공유

Bab 2

작가: Anonima
Regina pergi ke rumah sakit seorang diri untuk menjahit lukanya.

Setelah mengetahui jika dia sedang hamil, dokter unit gawat darurat tidak memberinya obat bius.

Jarum yang dingin menyusup di antara darah dan kulit, membangkitkan rasa sakit yang menusuk-nusuk, tetapi terus-menerus muncul.

Regina mengatupkan giginya rapat-rapat. Seluruh tubuhnya gemetar hingga air matanya menetes.

Dahulu, setiap kali Rafael melihat luka baru di tangannya, dia akan merasa begitu iba dan hancur hatinya.

Obat-obatan yang ada di rumah adalah resep dari dokter bedah terbaik di negara ini. Tiap botolnya, harganya begitu mahal. Namun, Rafael menyediakannya hingga memenuhi lemari penyimpanan tanpa ragu. Bahkan, pria itu sengaja mempelajari teknik membalut luka demi Regina.

Namun, sekarang, saat tangan Regina bersimbah darah, Rafael justru sedang memeluk wanita lain sambil memberikan perhatian yang begitu hangat.

Dokter unit gawat darurat itu merasa tidak tega. "Bu Regina, luka di tanganmu begitu dalam. Kamu harus merawatnya dengan baik setelah pulang nanti. Kalau nggak, hal ini bisa memengaruhi karier profesionalmu."

Regina mengangguk sambil melamun.

Sesampainya di rumah, dia melihat pelayan sedang memindahkan barang-barang dari lantai dua ke kamar tidur di lantai satu.

Saat dilihat lebih teliti, ternyata itu adalah pakaian dan peralatan kosmetik milik Regina sendiri.

Sementara itu, Rafael sedang memijat betis Sherly yang berbaring di sofa, sambil berbisik lembut.

"Gimana? Kakimu masih kram?"

Sebelum bisa menjawab, Sherly melihat Regina berjalan mendekat. Kemudian, Sherly pun bangkit dengan canggung.

"Kakak."

Regina mendengus dingin, "Orang tuaku cuma melahirkanku seorang. Siapa yang kamu panggil Kakak?"

Sanggahan tajam ini membuat mata Sherly langsung memerah. Dia pun memegangi perutnya sambil merintih kesakitan.

"Kak Rafael, perutku agak sakit."

Rafael pun memijat perut Sherly sambil menghardik Regina.

"Kamu tahu sendiri dia sedang mengandung. Dia nggak boleh kaget. Bagaimana bisa kamu bicara seperti itu padanya?"

Regina pun mencibir.

"Memangnya aku harus memuja dan menyembahnya?"

Regina mengangkat tangan kanannya yang terbalut perban yang begitu tebal.

"Pacarku jadi miliknya, aku harus menghidupi anaknya dan karier profesionalku nyaris hancur di tangannya. Kamu mau aku bagaimana lagi?"

Mendengar itu, Sherly pun menatap Rafael dengan sedih.

"Apa yang terjadi hari ini bukan karena kusengaja. Kak Rafael, aku sudah pernah bilang padamu, malam itu adalah sebuah kesalahan. Itu semua karena aku masih muda dan nggak tahu apa-apa, hingga sesaat terbawa suasana dan gairah, yang akhirnya menyebabkan penderitaan bagi kita bertiga hari ini."

Sherly menutupi wajahnya. "Sebaiknya aku pergi saja. Asalkan aku pergi, kamu dan Kak Regina pasti bisa berbaikan seperti semula."

"Mengenai anak ini, setelah dia lahir nanti, aku akan mengirimnya padamu. Setelah itu, aku nggak akan pernah lagi muncul di hadapan kalian. Aku akan menganggap seakan nggak pernah melahirkan anak ini."

Akan tetapi, Rafael tidak mau melepaskannya.

"Kamu itu milikku dan sedang mengandung anakku. Bagaimana mungkin aku membiarkanmu pergi?"

Keduanya tampak begitu tenggelam dalam cinta yang penuh penderitaan, sehingga membuat Regina yang berdiri di samping mereka terlihat begitu tidak berarti.

