalam suara Wendy. Ia mengelus tangan sahabatnya itu. “Terus kenapa putus? Kalian sudah pacaran lima tahun.” “Klise, Re. Keluarganya nggak suka sama gue?” Wendy menerawang sebentar sebelum kembali berkata, “Mereka bilang gue nggak setara sama Sandy….yah, nggak literally gitu, tapi intinya sama aja.” Reya terdiam, hatinya ikut tercabik. “Tapi mereka nggak salah juga,” Wendy melanjutkan, suaranya getir. “Pendidikan gue nggak setinggi Sandy. Dia lulusan Magister dari Universitas ternama sedangkan gue cuma lulusan SMA. Sandy punya karir cemerlang as an accountant sementara gue cuma penyanyi kafe. Dia tumbuh di keluarga cemara yang serba kecukupan sementara gue….” suara Wendy bergetar, tangisnya nyaris pecah tapi ia tahan. “Gue cuma gadis yatim piatu yang besar di panti.” Reya menatap sahabatnya iba. “Wen,” ia sekali lagi mengelus tangan Wendy. “Aku minta maaf kamu harus ngelewatin itu.” “Don’t be.” Wendy tersenyum getir. “Ini nggak ada hubungannya sama elo, Re. Gue aja yang terlalu bodoh.” “Wen….” Wendy menarik napas panjang, memaksakan senyum. “Gue sudah tahu dari awal mereka nggak setuju gue sama Sandy. Gue aja yang terlalu pengecut untuk menghadapi ini.” Jeda sebentar. Wendy menarik napas lagi. Reya tidak tahu harus berkata apa untuk membuat Wendy merasa lebih baik. “Tiap kali Sandy bahas tentang keluarganya,” Wendy kembali melanjutkan setelah berhasil mengendalikan tangisnya, “gue menghindar. Gue selalu menolak,” ucapnya parau. “Gue selalu takut mereka akan bahas masa lalu gue, bahas kesenjangan gue sama Sandy. Gue pikir gue nggak akan sanggup denger semua itu. Dan gue pikir gue nggak akan sanggup putus dari Sandy.” Wendy mengakhiri kalimatnya dengan senyum getir. “Tapi elo tahu apa yang lucu, Re?” ia menatap Reya. “Setelah gue hadapi. Ternyata gue lebih sedih karena membiarkan ketakutan menahan gue selama lima tahun ini.” “I mean, of course I’m sad about breaking up with him, tapi yang lebih menyedihkan adalah selama lima tahun ini gue ngebiarin diri gue hidup dalam fatamorgana.” Lagi, Wendy menarik napas dalam dan menghembuskannya keras-keras. bahu nya terkulai. “Kalau gue berani sejak awal, mungkin lima tahun gue nggak akan se sia-sia ini.” Hening. Reya benar-benar kehabisan kata. “Elo gimana? Udah ngomong sama Sky?” Reya terkesiap. Tak menyangka akan mendapat pertanyaan itu disaat seperti ini. Tapi Reya mengangguk. “Sudah.” “And then…what’s your decision?” “Gue akan ambil kontrak itu.” Wendy menyesap wine nya lagi, “Good choice,” ucapnya kemudian. “Menurut lo begitu?” “Of course,” kata Wendy mantab. “Gue yakin, banyak banget yang bikin elo overthinking. Terutama soal kemungkinan ketemu Langit lagi.” “Tapi belajar dari pengalaman gue, lebih cepat elo hadapi ketakutan itu lebih baik.” “Dan Jakarta sounds good. Gue juga belum pernah tinggal disana. Siapa tahu gue bakal nemu jodoh gue disana.” Reya tertawa tipis. “Cepet banget move on-nya,” “Life must goes on, babe.” Wendy mengedipkan mata, mencoba terlihat santai meski matanya masih merah. Reya hanya menghela nafas. Malam itu, dua sahabat duduk berdampingan dalam diam, sama-sama menyimpan luka, tapi juga sama-sama mencari keberanian untuk melangkah ke babak baru hidup mereka.Pukul 09.30 pagi.Langit baru saja tiba di ruangannya. Jasnya baru dilepas, kancing manset belum sepenuhnya terbuka. Ia masih berdiri sambil menggulung lengan kemeja ketika pintu didorong tanpa ketukan.Saga muncul dengan langkah cepat. Wajahnya tegang.“Ada apa, Bang?”“Telepon Wendy. Tanyain dia lagi dimana!”Kening Langit berkerut. “Dia belum dateng?”Saga tidak menjawab pertanyaan itu. “Telepon aja.”Langit menyandarkan pinggulnya ke tepi meja. “Kenapa nggak lo sendiri yang telepon, Bang? Kayak nggak punya nomornya aja.”
