Home / Romansa / Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita / 30. Keputusan Final Steve

Share

30. Keputusan Final Steve

Author: CeliiCaaca
last update publish date: 2026-08-17 09:00:21

Beberapa hari kemudian, Julia melangkah masuk kembali ke ruang kerja lantai teratas Anderson Group. Ia membawa berkas final rancangan gaun pengantin yang sudah disempurnakan.

"Semoga revisi kali ini langsung diterima tanpa drama lagi," bisik Julia pelan di depan pintu lift eksekutif.

Di dalam hatinya tersimpan harapan besar agar kali ini Steve tidak melontarkan hinaan pedas seperti pertemuan mereka lalu. Julia mengetuk pintu kaca tebal itu dengan ketukan teratur.

"Masuk,"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   34. Salah Tingkah Sendiri

    Sementara itu di kantor, Steve tampak uring-uringan tidak jelas di dalam ruang kerjanya. Rian yang melihat kelakuan bosnya itu ingin sekali menegurnya.Steve terus berjalan bolak-balik di depan meja kerjanya. Wajahnya dipenuhi raut cemas dan emosi yang meluap-luap."Sialan!" umpat Steve kasar seraya mengacak rambutnya frustrasi dengan satu tangan beristirahat di pinggang.Rian menghela napas panjang melihat tingkat stres atasannya yang kian tak terkendali. "Tuan Anderson, bisakah Anda duduk tenang sebentar?"Steve menoleh tajam ke arah asistennya itu. "Bagaimana aku bisa tenang kalau pikiranku terus tertuju ke rumah sakit?""Kalau memang ingin melihat kondisi Nona Julia, sebaiknya datangi saja langsung," ujar Rian akhirnya memberi saran lurus."Mana bisa aku ke sana begitu saja!" potong Steve cepat dengan nada ketus.Rian melangkah mendekat seraya menatap Steve secara bijak. "Gunakan alasan resmi. Nona Julia kan mitra bisnis penting kita saat ini."Steve menoleh dan menatap Rian denga

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   33. Tak Perlu Berharap Banyak

    Setengah jam kemudian, kelopak mata Julia bergerak perlahan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Ia menoleh sayup-sayup ke kanan dan kiri seraya memegangi kepalanya."Eungh... aku di mana ini?" keluh Julia pelan dengan suara yang teramat serak.Justin yang sejak tadi duduk menunggui di samping ranjang langsung berdiri menghampiri. Pria itu hembuskan napas lega yang luar biasa."Kamu di rumah sakit, Julia," pangkas Justin lembut seraya mengusap jemari wanita itu. "Syukurlah kamu akhirnya siuman juga."Julia memejamkan mata sejenak menetralkan rasa pening yang masih berputar di kepalanya. Ingatannya mendadak berputar pada detik-detik sebelum ia hilang kesadaran."Justin... di mana Steve?" tanya Julia dengan binar mata yang tampak memancar penuh kebingungan.Kening Justin berkerut tipis mendengar nama pria itu langsung terlontar dari bibir Julia. "Kenapa kamu menanyakan dia?""Bukannya yang membawa aku ke sini tadi itu dia?" bisik Julia pelan, sembari mencoba mengingat bayangan terakhir

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   32. Kondisi Julia

    Suasana di lorong instalasi gawat darurat Rumah Sakit Medika terasa begitu mencekam. Justin tiba dengan napas tersengal-sengal setelah mendapat kabar darurat dari asisten butik Julia.Pria itu melangkah tergesa-gesa menyusuri koridor yang dingin. Langkah kakinya terdengar nyaring beradu dengan lantai rumah sakit yang sepi."Bagaimana kondisi Julia sekarang?" tanya Justin langsung saat melihat sosok tinggi Steve di depan pintu ruang tindakan.Dengan gestur penuh kecemasan, Justin melangkah mendekat. Ia menatap Steve dengan pandangan yang sarat akan permusuhan terendam."Terima kasih atas pertolongan pertamamu di kantor tadi," ucap Justin dengan nada suara yang teramat dingin dan kaku.Justin merapikan jasnya sejenak, lalu menegaskan posisinya. "Tapi sekarang aku sudah di sini. Aku yang akan mengambil alih seluruh pengurusan Julia selanjutnya."Namun, di luar dugaan, Steve menolak beranjak pergi sedikit pun. Pria itu tetap berdiri tegak di tem

