Share

20. Sindiran Telak

Author: CeliiCaaca
last update publish date: 2026-08-12 14:30:13
Julia merapikan lembaran berkas di atas meja tanpa menghentikan gerakan tangannya.

Wajahnya dipasang sangat datar, enggan menunjukkan sedikit pun celah emosi di depan pria itu.

"Bukan urusan Anda, Tuan Anderson," sahut Julia dingin, bahkan tanpa mau meliriknya.

"Kalau penasaran, tanya saja langsung ke Celine. Biar calon istri Anda itu yang cerita apa saja yang sudah dia katakan ke saya."

Steve menggetokkan pulpennya keras ke meja kayu jati.

TAK!

Membuat bunyi ketukan yang memecah keheningan. Rah
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   90. Jawaban Polos si Kembar

    Matahari di luar pusat perbelanjaan sudah berdiri tepat di atas kepala, menandakan jarum jam telah merambat menuju jam makan siang.Steve melirik jam tangan mewahnya, lalu menepuk bahu kecil kedua anak kembarnya yang masih sibuk merapikan balok mainan."Elea, Leon, sudah jam makan siang. Kita makan dulu, ya?" ujar Steve lembut. "Setelah perut kalian terisi, kita beli makan siang untuk dibawa ke butik Mama.""Mau! Mau makan, Om Steve!" seru Elea dan Leon serempak seraya melompat gembira.Kedua bocah itu langsung berlari kecil di depan, menunjuk salah satu restoran keluarga yang cukup luas di area mal tersebut. Steve dan Rian mengekor santai di belakang mereka.Di sepanjang koridor, Elea dan Leon saling menimpali dengan obrolan khas anak kecil yang absurd, mulai dari membahas warna dinosaurus hingga rencana membangun rumah dari permen kapas.Steve yang berjalan di belakang hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah polos sekaligus tengil kedua anak biologisnya itu.Rian yang berjal

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   89. Keinginan Besar Steve

    Setelah lelah mencoba berbagai mesin permainan tanpa hasil berarti, kedua bocah kembar itu akhirnya menolak untuk bermain lagi bersama dua pria dewasa di hadapan mereka.Elea dan Leon lebih memilih sibuk menyusun balok-balok plastik di area bermain balita yang berpagar busa lembut, sepenuhnya mengabaikan Steve dan Rian.Melihat si kembar sudah aman berada dalam jangkauan pengawasan mata, Steve dan Rian memutuskan untuk duduk di kursi kayu yang terletak tepat di samping arena permainan tersebut.Dua cangkir kopi espresso hangat yang baru saja dibeli Rian dari kafe terdekat kini tertata di atas meja kecil di antara mereka.Steve meraih cangkir kopinya, menyesap cairan hitam pahit itu perlahan sebelum akhirnya menyandarkan punggung tegapnya pada sandaran kursi.Sebuah helaan napas yang teramat kasar, berat, dan panjang berhembus dari bibirnya, menyuarakan rasa lelah luar biasa yang menguras tenaganya."Haaaah..." Steve mengusap wajahnya yang terasa panas, menatap lurus ke arah Elea dan L

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   88. Steve yang Panik

    Suara dentuman musik ceria, raungan efek suara permainan arkade, serta kerlap-kerlip lampu neon di areaTimezone pusat perbelanjaan ternama itu seketika menyambut kedatangan Steve Anderson.Pria tegap yang biasanya menaklukkan ruang rapat direksi dengan sekali gertakan itu kini berdiri kaku di tengah lautan anak-anak dan orang tua.Kaos polos dan celana kain santainya terasa tak mempan membentengi harga dirinya saat ini.Di kanan dan kirinya, Elea dan Leon masing-masing menggenggam erat jemari Steve seraya melompat-lompat gembira."Om Steve! Om Steve! Ayo main yang itu! Yang capit boneka bunny!" seru Elea heboh, lalu menunjuk mesin claw machine raksasa berpendar merah muda."Bukan, Om! Main balapan mobil aja! Leon mau jadi pembalap nomor satu!" potong Leon tak mau kalah, membalikkan badan seraya menarik-narik ujung celana Steve kencang-kencang.Steve menelan ludah kaku.Pria berkharisma dingin yang ditakuti ratusan investor itu kini menggaruk rambutnya yang mulai berantakan, menatap p

