Share

5. Acara Gala

Author: CeliiCaaca
last update publish date: 2026-07-15 17:48:34

Di dalam ruang kerja lantai teratas Anderson Group, Steve berdiri menatap pemandangan kota di balik dinding kaca.

Pria itu menyesap kopi hitamnya dalam keheningan, sebelum suara ketukan pintu memecah konsentrasinya.

Rian melangkah masuk membawa map laporan. "Tuan Steve, surat undangan resmi untuk Maison de Julia sudah dikirimkan beserta dana operasional awal, sesuai perintah Anda."

Steve tidak membalikkan badan. "Bagus."

Rian ragu sejenak, lalu memberanikan diri bertanya. "Maaf, Tuan... bukankah sebelumnya komite menolak Maison de Julia karena brand mereka baru saja buka cabang?” 

Steve memutar tubuhnya perlahan dan menatap Rian dengan mata elangnya yang dingin.

"Kualitas busananya tinggi. Pemasarannya menarik. Aku sudah memeriksa portofolio Paris-nya secara langsung."

Kening Rian berkerut dalam mendengar Steve memuji butik itu. Karena seingatnya, kemarin tuannya itu secara terang-terangan bilang desain yang dipresentasikan buruk dan tidak berkelas.

"Lalu, mengenai gaun Nona Celine?"

"Itu hal berbeda," potong Steve singkat dan tidak terbantahkan. "Lakukan saja tugasmu, Rian."

"Baik, Tuan." Rian segera membungkuk dan mundur tanpa berani bertanya lagi.

**

Tiga hari kemudian. Malam Gala.

Di kediaman Julia, suasana kamar rias dipenuhi gelak tawa kecil.

Julia berdiri di depan cermin besar, mengenakan gaun malam satin berwarna hitam elegan yang memeluk tubuhnya secara pas namun tetap terkesan amat berkelas.

"Mama cantik sekali!" puji Elea dengan mata berbinar-binar.

"Seperti ratu di buku cerita Leon!" tambah Leon antusias sembari melompat-lompat di atas tempat tidur.

Julia tersenyum, lalu berlutut untuk sejajar dengan kedua buah hatinya. "Terima kasih, Sayang. Mama harus pergi ke acara gala sekarang."

"Leon mau ikut, Ma!" rengek anak laki-lakinya itu seketika sembari memegang gaun Julia dengan erat.

"Elea juga mau ikut! Mau lihat Mama pakai gaun di tempat ramai!" timpal Elea sambil memajukan bibir bawahnya.

"Tidak bisa, Sayang," ujar Julia lembut namun tegas. "Acara ini khusus untuk orang-orang dewasa yang sedang bekerja. Kalian di rumah saja bersama Nanny, ya?"

Kedua anak kembar itu langsung merajuk, sambil melipat tangan di dada dengan raut wajah muram. Melihat tingkah mereka, hati Julia pun melunak.

"Baiklah," ucap Julia akhirnya mengalah.

"Kalian boleh ikut di dalam mobil bersama Pak Sopir dan Nanny sampai ke lokasi. Tapi ingat, kalian hanya menunggu di area lobi luar atau di dalam mobil. Tidak boleh masuk ke dalam ruang acara. Setuju?"

"Setuju, Mama!" seru Leon dan Elea kompak dengan senyum lebar.

**

Aula utama Grand Ballroom tempat gala berlangsung dipenuhi oleh jajaran pebisnis papan atas, investor, dan awak media.

Julia berdiri tegap di panggung presentasi khusus area pameran, membawakan konsep rancangan Maison de Julia dengan bahasa tubuh yang anggun dan percaya diri.

Exposure dari acara ini benar-benar luar biasa. Begitu ia turun dari panggung, beberapa pengusaha muda dan perwakilan investor langsung menghampirinya untuk memberikan kartu nama.

"Presentasi yang sangat memukau, Nyonya Estella," puji seorang pebisnis muda berjas biru, lalu tersenyum lebar sembari menyodorkan gelas minuman pada Julia.

"Brand Anda memiliki potensi sangat besar di pasar lokal. Jika Anda berkenan, saya ingin mendiskusikan investasi khusus untuk ekspansi butik Anda."

Julia tersenyum. "Terima kasih, Tuan. Saya sangat terbuka untuk—"

"Dia tidak butuh investasimu."

Suara bariton yang dingin dan sarat dominasi memotong percakapan itu.

Steve Anderson melangkah mendekat. Auranya yang mengintimidasi langsung menekan atmosfer di sekitar mereka.

Steve berdiri tepat di samping Julia, menyandarkan sebelah tangannya di saku celana, sementara matanya menatap tajam pria muda di depannya.

"T-Tuan Anderson?" pebisnis muda itu tampak terkejut dan gugup.

