Share

Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!
Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!
Author: Yukari

Bab 1 Rahasia di Balik Baju Tidur

Author: Yukari
last update Last Updated: 2023-11-24 00:10:13

“Ini jam dua pagi. Kenapa kamu di sini?” 

Langit malam menyelimuti rumah Rani dengan ketenangan. Namun, keheningan itu segera terganggu oleh teriakan tajam Rani. Wanita itu mengamati penampilan sahabatnya.

Setahu dia, sahabatnya, Lidia, tidak datang sampai ia terlelap tadi. Namun, saat Rani terbangun dini hari karena ingin ke kamar kecil, ia justru mendapati pemandangan asing.

“Astaga, Rani, kenapa kamu bersikap berlebihan?” jawab Lidia tanpa merasa bersalah, wajahnya tak berkedip. “Aku hanya meminjamnya sebentar karena menginap di sini.”

Rani membelalak. Sahabatnya itu tampak sedang menggampangkan dirinya. 

“Lalu kenapa kamu di sini?” Rani bertanya lagi. Sebab rasanya asing melihat sahabatnya tersebut sedang berduaan dengan suaminya di waktu yang amat larut seperti ini.

Apalagi Rani melihat ekspresi keduanya tampak seperti terusik dengan kehadirannya. Padahal, ini kan rumahnya bersama Ivan, suaminya. 

Kenapa justru ia merasa asing di sini?

Apakah karena selama ini Rani membiarkan Lidia menggunakan barang-barang miliknya, Lidia lantas bertindak jauh, seolah-olah menganggap rumah Rani yang menjadi tempat Rani beristirahat dan berbagi kasih dengan suami, menjadi tempat miliknya juga. 

Tentu saja, Rani tidak akan tinggal diam.

“Lebih baik kamu pulang, Lidia,” ucap Rani kemudian.

Namun, Ivan, yang sebelumnya hanya menjadi penonton langsung menimpali.

“Temanmu kehujanan, Rani. Ia ingin menemuimu. Tapi karena kamu sudah tidur, aku tidak membangunkanmu,” ucap Ivan. Dengan belaian lembut, ia mengelus bahu Rani dan mencoba meredakan ketegangan. “Bajunya basah, aku meminjamkan baju milikmu sebagai baju ganti sementara. Bukan masalah besar, kan? Lagi pula bukankah Lidia adalah sahabatmu?”

“Lalu apa yang kalian lakukan dini hari begini?” tanya Rani jengkel, apalagi suaminya sedang membela wanita lain. 

Ivan gelagapan dan menjawab, “A-aku–”

“Dan kenapa kamu membela dia? Dalam situasi ini kamu seharusnya membela istrimu!” potong Rani. Mungkin ini adalah pengaruh hormon kehamilannya juga. Biasanya ia menyikapi semuanya dengan tenang dan tidak emosi. Namun, benar-benar. Perasaannya terasa janggal melihat kedekatan dua orang ini.

Saat itu, mata Rani melihat bahwa baju tidur Lidia tidak terikat dengan baik. Seperti sedang diikat dengan terburu-buru.

Apakah … suami dan sahabatnya–

Tiba-tiba Rani bergerak, tangannya terulur tanpa pikir panjang. Ia mencengkeram baju tidur yang menempel di tubuh Lidia.

“Lepaskan ini!” teriak Rani histeris sambil mengacak-acak baju tidur Rani dengan maksud ingin melepasnya. “Ini adalah hadiah dari suamiku. Kamu tidak berhak–” 

“Rani! Kamu gila ya!?”

Kedua tangan wanita itu saling mengacau, memukul, dan menghempaskan. Tidak ada yang mau mengalah. 

Di sisi lain, Ivan tidak melakukan apa-apa. Ia hanya berdiri dan gelisah di tempat seperti orang bodoh. 

“Lepaskan ini dan pergi dari sini, Lidia!” ucap Rani. Meskipun suaranya terdengar kasar, pipinya sudah basah karena air mata. Di kepalanya berputar momen-momen di mana suaminya menatap Lidia dengan tatapan hangat, bahkan lebih hangat dibanding saat Ivan melihat Rani.

Kenapa dia baru menyadari ini?

“Mulai sekarang kamu tidak boleh lagi berbicara denganku dan juga suamiku!”

“Apa!? Kamu pikir kamu punya hak?” balas Lidia, tak kalah kasar. “Sekalipun kamu tidak ingin berbicara denganku, tetapi suamimu tidak, tuh? Bahkan suamimu lebih suka bersama denganku daripada denganmu!” 

PLAK!

Suara nyaring terdengar nyaring setelah suara teriakan keduanya berhenti. Setelah itu keheningan meliputi ruangan, dengan posisi Lidia yang memegang pipi untuk mengurangi rasa sakit dan menutupi kemerahan di atasnya. 

