Arion terkekeh, sedikit goyah dengan ucapan manis Elena. “Aku hanya menegaskan statusmu! Jangan berpikir aku mencintai mu,” ucapnya dengan skeptis.
Elena tahu, ucapan dan hati Arion berbeda. Mungkin mulutnya mengatakan tidak cinta, tapi hatinya mengatakan hal lain. Wajar saja jika Arion demikian, mengingat bagaimana untuk pertama kalinya Elena tidak dipihak Lucas.
Senyum di wajah Elena terukir. Respon yang Arion tunjukan sesuai dengan harapannya. “Tentu. Bagaimana mungkin aku mencintai mu? Karena hatiku hanya untuk Lucas,” ucapnya sengaja memancing emosi Arion.
Elena akan memulai pendekatan dengan terus menumbuhkan rasa cemburu pada diri Arion.
Elena memutar haluan rencananya. Sebelumnya, ia berpikir untuk langsung berterus terang pada Arion. Namun, sepertinya hal itu justru akan menambah kecurigaan Arion.
Dan kini, keduanya berada di mobil yang sama menuju rumah utama keluarga Dominic. Setelah acara yang melelahkan itu akhirnya mereka bisa segera beristirahat.
Selama perjalanan, tak ada percakapan yang terjadi. Hingga saat mereka berada di kamar pengantin. Tanpa aba-aba, Arion mencekik leher Elena.
“Trik apa lagi yang tengah kau mainkan, hah!” hardik Arion dengan keras.
Elena yang terkejut membuatnya tak bisa berkutik. Cekalan tangan Arion membuatnya tak dapat merasakan oksigen yang masuk. Wajahnya mulai memucat sebelum akhirnya Arion melepaskan cekalan tangannya.
Napas Elena terengah-engah. Ia menstabilkan pernapasannya, sebelum akhirnya berkata, “Trik apa yang kau maksud? Aku tidak mengerti maksud mu?”
Sudut bibir Arion terangkat. Ia melemparkan bukti pembelian tiket yang dibeli Elena beberapa hari yang lalu.
“Kau kira dengan menyamarkan nama mu, kau bisa kabur?” Suara Arion terdengar mengintimidasi.
Cepat-cepat Elena melihat lembaran kertas yang baru saja dilemparkan padanya. Elena ingat, tiket ini dibeli agar dirinya bisa meninggalkan kota Everbloom bersama Lucas.
Elena ingat, sebelumnya ia juga melakukan hal demikian. Namun rencana tersebut gagal sebab Arion berhasil membawanya kembali.
“Ini untuk perjalanan bisnis ku,” Elena berdalih.
Arion tertawa sumbang mendengar alasan konyol Elena. Ia mengepalkan kedua tangannya, merasa Elena benar-benar meremehkannya.
Arion menatap Elena. “Kau kira aku bodoh dan akan percaya alasan konyolmu?”
“Aku berkata jujur. Jika kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada asistenku,” ucap Elena kembali membela diri sebelum Arion semakin marah.
Arion menatap lekat Elena. Baru saja ia merasa tenang karena Elena tidak banyak menimbulkan masalah ketika pesta pernikahan mereka, tapi ketika perjalanan pulang ia mendapatkan bukti dari bawahannya bahwa Elena merencanakan kabur ke luar kota.
Arion pergi begitu saja meninggalkan Elena. Kini pria itu tengah berada di ruang kerja untuk menenangkan pikiran. Ia memijat pelipisnya, setiap mengingat rencana kabur Elena kepalanya semakn berdenyut.
“Arion? Sedang apa kau di sini?” suara yang begitu familier membangunkan Arion.
“Pah, aku sedang beristirahat sebentar,” ucapnya sambil membenarkan posisi duduk ketika melihat yang menghampiri adalah sang ayah, Damian.
Damian duduk di samping Arion. Sebagai orang yang paling berpengaruh tentu ia tahu jelas masalah putra bungsunya itu. Walaupun gelar CEO sudah berada di tangan Arion, tetapi dirinya masih ikut andil dan tidak melepas sepenuhnya.
“Mengapa tidak bersama istrimu? Apa kalian bertengkar?” pria yang bernama Damian itu bertanya, ingin melihat apakah Arion akan jujur padanya.
“Tak perlu ku ceritakan, mungkin papa sudah lebih tahu,” jawab Arion.
Arion tahu, Damian bukan orang sembarangan.