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   87. Modus Steve

    "Karena hari ini hari libur," ujar Steve seraya merapikan piring-piring kotor di meja, lalu menoleh menatap kedua anak kembarnya dengan binar mata jahil, "bagaimana kalau Om Steve ajak kalian seharian jalan-jalan dan main sepuasnya?""Horeee! Mau! Mau banget, Om Steve!" seru Elea dan Leon melompat-lompat gembira di atas kursi mereka.Namun, di tengah kegirangan si kembar, Julia justru mendesah pelan seraya meletakkan cangkir kopinya."Kalian berdua boleh pergi main. Tapi Mama tidak bisa ikut ya hari ini."Pernyataan itu seketika mematikan tawa riang di dapur. Elea melengkungkan bibirnya ke bawah, sementara Steve mengernyitkan dahi kaku."Kenapa tidak ikut, Julia?" tanya Steve dengan nada protes yang tak berusaha ia sembunyikan. "Ini hari libur. Kamu butuh istirahat setelah semua hal gila yang terjadi.""Aku harus ke butik sekarang, Steve," sahut Julia tegas, menatap Steve lurus-lurus."Proyek peluncuran koleksi terbaru kita sudah sangat dekat. Aku harus memeriksa sisa pengerjaan gaun-

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   86. Tidak ada Satu pun yang Dilupakan

    Berkas sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden tipis, menerangi tirai sutra dan ruangan kamar yang hangat.Cahaya lembut itu menyapa kelopak mata Julia, memaksa wanita itu tersadar dari tidur lelapnya.Julia melenguh pelan, merenggangkan jemarinya yang mendadak menyenggol sprei yang sedikit berantakan.Saat kesadarannya terkumpul sepenuhnya, memori tentang apa yang terjadi semalam mendadak berputar hebat di dalam kepalanya bagaikan gulungan film yang diputar ulang.Sentuhan panas, desah napas memburu, ciuman di leher, hingga pengakuan jujur Steve tentang kesetiannya selama lima tahun terakhir seketika menghantam ingatan Julia.Deg.Wajah Julia yang baru bangun tidur itu seketika memerah padam hingga ke ujung telinga. Kedua telapak tangannya menutup wajahnya erat-erat di balik bantal."Astaga... apa yang sudah kulakukan semalam?" gumam Julia lirih, suaranya dipenuhi rasa malu, bingung, dan salah tingkah yang tak tergerus waktu.Bagaimana mungkin ia menyerahkan dirinya begitu sa

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   85. Pengakuan Steve

    Dada yang naik turun beriringan serta deru napas yang masih tersengal-sengal perlahan mulai mereda di dalam kamar bernuansa redup itu.Keheningan malam yang syahdu kembali mengambil alih ruangan, menyisakan kehangatan selimut tebal yang melingkupi dua tubuh yang baru saja meleburkan seluruh rasa rindu dan gairah yang membara.Suasana terasa begitu tenang, seolah sang waktu sengaja berhenti berputar hanya untuk memberi ruang bagi mereka bernapas.Steve bergerak perlahan, mengubah posisinya miring demi merengkuh tubuh polos Julia secara utuh dari belakang.Lengan kokohnya melingkar erat di sekeliling pinggang ramping Julia, menarik tubuh halus wanita itu makin menempel rapat pada dada bidangnya yang masih terasa hangat dan sedikit basah oleh peluh.Steve menyandarkan dagunya dengan begitu alami di atas bahu mulus Julia, membiarkan hela napas baritonnya yang hangat berhembus lembut menerpa ceruk leher sang wanita.Jemari Steve yang besar dan penuh urat menyusup pelan di antara jemari hal

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status