“Lidia!” Ivan menghampiri Lidia dengan segera begitu melihat Lidia ditampar. Bukan hanya itu, ia bahkan memeriksa keadaan pipi Lidia dengan penuh perhatian. 

Rani menganga lebar. Ia tidak bisa berkata-kata ketika melihat interaksi keduanya.

“Kamu baru saja menamparku?” tanya Lidia. 

“Benar! Aku rasa tamparan saja tidak akan cukup untuk menghukum cara pikirmu yang menyimpang.” Rani melirik ke arah Ivan yang masih berdiri di sisi Lidia. “Sekarang kembalikan semua di tempatnya semula, Lidia!” 

Tidak terima, Lidia mendorong Rani dengan segenap tenaga. 

Tubuh Rani yang ringkih terpental ke belakang. Waktu seakan-akan berjalan lambat ketika Rani berada di tengah-tengah udara. Ia melihat ekspresi Lidia yang menyeringai senang ketika melihatnya berada dalam bahaya. 

BRUK!

Tubuh Rani membentur tembok. Letak lemari yang kurang menguntungkan membuat kepala Rani dikoyak oleh siku kayu yang tajam. Lemari yang tadinya putih pun jadi bernoda. Lantai yang sebelumnya bersih juga jadi dibanjiri oleh cairan kemerahan yang kental. 

“Lidia! Apa yang telah kamu lakukan?!” teriak Ivan. 

“A-aku tidak bermaksud untuk membuatnya sampai seperti itu. Aku hanya mendorongnya sedikit,” jawab Lidia. 

“Tidak terlalu masalah jika hanya Rani yang terluka. Tapi bagaimana jika bayinya juga kena? Semuanya bisa kacau kalau kita kehilangan bayi kita!” 

Dalam penglihatan yang buram, dan sedikit kesadaran yang tersisa, Rani melihat keduanya berseteru. Bukannya langsung memanggil ambulans. Mereka malah sibuk berdiskusi atas topik yang tidak dipahami oleh Rani.

“Bayi kita?” pikir Rani. Kepalanya terasa sakit, begitu pula perutnya. “Apa maksud–”

“Kalau dia keguguran, kita harus mencari cara lain agar aku bisa punya keturunan! Kita harus memulai sandiwara dari awal!”

Ucapan Ivan tersebut adalah hal terakhir yang didengar Rani sebelum ia kehilangan kesadaran sepenuhnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 21 Jejak Rekening

    Aku tidak menunggu matahari terbit untuk mulai bergerak, karena ketika Ivan akhirnya tertidur menjelang subuh dengan rahang yang masih terkatup tegang dan ponsel tergeletak di samping bantalnya seperti senjata yang gagal ia gunakan malam itu, aku sudah duduk tegak di ranjang kamar tamu sambil menatap layar ponselku yang dipenuhi salinan rekaman, pesan anonim, dan foto yang telah menjadi pemicu api di dadanya, lalu aku tersenyum pelan bukan karena bahagia, melainkan karena aku tahu pagi ini bukan tentang membela diri melainkan tentang membangun jebakan yang lebih rapi.“Aku tidak akan menunggu kamu menyerang lebih dulu,” bisikku dalam hati sambil merapikan rambut yang semalaman kusut karena berpura pura tidur. “Kalau kamu ingin bermain kotor, aku akan bermain lebih bersih, lebih tenang, dan lebih mematikan.”Ketika jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit, Ivan sudah berdiri di ruang makan dengan wajah yang terlalu tenang untuk disebut biasa, dan aku keluar dari kamar tamu dengan la

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 20 Pesan Tengah Malam

    Pada pukul 02.13, ketika udara di dalam apartemen terasa terlalu dingin untuk ukuran kota yang tak pernah benar benar tidur, sebuah getaran pendek memecah gelap di atas nakas sisi ranjang Ivan, dan dalam kegelapan itu aku yang terbaring di kamar tamu dengan ponsel terhubung pada perangkat kecil di langit langit kamar utama, mendengar suara notifikasi itu seperti dentang lonceng yang menandai babak baru permainan kami.Aku tidak sedang tertidur. Sejak ia mengganti pola kunci ponselnya dengan gerakan jari yang lebih panjang dan lebih hati hati, aku memilih untuk tidak lagi memejamkan mata tanpa kewaspadaan, dan malam itu aku berbaring dengan posisi yang sama seperti malam sebelumnya, ponsel di tangan, layar redup, aplikasi perekam menyala, dan napasku kuatur pelan agar tidak terdengar seperti orang yang menunggu sesuatu.Getaran kedua terdengar lebih lama. Lalu suara kasur berderit pelan ketika Ivan bergerak.“Apa lagi,” gumamnya lirih, suaranya serak karena baru terbangun.Aku memejamk

