เข้าสู่ระบบJulia berdehem pelan untuk menetralkan suasana yang kian tertekan. Wanita itu memalingkan wajahnya dan menatap Steve yang kini berdiri tepat di samping ranjangnya."Anak-anak memang sangat menyukai buah-buahan, Tuan Anderson," pangkas Julia berusaha tenang. "Dan kebetulan Leon memang menyukai hampir semua jenis buah-buahan.""Tapi aku tidak suka pisang!" potong Leon cepat seraya menyilangkan tangan kecilnya di dada. "Rasanya sangat aneh dan lembek!"Steve seketika menaikkan sebelah alisnya mendengar ucapan polos dari mulut bocah laki-laki itu. Binar matanya bertambah tajam saat mencerna selera makan sang anak.Ujaran spontan itu membuat Julia mendadak membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang karena tahu betul fakta bahwa Steve sangat membenci pisang dengan alasan yang sama persis.Sementara Rian yang berada di belakang Steve hanya bisa menahan napasnya dalam-dalam. Asisten itu mengerti betul betapa gila dan identiknya kemiripan di antara kedua orang tersebut.Steve maju satu
Leon dan Elea sedang bermain bersama mamanya di atas ranjang rawat. Mereka bercerita dengan riang tentang kejadian di sekolah day care tadi siang."Masa ya, Ma, tadi temanku ada yang menumpahkan susu ke baju gurunya!" celoteh Elea polos seraya memperagakan gerakan tumpah dengan tangan mungilnya.Julia terkekeh geli mendengar cerita putrinya itu, mengusap lembut pipi Elea. "Masa sih? Terus gurunya marah tidak sama temanmu?""Tidak marah, Ma, tapi mukanya lucu sekali seperti monster bingung!" sambung Leon ikut tertawa lepas hingga matanya menyipit gembira.Keceriaan di dalam ruangan itu mendadak terhenti saat pintu kamar rawat mendadak terbuka dari luar.Steve melangkah masuk bersama Rian yang berjalan tepat di belakangnya. Mereka berdua memotong gelak tawa keluarga kecil tersebut.Julia bersama kedua anak kembar itu menoleh kompak ke arah pintu. Kening Julia seketika berkerut dalam melihat presensi Steve di sana."Selamat sore, Nona Julia," sapa Rian ramah seraya melangkah mendekat mem
Sementara itu di kantor, Steve tampak uring-uringan tidak jelas di dalam ruang kerjanya. Rian yang melihat kelakuan bosnya itu ingin sekali menegurnya.Steve terus berjalan bolak-balik di depan meja kerjanya. Wajahnya dipenuhi raut cemas dan emosi yang meluap-luap."Sialan!" umpat Steve kasar seraya mengacak rambutnya frustrasi dengan satu tangan beristirahat di pinggang.Rian menghela napas panjang melihat tingkat stres atasannya yang kian tak terkendali. "Tuan Anderson, bisakah Anda duduk tenang sebentar?"Steve menoleh tajam ke arah asistennya itu. "Bagaimana aku bisa tenang kalau pikiranku terus tertuju ke rumah sakit?""Kalau memang ingin melihat kondisi Nona Julia, sebaiknya datangi saja langsung," ujar Rian akhirnya memberi saran lurus."Mana bisa aku ke sana begitu saja!" potong Steve cepat dengan nada ketus.Rian melangkah mendekat seraya menatap Steve secara bijak. "Gunakan alasan resmi. Nona Julia kan mitra bisnis penting kita saat ini."Steve menoleh dan menatap Rian denga
Setengah jam kemudian, kelopak mata Julia bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Ia menoleh sayup-sayup ke kanan dan kiri seraya memegangi kepalanya."Eungh... aku di mana ini?" keluh Julia pelan dengan suara yang teramat serak.Justin yang sejak tadi duduk menunggui di samping ranjang langsung berdiri menghampiri. Pria itu hembuskan napas lega yang luar biasa."Kamu di rumah sakit, Julia," pangkas Justin lembut seraya mengusap jemari wanita itu. "Syukurlah kamu akhirnya siuman juga."Julia memejamkan mata sejenak menetralkan rasa pening yang masih berputar di kepalanya. Ingatannya mendadak berputar pada detik-detik sebelum ia hilang kesadaran."Justin... di mana Steve?" tanya Julia dengan binar mata yang tampak memancar penuh kebingungan.Kening Justin berkerut tipis mendengar nama pria itu langsung terlontar dari bibir Julia. "Kenapa kamu menanyakan dia?""Bukannya yang membawa aku ke sini tadi itu dia?" bisik Julia pelan, sembari mencoba mengingat bayangan terakhir
Suasana di lorong instalasi gawat darurat Rumah Sakit Medika terasa begitu mencekam. Justin tiba dengan napas tersengal-sengal setelah mendapat kabar darurat dari asisten butik Julia.Pria itu melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor yang dingin. Langkah kakinya terdengar nyaring beradu dengan lantai rumah sakit yang sepi."Bagaimana kondisi Julia sekarang?" tanya Justin langsung saat melihat sosok tinggi Steve di depan pintu ruang tindakan.Dengan gestur penuh kecemasan, Justin melangkah mendekat. Ia menatap Steve dengan pandangan yang sarat akan permusuhan terendam."Terima kasih atas pertolongan pertamamu di kantor tadi," ucap Justin dengan nada suara yang teramat dingin dan kaku.Justin merapikan jasnya sejenak, lalu menegaskan posisinya. "Tapi sekarang aku sudah di sini. Aku yang akan mengambil alih seluruh pengurusan Julia selanjutnya."Namun, di luar dugaan, Steve menolak beranjak pergi sedikit pun. Pria itu tetap berdiri tegak di tem
Julia menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik menatap Steve dengan kening berkerut. "Urusan pekerjaan kita kan sudah selesai?" ucap Julia dengan suara datarnya.Steve menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke dalam mata sang desainer tanpa mengedip. "Ini bukan soal pekerjaan, tapi soal insiden di restoran beberapa hari yang lalu.""Tidak ada hal yang perlu dibahas lagi soal kejadian konyol itu," sahut Julia mencoba menghindar dengan nada datar."Kenapa anak perempuanmu menangis histeris seperti itu?" desak Steve tajam. "Dia berteriak minta agar kamu tidak dipukul."Napas Julia mendadak tercekat mendengar pertanyaan lurus tersebut. Dadanya mulai berdebar kencang tak beraturan.Steve memajukan tubuhnya ke depan meja, mengunci pandangan Julia yang mulai tampak gelisah. "Apakah ada seseorang yang pernah menyakiti atau memukulmu selama ini?" tanyanya kemudian.Mendengar pertanyaan yang teramat tajam itu, Julia mendadak membeku di tempatny







