Share

Bab 2 Rencana Jahat

Penulis: Yukari
last update Terakhir Diperbarui: 2023-11-24 00:11:13

“Bayi itu–”

“Sekarang apa yang harus kita lakukan? Kita telah kehilang–” 

“Kamu! Kamu tahu bagaimana perjuanganku agar bisa membuat Rani hamil, bukan? Jika begini, semuanya jadi sia-sia. Untuk apa aku menikahi Rani jika kita akhirnya tidak mendapatkan bayinya?”

Rani masih memejamkan mata. Hanya kegelapan yang terlihat di mata yang tertutup. Meskipun demikian, aroma obat, kasur yang tidak biasa tempatnya berbaring, ditambah dengan dan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya membuatnya sadar bahwa ia sedang berada di rumah sakit.  

“Apa? Apa maksud semua itu?” batin Rani.

Rani sebenarnya sudah sadar sejak satu jam yang lalu. 

Namun, karena ia menyadari keberadaan Ivan dan Lidia, ia tetap memejamkan matanya. 

Siapa yang sang kalau ia akan mendengar percakapan yang memuat banyak rahasia? Rani akan mengetahui watak asli dari Lidia, satu-satunya sahabat yang ia miliki sejak SMA, dan Ivan, suami yang ia pikir sangat mencintainya. 

“Aku juga tidak tahu. Siapa yang sangka Rani akan terjatuh hanya karena aku mendorongnya sedikit?” balas Lidia.

“Walau begitu kamu tidak harus mendorongnya,” jawab Ivan. 

“Jadi, apa menurutmu aku harus diam saja ketika aku ditampar?” protes Lidia.

Ivan menjawab, “Kalau kamu merasa tidak adil, kamu bisa membalasnya, Rani. Aku tidak melarangmu. Tapi harusnya kamu tahu waktu yang tepat!”

“Argh, masa bodoh! Pokoknya aku tidak salah! Sejak awal itu salah tubuhnya yang lemah. Ia yang salah karena goyah dan jatuh hanya karena sedikit dorongan,” gerutu Lidia. “Lagi pula, dia yang mulai! Dia yang mencari masalah lebih dulu karena mempermasalahkan perkara sebuah baju tidur

Wajah Ivan tampak kusut. Ia menghela napas berkali-kali sambil menggaruk belakang kepala karena terjadi peristiwa yang di luar rencananya. 

Melihat gestur Ivan, Lidia pun mulai merasa bersalah. Kemudian, Lidia memberi solusi untuk meringankan beban Ivan. 

“Sudahlah, Ivan. Kita tidak bisa memutar waktu. Yang terjadi biarlah terjadi. Karena semuanya sudah seperti ini, kita memerlukan rencana baru. Bagaimana jika kita mencari orang lain sebagai pengganti Rani,” ucap Lidia. “Kamu tidak perlu menikahinya. Kamu hanya perlu membuatnya hamil. Lalu kita bisa membuat keadaan yang mengharuskan wanita itu untuk menyerahkan anaknya padamu.”

Ivan membalas,” Ngomongnya sih mudah, Lidia. Itu karena bukan kamu yang menjadi aku. Kamu pikir seberapa banyak pengorbananku selama ini untuk merayu dan menikahi Rani?”

Lidia membuka tangannya, melangkah maju dan mendekap pria besar itu di dalam pelukannya. Dengan tangan yang bergerak naik turun, ia mengelus punggung Ivan untuk memberikan penghiburan. 

Lidia berkata, “Aku tahu, Ivan. Aku tahu. Bukankah aku juga selalu mendukungmu selama ini? Aku juga akan terus mendukungmu untuk selanjutnya. Memang salahku karena aku memiliki rahim yang lemah dan tidak bisa hamil. Walau begitu, aku tidak merasa kesal sama sekali ketika kamu menjalin hubungan dengan wanita lain agar kamu punya anak.”

