Masuk23Acara rapat keluarga di kediaman Alvaro di Kalibata, berlangsung dengan lancar. Kedua orang tua Panji dan Zelia, terlihat akrab dengan keluarga Pramudya, Baltissen, serta belasan Power Rangers, yang turut menghadiri acara tersebut, bersama keluarga mereka. Beberapa menit sebelum azan magrib berkumandang, mereka berbondong-bondong menuju masjid terdekat, guna melakukan salat berjemaah. Kemudian mereka kembali ke tempat semula.Zikria memerhatikan Panji dan Zelia, yang tengah berbincang serius dengan Wirya. Wajah semringah yang ditampilkan keduanya, membuat Zikria penasaran. Namun, dia harus menunggu percakapan itu selesai, guna mengetahui kebenarannya.Tatapan Zikria beralih pada beberapa remaja yang berkumpul di ujung kanan ruang tengah. Gaya candaan mereka mengingatkan Zikria akan tingkahnya dan para sahabat seangkatan. Zikria tersenyum menyaksikan perdebatan Arjuna yang usilnya sama dengan Alvaro, versus Qanita Imaniar, anak kedua Edwin, yang pemberani. Tawa Zikria meledak, ket
22Minggu bertukar dengan cepat. Rombongan Indonesia telah tiba di Jakarta dan disambut keluarga mereka dengan hangat. Zikria mendekap Zelia sesaat, sebelum berpindah untuk memeluk Panji, yang turut menjemputnya ke bandara.Zikria menyunggingkan senyuman sebelum merunduk untuk menyalami Bapak dan ibunya, yang sengaja datang dari Bogor untuk menjemputnya. Keluarga kecil itu berbincang sesaat, sebelum Zikria terdiam, seusai menyaksikan seorang perempuan, yang tengah mendekat sembari membawa buket cokelat. Sudut bibir Zikria mengukir senyuman, sebelum mengambil buket pemberian kekasihnya. Zikria menahan diri untuk tidak memeluk Asmiratih, karena tidak mau kedua orang tuanya kaget melihat tingkah mereka. Zikria hanya mengusap punggung Asmiratih sekilas, sebelum membisikkan sesuatu, yang menyebabkan pipi Asmiratih seketika merona. Keduanya tersenyum kala dicandai Panji dan Zelia, kemudian Zikria mengajak keluarganya menuju mobil. Belasan menit terlewati. Konvoi banyak mobil bergerak men
21Ruang rapat di HG Company, siang itu tampak ramai. Mereka fokus mendengarkan penawaran tender baru yang digagas HKB, HWZ, GUNZ, BHARATHAYA, dan LCGL.Wirya, Zulfi, dan Zikria, bergantian menerangkan ketiga proyek baru yang akan dilaksanakan awal Mei tahun depan, di beberapa negara Eropa Tengah dan Skandinavia. Setelah ketiganya duduk, Hisyam berdiri dan memulai presentasi tentang PB dan PBK. Pria beralis tebal itu tampak sangat percaya diri mengerjakan tugasnya. Sebagai mantan direktur utama PBK, dan ketua pengawal pertama pasukan Australia, Hisyam cukup dikenal banyak pebisnis di seputar Melbourne. Saat sesi tanya jawab, Hisyam mendengarkan beberapa pertanyaan yang diajukan peserta rapat. Kemudian dia berpindah ke dekat juniornya, lalu memegangi kedua pundak Zikria. "Dia direktur operasional PBK, jadi dia yang harus jawab," terang Hisyam, yang menyebabkan hadirin tersenyum. "Abang aja. Aku tadi sudah bicara 1 jam nonstop," kelakar Zikria. Hisyam merunduk sedikit. "Aku kebelet
20Upacara pembukaan pendidikan dan pelatihan khusus calon bodyguard, pagi itu berlangsung khidmat. 50 peserta dari berbagai angkatan, terlihat serius mendengarkan pidato Wirya yang cukup panjang. Zikria mengatupkan bibirnya rapat-rapat, ketika Andri, Yanuar, Mardi, Aswin, dan Zulfi, kompak membentuk gorokan di leher masing-masing. Penonton terbahak, karena tahu jika itu cara Power Rangers untuk memperingatkan Wirya, yang sulit menghentikan pidatonya, bila tengah memegangi mikrofon. Zikria menoleh ke kiri dan seketika terkekeh, menyaksikan Lazuardi dan Dimas membentuk pistol dengan tangan kanan, lalu ditembakkan ke Deswin serta Uwais, yang berpura-pura sempoyongan. "Abang-abang, tolong, jangan melawak," ujar Chloe, yang bertindak sebagai MC. "Jangan dicegah, Chloe. Aku justru senang melihat mereka merusuh," canda Isaac, yang menemani Chloe di tempat khusus MC. "Lagi, Bang," pintanya yang menyebabkan khalayak terpingkal. "Cukup, Gaes," sela Zulfi sambil memukul lengan adik-adikny