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   31. Mendadak Pingsan

    Julia menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik menatap Steve dengan kening berkerut. "Urusan pekerjaan kita kan sudah selesai?" ucap Julia dengan suara datarnya.Steve menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke dalam mata sang desainer tanpa mengedip. "Ini bukan soal pekerjaan, tapi soal insiden di restoran beberapa hari yang lalu.""Tidak ada hal yang perlu dibahas lagi soal kejadian konyol itu," sahut Julia mencoba menghindar dengan nada datar."Kenapa anak perempuanmu menangis histeris seperti itu?" desak Steve tajam. "Dia berteriak minta agar kamu tidak dipukul."Napas Julia mendadak tercekat mendengar pertanyaan lurus tersebut. Dadanya mulai berdebar kencang tak beraturan.Steve memajukan tubuhnya ke depan meja, mengunci pandangan Julia yang mulai tampak gelisah. "Apakah ada seseorang yang pernah menyakiti atau memukulmu selama ini?" tanyanya kemudian.Mendengar pertanyaan yang teramat tajam itu, Julia mendadak membeku di tempatny

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   30. Keputusan Final Steve

    Beberapa hari kemudian, Julia melangkah masuk kembali ke ruang kerja lantai teratas Anderson Group. Ia membawa berkas final rancangan gaun pengantin yang sudah disempurnakan."Semoga revisi kali ini langsung diterima tanpa drama lagi," bisik Julia pelan di depan pintu lift eksekutif.Di dalam hatinya tersimpan harapan besar agar kali ini Steve tidak melontarkan hinaan pedas seperti pertemuan mereka lalu. Julia mengetuk pintu kaca tebal itu dengan ketukan teratur."Masuk," sahut suara bariton Steve dari dalam ruangan.Julia berjalan mendekati meja kerja mewah bernuansa monokrom tersebut. Pria itu tengah memeriksa beberapa dokumen di atas mejanya."Ini berkas final rancangan gaun pengantin yang sudah disempurnakan, Tuan Anderson," ujar Julia seraya menyerahkan map tebal di tangannya.Steve menerima lembar sketsa tersebut, menelitinya dengan sangat teliti di balik meja kerjanya. Pria itu menyapu setiap detail garis sketsa tanpa bersuara.

  • Kesempatan Kedua untuk Cinta Kita   29. Harus Disembuhkan, Bukan Disembunyikan

    Setibanya di rumah, suasana malam terasa begitu sunyi di seluruh sudut ruangan. Si kembar akhirnya terlelap pulas di kamar tidur mereka akibat kelelahan menangis."Mereka sudah tidur nyenyak," bisik Justin pelan seraya melangkah keluar dari kamar anak-anak dan menutup pintunya merapat.Julia yang duduk di sofa ruang keluarga hanya mengangguk pelan tanpa suara. Wanita itu masih tampak melamun dengan tatapan kosong menghadap meja.Sisa-sisa kepanikan di restoran tadi rupanya benar-benar merusak pertahanan mental yang dibangunnya. Tangannya masih menyisa sedikit getaran halus saat memangku cangkir teh hangat.Justin berjalan menghampiri Julia, lalu mengambil posisi duduk di sampingnya. "Minumlah sedikit tehmu, Julia. Kamu kelihatan sangat pucat dari tadi.""Terima kasih, Justin," sahut Julia lirih seraya menghirup uap teh hangat di pegangannya. "Maaf ya, kamu jadi merepotkan diri mengantar kami pulang."Justin menatap raut wajah Julia dengan tatapan yang amat teduh. "Kamu tidak pernah me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status