Share

Bab 83

Author: Miarosa
last update publish date: 2026-08-13 21:46:25

Di balik rerimbunan rumpun bambu petung yang rapat di saluran belakang, tiga unit sampan kayu raksasa sudah bersiaga di atas air rawa yang tenang. Pak Sum bersama empat pemuda serikat buruh berdiri memegang dayung kayu tebal dan menyamar di balik rimbunnya eceng gondok.

​"Ayo, cepat naik satu per satu!" komando Yu Sum lirih namun sigap.

​Nyai Rahayu memangku dua anak terkecil di sampan terdepan, sementara Yu Sum mengawasi anak-anak lainnya naik secara teratur. Dalam hitungan menit, sepuluh anak
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 107

    Sore yang tenang di pertengahan tahun 1926 menyelimuti peron Stasiun Tawang. Langit Semarang memancarkan pendar oranye keemasan dab memantul anggun pada atap pelengkung besi stasiun yang megah. Aroma uap batu bara bercampur dengan angin pesisir yang bertiup lembut membawa ingatan pada peristiwa sepuluh tahun silam.​Di peron tiga, persis di sudut tiang besi bernomor empat tempat mereka pernah berdiri penuh ketakutan sepuluh tahun lalu, Dyah dan Willem kembali berdiri bersisian.​Dyah mengenakan kebaya katun bersahaja dengan selendang batik Parang Klitik yang melingkar anggun di bahunya. Di sampingnya, Willem berdiri tegap dalam balutan kemeja katun. Pria itu menatap lurus lintasan rel kereta api dan matanya biru kelabunya memancarkan kedamaian tiada tara yang tak lagi terusik oleh kecemasan.​Dari kejauhan terdengar deru mesin lokomotif kereta malam tujuan Batavia menggelegar parau, lalu disusul jeritan peluit uap yang nyaring.​​Garis-garis besi rel bergetar halus saat gerbong-gerb

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 106

    Pagi demi pagi berganti menjadi lembaran hari yang sarat gairah. Tanah rawa Kanal Timur yang dulunya sunyi dan bersimbah ketakutan sekarang bergetar oleh irama kehidupan baru. Dentang martil memukul paku, derak gergaji memotong kayu jati, serta riuh alunan tembang Jawa dari para wanita yang memasak di dapur umum membahana sepanjang pesisir Semarang.​Ratusan warga Kampung Melayu, kuli pelabuhan Tanjung Mas, pedagang Pasar Johar, hingga para perajin kayu dari Kota Lama datang bergantian setiap hari. Mereka bekerja tanpa pamrih dan menyumbangkan tenaga dan keahlian demi tegaknya sekolah dan panti asuhan baru.​Di atas susunan perancah kayu bambu yang tinggi, Willem berdiri mengawasi pemasangan rangka atap limasan. Dengan kemeja linen tergulung dan celana katun bersahaja, ia memegang waterpas dan siku besi, memandu para tukang kayu lokal.​"Geser balok nok itu dua senti ke utara, Kang Darmo!" seru Willem lantang dari atas perancah.Ia menyapu peluh di dahinya dengan lengan baju. "Kemiri

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 105

    Willem tersenyum lembut dan mengusap tepi peti kayu itu dengan penuh kehangatan. "Ini adalah sisa tabungan pribadiku, Dyah. Hasil dari pekerjaanku sebagai arsitek muda di Delft dan sisa honorarium bersih yang kukumpulkan sebelum aku melangkah ke tanah Jawa."​Nyai Rahayu membelalakkan matanya dan menahan napas seraya merapatkan kain stagennya. "Willem, uang simpanan sebesar ini dari Eropa? Untuk apa ditunjukkan kepada kami?"​Willem mengambil seluruh lembaran wesel bank dan pundi koin emas tersebut, lalu menyodorkan semuanya ke dalam pangkuan tangan Dyah dan Nyai Rahayu.​"Ini bukan lagi milikku pribadi," tutur Willem."Seluruh simpanan ini secara resmi kuserahkan untuk pembangunan panti asuhan baru dan operasional awal sekolah gratis bagi anak-anak rawa dan buruh Tanjung Mas."​Dyah terperanjat dan jemarinya bergetar hebat saat memegang lembaran wesel tersebut. "Willem! Tidak! Ini tabungan kerja kerasmu selama bertahun-tahun di Eropa. Ini jaminan masa depanmu sendiri!"​"Masa depa

