LOGINPada tanggal 11 November, asisten polos dan lugu tunanganku menjual berlian satu karat seharga satu sen. Dalam waktu singkat 20 menit, perusahaan merugi 400 miliar. Aku gemetar karena marah, sementara Arvino memelukku dan menenangkanku, "Jangan khawatir, serahkan hal ini padaku." Namun, malam itu, Lunaria Sasmaya mengunggah di IG Story tangkapan layar transfer sebesar 3 miliar dan menuliskan keterangan: [Hari ini aku melakukan kesalahan besar, tapi bos malah menghiburku. Dia juga berpesan supaya aku tidak marah pada harimau betina dan harus patuh ya.] Aku berkomentar di bawahnya: [Semoga langgeng.] Lunaria langsung menghapus postingan itu. Tiba-tiba Arvino Satya menerobos masuk dan menamparku dengan keras. "Dengan niat apa kamu menyukai postingan Lunaria? Dia sekarang sampai malu dan mencoba bunuh diri!" "Cuma rugi 400 miliar saja, perlu kamu desak dia sampai tak bisa hidup lagi?" Arvino berbicara dengan nada penuh pembenaran, seolah berada di pihak yang benar dan tanpa rasa takut. Namun, kemudian saat bahkan uang 40 ribu untuk makan pun tak mampu dia keluarkan, kenapa dia malah menangis?
View MorePukul 08:00 Malam di Lancester, Perbatasan Denver.
Seorang gadis duduk menyendiri dengan posisi tubuh meringkuk di atas bangku, sedang kedua tangan memeluk diri di sudut ruangan sebuah kantor polisi. Tampak baju dan rambutnya acak-acakan serta luka di sudut bibir dan memar di pipi bagian kiri.
Tatapan gadis itu terlihat kosong dengan kepala menunduk ke bawah, terpaku pada kaki telanjangnya yang mulai kedinginan, namun tidak dia pedulikan. Bahkan suara-suara ribut dalam kantor kepolisian tidak lagi dia dengar.
Begitu pula para petugas yang sejak tadi lalu-lalang di depan kursi tampak tidak menyadari keberadaannya.
Gadis itu seolah tidak terlihat, dan dibiarkan sendiri di sudut tanpa seorang pun mendekat.
Tubuh rapuhnya semakin mengkerut di kursi. Rasa takut dan trauma kejadian tadi masih membekas dalam ingatan. Bahkan bila diperhatikan, gadis itu terlihat menggigil. Berkali-kali dia mengusapkan tangan pada kedua lengan yang melingkar di badan karena bajunya yang sedikit basah, membuat gadis tersebut kedinginan.
Kepalanya seketika terangkat sedikit ketika sepasang sepatu kulit melangkah dalam jangkauan penglihatan. Berdiri tepat di hadapan.
Lama dia terdiam, menunggu si pemilik sepatu untuk bersuara. Namun, lima belas menit pun berlalu, pria itu tetap membisu, masih dengan posisi berdiri di tempat semula. Tidak ada tanda-tanda sepasang sepatu hitam mengkilat itu akan bergeser.
Setelah memejamkan mata dan menarik napas panjang, gadis itu akhirnya bertanya lirih dengan suara bergetar.
“Mau apa kau ke sini?”
Awalnya pria itu hanya diam dengan pandangan datar pada gadis yang duduk ringkih di atas kursi, namun akhirnya dia menjawab setelah melihat wanita muda di hadapannya bergerak gelisah.
“Apa kau akan terus berada dalam masalah dan memilih hidup terlunta?” Pria itu membalik pertanyaan yang mendapat reaksi tatapan tajam dari pemilik mata hazel di kursi.
Sebuah senyum tipis yang terulas di wajah pria tersebut membuat tatapan tajam gadis itu berubah menjadi amarah.
“Ah, atau kau memang senang menjadi pusat perhatian?”
Kepala pria itu miring sedikit dan senyum tipisnya berubah menjadi seringai.
Gadis itu tampak lebih gusar, membuat pria tersebut semakin ingin mengaduk emosi rapuh dari gadis muda berparas rupawan yang duduk ringkih di hadapan.