Dengan perasaan hampa, Regina berjalan masuk ke kamar tidur di lantai satu untuk beristirahat.

Dini hari, tiba-tiba Regina dibangunkan oleh seseorang yang mendorong bahunya.

Dalam kondisi masih setengah sadar, Regina melihat Rafael yang wajahnya tampak begitu kelelahan.

"Regina, Sherly terus saja mengeluh lapar. Buatkan dia camilan."

Baru pada saat itulah Regina menyadari alasan Rafael memindahkannya dari lantai dua ke kamar tidur di lantai satu.

Tidak ada yang istimewa dengan kamar ini, tetapi kebetulan letaknya paling dekat dengan dapur.

Regina menahan amarahnya sekuat tenaga. "Rafael, menindas orang juga ada batasnya. Aku sudah menyerahkan dirimu dan kamar tidurku pada Sherly. Sekarang, kamu masih mau aku jadi pelayan baginya?"

Rafael memijat pangkal hidungnya dengan perasaan tidak berdaya.

"Regina, anak di dalam perutnya adalah anakku, anak kita di masa mendatang."

"Itu bukan anakku!" seru Regina dengan suara parau menahan tangis.

Rafael menundukkan pandangannya. Gurat keras kepala di wajahnya menggantikan rasa tidak tega yang sempat muncul.

"Masakan pelayan nggak seenak masakanmu. Anggap saja kamu melakukannya demi aku."

Regina tidak menjawab. Dia membalikkan badan dan berbaring kembali di tempat tidur, menunjukkan penolakannya melalui tindakan.

Regina mengira Rafael akan menyerah dan pergi.

Siapa sangka, selimut yang menutupi tubuhnya tiba-tiba disingkap paksa. Rafael mencengkeram pergelangan tangan Regina dan menyeretnya turun dari tempat tidur dengan kasar, seakan sedang menenteng seekor anak ayam.

"Regina, aku nggak mau bertengkar denganmu. Setelah makanannya siap, aku akan membiarkanmu tidur lagi."

Saat ditekan oleh Rafael di atas meja dapur yang dingin, Regina akhirnya tidak bisa lagi membendung tangisnya.

"Rafael, bagaimana bisa kamu memperlakukanku seperti ini?"

Dia dan Rafael sudah bersama selama delapan tahun. Mulai dari kesulitan yang diberikan keluarga hingga hambatan dalam karier, mereka berdua sudah melaluinya bersama sambil bergandengan tangan.

Sekarang, hanya karena ada wanita lain yang beruntung bisa hamil lebih dahulu darinya, Regina pun menjadi bidak yang dibuang dalam hidup Rafael.

Rafael sama sekali tidak memedulikan tangisan Regina.

Pria itu menyambar sebuah pisau, lalu dengan kasar menjejalkannya ke tangan Regina.

"Regina, jadilah penurut, masaklah."

Rafael mencengkeram tangan Regina kuat-kuat, memaksanya untuk menggenggam pisau itu.

Tangan kanan Regina yang terbalut tebal kain kasa yang begitu tebal itu dicengkeram oleh Rafael, hingga menimbulkan rasa sakit yang menusuk hingga ke ulu hati.

Regina pun tersedak oleh isak tangis. "Rafael, tanganku terluka."

Rafael tertegun sejenak. Secercah rasa iba sekilas melintas di matanya dan tekanan pada tangan Regina sedikit melonggar.

Dia pun berkata dengan nada membujuk, "Regina, masaklah."

Regina memasak puluhan hidangan, dari masakan Timur hingga masakan Barat. Bahkan, dia juga menyiapkan tujuh sampai delapan jenis makanan penutup, tetapi tetap tidak mendapatkan satu pun kata pujian dari Sherly.

Sherly hanya mencicipi setiap hidangan sebanyak satu suap, bahkan beberapa di antaranya hanya dia cium aromanya tanpa menyentuh sendok sedikit pun.

Begitulah, setelah dipaksa bersusah payah dari tengah malam hingga siang hari berikutnya, barulah Rafael mengizinkan Regina meninggalkan dapur.

Saat melewati tangga spiral, Regina yang sudah kepayahan mendengar suara tawa kecil dari lantai atas.