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 19 Tatapan Curiga

    Notifikasi kecil itu belum benar benar hilang dari pelupuk mataku ketika fajar menyusup melalui sela gorden kamar tamu, mengiris tipis ruangan yang pengap dengan cahaya pucat yang tidak membawa kehangatan apa pun, dan aku masih terjaga, masih memeluk ponselku seolah benda kecil itu satu satunya saksi bahwa aku tidak sedang kehilangan akal.Aku tidak pernah menyangka bahwa yang akan membuatku gemetar bukan suara Lidia, bukan pengakuan setengah hati Ivan, melainkan satu kalimat dingin di layar yang berbunyi aktivitas login tidak dikenal terdeteksi, seolah ada mata lain yang ikut membaca, ikut mengendus, ikut menunggu aku lengah.“Tenang,” bisikku pada diriku sendiri sambil menatap langit langit yang retaknya membentuk garis samar. “Kamu sudah memperhitungkan risiko. Kamu tidak bodoh.”Tetapi jantungku tidak peduli pada logika. Ia berdegup terlalu keras untuk ukuran subuh yang seharusnya sunyi.Suara pintu kamar utama terbuka memecah keheningan, diikuti langkah kaki yang berat menyusuri

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 18 Aku Tidak Akan Memberikan Anakku Padamu

    Aku tidak memindahkan tubuhku dari ranjang, tetapi sejak noda merah muda itu menatapku dari atas sarung bantal, aku tahu aku tidak akan pernah tidur di sisi yang sama lagi.Sore itu ketika Ivan pulang, suara kunci yang berputar di pintu terdengar lebih berat dari biasanya, seolah logamnya pun tahu ada sesuatu yang berubah di dalam rumah ini. Aku duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan, wajahku diterangi cahaya layar yang sengaja kubiarkan menyala agar ia melihatku sibuk, normal, tak tersentuh apa pun.Ia masuk tanpa menyapaku lebih dulu, melepas jas, menggantungnya, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Punggungnya terlihat tegang bahkan dari kejauhan.“Kamu tidak tanya bagaimana presentasiku?” tanyanya tanpa menoleh.Aku mengangkat wajah perlahan. “Bagaimana presentasimu?”“Berjalan baik,” jawabnya singkat. “Klien setuju lanjut ke tahap berikutnya.”“Bagus,” kataku tenang, lalu kembali menatap layar seolah berita itu hanya kabar biasa.Ia berdiri beberapa detik, m

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 17 Ivan Hanya Ingin Buat Anak

    Aku tidak pernah berniat menjadikan bulan madu sebagai medan perang, tetapi sejak Ivan memaksakan ide villa di Bali dengan suara penuh keyakinan yang terdengar seperti keputusan sepihak, aku tahu perjalanan itu bukan tentang cinta, melainkan tentang citra yang ingin ia pertahankan di depan dunia.“Semua orang tahu kita ke Bali,” katanya malam itu di apartemen, berdiri di depan meja makan dengan ponsel di tangan, memperlihatkan layar yang menampilkan foto villa dengan kolam renang menghadap laut. “Tempatnya privat, romantis, jauh dari gangguan. Ini sempurna.”Aku menatap gambar itu tanpa benar-benar melihatnya. Air biru, tirai tipis yang tertiup angin, tempat tidur putih besar dengan kelambu yang tampak seperti adegan iklan. Aku bisa membayangkan bagaimana ia akan memotret kami, bagaimana ia akan mengunggahnya, bagaimana komentar akan mengalir dengan ucapan iri dan doa bahagia.“Aku tidak mau ke Bali,” jawabku pelan.Ia tertawa kecil, seolah aku baru saja melontarkan candaan yang tidak

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 16 Sentuhan yang Ditolak

    Undangan itu menyebutnya sebagai makan siang sederhana bersama keluarga dan sahabat terdekat, tetapi ruangan privat di lantai dua restoran itu jauh dari kesan sederhana. Meja-meja bundar ditata rapi dengan taplak putih gading, vas-vas kecil berisi bunga segar, dan lilin aromatik yang menguarkan wangi lembut. Tawa dan suara kursi yang bergeser saling bertabrakan, membentuk riuh yang hangat, atau setidaknya terlihat hangat dari luar.Rani berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum masuk. Gaunnya jatuh lembut hingga betis, warna krem pucat yang membuat kulitnya tampak lebih terang. Rambutnya dibiarkan terurai sederhana, hanya disematkan satu jepit kecil di belakang telinga. Ia tampak seperti pengantin baru yang tenang dan anggun.Hanya saja, ketenangan itu bukan milik seorang perempuan yang sedang berbunga-bunga.Ivan menyusul dari belakang, langkahnya mantap, senyum terpasang rapi seperti jas yang dikenakannya. Begitu mereka masuk, beberapa sepupu jauh yang jarang ditemui, teman-tema

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status