Bibir Rani berkedut penuh protes. Walau demikian, rasa cinta yang ia miliki terhadap pria itu membuatnya masih bisa menekan kesedihan dengan paksa. 

Lidia melanjutkan, “Aku akan mencarikan wanita yang baru untukmu.”

Ivan menghela napas. “Baiklah, Lidia. Aku tidak akan memperpanjang masalah ini karena aku sangat mencintaimu.” 

“Sekarang,” balas Lidia. “Kita telah kehilangan bayi itu. Bukankah peranan Rani sudah tidak ada gunanya sekarang?” 

Rani tersentak ketika mendengar pernyataan Lidia. Informasi ini terlalu banyak untuk ia terima.

“Anakku … bayiku … aku sudah kehilangan bayiku,” ringis Rani dalam hati, meratapi kepergian bayinya yang tercinta. 

Wanita itu sekuat tenaga menahan dirinya agar tidak menunjukkan reaksi karena masih ada Lidia dan Ivan di sana. Namun–

“Kalau dipikir-pikir, hasil ini juga tidak terlalu buruk. Rani terlalu curigaan dan pecemburu,” ucap Ivan. Ia tersenyum licik. “Selain itu, bukankah kita memiliki asuransi jiwa Rani?” 

Rani tergeragap.

“Mereka … akan membunuhku?” batin wanita itu tidak percaya. 

Ia mendengar suara langkah kaki Lidia yang berjalan mendekat, ditambah lagi bayangan gelap yang menutupi penglihatan membuat Rani membuka mata. 

“Ra-Rani, kamu sudah sadar?” tanya Lidia gelagapan. Tangannya hampir menyentuh masker oksigen Rani. 

“Kamu terkejut karena aku masih hidup?” Rani menyeringai tipis, meski napasnya terengah-engah.

Meski Rani masih dalam status sakit, ia bukannya tidak berdaya. Ia mencengkeram pergelangan tangan Lidia dan mendorongnya menjauh.

“Sial.” Rani mendengar Ivan bergumam. Mereka sempat beradu pandang sebelum kemudian Ivan melangkah maju.

Terjadi pergulatan singkat ketika Ivan melepas masker oksigen Rani yang memberontak sekuat tenaga.

“To–”

Seruan lirih Rani teredam bantal yang tiba-tiba menutupi wajahnya, memblokir aliran napasnya. 

Rani menggeliat, meronta sekuat tenaga agar bisa membebaskan diri. Meskipun demikian, ia tidak cukup kuat untuk bisa melawan tenaga seorang pria. 

Ivan mengekang tubuhnya dengan sangat kuat. Bahkan pinggangnya tidak bisa bergeser sama sekali. Hanya kakinya yang menendang-nendang udara karena ingin meminta pertolongan. 

“Tuhan, tolong–”

Namun, pada akhirnya, tubuh yang ringkih itu kehabisan tenaga. Setelah beberapa menit, Rani berhenti bergerak. Ketika bantal di wajahnya diangkat, terlihat air mata yang mengalir membasahi kasur. 

Di saat-saat sebelum Rani menghembuskan napas terakhirnya, Rani membatin, “Aku tidak akan memaafkan kalian! Kalau saja aku diberi kesempatan kedua, aku akan membalas semua ini!”

Itu adalah ucapan emosi yang Rani ucapkan di saat-saat terakhirnya. 

Akan tetapi, siapa yang sangka kalau harapannya akan terkabul? 

Ketika Rani mengira kalau ia sudah meninggal, ia malah membuka mata di depan layar monitor yang penuh dengan tulisan dan angka. Tempat duduk itu terasa sangat akrab karena telah menjadi tempat di mana ia menghabiskan waktu selama bertahun-tahun untuk membangun karir. 

“Rani, selamat atas pernikahanmu. Acaranya besok, ‘kan? Aku tidak menyangka kalau kamu masih akan bekerja di saat-saat seperti ini,” cetus salah seorang wanita dengan setelan kemeja kepada Rani.

“Pernikahan? Besok?” tanya Rani. 