"Masakan Kak Regina enak banget. Tadi aku berikan makanan buatannya pada anjing dan anjingnya makan dengan sangat lahap!"

Segera setelah itu, terdengar tawa lembut Rafael yang penuh kasih sayang.

"Asalkan kamu bahagia, itu sudah cukup ... Kalau nggak selera makan jangan dipaksakan. Kapan pun kamu mau makan, suruh saja Regina memasakkannya untukmu."

Sinar matahari yang hangat menembus jendela kaca setinggi langit-langit, memantulkan bercak-bercak bayangan di dinding.

Akan tetapi, Regina tidak bisa merasakan kehangatan itu, juga merasakan sakit.

Regina teringat hasil USG di dalam tasnya dan tiba-tiba secercah rasa syukur yang tak terlukiskan muncul di hatinya. Dia bersyukur, Rafael belum mengetahui keberadaan anak ini, sehingga dia memiliki kesempatan untuk pergi tanpa ada ikatan apa pun lagi.
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 21

    Sekembalinya ke tanah air, Rafael tidak menjalani kehidupan yang tenang, seperti yang dibayangkan Bu Linda.Demi menyelamatkan dirinya dan ibunya saat itu, sebagian besar aset keluarga sudah dijual. Bahkan, vila tempat Rafael tinggal bersama Regina juga ikut dilelang.Akibatnya, Rafael terpaksa pindah ke sebuah apartemen kecil bersama ibunya.Pemegang saham hotel lainnya yang mengetahui jika Rafael sedang mengalami kesulitan arus kas, mulai mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mereka sengaja membeli saham miliknya dengan harga rendah dan mengucilkannya dari jajaran manajemen.Tanpa kehadiran Regina yang memegang kendali, para koki utama di hotel tersebut mulai berkhianat. Perintah yang dikeluarkan Rafael juga sering kali berakhir hanya sebagai tumpukan kertas tanpa arti.Kehidupan dan pekerjaan benar-benar membuat Rafael kewalahan.Rafael menjadi pemarah, menderita insomnia, bahkan mulai kecanduan alkohol.Bu Linda sama sekali tidak bisa membantu. Setiap hari, yang dia lakukan hanyal

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 20

    Seminggu kemudian, Bu Linda menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mencapai negara tersebut. Dengan bantuan pengacara, Bu Linda akhirnya berhasil menemui putranya yang kini tampak berjanggut dan kurus kering hingga pipinya cekung itu.Setelah memahami duduk perkaranya, Bu Linda pun mengamuk di kantor polisi."Regina itu benar-benar pembawa sial! Bertahun-tahun dia nggak bisa memberimu anak laki-laki, malah membuatmu berurusan dengan perempuan jalang seperti Sherly! Dasar wanita mandul, beraninya sekarang dia pilih-pilih padamu. Benar-benar nggak tahu diri!"Rafael membenamkan kepalanya di antara kedua lengannya. Matanya dipenuhi penyesalan dan duka yang tidak bisa dilihat oleh orang lain."Bu, berhentilah bicara."Bu Linda dan pengacara sibuk berdiskusi sendiri, seakan tidak mendengar perkataan putranya."Pak Pengacara, kalau kita minta Regina mengeluarkan surat pernyataan pengampunan untuk Rafael, apa dia bisa bebas dari masalah ini?"Pengacara itu mengangguk. "Itu juga tergantung

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 19

    "Sherly memang bodoh, dungu dan gila hormat. Tapi, kalau kamu nggak membiarkannya, apa mungkin dia bisa menyakitiku berkali-kali?""Sosok yang aku benci selama ini bukanlah dia, melainkan dirimu.""Kamu sendiri yang mengubur hubungan kita selama delapan tahun. Kamu bahkan begitu mudah memercayai orang lain hingga mengirim anak tunggal kita ke liang lahat."Regina tidak sanggup membiarkan dirinya dan anaknya menanggung noda kehinaan seperti itu. Dia juga tidak bisa memaafkan Rafael."Kamu membenciku?"Rafael berdiri mematung di tempatnya, merasa linglung dan kehilangan arah.Menyadari emosi Regina yang makin meluap, Dylan pun dengan tenang mengusap punggung Regina dengan lembut.Regina tampak seperti baru tersadar, lalu merendahkan suaranya, "Lama-kelamaan, tiap kali memikirkanmu, aku merasa mual, sampai-sampai aku merasa terlalu malas untuk kembali membencimu."Kata-kata Regina bagaikan anak panah tajam yang terus-menerus menghujam jantung Rafael."Regina, jangan seperti ini. Aku tahu