Lampu tanda record di ruang vocal akhirnya mati.Bian melepas headphone dari kepalanya, menggantungnya rapi lalu membuka pintu kada. Wendy sudah berdiri di luar, menyambutnya dengan senyum.“Capek nggak?”Bian menggeleng, senyumnya sopan seperti biasa. “Nggak, Kak.”Wendy mengangguk puas. Di luar dugaan, Bian bukan cuma punya suara bagus. Dia juga cepat menangkap instruksi Saga— bahkan yang terdengar absurd sekalipun. Kemampuannya tetap fokus di bawah tatapan intimidatif Saga sungguh pantas mendapat acungan jempol.“Untuk hari ini cukup sampai di sini dulu. Jadwal berikutnya nanti gue kabarin.”“Iya, Kak. Om, saya pamit.”
Sudah jam makan siang. Reya baru selesai rapat bersama stafnya.Ia duduk di kursi nya. Menyandarkan punggung. Pandangannya jatuh ke luar jendela. Mengamati awan-awan kecil yang bergerak pelan.Sudah beberapa hari sejak pertemuannya dengan Langit di supermarket. Dan Langit sepertinya memang tidak main-main dengan kata-katanya.Tentu saja.Reya kenal Langit.Jika sudah bertekad, tidak akan ada yang bisa membuatnya mundur.Langit mengirim pesan WA setiap hari. Menanyakan hal sepele— sedang apa, sudah makan atau belum, bahkan tak jarang mengirim pesan random, menceritakan bagaimana harinya berjalan. Tak peduli Reya membalas atau tidak, pesan itu tetap dat
Sepanjang perjalanan, Reya tidak banyak bicara. Pandangannya lebih sering terlempar ke luar jendela, mengikuti lalu lalang kendaraan lain yang melintas cepat.Ibrar beberapa kali mencoba membuka obrolan, tentang pekerjaan, cerita lama, iklan di baliho, tapi Reya hanya menanggapi singkat. Separuh hati. Separuh sadar.Rasa bersalah mengendap pelan di dadanya. Mau bagaimana lagi, fokusnya sedang terpecah.Beruntung rumah Reya tidak terlalu jauh. Mobil akhirnya berhenti. Keheningan itu pun akhirnya selesai.Ibrar turun lebih dulu, membukakan pintu untuk Reya turun lalu mengambil belanjaan dari bagasi.Di ruang tengah, Sky duduk bersila dengan konsol game di tangan, matanya terpaku pada layar TV.
Logika dan perasaan manusia seringnya tidak berjalan beriringan. Kita sadar sesuatu tak seharusnya dipertahankan, tapi hati tak semudah itu untuk melepaskan. Rak-rak supermarket berdiri rapi di bawah cahaya putih lampu neon. Reya mendorong troli pelan, matanya sibuk bergantian antara daftar belanja di ponsel dan derean barang-barang di depannya. Ia berhenti di depan rak minyak goreng. Botol ukuran besar ada di baris paling atas. Reya mengangkat tumitnya sedikit, bertumpu pada ujung kaki, ujung jarinya hampir menyentuh—Sret.Tangan lain lebih dulu mengambilnya. Reya menoleh. Matanya terbeliak kecil.Langit berdiri di sampingnya, senyum jahil terukir jelas.“Ternyata tinggi lo nggak nambah juga ya dari dulu,” ucapnya ringan sambil meletakkan botol minyak yang tadi ia ambil ke dalam troli Reya.Buru-buru Reya menurunkan kakinya, menegakkan badan. “Thanks,” katanya singkat. Datar. Beberapa detik berlalu dengan canggung. Reya tidak tahu harus bicara apa dan Langit juga hanya terus men
Langit dan Sky memilih sebuah restoran mie Yamin tak jauh dari Skywave. Tempatnya sederhana, khas Bandung, dengan jendela kaca lebar menghadap jalan utama yang mulai padat oleh arus pulang kantor.Lampu-lampu kendaraan berpendar memantul di kaca. Para karyawan berpakain rapi berjalan cepat di trotoar. Suara klakson bersahutan samar, bercampur aroma mie rebus dan minyak bawang yang hangat dari dapur terbuka.Mereka duduk di meja kosong dekat jendela.Seorang pelayan datang menyapa mereka dengan senyum ramah sambil memberikan buku menu. Keduanya membuka hampir bersamaan.Langit tidak butuh waktu lama. “Saya mie Yamin asin sama es jeruk.”Mata Sky melebar sedikit. Senyumnya mengembang. “Saya juga ke







