MasukKeesokan malamnya, Pak Andre dan Sulis diam-diam sibuk di ruang makan ketika Bu Mira sedang pergi. Kardus-kardus lama dibuka, foto-foto jadul berserakan di meja."Itu jangan dilipat, Yah!" ujar Sulis cepat saat ayahnya asal menaruh foto."Iya iya ..." Pak Andre mengangguk, ia malah gugup sendiri.Sulis menghela napas kecil. Baru kali ini ia melihat ayahnya tegang seperti murid yang takut dipanggil guru BP.Di tengah tumpukan barang, Sulis menemukan sebuah surat lusuh dengan tulisan tangan Bu Mira di sampulnya. "Mira untuk Andre." Sulis mengangkat alis. "Ayah masih nyimpen beginian?"Wajah Pak Andre langsung memerah, ia salah tingkah dan merebut suratnya cepat dari tangan Sulis. "Jangan dibaca!"Sulis malah terkekeh kecil. Untuk sesaat, suasana yang tadinya suram sedikit membaik oleh kehangatan."Nah, bagus." ucap Sulis bertolak pinggang. "Kita pakai semua ini.""Pakai buat apa?""Bikin ibu inget kalau hubungan kalian nggak dibangun sehari dua hari."Pak Andre menatap anaknya lama. Mat
Rumah itu kembali sunyi. Hanya ketegangan yang menekan, tak ada yang berani memulai pembicaraan.Napas Bu Mira memburu, tangannya masih bergetar sambil mengepal erat. Ia terus memunggungi suaminya sambil memijat kening. Langkahnya terhenti di dekat sofa, tangannya langsung berpegangan di sana.Pak Andre hanya berdiri kaku, tak bisa menyangkal. Meski begitu akhirnya ia memberanikan diri memanggil istrinya. "Bu ..."Tak ada jawaban dari Bu Mira. Satu detik. Dua detik. Hening. Bahkan Sulis yang masih berdiri di dekat pintu refleks menahan napas.Setelah Bu Mira menghela napas panjang, ia berbalik, menatap mata suaminya dalam-dalam. "Kamu tahu kan apa konsekuensinya kalau kamu selingkuh?""Kamu salah paham Bu, aku belum ngapa-ngapain sama Rini!" Pak Andre maju selangkah, mencoba mendekat. "Dia yang masuk ke ruang kerja dan ngerayu aku.""Terus kenapa kamu ngumpetin cewek itu di bawah meja?" suara Bu Mira mulai bergetar."Aku nggak mau kamu berpikiran macem-macem, jadi pas kalian pergi aku
Pak Andre buru-buru membuka pintu, tampak Bu Mira sedang berjongkok merapihkan pecahan gelas di lantai. "Eh, Mas, maaf ya ganggu, tadi tanganku licin jadi gelasnya jatoh." ujar Bu Mira.Pak Andre terdiam sejenak, pikirannya berkecamuk takut ketahuan. "Katanya kamu udah tidur?" pria itu asal bicara karena panik.Tangan Bu Mira mendadak berhenti bergerak, ia menoleh cepat, "Kata siapa?"Mata Pak Andre membulat, ia sudah salah bicara. "Eh ... nggak ..., biasanya kan kamu tidur jam segini."Bu Mira menyipitkan mata, "Loh, ini kan masih sore," ia bangkit setelah selesai membereskan pecahan gelas dan membuangnya ke tempat sampah. "Biasanya kan aku bikinin Mas kopi dulu.""Nggak usah!" ujar Pak Andre cepat, suaranya sedikit meninggi, membuat Bu Mira semakin curiga. "Kenapa?""Itu ... aku ..." Mata pria itu bergetar memilih kata-kata. "... udah bikin sendiri." ucapnya gugup. Tatapan Bu Mira semakin lekat, ia melihat tangan suaminya sedikit gemetar."Kenapa Bu?" suara Sulis dari lantai atas me