Pria itu pun menunjuk ke luar kantor polisi dengan dagu dan setelahnya dia membungkuk hingga mata mereka sejajar.
Seketika gadis itu menahan napas dengan mata sedikit membeliak karena nyaris saja terjadi kontak fisik di antara keduanya. Dengan gelisah gadis tersebut menggeser duduk untuk menjauhi jangkauan pria di hadapan, yang tidak sedikit pun pria itu pedulikan.
Dia bahkan menyentuh anak rambut yang terlepas dari ikatan sanggul gadis tersebut, sengaja memainkannya di antara jari-jari maskulinnya yang membuat debaran dada gadis itu sedikit menggila.
“Lihat, ada dua paparazzi di luar. Say hay pada mereka bila kau berhasil keluar dari kantor polisi malam ini,” ucap pria itu dengan senyuman lebar hingga memamerkan barisan gigi yang putih.
Mata gadis itu mengerjab beberapa kali, sebelum akhirnya dia menoleh pelan ke arah yang pria itu tunjuk.
Benar saja, ada dua pria sedang menunggu di parkiran dengan masing-masing kamera tersampir di bahu.
Tangan gadis itu mengepal hingga buku-buku jarinya memucat, dan kepalan itu berubah menjadi remasan pada rok pendek yang setengah robek sejak pertama kali masuk ke kantor polisi.
Tidak ada satu pun gerakan tubuh gadis itu yang luput dari perhatian si pemilik sepatu kulit. Mata obsidiannya mengobservasi diam-diam, bagai radar yang tidak sedikit pun terlihat jelas telah mencuri-curi lihat.
“Mau apa kau mendatangiku?” tanya gadis itu dengan suara serak yang rendah sedang matanya masih tetap menatap jendela, pada kumpulan pemburu berita di luar sana.
Tubuh pria itu tegak kembali, dan dengan kedua tangan berada di saku celana, pria itu pun berkata; “Aku mendengar kau berada di kantor polisi, dan tidak ada satu pun yang datang untuk membebaskanmu.”
Seketika kepala gadis itu berputar ke arah pria yang kini berdiri dengan sangat arogan di hadapannya.
“Tidak peduli berapa lama mereka mengurungku di sini, aku tidak membutuhkan bantuan darimu,” desis gadis itu sengit.
Pria itu hanya mengangkat bahu dengan senyum miring di sudut bibir.
“Princess, jika kau berada di sini terlalu lama, lalu siapa yang akan mengurus ayahmu?”
Mendengar pertanyaan tersebut, raut wajah gadis itu pun berubah melankolis, tampak ingin menangis, namun menahan diri sekuat tenaga.
Pandangan pria itu seketika teralih pada kebiasaan gadis itu yang sedang menggigit bibir ketika gelisah. Matanya berdilatasi menjadi hitam pekat saat bibir ranum itu berubah semerah delima, seolah menggoda tanpa dosa.
Sadar akan perrhatiannya yang teralihkan, pria itu pun mendelik tajam pada gadis muda di hadapan.
“Aku sudah memberimu cukup waktu untuk berpikir, tetapi tampaknya kau tidak sekali pun menggunakannya untuk mempertimbangkan pilihan yang kuberi,” ucap pria itu dengan suara datar. “Dan lihatlah, kau bahkan berakhir di kantor polisi, tempat yang sekali pun tidak pernah kau datangi sebelumnya.”
“Aku sedang membela diri!” jerit gadis itu dengan wajah memerah.
Seketika ruangan kantor polisi menjadi hening. Suara-suara percakapan sayup-sayup terdengar.
Wajah wanita itu pun berubah merah, menahan malu yang membuat pipi dan cuping telinga menjadi panas.
Keduanya hanya saling tatap untuk beberapa waktu, sebelum akhirnya gadis muda itu merendahkan suara; “Aku hanya membela diri,” ucapnya lirih dengan kepala menunduk kembali, menatap kakinya yang penuh bekas luka karena pecahan kaca.