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 104

    Hendrik menahan napas, sementara Dyah menatap Willem tanpa bersuara sedikit pun. Keheningan mendadak menyergap area meja kerja. Empat puluh ribu gulden adalah angka yang sangat fantastis, sebuah kekayaan yang sanggup membuat siapa pun hidup dalam kemewahan seumur hidup di Eropa.​Willem menatap berkas emas itu sejenak. Sorot matanya sama sekali tidak menampakkan keraguan atau keserakahan. Willem mendorong kembali lembaran perkamen dan pena emas tersebut ke arah notaris van der Wal.​"Saya menolak warisan itu, Tuan Notaris," tegas Willem.​Notaris van der Wal terperanjat, matanya membelalak tak percaya. "T-Tapi Tuan van Deventer! Ini empat puluh ribu gulden. Uang ini sah dan porsi Anda yang tidak disita negara!"​"Uang itu tercemar oleh air mata dan darah rakyat!" pangkas Willem tajam, matanya menatap lurus sang Notaris. "Empat puluh ribu gulden itu lahir dari penindasan kuli pelabuhan, pemalsuan tanah rawa, dan kebohongan konsorsium. Saya tidak akan pernah menyentuh satu sen pun uan

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 103

    Willem menoleh pelan dan menatap lurus ke dalam manik mata Dyah yang berkilau diterpa pendar lampu minyak.​"Aku mengorbankan statusku di Eropa tanpa penyesalan sedikit pun, Dyah, sebab di sampingmu, di atas tanah rawa yang dihina ini aku menemukan rumah dan cinta sejati yang selama ini kucari sepanjang hidupku," bisik Willem.​Dyah tersenyum mengembang di balik gurat air matanya. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi Willem dan mengecup kening pria itu dengan kehangatan dan ketulusan jiwa yang abadi.​"Dan hatiku sudah sepenuhnya milikmu sejak pertama kali kamu berdiri membentengiku di pelataran ini, Willem," pangkas Dyah jujur yang mengikis seluruh keraguan yang pernah memisahkan status dan kebangsaan mereka.​Tiga hari telah berlalu. Panas demam di tubuh Willem perlahan surut digantikan oleh kesegaran napas angin pesisir. Infeksi di bahunya mulai mengering di balik balutan kain kassa bersih yang dipasang Dyah saban pagi.​Sore itu, lembayung jingga menyelimuti langit Sema

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 102

    ​Di sudut pendopo, Hendrik yang berdiri di atas pilar batu menekan tombol tustel tebalnya. Lampu kilat menyambar terang dan mengabadikan momen saat Dyah diselimuti selendang keemasan di antara senyum hangat para tokoh masyarakat dan kepulan asap kemenyan syukuran.​Hendrik tersenyum puas seraya memutar rol film di dalam kameranya. "Ini dia halaman depan De Locomotief edisi pemulihan nama baik. Foto ini akan membungkam seluruh mulut licik pejabat Karesidenan yang pernah mencoba merendahkanmu, Dyah!"​Hendrik melangkah mendekati Willem yang menyaksikan acara tersebut dari samping tiang pendopo. Willem menatap Dyah dari kejauhan dengan sorot mata biru kelabu yang berbinar penuh rasa bangga dan cinta yang tak terukur.​"Pena pers telah menyelesaikan tugasnya memulihkan nama baik Dyah, Willem," ujar Hendrik pelan seraya menepuk bahu Willem. "Sekarang edisi pemulihan nama ini akan dikirim ke seluruh penjuru Hindia. Takkan ada lagi yang berani menyebutnya pengkhianat."​"Terima kasih, Hend

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 4

    Setiap gerakan Willem membangkitkan memori yang menyakitkan bagi Dyah. Ia teringat bagaimana mereka dulu sering berdiskusi tentang impian Willem membangun jembatan-jembatan megah yang menghubungkan desa-desa terpencil di Jawa agar rakyat bisa berdagang dengan mudah. Impian yang dulu terdengar beg

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 3

    Udara di dalam Hotel du Pavillon terasa kaku dan berbau lilin lebah yang digosokkan ke furnitur jati. Bagi Willem, kemewahan ini terasa mencekik. Ia berdiri di balkon kamarnya sambil menatap lampu-lampu minyak yang mulai menyala di sepanjang jalan Bodjong. Di tangannya, sebuah gelas berisi jenever

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 2

    "Mereka menganggapmu pengkhianat bangsa karena hubungan kita di masa lalu. Aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan martabatmu lebih jauh lagi, karena stigma itu. Aku satu-satunya yang punya kuasa untuk membungkam mulut mereka! Aku bisa membuktikan bahwa panti ini sah milikmu secara hukum dan

  • Kesempatan Kedua Di Tanah Jajahan   Bab 1

    Dermaga Tanjung Mas, Semarang, 1924. ​Langit di atas pesisir Jawa menggantung rendah. Udara lembap dan asin yang khas dari Laut Jawa seolah mampu menembus pori-pori kanvas setelan linen putih yang dikenakan Willem van Deventer. Baginya aroma ini bau yang sama yang ia hirup sepuluh tahun lalu, saat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status