“Jangan egois, kau harus bisa memakluminya. Bersikaplah lebih lembut. Ingat, dia wanita bukan pria! Dia adalah istrimu, bukan bawahan mu. Usia yang terpaut cukup jauh, seharusnya bisa membuat mu berpikir lebih dewasa,” ucap Damian penuh dengan penekanan pada setiap katanya.
Damian tahu, putra bugsunya ini memiliki kepribadian yang keras. Sulit bagi Arion untuk menerima nasihat orang lain jika itu tak masuk diakalnya. “Sekarang kembalilah ke kamar mu,” perintah Damian.
“Tapi, Pah ...." Arion ingin menenangkan diri. Ia malas jika harus kembali bertemu dengan Elena saat ini.
“Arion, berhenti bersikap kekanak-kanakan! Kau sudah dewasa!” kini ucapannya lebih tegas, membuat Arion tak bisa menolak dan mengiyakan perintah itu.
Seperginya Arion. Elena memutuskan untuk membersihkan diri. Setelah seharian ia harus memakai gaun yang berat itu akhirnya berganti dengan piyama tidur yang nyaman. Baru saja ia keluar dari ruang pakaian, ternyata Arion sudah berada di kamar kembali.
Entah hal apa yang membuat Arion kembali! Elena penasaran, tapi tak berani bertanya. Tak ada percakapan diantara keduanya dan hanya keheningan yang tersisa.
Tenggorokan yang terasa kering, mendorong Elena untuk melangkahkan kakinya ke dapur. Saat akan kembali tak sengaja matanya menangkap siluet seseorang.Itu adalah ayah mertuanya. Elena pikir ini kesempatan bagus untuk memerbaiki hubungan mereka. Ia merasa sangat bersalah karena sebelumnya begitu tak peduli. Bahkan, saat kematiannya Elena tak menitikan air mata sedikit pun. Kejam bukan, Elena bahkan merasa benci pada dirinya mengingat itu.“Pah...” ia memanggil dengan sebutan yang sama seperti Arion.Damian menoleh, mendapati menantu barunya berdiri disampingnya. “Elena, kau belum tidur? Ini sudah larut,” ucapnya dengan alis yang bertaut.Elena ikut duduk di kursi kosong, sebelum akhirnya menjawab. “Belum, Pah. Aku masih belum terbiasa dengan suasana kamarnya,” jawab Elena. Ia mengutarakan isi hatinya saat ini.“Arion membuat mu tidak nyaman?” tanya Damian. “Tidak. Mungkin, justru aku yang membuatnya tidak nyaman,” jawab Elena, ada sededikit jeda dalam ucapannya. Wajah Elena menampilk
Suara rintihan Elena membuat langkah Arion terhenti. Dan ketika berbalik, ia mendapati Elena jatuh di tangga terakhir.Arion memutar bola mata malas, sebelum akhirnya ia membantu Elena untuk berdiri. “ Lain kali perhatikan langkah mu ketika berjalan!” perintah Arion tegas.Wajah Elena sudah terlihat sayu dengan mata yang berkaa-kaca. Ia yang tiba-tiba terpeleset hingga membuat kakinya terkilir, sungguh di luar prediksinya. Tapi hal itu membuat Arion mau mendengarkannya.Saat Arion membantunya untuk berjalan, Elena benar-benar merasakan sakit di kakinya. Bulir bening nan hangat itu menetes dari pelupuk mata Elena, membuat Arion merasa iba dan akhirnya menggendong Elena untuk duduk.“Jangan pergi,” seru Elena sambil menarik ujung jas Arion saat melihat pria itu hendak beranjak pergi.“Aku akan mengambil obat untuk kaki mu,” balas Arion dan melepaskan cekalan Elena.Ketika menunggu Arion, Elena baru menyadari ia tidak melihat keberadaan ayah mertuanya. Entah kemana perginya pria paruh