Rani masih dilanda kebingungan. Saat ia celingak-celinguk dengan gelisah, ia melihat kalender yang terletak di meja kerjanya. 

Tidak percaya dengan kemampuan penglihatannya, Rani pun menangkap kalender itu, menempatkannya tepat di depan mata, dan menatapnya lekat-lekat. 

“APA? Tahun 2023? Apa aku mengulang waktu?” seru Rani dalam hati.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 21 Jejak Rekening

    Aku tidak menunggu matahari terbit untuk mulai bergerak, karena ketika Ivan akhirnya tertidur menjelang subuh dengan rahang yang masih terkatup tegang dan ponsel tergeletak di samping bantalnya seperti senjata yang gagal ia gunakan malam itu, aku sudah duduk tegak di ranjang kamar tamu sambil menatap layar ponselku yang dipenuhi salinan rekaman, pesan anonim, dan foto yang telah menjadi pemicu api di dadanya, lalu aku tersenyum pelan bukan karena bahagia, melainkan karena aku tahu pagi ini bukan tentang membela diri melainkan tentang membangun jebakan yang lebih rapi.“Aku tidak akan menunggu kamu menyerang lebih dulu,” bisikku dalam hati sambil merapikan rambut yang semalaman kusut karena berpura pura tidur. “Kalau kamu ingin bermain kotor, aku akan bermain lebih bersih, lebih tenang, dan lebih mematikan.”Ketika jam menunjukkan pukul delapan lewat sedikit, Ivan sudah berdiri di ruang makan dengan wajah yang terlalu tenang untuk disebut biasa, dan aku keluar dari kamar tamu dengan la

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 20 Pesan Tengah Malam

    Pada pukul 02.13, ketika udara di dalam apartemen terasa terlalu dingin untuk ukuran kota yang tak pernah benar benar tidur, sebuah getaran pendek memecah gelap di atas nakas sisi ranjang Ivan, dan dalam kegelapan itu aku yang terbaring di kamar tamu dengan ponsel terhubung pada perangkat kecil di langit langit kamar utama, mendengar suara notifikasi itu seperti dentang lonceng yang menandai babak baru permainan kami.Aku tidak sedang tertidur. Sejak ia mengganti pola kunci ponselnya dengan gerakan jari yang lebih panjang dan lebih hati hati, aku memilih untuk tidak lagi memejamkan mata tanpa kewaspadaan, dan malam itu aku berbaring dengan posisi yang sama seperti malam sebelumnya, ponsel di tangan, layar redup, aplikasi perekam menyala, dan napasku kuatur pelan agar tidak terdengar seperti orang yang menunggu sesuatu.Getaran kedua terdengar lebih lama. Lalu suara kasur berderit pelan ketika Ivan bergerak.“Apa lagi,” gumamnya lirih, suaranya serak karena baru terbangun.Aku memejamk

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 19 Tatapan Curiga

    Notifikasi kecil itu belum benar benar hilang dari pelupuk mataku ketika fajar menyusup melalui sela gorden kamar tamu, mengiris tipis ruangan yang pengap dengan cahaya pucat yang tidak membawa kehangatan apa pun, dan aku masih terjaga, masih memeluk ponselku seolah benda kecil itu satu satunya saksi bahwa aku tidak sedang kehilangan akal.Aku tidak pernah menyangka bahwa yang akan membuatku gemetar bukan suara Lidia, bukan pengakuan setengah hati Ivan, melainkan satu kalimat dingin di layar yang berbunyi aktivitas login tidak dikenal terdeteksi, seolah ada mata lain yang ikut membaca, ikut mengendus, ikut menunggu aku lengah.“Tenang,” bisikku pada diriku sendiri sambil menatap langit langit yang retaknya membentuk garis samar. “Kamu sudah memperhitungkan risiko. Kamu tidak bodoh.”Tetapi jantungku tidak peduli pada logika. Ia berdegup terlalu keras untuk ukuran subuh yang seharusnya sunyi.Suara pintu kamar utama terbuka memecah keheningan, diikuti langkah kaki yang berat menyusuri