Terdengar suara helaan napas pria tersebut, dan tidak lama setelahnya tiba-tiba saja pria itu berjongkok hingga kepala keduanya pun menjadi sejajar, membuat mata gadis itu kembali membulat sebesar purnama.
“Apa kau masih belum memutuskan?”
Mendapat pertanyaan tersebut, gadis itu menelan saliva dengan susah payah.
Karena tidak mendapat jawaban, pria itu pun kembali bertanya.
“Waktumu tinggal dua minggu lagi. Apa kau masih belum menentukan pilihan?”
Mendapati kedua tangan gadis di hadapan saling meremas gugup, pria itu pun meliriknya dengan ekspresi datar yang biasa ditujukan pada bawahannya selama ini.
“Aku menyarankan untuk memilih yang nomor tiga; tidur bersamaku selama satu tahun, tetapi tampaknya kau lebih suka untuk bungkam.”
Pria itu pun berdiri dan memutuskan mundur beberapa langkah.
“Kalau begitu, tidur satu malam di kantor polisi sepertinya cukup untuk membuatmu memikirkan kembali tawaran yang kuajukan,” ucap pria itu dingin. “Sebaiknya aku tidak membuang-buang waktu untuk gadis yang bahkan menyia-nyiakan kesempatan sepertimu.”
Pria tersebut melirik jam yang melingkar di tangan.
Sebelum beranjak, dia menatap gadis tersebut sekali lagi dan tanpa berkata apa-apa, pria itu pun bergegas keluar dari sana. Meninggalkan gadis muda itu sendirian di bangku tunggu, masih dengan baju basah dan tubuh yang kedinginan.
Tanpa gadis itu sadari, satu bulir air mata jatuh bergulir membasahi pipi dan sepanjang dagu, sayangnya tidak ada suara yang terdengar. Dia menangis dalam hening, di tengah tempat asing diselimuti kesepian.
Darian menceritakan seluruh kisah kekacauan di ruang perawatan itu kepadaku, sementara aku sedang menyesap teh almond hangat sedikit demi sedikit.Saat aku mendengar Lunaria mengambil kursi dan memberikan siksaan tambahan kepada Arvino, aku tak bisa menahan tawa kecil."Aduh. Mereka berdua benar-benar pasangan yang serasi .…" Aku mengusap air mata yang keluar karena tertawa."Satu bodoh, satu jahat, lebih baik penjarakan saja mereka. Jangan sampai keluar lagi dan menyakiti orang lain."Darian melihatku tersenyum lebar, dan di matanya pun tersirat senyum lembut.Dia diam-diam menunggu aku selesai tertawa, tiba-tiba berlutut satu lutut di depanku.Dia lalu mengeluarkan kotak cincin dan membukanya, di dalamnya ada sebuah cincin berlian dengan desain yang sangat indah."Shavira." Dia menatapku sambil mengangkat kepala, matanya penuh keseriusan dan kasih sayang yang belum pernah kulihat sebelumnya. "Menikahlah denganku."Aku sama sekali tidak menduga hal ini, pipiku langsung memerah, dan ja
"Pada akhirnya, ini semua hanyalah karena sifat buruk dan rasa rendah dirimu yang tertanam di dalam dirimu. Kamu serakah akan sumber daya dan kehormatan yang kubawa, tapi di sisi lain ingin mendapatkan kembali apa yang kamu sebut kehormatan pria di hadapan Lunaria.""Arvino, kamu benar-benar menyedihkan sekaligus konyol!""Tidak! Shavira, yang selalu kucintai di hatiku hanyalah kamu ...." Arvino masih berusaha membantah."Tampaknya Pak Arvino sangat senggang, sampai-sampai punya waktu untuk mengganggu tunanganku." Suara Darian terdengar dari belakang.Arvino yang melihat Darian, menjadi seperti kembang api yang tersulut.Dia menunjukku dan mengumpat tanpa pikir panjang, "Shavira! Pada akhirnya, kamu hanyalah seorang wanita yang mudah tergoda! Kita bahkan belum resmi membatalkan pertunangan, tapi kamu sudah begitu tak sabar menjalin hubungan dengan pria lain! Kamu ...."Kata-katanya yang kotor tiba-tiba terhenti.Darian mengangkat tangannya menutupi telingaku, memisahkan diriku dari sua
