로그인Steve mengepalkan tangannya di atas meja, matanya berkilat marah mendengar kalimat tersebut. "Jangan memancing emosiku lebih jauh, Julia!"Perdebatan batin yang menyesakkan di antara mereka terhenti seketika saat ponsel di dalam tas Julia berdering nyaring. Panggilan masuk bernada lembut memecah ketegangan yang membeku di ruangan.Julia merogoh tasnya dan menghentikan gerakan tangannya saat melihat nama yang tertera di layar. Nama Justin terpampang jelas dengan pendar cahaya dari ponselnya.Dengan gestur yang jauh lebih melunak dan senyum manis yang terpancar tulus di wajahnya, Julia mengangkat panggilan tersebut tanpa ragu.Ia sengaja mengabaikan keberadaan Steve yang mematung."Ya, Justin? Ada apa?" sapa Julia dengan nada suara yang amat lembut dan hangat.Dari seberang telepon, suara Justin terdengar tenang dan perhatian. "Pekerjaanmu di kantor Anderson Group sudah selesai, Julia? Aku khawatir kamu kelelahan.""Sedikit lagi selesai," balas Julia sambil melirik Steve yang berdiri ka
Julia merapikan lembaran berkas di atas meja tanpa menghentikan gerakan tangannya.Wajahnya dipasang sangat datar, enggan menunjukkan sedikit pun celah emosi di depan pria itu."Itu bukan urusan Anda, Tuan Anderson," sahut Julia dingin tanpa meliriknya. "Jika Anda begitu ingin tahu, silakan tanyakan langsung pada Celine apa yang dia katakan pada saya."Steve tampak mengeraskan rahangnya mendengar ucapan Julia barusan.Pria itu kemudian meletakkan pulpennya di atas meja kerja kayu jati tersebut dengan sedikit ketukan keras yang menimbulkan bunyi berdegup."Aku bertanya padamu secara langsung, Julia," desis Steve dengan tatapan mengintimidasi. "Kamu tidak perlu mengalihkan pembicaraan."Julia mengangkat wajahnya, menatap Steve lurus ke dalam manik mata pria itu. Ia menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan sindiran terselubung."Untuk apa saya mengalihkan pembicaraan?" balas Julia dengan intonasi yang begitu jernih."Nona Celine hanya sedang menegaskan posisinya sebagai calon istri An
Julia awalnya berniat memutar arah begitu melihat keberadaan Celine di dalam ruangan, enggan terlibat lebih jauh dalam drama domestik pasangan tersebut.Namun, belum sempat ia mengambil langkah mundur, tangan kokoh Steve dengan cepat bergerak menahan pergelangan tangannya. Sentuhan hangat dan cengkeraman tegas itu menghentikan langkah Julia di tempat."Tetap di sini, Julia," ujar Steve dengan suara bariton yang tenang namun tidak menerima bantahan.Pria itu lantas mengalihkan pandangannya pada map dokumen yang baru saja diletakkan di atas meja."Ada klausul kontrak penting terkait hak cipta pameran yang harus kita selesaikan dan tanda tangani saat ini juga. Aku tidak ingin ada penundaan lagi."Julia menegang, merasakan usapan halus jemari Steve di pergelangan tangannya sebelum pria itu melepaskannya.Julia terpaksa bertahan di posisinya, mempertahankan ekspresi wajah yang datar meski dadanya bergemuruh hebat akibat kontak fisik yang mendadak itu.Celine yang menyaksikan interaksi di d
Pagi harinya di gedung kantor milik Steve, keheningan di area eksekutif mendadak terusik.Celine melangkah masuk tanpa diundang ke dalam ruang kerja pribadi Steve, membawa serta brosur butik pengantin pilihan Nyonya Helen.Dengan balutan gaun pastel yang anggun dan riasan wajah tanpa cela, wanita itu berjalan percaya diri melintasi karpet tebal ruangan.Celine langsung menghampiri meja kerja Steve, dan memamerkan brosur berbingkai pita emas tersebut di hadapan sang calon suami."Steve, Sayang, lihat ini," tutur Celine dengan nada suara yang sengaja dibuat semanis mungkin, untuk mencoba menarik perhatian pria di depannya."Tante Helen sudah memilihkan butik terbaik untuk gaun pernikahan kita bulan depan. Kamu harus ikut aku fiting hari ini, ya? Sebentar saja, aku minta waktumu satu jam."Namun, Steve yang sedang memelototi berkas laporan keuangan di atas meja sama sekali tidak tergerak.Pria itu tidak sedikit pun mengangkat kepalanya atau menghentikan gerakan jemarinya yang lincah mena
Julia memegang tasnya dengan pegangan yang kian erat setelah layar ponselnya padam secara tiba-tiba. Wajahnya yang memucat dipaksa untuk kembali dingin.“M-memang benar ini adalah ruang kerja Anda. Tapi, bukan berarti Anda bisa seenaknya menguping pembicaraanku dengan anak-anakku,” kata Julia menjawab pertanyaan Steve tadi.“Panggilan telepon itu adalah ranah pribadiku yang paling krusial, dan tindakan Anda yang berdiri secara diam-diam di belakang kursiku jelas melanggar batas sopan santun,” lanjut Julia lagi.Pria itu tetap berdiri hanya beberapa jengkal di belakang kursi Julia, mengamati gelagat gugup dan tangan yang sedikit bergetar saat wanita tersebut merapikan barang-barang ke dalam tasnya dengan gerakan serabutan.Matanya yang tajam bak elang memperhatikan tiap inci perubahan gestur tubuh Julia yang dipenuhi kepanikan tak tersalurkan.Dengan suara bariton yang rendah, dingin, dan sarat akan selidik, Steve melontarkan pertanyaan tajam yang seolah merobek hening di ruangan luas
Malam semakin larut, menyisakan keheningan yang kian mendebarkan di dalam ruang kerja pribadi Steve.Julia masih sibuk membereskan dokumen di mejanya saat tiba-tiba ponsel di dalam tas tangannya berdering nyaring. Suara dering itu memecah keheningan ruangan dengan begitu tajam.Julia merogoh tasnya dan mengernyit saat melihat nama yang tertera di layar.Panggilan video masuk dari nomor rumah. Tanpa berpikir panjang, ia langsung menggeser ikon hijau dan mengangkatnya dengan cepat."Mama!"Suara cempreng bersahutan yang amat familier langsung memenuhi speaker ponselnya.Di layar, wajah manis si kembar Leon dan Elea muncul berhimpitan, mengenakan piyama tidur dengan rambut sedikit berantakan."Mama kok belum pulang?" rengek Elea sambil memajukan bibir bawahnya, menatap layar dengan mata bulat yang mulai mengantuk."Leon juga belum bisa tidur, Ma. Nanny bilang Mama masih kerja. Mama janji mau bacain cerita sebelum tidur malam ini," timpal Leon tak mau kalah, memegang ponsel rumah dengan k