"Aku sendiri yang mengundang Maison de Julia ke acara ini," tegas Steve tanpa ragu, suaranya terdengar lugas di depan orang-orang yang mulai memperhatikan mereka.

"Maison de Julia akan menandatangani kontrak eksklusif dengan Anderson Group. Cari brand lain."

Mendengar nama besar Anderson Group yang 'mengklaim' brand tersebut, para pebisnis di sekitar Julia langsung tertawa canggung dan perlahan mundur, tidak berani berurusan atau bersaing dengan Steve yang berkuasa.

Dada Julia mendadak bergemuruh oleh rasa tersinggung yang mendalam.

Begitu para pria itu pergi, Julia menatap Steve dengan kilatan marah. "Apa maksud Anda, Tuan Anderson? Saya tidak pernah menyetujui kontrak apa pun dengan perusahaan Anda."

Steve menatap Julia dari atas ke bawah, raut wajahnya tetap kaku tanpa penyesalan.

"Ini kesempatan terbaik untuk brand-mu. Jangan bodoh."

"Ini bisnis saya, dan saya yang berhak menentukan dengan siapa saya bekerja sama," desis Julia menahan emosinya agar tidak menjadi konsumsi publik. "Berhenti mencampuri urusan saya."

Sebelum Steve sempat membalas, sebuah tangan dengan kuku berhias cat merah menyambar lengannya secara tiba-tiba.

"Sayang! Kamu di sini rupanya!" Celine muncul dengan gaun merah mencolok, langsung merangkul lengan Steve dengan mesra dan bersandar di bahunya. Matanya menatap Julia dengan pandangan senyum cerianya.

"Oh, Julia?” Celine menaikan alisnya melihat Julia berdiri di sana. “Ternyata kamu hadir juga. By the way, kamu hebat juga ya, bisa masuk ke acara sekelas ini."

Ucapan Celine bernada manis, tapi Julia mengerti sindiran di baliknya. Ia menganggap Julia berada di kelas yang tak sebanding dengan mereka.

Cara Celine menggenggam lengan Steve dengan posesif juga membuatnya sadar, Celine pasti telah mengetahui masa lalunya dengan Steve. Pria itu mungkin telah memberitahunya.

"Oh ya, mumpung kamu ada di sini, aku mau kasih tahu kalau kami batal memesan gaun di butikmu, Julia. Ibu Steve mencari desainer senior lain yang lebih ternama untuk gaun pernikahan kami bulan depan. Tenang saja, soal kompensasinya, akan kami bayar sesuai yang tertera di kontrak."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   34. Salah Tingkah Sendiri

    Sementara itu di kantor, Steve tampak uring-uringan tidak jelas di dalam ruang kerjanya. Rian yang melihat kelakuan bosnya itu ingin sekali menegurnya.Steve terus berjalan bolak-balik di depan meja kerjanya. Wajahnya dipenuhi raut cemas dan emosi yang meluap-luap."Sialan!" umpat Steve kasar seraya mengacak rambutnya frustrasi dengan satu tangan beristirahat di pinggang.Rian menghela napas panjang melihat tingkat stres atasannya yang kian tak terkendali. "Tuan Anderson, bisakah Anda duduk tenang sebentar?"Steve menoleh tajam ke arah asistennya itu. "Bagaimana aku bisa tenang kalau pikiranku terus tertuju ke rumah sakit?""Kalau memang ingin melihat kondisi Nona Julia, sebaiknya datangi saja langsung," ujar Rian akhirnya memberi saran lurus."Mana bisa aku ke sana begitu saja!" potong Steve cepat dengan nada ketus.Rian melangkah mendekat seraya menatap Steve secara bijak. "Gunakan alasan resmi. Nona Julia kan mitra bisnis penting kita saat ini."Steve menoleh dan menatap Rian denga

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   33. Tak Perlu Berharap Banyak

    Setengah jam kemudian, kelopak mata Julia bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Ia menoleh sayup-sayup ke kanan dan kiri seraya memegangi kepalanya."Eungh... aku di mana ini?" keluh Julia pelan dengan suara yang teramat serak.Justin yang sejak tadi duduk menunggui di samping ranjang langsung berdiri menghampiri. Pria itu hembuskan napas lega yang luar biasa."Kamu di rumah sakit, Julia," pangkas Justin lembut seraya mengusap jemari wanita itu. "Syukurlah kamu akhirnya siuman juga."Julia memejamkan mata sejenak menetralkan rasa pening yang masih berputar di kepalanya. Ingatannya mendadak berputar pada detik-detik sebelum ia hilang kesadaran."Justin... di mana Steve?" tanya Julia dengan binar mata yang tampak memancar penuh kebingungan.Kening Justin berkerut tipis mendengar nama pria itu langsung terlontar dari bibir Julia. "Kenapa kamu menanyakan dia?""Bukannya yang membawa aku ke sini tadi itu dia?" bisik Julia pelan, sembari mencoba mengingat bayangan terakhir