Arion bangun dari duduknya, tanpa menoleh ia berkata. “Jika tidak ada lagi yang ingin kau bicarakan pergilah. Kau mengganggu waktu sarapan ku,”Arion dapat melihat dengan ekor mata perginya Lucas.Lucas pergi dengan perasaan kesal dan marah, Arion tahu pasti keponakannya akan menghalalkan segala cara agar tujuannya tercapai sempurna.Semua itu dilihat oleh Elena yang sendari tadi memperhatikan dari lantai dua. Ia buru-buru kembali masuk ke kamar saat melihat Arion kembali naik dengan membawa sarapan pagi mereka.Sepotong roti dan segelas susu di sodorkan, keduanya memang belum sarapan. Dan apa ini hanya untuknya? Elena bertanya dalam hati sebelum akhirnya pertanyaan itu terjawab oleh ucapan Arion. “Makanlah, dan habiskan,”Elena menerima makananya dan segera mengisi perut. “Kau tidak makan?” ia bertanya sebelum memakan makanannya.Hanya gelengan kepala sebagai respon sebelum kembali pergi meninggalkan Elena sendirian. Elena lekas memakan sepotong roti dan menghabiskan segelas susu hang
Ketika masih sibuk dengan kabar terbaru, tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di ponsel Elena. Pesan itu dari Lucas. Ia mengajak Elena untuk bertemu nanti malam, tanpa bertanya apapun Elena langsung mengiyakan ajakan untuk bertemu.Di sana Lucas tersenyum licik. Ia yakin hal yang Elena lakukan sebelumnya hanyalah sebuah gertakan untuk dirinya karena beberapa hari terakhir ia mengabaikan Elena.“Aku berjanji. Arion hanya suami sementara, dan aku takkan mau disentuh Arion,” ucap Elena saat itu dengan bersungguh-sungguh.“Dia itu pamanku! Kau kira untuk lepas darinya akan mudah?” tanya Lucas dengan kesal.“Begini saja. Kau ingin menjadi pewaris berikutnya bukan? Aku akan membujuk Arion untuk memberikannya pada mu. Dan, kita bisa hidup bersama!” seru Elena dengan bersemangat.Gadis itu sudah dibutakan dengan cinta, dan akan melakukan apapun untuk kekasihnya.Lucas setuju dengan usulan Elena, tetapi untuk kalimat terakhir yang di ucapkan Elena ia ragu untuk menyetujui itu.“Kau janji?” Lucas k
Elena melajukan mobilnya kembali ke rumah. Di tengah perjalanan, tanpa di sangka ia berpapasan dengan mobil Arion. Ia menjadi gugup dan baru ingat bahwa sebelumnya ia tidak meminta izin keluar pada suaminya.Arion yang melihat mobil Elena, segera memutar arah dan berbalik ke rumah. Sesampainya di sana, Elena juga baru memasuki kamar, ia berusaha menghindari kemarahan Arion.“Darimana saja kau?” suara Arion terdengar begitu datar membuat Elena merasa merinding.“Hanya menemui Lucas sebentar. Tidak ada hal penting yang terjadi,” jawab Elena jujur. Ia belajar dari kesalahan, jika ia berbohong maka Arion akan semakin marah padanya.“Tidak ada hal penting? Ku kira kalian sedang bernostalgia dengan tempat favorit kalian,” seru Arion dengan sinis.Elena menghela napas. Ia tahu posisinya salah dan ia takkan melakukan banyak pembelaan untuk dirinya. “Maaf, aku lupa meminta izin pada mu,” lirih Elena.Hal yang sangat tak di duga oleh Arion. Dalam bayangannya gadis itu akan mengamuk karena dia m
Arion terbangun dengan kepala yang sakit. Efek samping dari mabuknya semalam membuatnya sedikit linglung. Ia menyadari waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, bisa dikatakan pagi menuju siang.Arion menyadari ada yang berubah dengan pakaian yang ia kenakan. “Sejak kapan aku berganti pakaian,” gumamnya kebingungan.Pada akhirnya ia memilih untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum turun untuk sarapan.Di halaman belakang kediaman Dominic, terdapat sebuah kolam ikan yang cukup besar. Kolam itu berisi ikan hias salah satunya ikan koi. Dan di sinilah Elena berada sekarang.“Elena, apa kau merasa terpaksa dengan pernikahan ini?” tanya Damian.Elena yang sedang asik bermain air menghentikan kegiatannya dan menoleh pada mertuanya yang bernama Damian. “ Tidak, Pah, “ jawab Elena jujur.“Aku tahu penikahan ini hanya pernikahan bisnis. Tapi, Arion begiu mencintaiku, mengapa aku tidak,” sambungnya lagi. Damian menghela napas panjang, matanya masih terpaku pada kolam ikan yang dangkal.