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 18 Aku Tidak Akan Memberikan Anakku Padamu

    Aku tidak memindahkan tubuhku dari ranjang, tetapi sejak noda merah muda itu menatapku dari atas sarung bantal, aku tahu aku tidak akan pernah tidur di sisi yang sama lagi.Sore itu ketika Ivan pulang, suara kunci yang berputar di pintu terdengar lebih berat dari biasanya, seolah logamnya pun tahu ada sesuatu yang berubah di dalam rumah ini. Aku duduk di sofa dengan laptop terbuka di pangkuan, wajahku diterangi cahaya layar yang sengaja kubiarkan menyala agar ia melihatku sibuk, normal, tak tersentuh apa pun.Ia masuk tanpa menyapaku lebih dulu, melepas jas, menggantungnya, lalu berjalan ke dapur untuk mengambil air minum. Punggungnya terlihat tegang bahkan dari kejauhan.“Kamu tidak tanya bagaimana presentasiku?” tanyanya tanpa menoleh.Aku mengangkat wajah perlahan. “Bagaimana presentasimu?”“Berjalan baik,” jawabnya singkat. “Klien setuju lanjut ke tahap berikutnya.”“Bagus,” kataku tenang, lalu kembali menatap layar seolah berita itu hanya kabar biasa.Ia berdiri beberapa detik, m

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 17 Ivan Hanya Ingin Buat Anak

    Aku tidak pernah berniat menjadikan bulan madu sebagai medan perang, tetapi sejak Ivan memaksakan ide villa di Bali dengan suara penuh keyakinan yang terdengar seperti keputusan sepihak, aku tahu perjalanan itu bukan tentang cinta, melainkan tentang citra yang ingin ia pertahankan di depan dunia.“Semua orang tahu kita ke Bali,” katanya malam itu di apartemen, berdiri di depan meja makan dengan ponsel di tangan, memperlihatkan layar yang menampilkan foto villa dengan kolam renang menghadap laut. “Tempatnya privat, romantis, jauh dari gangguan. Ini sempurna.”Aku menatap gambar itu tanpa benar-benar melihatnya. Air biru, tirai tipis yang tertiup angin, tempat tidur putih besar dengan kelambu yang tampak seperti adegan iklan. Aku bisa membayangkan bagaimana ia akan memotret kami, bagaimana ia akan mengunggahnya, bagaimana komentar akan mengalir dengan ucapan iri dan doa bahagia.“Aku tidak mau ke Bali,” jawabku pelan.Ia tertawa kecil, seolah aku baru saja melontarkan candaan yang tidak

  • Kesempatan Kedua: Aku Tidak Mau Menikahimu Lagi!   Bab 16 Sentuhan yang Ditolak

    Undangan itu menyebutnya sebagai makan siang sederhana bersama keluarga dan sahabat terdekat, tetapi ruangan privat di lantai dua restoran itu jauh dari kesan sederhana. Meja-meja bundar ditata rapi dengan taplak putih gading, vas-vas kecil berisi bunga segar, dan lilin aromatik yang menguarkan wangi lembut. Tawa dan suara kursi yang bergeser saling bertabrakan, membentuk riuh yang hangat, atau setidaknya terlihat hangat dari luar.Rani berdiri di ambang pintu beberapa detik sebelum masuk. Gaunnya jatuh lembut hingga betis, warna krem pucat yang membuat kulitnya tampak lebih terang. Rambutnya dibiarkan terurai sederhana, hanya disematkan satu jepit kecil di belakang telinga. Ia tampak seperti pengantin baru yang tenang dan anggun.Hanya saja, ketenangan itu bukan milik seorang perempuan yang sedang berbunga-bunga.Ivan menyusul dari belakang, langkahnya mantap, senyum terpasang rapi seperti jas yang dikenakannya. Begitu mereka masuk, beberapa sepupu jauh yang jarang ditemui, teman-tema

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status