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   32. Kondisi Julia

    Suasana di lorong instalasi gawat darurat Rumah Sakit Medika terasa begitu mencekam. Justin tiba dengan napas tersengal-sengal setelah mendapat kabar darurat dari asisten butik Julia.Pria itu melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor yang dingin. Langkah kakinya terdengar nyaring beradu dengan lantai rumah sakit yang sepi."Bagaimana kondisi Julia sekarang?" tanya Justin langsung saat melihat sosok tinggi Steve di depan pintu ruang tindakan.Dengan gestur penuh kecemasan, Justin melangkah mendekat. Ia menatap Steve dengan pandangan yang sarat akan permusuhan terendam."Terima kasih atas pertolongan pertamamu di kantor tadi," ucap Justin dengan nada suara yang teramat dingin dan kaku.Justin merapikan jasnya sejenak, lalu menegaskan posisinya. "Tapi sekarang aku sudah di sini. Aku yang akan mengambil alih seluruh pengurusan Julia selanjutnya."Namun, di luar dugaan, Steve menolak beranjak pergi sedikit pun. Pria itu tetap berdiri tegak di tem

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   31. Mendadak Pingsan

    Julia menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik menatap Steve dengan kening berkerut. "Urusan pekerjaan kita kan sudah selesai?" ucap Julia dengan suara datarnya.Steve menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke dalam mata sang desainer tanpa mengedip. "Ini bukan soal pekerjaan, tapi soal insiden di restoran beberapa hari yang lalu.""Tidak ada hal yang perlu dibahas lagi soal kejadian konyol itu," sahut Julia mencoba menghindar dengan nada datar."Kenapa anak perempuanmu menangis histeris seperti itu?" desak Steve tajam. "Dia berteriak minta agar kamu tidak dipukul."Napas Julia mendadak tercekat mendengar pertanyaan lurus tersebut. Dadanya mulai berdebar kencang tak beraturan.Steve memajukan tubuhnya ke depan meja, mengunci pandangan Julia yang mulai tampak gelisah. "Apakah ada seseorang yang pernah menyakiti atau memukulmu selama ini?" tanyanya kemudian.Mendengar pertanyaan yang teramat tajam itu, Julia mendadak membeku di tempatny

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   30. Keputusan Final Steve

    Beberapa hari kemudian, Julia melangkah masuk kembali ke ruang kerja lantai teratas Anderson Group. Ia membawa berkas final rancangan gaun pengantin yang sudah disempurnakan."Semoga revisi kali ini langsung diterima tanpa drama lagi," bisik Julia pelan di depan pintu lift eksekutif.Di dalam hatinya tersimpan harapan besar agar kali ini Steve tidak melontarkan hinaan pedas seperti pertemuan mereka lalu. Julia mengetuk pintu kaca tebal itu dengan ketukan teratur."Masuk," sahut suara bariton Steve dari dalam ruangan.Julia berjalan mendekati meja kerja mewah bernuansa monokrom tersebut. Pria itu tengah memeriksa beberapa dokumen di atas mejanya."Ini berkas final rancangan gaun pengantin yang sudah disempurnakan, Tuan Anderson," ujar Julia seraya menyerahkan map tebal di tangannya.Steve menerima lembar sketsa tersebut, menelitinya dengan sangat teliti di balik meja kerjanya. Pria itu menyapu setiap detail garis sketsa tanpa bersuara.

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   29. Harus Disembuhkan, Bukan Disembunyikan

    Setibanya di rumah, suasana malam terasa begitu sunyi di seluruh sudut ruangan. Si kembar akhirnya terlelap pulas di kamar tidur mereka akibat kelelahan menangis."Mereka sudah tidur nyenyak," bisik Justin pelan seraya melangkah keluar dari kamar anak-anak dan menutup pintunya merapat.Julia yang duduk di sofa ruang keluarga hanya mengangguk pelan tanpa suara. Wanita itu masih tampak melamun dengan tatapan kosong menghadap meja.Sisa-sisa kepanikan di restoran tadi rupanya benar-benar merusak pertahanan mental yang dibangunnya. Tangannya masih menyisa sedikit getaran halus saat memangku cangkir teh hangat.Justin berjalan menghampiri Julia, lalu mengambil posisi duduk di sampingnya. "Minumlah sedikit tehmu, Julia. Kamu kelihatan sangat pucat dari tadi.""Terima kasih, Justin," sahut Julia lirih seraya menghirup uap teh hangat di pegangannya. "Maaf ya, kamu jadi merepotkan diri mengantar kami pulang."Justin menatap raut wajah Julia dengan tatapan yang amat teduh. "Kamu tidak pernah me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status