“Apa kalian bodoh! Membiarkan Nyonya sendiri di dapur, kalian sudah bosan bekerja dengan ku?” pekik Arion penuh emosi. Semua pelayan di sana tertunduk ketakutan, memang salah mereka juga yang membiarkan Elena sendirian. Elena merasa sangat bersalah karena ulahnya kini para pelayan itu dimarahi. “Arion, jangan salahkan mereka. Ini salahku,” ucap Elena pelan agar suaminya tak semakin marah. “Ini salah mereka karena lalai! Kau jangan berniat membela mereka,” seru Arion dengan tegas. “Baiklah, apa karena aku ingin memasak untuk mu, kau sampai harus memarahi mereka?” tanya Elena yang membuat Arion terdiam. Elena menarik Arion kembali ke dapur, menunjukan makanan yang baru saja dimasaknya. Sebelum itu, ia mengisyaratkan agar para pelayan itu pergi meningglkan mereka berdua. Saat melihat makanan tersebut Arion makin terdiam. “Apa ini makanan?” tanya Arion skeptis. Elena yang mendengar itu menjawab dengan semangat, tanpa mmperdulikan ekspresi wajah di depannya. “ Tentu saja,” “Kau sud
“Ada sesuatu yang harus ku selesaikan,”Elena berpikir, semakin cepat ia bertindak maka akan semakin sedikit kesempatan Azalea dan Lucas untuk menghancurkannya.Baru beberapa patah kata Elena berbicara, kini orang yang paling tidak ingin Elena temui sudah datang menghampiri mereka.Azalea datang dengan wajah cerianya, ia bahkan langsung memeluk sang ayah. “Pagi, Pah,”Elena tidak menyangka, bahwa Azale bisa sedekat itu yanng notabe nya hanya putri angkat. “Eh, ada Kak Elena juga,” sapanya saat mennyadari kehadiran Elena.Elena tak menjawab, hanya menampilkan senyum datarnya yang mengisyaratkan bahwa ia tidak peduli.Azalea mengeluarkan makanan yang dibawanya. “Kalau begitu kebetulan, aku juga membawa kue untuk mu,” seru Azale bersemangat.Elena berbicara yang membuat Azalea menghentikan gerakannya. “Aku sedang menurangi makanan manis, “ tutur Elena yang berati ia menolak kudapan tersebut.Ia bangun dan merapikan pakaian nya sebelum melangkah pergi. “Oh ya, kurangi memakan makanan man
“Arion,”Elena segera turun dari mobil, ia bahkan setengah berlari menghampiri suaminya. Tubuhnya sudah terasa begitu panas dan ada gelenyar aneh yang ia rasakan.Arion melihat ada yang berbeda dengan Elena, bahkan ia melihat jelas pakaian istrinya yang sedikit terbuka, “El, kau kenapa? Ada apa dengan dirimu?” tanya Arion.Napas Elena terengah-engah, ia segera memegangi wajah Arion dengan kedua tangannya, “Arion, tubuhku panas! Tolong aku,” seru Elena.Air mata keluar dari sudut matanya, ia menarik wajah Arion dan segera menempelkan bibirnya dengan bibir sang suami.Arion terdiam, sementara Elena dengan begitu ganas dan agresif menciumi bibir sang suami. Ia perlu melepaskan sesuatu yang tertahan dalam tubuhnya.Para penjaga yang ada di sana memalingkan wajahnya, Arion yang merasakan tubuh Elena panas mulai sadar bahwa Elena telah mengkonsumsi obat perangsang.Arion menarik diri menjauhkan Elena, “El, kau dalam pengaruh obat,” seru Arion.“Tolong aku,” pinta Elena dengan memohon.Elena
“Bangun, Sayang,” suara lembut Lucas terdengar jelas di pendengaran Elena.Elena mulai terusik karena belaian tangan Lucas di wajahnya, ia mulai membuka matanya, “Lucas...” ucap Elena pelan.“Hmm,”Elena bangun dan menepis tangan Lucas, ia memegangi kepalanya yang terasa berat saat mencoba duduk. Sementara itu, Lucas dengan sengaja memeluk dan menyandarkan kepalanya di pundak Elena.“Lepaskan aku!” seru Elena. Ia melihat sekeliling dan menyadari berada di atas tempat tidur bersama Lucas.Pandangan Elena menyadari bahwa ini adalah kamar Lucas di apartemennya, ia sangat familier dengan tempat tersebut.“Sayang, kau masih merasakan sakit? Ini, minumlah dulu,” tawar Lucas sambil menyodorkan segelas air putih.Elena yang masih merasa berat di kepalanya memilih untuk meminum air itu tanpa rasa curiga, ia menggelengkan kepala beberapa kali setelah minum.Ia bangun dan turun saat merasa lebih baik, “Kau gila, Lucas! Kau sakit jiwa!” pekik Elena penuh emosi.Tatapannya begitu menusuk dan tajam