Sinar matahari di luar menembus kaca, hangat menyinari tubuhku.Darian menatapku, pandangannya dalam dan lembut."Biarkan masa lalu tetap menjadi masa lalu. Masa depanmu baru saja dimulai."Aku menatap matanya, lalu mengangguk pelan.Ya, memang, masa depanku seharusnya memang baru dimulai.Sementara mimpi buruk bagi orang-orang tertentu, barangkali baru saja dimulai.Adegan Arvino dan Lunaria saling menyerang hanyalah sebuah sandiwara yang mempercepat kehancuran mereka saja.Pembalasan yang sesungguhnya masih menunggu di depan.Ketenangan itu terganggu oleh tamu yang tak diundang.Arvino justru memanfaatkan pergantian penjaga untuk melompat keluar, dan langsung berlutut di hadapanku.Pakaian yang compang-camping, mata yang cekung, dia sama sekali kehilangan semangat gagah perkasa yang dulu, tersisa hanya penampilan sengsara seorang yang terpojok di jalan buntu."Shavira, aku salah! Tolong minta kakakmu dan Keluarga Prakoso memaafkanku!"Dia menangis tersedu-sedu, memegang ujung rokku.
Terkadang dia membawa setangkai bunga iris putih yang masih basah oleh embun pagi, terkadang itu kue hangat dari toko tua di bagian barat kota.Lebih sering, dia duduk di sofa di dekat jendela kamarku. Sambil mengurus urusan pekerjaan, dia menceritakan kabar terbaru tentang Arvino dan Lunaria."Opini publik di internet, hari ini akan berbalik."Sore itu, dia mendorong secangkir susu hangat ke depanku.Aku menunduk dan membuka ponsel, dan memang benar trending pertama sekarang sudah berubah.#Lunaria memalsukan chat untuk menjebak Shavira#Sebelumnya, catatan palsu yang digunakan untuk menjebakku dianalisis frame per frame oleh ahli teknologi, dan ditemukan banyak jejak manipulasi.Selain itu, banyak catatan Lunaria yang menghubungi perusahaan buzzer dan melakukan transaksi transfer juga langsung dibongkar.Buktinya sangat jelas, tak terbantahkan lagi.Netizen yang sebelumnya memakiku sebagai berhati ular dan beracun pun berbalik arah. Antre di kolom komentar untuk meminta maaf padaku.
Begitu masuk ke dalam kamar, Lunaria langsung menerkam ke sisi tempat tidurku. Air matanya sudah mengalir sebelum sempat bicara."Kak Shavira, semua rumor di internet itu aku yang sebarkan. Rekaman chat itu juga aku palsukan!""Aku cuma takut kena tanggung jawab, makanya menjebakmu. Tolong jangan ma
"Arvino, di matamu, sebenarnya aku ini siapa?"Arvino dibuat terdiam oleh pertanyaanku. Wajahnya menampakkan sedikit rasa kesal.Tiba-tiba, dia mengangkat kakinya dan menendang betisku dengan keras!Aku terjatuh dengan keras ke dalam gudang, dan sebelum sempat bangkit, pintu sudah tertutup rapat."K
Air mata di wajahku yang sudah mengering, kembali basah oleh yang baru.Setelah lama, aku gemetar mengambil ponsel dan menelepon kakakku."Kak, aku sudah salah menilai. Tarik saja investasimu, ambil kembali Stellara.""Satu minggu lagi, aku akan kembali untuk mengikuti perjodohan."...Keesokan hari
Tangan Arvino Satya yang menamparku masih terangkat di udara. Dadanya naik turun dengan keras, dan tatapannya padaku seolah-olah aku ini musuh bebuyutannya."Kalau sampai terjadi apa-apa pada Lunaria, akan kubuat kamu ikut mati bersamanya!"Aku menutup pipiku, menatapnya dengan tak percaya."Arvino,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.