19Zikria memandangi layar ponselnya yang menampilkan wajah pucat Asmiratih. Zikria menahan diri untuk tidak banyak bertanya, karena Asmiratih masih lemah. Zikria akhirnya berbincang dengan Ren Liangyi, yang menerangkan peningkatan kondisi Asmiratih. Zikria meminta sang dokter andalan tim PBK itu, untuk tetap menemani Asmiratih, hingga gadis tersebut diizinkan tim dokter untuk keluar dari rumah sakit."Dek, nanti langsung pulang ke Jakarta aja," usul Zikria."Enggak bisa, Bang. Aku mesti ngasih keterangan lagi, karena sopir itu juga terluka kena panahku," tolak Asmiratih dengan suara pelan."Bagian itu, serahkan ke para Abang dan Koko. Kamu sama Hana langsung pulang dan istirahat." "Lihat sikon. Aku juga mesti nungguin Bang Adit." "Dia mau ke sana?" "Iya. Pesawat Pramudya sudah otw ke sini." "Ada abangmu, aku makin tenang." "Abang nggak usah mikirin aku. Fokus aja ke kerjaan." "Mana bisa aku nggak mikirin? Kamu itu belahan jiwaku." Pekikan Hana dan Ren Liangyi menjadikan Zikri
18Belasan pasang mata mengamati kegiatan beberapa orang, yang tengah melakukan sesuatu di dekat ekscavator besar. Para pengintai itu saling melirik, sebelum sama-sama mendengkus.Detik berganti menjadi menit. Kaki yang mulai pegal menjadikan Asmiratih duduk sambil menyelonjorkan kedua kaki. Dia gemas dan ingin sekali menghajar para perusuh, tetapi Asmiratih harus menyabarkan diri dan menuruti perintah Beni. Tepukan di lengan kiri menjadikan Asmiratih menengadah. Dia memandangi tangan Harun yang tengah memberi kode, kemudian Asmiratih mengangguk patuh.Gadis bermata besar itu memasang masker dan penutup rambut. Dia berdiri separuh tegak, lalu jalan sambil merunduk bersama Hana, Li Mye Na, dan Jhiang Florencia. Keempat perempuan itu berhenti di ujung kanan bangunan kantor. Mereka bergantian menaiki undakan sembari tetap merunduk. Lalu bersembunyi di belakang empat pilar besar. Asmiratih memasang panah ke busur kecil. Dia mengarahkan busur ke orang tertinggi, yang tengah berdiri di de
07Kehadiran Zikria di kamar perawatannya sore itu, ditanggapi Lova dengan dingin. Dia mengabaikan Zikria yang tengah berbincang dengan Papa dan mamanya. Akan tetapi, ketika Zikria menyebut tentang keinginan Wirya untuk bertemu dengan Shaka, Lova sontak memandangi pria beralis tebal, yang telah m
06Asmiratih menunduk sambil memilin jemari di pangkuannya. Gadis berkulit putih itu masih syok, seusai mendengarkan penjelasan Shaka, tentang penyakit yang diderita Lova, sejak 2 tahun terakhir. Asmiratih tidak menyangka bila Lova tengah berjuang untuk memulihkan kondisinya, seusai operasi yang di
05Jalinan waktu terus bergulir. Rombongan Indonesia telah pulang ke tanah air sejak kemarin sore. Zikria mengistirahatkan badannya terlebih dahulu. Lalu, malam itu dia mendatangi kediaman Shaka Padmana, dengan ditemani ajudannya, Zulfan Yasa Zahid.Setibanya di tempat tujuan, Zikria mulai gugup. T
04 Sekelompok orang saling menatap, sesaat setelah mendengarkan penuturan Zikria dan Asmiratih. Paras keduanya tampak semringah dan mereka nyaris tidak berhenti tersenyum. Aditya mendekatkan badannya ke kiri. Dia berbisik-bisik dengan Wirya, kemudian Aditya juga membisikkan hal itu pada Alodita d