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 18

    Pria muda itu sangatlah peka. Tak lama kemudian, dia menyadari keberadaan Rafael.Dylan pun menarik kembali pandangannya, lalu berkata dengan lembut, "Ada toko teh susu lokal yang baru buka di sebelah. Kamu mau? Biar aku belikan untukmu."Regina yang sedang asyik menyantap daging panggang, mengangguk dengan gembira."Boleh, aku mau taro boba."Dylan tersenyum sambil bangkit berdiri. Sebelum pergi, dia tak lupa mengacak pelan rambut Regina yang halus dengan penuh kasih sayang.Setelah keluar, Dylan terlihat seperti tidak sengaja berjalan melewati Rafael."Mari bicara di sana."Rafael sebenarnya ingin memanfaatkan kesempatan itu untuk menemui Regina. Namun, melihat gadis itu sedang makan dengan lahap, dia pun akhirnya tidak tega untuk mengganggu Regina.Kedua pria itu berdiri diam di sudut jalan.Rafael lalu bertanya dengan suara rendah, "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"Dylan mengedikkan bahu. "Kamu pernah menemani Bu Sherly untuk periksa di rumah sakit. Waktu itu, aku adalah dokter

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 17

    Setelah menerima dua tamparan dari Bu Linda, Sherly akhirnya kembali ke sikapnya yang penurut seperti sebelumnya.Tepat di saat Sherly mengira sikap mengalahnya akan membawanya ke kehidupan tenang yang sudah lama dia nantikan, telepon dari asisten Rafael menghancurkan harapan terakhir Sherly tersebut."Pak Rafael, kami sudah menemukan keberadaan Nyonya."Asisten itu mengirimkan sebuah artikel ulasan kuliner kepada Rafael, yang ditulis atas nama Regina."Artikel ini mengulas sebuah restoran di Kota Zoram. Nyonya harusnya sekarang berada di Negara Solano."Hati Rafael diliputi secercah rasa sukacita yang sudah lama tidak dia rasakan."Pesan tiket pesawat, aku akan segera pergi ke Negara Solano."Dia berutang permintaan maaf pada Regina, juga berutang seluruh sisa hidupnya kepada wanita itu.Saat Rafael hendak melangkah keluar sambil membawa kopernya, dia melihat ibunya masuk dengan penuh amarah."Sherly, keluar kamu sekarang!"Rafael memijat pangkal hidungnya karena sakit kepala."Ibu, a

  • Kesetiaan yang Kadaluwarsa   Bab 16

    Bu Linda merasa Regina sejak awal memang tidak cocok dengan putranya.Regina sudah bertahun-tahun berada di sisi Rafael, tetapi tetap tidak bisa melahirkan anak, hingga memaksa putranya untuk mencari wanita dari keluarga biasa untuk mengandung anaknya.Sekarang, Regina sudah pergi begitu saja dan Rafael sudah memiliki seorang putra. Wanita dari keluarga terpandang mana yang mau menikah dengan pria seperti itu?Setelah dipikir-pikir, daripada mencari orang lain, lebih baik membiarkan Regina kembali untuk menjadi ibu tiri bagi anak tersebut. Setidaknya, karena dia sendiri tidak bisa melahirkan, Regina hanya perlu mengurus anak yang ada di depan matanya itu.Namun, Bu Linda tidak menyangka jika semua perkataannya itu terdengar jelas oleh Sherly yang kebetulan mengikuti hingga ke depan pintu ruang kerja.Sherly dengan penuh amarah menerjang maju untuk merebut kembali anaknya dari Bu Linda."Kalian benar-benar komplotan orang jahat, kembalikan anakku!"Bu Linda memaki-maki dan menyuruh pemb

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status