“Aku duluan,”“Iya, hati-hati, El. Dan terimakasih,”Elena masuk ke dalam mobil, mulai menyalakan mesin mobil dan melaju di jalanan. Jalanan teduh dengan sinar matahari yang berwarna jingga memancar di sepanjang jalan kota.Semilir angin menerpa wajah Elena dan menerbangkan helaian rambutnya, ia sengaja membuka jendela disampingnya dan membiarkan angin itu masuk menerpa wajahnya. Udara cukup bersih, karena keadaan sore itu masih sepi tidak banyak kendaraan yang berlalu-lalang. Beberapa kali Elena menghembuskan napas nya dengan bebas, “Huhhh, pegal sekali tubuhku,” ucap Elena.Seharian penuh dirinya duduk di depan meja kerja tentu membuat tubuhnya pegal, ia sudah membayangkan betapa nyamannya tempat tidur yang ada di rumah.Ciiitttt!Saat Elena tengah berkendara dengan nyaman, tiba-tiba sebuah mobil hitam di depannya menghadang membuat Elena segera menginjak rem. Hampir saja Elena menabrak mobil di depannya.Elena mendongakkan kepalanya untuk melihat mobil siapa di depannya ini, “Asta
"Apa? Kenapa kau terlihat panik, tenanglah,”Saat Elena tiba di ruangannya, tak lama Vero datang dengan tergesa-gesa. Wajahnya sudah penuh dengan air mata yang mengering, bahkan mata wanita itu terlihat memerah.“Paman ku. Dia hilang, El,” seru Vero dengan Isak tangisnya.“Hey, hey, tenang dulu. Bagaimana bisa hilang? Kau tahu dari siapa?” tanya Elena yang juga bingung.Di tengah kebingungan mereka, tiba-tiba saja ponsel Elena berdering. Nama Lucas tertera di layar ponselnya, ternyata itu panggilan video. Elena menggeser tombol hijau tersebut, yang membuat panggilan langsung tersambung.Saat tersambung, Elena dan Vero di buat terbelalak. Melihat pemandangan di tempat Lucas berada tentu membuat mereka terkejut, bagaimana tidak. Lucas kini tengah berada di ujung jurang.Pria itu tersenyum dengan bangga, dan mengarahkan ponselnya ke arah lain, “Elena sayang, lihatlah siapa yang bersama ku,” ucap Lucas sambil tersenyum.Mata Elena semakin membola, “Paman!” seru Elena bersamaan dengan Vero
“Arion, Sayang tunggu! Tunggu aku, dengarkan penjelasan ku,”Arion menghentikan langkahnya, menatap datar ke pada Elena yang meraih tangannya. Dadanya terlihat naik-turun dengan ekspresi tidak suka.Ia bahkan menghempaskan genggaman tangan Elena, “ Ku kira kau benar-benar sudah melupakan Lucas,” ucap Arion.Elena terdiam mendengar ucapan Arion dan suara tenang suaminya, saat ia akan berucap Arion kembali menyela, “ Tapi, ternyata kau masih menyimpan rasa untuk nya!” sambung Arion.Tersirat jelas kekecewaan yang kembali Arion rasakan, Elena kembali berbicara agar semakin tidak salah paham, “ Bukan itu maksud ku, dengarkan dulu penjelasan ku,” ucap Elena lagi.Arion diam dan menunggu Elena berbicara, “Tidakkah menurut mu berlebihan menurunkan jabatan Lucas, apalagi sampai mengasingkan nya?” seru Elena.Arion mengangguk-angguk paham, ia bahkan memalingkan wajahnya. Pria itu pikir Elena akan menjelaskan apa, ternyata hanya pembelaan untuk Lucas yang Arion dengar.Ia tersenyum menatap Elen
