LOGINDua hari berlalu begitu cepat. Kondisi fisik Steve menunjukkan pemulihan yang sangat signifikan hingga dokter akhirnya mengizinkannya untuk pulang.Kini, pria tegap itu sudah kembali berada di dalam penthouse mewah apartemennya, duduk bersandar kaku di atas sofa kulit hitam yang membelakangi jendela kaca raksasa.Suasana ruangan itu begitu hening sebelum suara langkah kaki tergesa-gesa memecah kesunyian.Rian berjalan masuk melintasi kamar utama dan melangkah mendekati meja kerja bosnya dengan membawa map laporan harian."Tuan Steve," sapa Rian seraya membungkukkan badannya sedikit."Saya baru saja memeriksa butik Maison de Julia. Nyonya Julia tidak ada di butik hari ini. Sepertinya selama dua hari belakangan ini beliau hanya berdiam diri di rumah saja."Steve menghela napas kasar. Jemari panjangnya terangkat, memijat pelan keningnya yang kini hanya tertutup oleh plester kecil di area luka yang mulai mengering.Rasa pening akibat cedera kemarin sudah hampir tak berbekas, namun pikiran
"Beri tahu aku lebih dulu, kamu mencari tahu apa saja tentang aku dan kedua anakku, Steve?" ucap Julia dengan suara seraknya yang membendung kelelahan luar biasa.Mata sembap wanita itu menatap lurus, menunggu jawaban pasti dari bibir pria yang pernah memenuhi seluruh hidupnya tersebut.Steve menatap datar wajah Julia.Tatapannya yang kelam dan tajam seolah menembus jauh ke dalam sanubari sang wanita, menilai sejauh mana pertahanan Julia yang kini mulai goyah.Namun, detik berikutnya, Steve membuang muka. Pria tegap itu mengalihkan pandangannya ke balik jendela luar, menghembuskan napas kasar.Menurutnya, bertanya atau memberi tahu apa pun saat ini terasa percuma; Julia tidak akan pernah mau bersikap jujur dan mengakui bahwa dia adalah ayah kandung dari si kembar.Padahal, Steve tahu segalanya.Pria itu menelusuri tiap jejak kepedihan yang ditinggalkan Julia.Ia tahu betapa terpuruknya wanita itu di Paris, bahkan tahu betul trauma hebat seperti apa yang menyerang Julia saat berusaha b
Steve mematikan panggilan video itu secara sepihak tanpa permisi lagi, memutuskan sambungan telepon begitu saja tanpa membiarkan Justin menyahut sepatah kata pun.Pria itu bahkan melemparkan ponsel milik Julia ke atas kasur medis dengan gerakan kasar.Napas Steve berhembus naik turun dengan kencang.Pria tegap itu kini memutar tubuhnya, mengunci sosok Julia dengan tatapan mata kelamnya yang dipenuhi kekesalan yang mendalam.Kerutan tajam tercetak kaku di dahinya, seolah seluruh amarah dan gejolak cemburu yang tertahan di dadanya siap meledak kapan saja.Julia yang menyaksikan seluruh respons kekanak-kanakan itu hanya bisa berdiri mematung.Wanita itu menatap raut wajah Steve dengan kening berkerut rapat, diliputi rasa bingung yang amat sangat melihat betapa emosionalnya pria arogan di hadapannya ini."Kamu ini kenapa sih, Steve?" cetus Julia dengan suara yang bergetar kencang, sembari menunjuk ponselnya yang tergeletak di kasur."Apa-apaan sikapmu tadi?! Kamu sama sekali tidak punya h
Efek obat penenang akhirnya berhasil menenggelamkan sang CEO Anderson Group ke dalam tidur lelapnya.Julia mendesah lega, lalu menyapu keringat dingin di pelipisnya.Ia pun melangkah perlahan menjauhi tempat tidur untuk mengambil ponsel di dalam tasnya, lalu berjalan menuju sudut ruangan dekat jendela besar untuk menghubungi rumah.Hatinya yang terus bergejolak mendadak merindu setengah mati pada kedua buah hatinya.Hanya dalam beberapa kali dering, panggilan video call itu terhubung. Wajah mungil Elea dan Leon seketika memenuhi layar ponsel."Mama!" seru Elea dengan suara cemprengnya yang khas, melambaikan tangan mungilnya ke arah kamera."Mama di mana? Kenapa belum pulang?" timpal Leon yang berdiri menyamping di sebelah kembarannya, menatap layar dengan mata bulatnya yang polos.Melihat senyum kedua anaknya, seluruh rasa lelah dan ketegangan yang dihimpit Julia seharian ini luluh seketika."Mama masih di luar, sayang. Lagi ada urusan sebentar. Leon sama Elea sudah makan malam?""Sud
Dokter itu mengedipkan matanya canggung, merasa atmosfer di dalam ruangan mendadak berubah menjadi amat aneh dan mencekam.Enggan memperpanjang ketegangan, sang dokter akhirnya mengangguk paham dan mengalihkan pandangannya kembali pada pasiennya."Baiklah kalau begitu, Tuan Anderson," ujar dokter sembari menyiapkan jarum suntik."Saya akan menyuntikkan obat pereda nyeri dan sedatif ringan ke dalam selang infus Anda agar saraf kepala Anda bisa beristirahat total."Steve tampak tidak memprotes.Pria tegap itu membiarkan suster dan dokter menyelesaikan tugas medis mereka dalam hening, sementara sepasang iris kelamnya tak pernah sekali pun lepas mengunci sosok Julia yang kini berdiri kaku di sudut ruangan usai dibersihkan oleh suster."Pemeriksaan sore ini sudah selesai. Harap dipastikan Tuan Anderson tidak melakukan aktivitas berat dulu," pesan sang dokter sebelum akhirnya pamit melangkah keluar kamar bersama perawatnya.Klek.Pintu kaca itu kembali tertutup rapat. Keheningan yang terama
Suasana tegang yang membeku di dalam kamar rawat VIP itu mendadak terpecah usai ketukan pelan berbunyi dua kali dari arah luar.Pintunya terdorong terbuka secara perlahan, memunculkan sosok dokter yang mengenakan jas putih bersih, didampingi oleh seorang suster yang membawa nampan berisi beberapa botol obat dan jarum suntik medis."Selamat sore, Tuan Anderson, Nyonya Julia," sapa dokter senior itu dengan ulasan senyum ramah yang mengembang hangat di parasnya.Julia yang masih berdiri kaku di samping ranjang medis bergegas mengambil satu langkah mundur, menyapu sisa kebasahan di sudut matanya sembari mencoba menetralkan deru napasnya yang belum teratur.Sementara itu, Steve hanya membalas sapaan sang dokter dengan dehaman pendek yang dingin, meski sepasang iris kelamnya masih memancarkan pendar amarah laten yang belum sepenuhnya mereda akibat topik tamparan Celine tadi.Dokter melangkah mendekat, melingkarkan stetoskop di lehernya lalu memeriksa selang infus serta bebat perban di kepal