Bu Mira maju dan melangkah masuk. “Rini, kamu keluar pake baju kayak gini?”Rini langsung salah tingkah. Tangan yang tadi terlipat di dada turun dengan cepat, jari-jarinya buru-buru menarik ujung tanktop tipis yang seolah bisa tiba-tiba panjang sendiri. “E-enggak keluar kok, Tante ... cuma di rumah aja,” jawab Rini cepat dengan senyum yang dipaksakan.Sulis diam memerhatikan. Dalam hati ia sudah yakin kalau ayahnya bakal marah besar. Biasanya sedikit saja bajunya terlalu pendek, Pak Andre langsung menegur panjang lebar. Bahkan pernah menyuruhnya ganti pakaian sebelum duduk makan bersama.Namun sekarang ...Pak Andre justru berjalan santai melewati mereka. Tatapannya berhenti pada Rini, dan tak lama ia berlalu pergi.Rini menangkap perubahan sikap Pak Andre dari tatapan matanya. Dibalik wajah polosnya, ia mulai merencanakan sesuatu.Sulis mengernyit kecil, wajahnya terlihat jelas keheranan. Sikap tak biasa ayahnya menganggu pikirannya.Bu Mira menghela napas pelan. “Bukan masalah kelua
Sulis terbelalak melihat lebam di pipi kiri Fani. Ia langsung berlari dan memeluk Fani."Fani, maaf ... karena aku kamu jadi sasaran Rohmat." Sulis memeluk Fani erat membuat napas Fani tercekat."Udah, jangan kenceng-kenceng meluknya, Fani nggak bisa napas tuh." Reza duduk di kursi dekat pintu.Dengan cepat Sulis melepaskan pelukannya. "Eh, maaf Fani."Fani terbatuk. "Nggak papa kok mbak."Fani menatap Reza dan Sulis bergantian. "Mbak Sulis siapanya Reza?" tanyanya."Aku ...""Teman!" potong Reza.Fani tak langsung percaya, ia menatap Sulis dan bertanya lagi. "Bener mbak?"Sulis menoleh melirik Reza, Reza pura-pura sibuk memainkan ponsel. Sulis pun mengangguk. "Iya, kita temenan."Sulis duduk mendekat, ia menyentuh pipi Fani pelan. "Masih sakit?"Fani menggeleng. "Nggak. Cuma kebas aja.""Maafin Mbak ya, karena Mbak kamu jadi begini. Mbak nggak tahu kalau Rohmat malah nuduh kamu." ucap Sulis dengan suara sedikit bergetar sambil tertunduk malu.Fani meraih tangan Sulis dan menggenggamn
"Selamat pagi, Pak Rudi." Pak Joshua maju selangkah menyalami Pak Rudi yang baru sampai. Pak Rudi menyambut sambil sedikit menunduk, senyum tipis terlihat di sudut bibirnya. "Pagi, Pak." Matanya langsung menangkap Rohmat yang tengah berlutut.Wajah Rohmat berubah pucat pasi ketika melihat tatapan Pak Rudi yang begitu dingin. Pak Rudi beralih menatap Pak Joshua. "Maaf Pak, sebenarnya kenapa dengan keponakan saya?" tanyanya sopan."Keponakan Anda sudah menampar keponakan saya. Jadi saya beri dia sedikit pelajaran." ujar Pak Joshua.Ekspresi murka tampak jelas di wajah Pak Rudi, namun ia berusaha menutupinya dengan senyuman kaku. "Ah, maafkan saya karena tak bisa mengawasi tingkah keponakan saya, sekarang saya akan beri dia pelajaran ...""Jangan." potong Pak Joshua menghentikan gerak tubuh Pak Rudi. "Saya sudah cukup memberi pelajaran padanya, anda cukup didik dia agar tak berurusan dengan keluarga saya lagi." sambungnya.Pak Joshua melangkah mendekat, kini jarak di antara mereka hanya