“Untuk apa mereka pergi ke kota Gotham?”Lucas mengikuti arah mobil Elena pergi, bahkan ia tahu dimana mereka berhenti. Tanpa Elena dan Vero tahu, Lucas memperhatikan dari jauh semua yang terjadi di rumah paman Vero.Setelah Elena dan Vero pergi, Lucas turun dari mobil dan berjalan ke arah rumah yang baru saja mereka kunjungi. Ia mengetuk pintu berkali-kali, hingga sang pemilik rumah keluar.Seorang pria paruh baya keluar, matanya memicing melihat siapa yang mengunjungi rumah nya, “Siapa kau? Aku tidak mengenal mu,” ucap nya ketus dan berniat menutup pintu kembali.Akan tetapi, dengan cepat Lucas menahan pintu dengan kaki panjangnya. Hal itu semakin membuat kesal pria di depannya, “Ada hubungan apa paman dengan dua wanita tadi?” tanya Lucas dengan suara rendah.Paman Vero memalingkan wajah tidak suka, ia bahkan berjalan pergi begitu saja meninggalkan Lucas. Melihat kesombongan yang di tunjukkan pria tua di depannya membuat Lucas kesal, ia mengepalkan kedua tangannya.Bugh!Dalam satu
Brak!Suara Elena menggebrak meja terdengar keras, ia bahkan menjadi pusat perhatian para pengunjung disana. Sementara Lucas, pria itu terlihat santai dan tidak peduli.“Aku bisa saja memberitahu mu, tapi... Jika aku memberitahu mu begitu saja. Kau akan memberikan apa untuk ku?” ucap Lucas dengan menatap Elena.Elena masih berdiri dengan menatap datar Lucas, “Aku akan memberikan apapun, yang jelas bukan diriku,” balas Elena yang disambut senyuman hangat Lucas.Lucas mengangguk-anggukan kepalanya sebelum berbicara, “ Mudah saja. Katakan pada Arion untuk mengembalikan jabatan ku, “ Ucap Lucas yang membuat Elena tercengang.Elena terdiam sejenak tanpa kata, sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan Lucas. Keputusan untuk bertemu Lucas memanglah keputusan bodoh yang telah ia ambil.Baru dua langkah Elena meninggalkan Lucas, pria itu kembali berbicara yang membuat langkah nya kembali terhenti, “Aku akan menunggu jawaban dari mu,” seru Lucas penuh percaya diri. Satu bibirnya terang
“Jawab jujur!” tekan Elena.Bu Rah menjadi bingung harus berbicara apa, baru wanita paruh baya itu akan berbicara tiba-tiba saja ponsel Elena berdering dan tertera nama orang yang selalu menyulut emosinya.“Halo, untuk apa kau menelepon ku,” ucap Elena dengan ketus.Pria yang menelepon dirinya adalah Lucas. Keponakan sialan yang belum merasakan kekejamannya, Elena belum menuntaskan balas dendam nya. Wanita itu masih disibukkan dengan masalah lain, jangankan pemirsa yang kesal. Penulis yang menulis cerita ini pun kesal pada Elena.“Halo, Elena. Kau pasti merindukan ku, bukan?” tanya Lucas dengan bangga di balik telepon.Elena mendengus mendengar ucapan Lucas yang membuatnya mual, ia mengisyaratkan untuk Bu Rah agar kembali ke dapur saja.“Aku tidak merindukan mu, dan jangan hubungi aku lagi!” tegas Elena sebelum menutup sambungan telepon.“Kau yakin tidak mau berbicara dengan ku?” tanya Lucas.Elena tak peduli dan langsung mematikan sambungan telepon tersebut, ia juga mematikan ponseln
“Dasar Elena, ternyata di sini dia menyimpannya,”Vero menemukan berkas yang ia cari sebelumnya di meja yang masih ada di ruangan Elena, setelah menuliskan data yang ia perlukan Vero segera menelepon Elena untuk memberikan kabar.Saat mendapatkan telepon dari Vero yang mengatakan bahwa ia sudah menemukan berkas itu, Elena merasa lega dan kembali menutup telepon.“Sudah ada?” tanya Arion, dan Elena mengangguk sebagai jawaban.Baru Elena akan bertanya lebih lanjut mengenai surat-surat rumah sakit yang ia temukan, Arion menyela ucapan Elena, “Aku harus kembali ke kantor, sekarang ada rapat penting,” pamit Arion.Sebelum pergi, ia tak lupa mengecup kening sang istri dan tersenyum, “Baiklah, hati-hati,” seru Elena sebelum Arion pergi.Setelah Arion pergi, Elena mencari keberadaan Bu Rah untuk menanyakan tentang surat rumah sakit itu. Elena yakin ada yang Arion sembunyikan dan membuat hatinya ada yang mengganjal, surat sebanyak itu tidak mungkin semuanya milik Jeff.Dan, untuk apa Jeff meny